Profile Ekoregion Jawa

   
     PPE Regional Jawa +62 274 625800
Tap To Call

Tanah   arrow

3.3. Karakteristik Tanah

Penjelasan mengenai karakteristik tanah di Jawa dan Madura, meliputi jenis tanah, bahan induk dan topografinya. Penjelasan ini diperoleh dari literatur tentang tanah yang dikeluarkan oleh Lembaga Penelitian Tanah Bogor.

1. Jenis Tanah
Yang dimaksudkan dengan jenis tanah ialah segolongan tanah yang terbentuk pada proses pembentukan tanah yang sama. Ini setara dengan Great Soil Group, Bodemyte (Soepraptohardjo, M., 1961). Di Jawa dan Madura ditemukan 11 jenis tanah yang meliputi 7 golongan tanah dengan perkembangan profil, dan 4 golongan tanah tanpa/sedikit perkembangan profil. Di bawah ini dibicarakan berturut-turut pengertian, penjabaran, asosiasi dan nama setara masing-masing jenis tanah.

a. Organosol ( O )

Organosol ialah segolongan tanah yang tersusun dari bahan organik atau campuran bahan mineral dan bahan organik setebal paling sedikit 30 cm, mengandung bahan organik paling sedikit 30% (bertekstur liat) atau 20% (bertekstur pasir) dan selalu jenuh air. Tanah ini mudah terbakar, peka akan erosi, mudah mengerut tak balik (irreversible). Kesuburan tergantung dari bahan asal.

Penyebarannya sangat sedikit, hanya di dataran rendah (Rawa Lakbok), di Lembah Dieng dan setempat-setempat di cekungan (Sukawati, Djatiroto), biasanya terdapat di wilayah dengan curah hujan tinggi dan berdrainase jelek. Tanah jenis ini berada di daerah dengan luas lebih kurang 2.000 ha. Hampir semua organosol yang dijumpai berasal dari macam eutrop (kadar unsur hara tinggi, ber-pH agak masam). Tanah tersebut berasosiasi dengan tanah aluvial dan glei humus.

Jenis ini setara dengan veen-/venig grond, Peat/Peaty Soil (Polak, 1941; Dames, 1949), Bog dan Half Bog Soil (Baldwin et.al, 1938), Morboden (Kubiena, 1950), dan Moor peat (Stephens, 1953).

b. Litosol ( Li )

Litosol ialah segolongan tanah tanpa perkembangan profil dengan solum dangkal, tipis pada bahan induk kukuh. Kesuburan tergantung dari bahan asal. Penyebaran di Sukapura sebagai fan volkan G. Tengger, di bukit batu pasir Madura, dan di bukit-bukit angkatan (uplifted southern mountains) seperti di daerah Gunung Kidul hingga Pacitan. Tanah jenis ini menempati daeran seluas lebih kurang 244.000 ha. Umumnya litosol berasosiasi dengan Regosol (volkan) (S.P.9) atau dengan Mediteran/Rensina dan Grumosol (S.P.3). Jenis ini setara dengan Rohbeden (Kubiena, 1950), Skelettal Soil (Stephens, 1953) dan Eroded phase of Lateritic Soil (Dames,1955). Sebaran tanah litosol dapat dilihat pada gambar peta berikut.

Gambar 3.27. Sebaran Tanah Litosol di Pulau Jawa

c. Aluvial (A)

Jenis tanah Aluvial ialah segolongan tanah dengan sedikit atau tanpa perkembangan profil, terdiri dari bahan-bahan aluvial/koluvial lepas, resen atau subresen. Kesuburan tergantung dari bahan asal. Penyebarannya terutama di dataran utara Jawa bagian barat dan tengah, sebagian selatan Jawa, Jawa Timur bagian utara (Gresik, Surabaya) di lembah-lembah Ciujung, Citarum, Cimanuk, Citanduy, Lusi, Progo, B. Solo, Brantas dan Baliga, di cekungan Batujajar (Bandung), Cibatu, Majenang, Purbalingga, Ambarawa, Surakarta, Madiun dan Malang.Tanah jenis ini berada di kawasan yang mencapai luas lebih kurang 2.552.000 ha. Ciri tanah ini umumnya berdrainase jelek. Jenis tanah ini dapat dijumpai disemua wilayah iklim dan dengan semua jenis tanah lain. Jenis ini setara dengan Alluviale grond (Thorenaar, 1933), Alluvial Soils (Dames, 1949), River Basin dan River flood plain soil (Van Der Voort, 1951), River deposits, Coastal clays (Dames, 1955). Sebaran tanah aluvial dapat dilihat pada peta berikut.

Gambar 3.30. Penyebaran Tanah Grumusol di Pulau Jawa

f. Andosol (An)

Andosol ialah segolongan tanah yang telah mempunyai perkembangan profil, berwarna hitam hingga kelabu tua, horison atas gembur, remah dan kaya bahan organik, horison bawah berwarna coklat hingga coklat kekuningan, miskin bahan organik, gembur, gumpal bersudut dan kadang-kadang terdapat padas lunak (fragipan). Sifat fisik baik, sifat kimia sedang, permeabilitas sedang namun sangat peka erosi.

Penyebarannya berada di semua kerucut volkan dan kompleks volkan di Jawa. Luas tanah jenis ini lebih kurang 240.000 ha. Umumnya jenis tanah ini dijumpai di wilayah dengan ketinggian lebih dari 1000 m dengan iklim sedang. Andosol berasosiasi dengan Regosol dan Latosol. Jenis tanah Andosol setara dengan Hooggebergtegrond (Thorenaar, 1933), Black dust soil (Druif, 1938), Mountain Soil (Dames, 1949), Hydrol Humic Latosol (Cline,1935), Humic Mountain Soil (Dames, 1955), Tropical brown forest soil, gray brown podzolic soil (Van Schuylenborgh& Van Rummelen, 1955). Penyebaran jenis tanah ini dapat dilihat pada gambar peta berikut ini.

Gambar 3.31 Penyebaran Tanah Andosol

g. Mediteran Merah-Kuning (RYM)

Tanah Mediteran Merah-Kuning ialah segolongan tanah yang telah mempunyai perkembangan profil, berwarna coklat hingga merah, dengan horison ”B tekstur/warna”, tekstur halus, gumpal hingga gumpal bersudut, gembur hingga teguh, berselaput liat (berwarna kelam), netral dan kejenuhan basa tinggi. Sifat fisika sedang, sifat kimia agak kaya denganpermeabilitas sedang namun peka erosi.

Penyebaran jenis tanah ini terutama berada di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, di volkan Muria, Lawu, Wilis dan Baluran, dan di pegunungan lipatan Rembang dan Madura. Tanah ini menempati kawasan dengan luas lebih kurang 1.800.000 ha. Umumnya dijumpai di wilayah iklim dengan bulan kering lebih dari 3 bulan. Mediteran Merah-Kuning berasosiasi dengan Gramusol, Litosol dan Regosol.

Jenis tanah ini setara dengan Red Mediterranean Soil, Terra Rossa (Reifenberg, 1929), Kalkroodaarde (Mohr, 1910), Red Limestone Soil, (Dames,1949) dan ”Stugge vuilgrijze leterietische grond” (Bodemkundig Institut,1940). Penyebaran jenis tanah ini dapat dilihat pada gambar peta berikut ini.

Gambar 3.32 Penyebaran tanah Mediteran Merah Kuning di Pulau Jawa

h. Latosol (L)

Latosol ialah segolongan tanah yang telah mempunyai perkembangan profil dengan solum tebal, berwarna coklat hingga merah, berhorison terselubung, tekstur halus, gembur di seluruh profil, agak masam, terdapat horison akumulasi relatif (B2) dengan ”mottling” dan ”plinthite” di horison C.Seringkali dijumpai kongkresi di horison B. Sifat fisik baik, sifat kimia sedang sampai kurus, memilikipermeabilitas cepat dantahan erosi.

Penyebaranya berada di fan dan lungur volkan, di pegunungan lipatan dan patahan. Luasnyamencapai lebih kurang 2.361.000 ha. Umumnya jenis tanah ini dijumpai di wilayah tanpa bulan kering. Latosol bisa berasosiasi dengan Andosol, Regosol, Podsolik Merah-Kuning dan Litosol. Di dataran berasosiasi dengan laterit air tanah. Tanah Latosol setara dengan Lixivium (Mohr,1910), Lateritic Soil (Marbut,1932; Baldwin et al,1938; Dames,1949), Laterietgrond (Thorenaar,1933), Redloam (Vageler,1938; Stephens,1953), Krashnozem (Joffe, 1949; Polinov,1956; Stephens, 1953), Terra Roxa (Vagaler,1938), Latolosic (Tan Kim Hong& Van Schuylenborgh, 1959). Penyebaran jenis tanah ini dapat dilihat pada gambar peta berikut ini.

Gambar 3.33. Penyebaran tanah Latosol di Pulau Jawa

i. Podsolik Merah-Kuning (RYP)

Tanah Podsolik Merah-Kuning ialah segolongan tanah yang telah mempunyai perkembangan profil, berwarna merah hingga kuning dengan horison ”B tekstur/warna”, teguh, gumpal bersudut, masam, berselaput liat, berwarna kelabu, kejenuhan basa rendah dan terdapat ”plinthite” di horison C. Sifat fisiknya jelek, sifat kimianya kurus, permeabilitas lambat dan sangat peka erosi.

Penyebarannya berada di pegunungan lipatan Jawa Barat bagian selatan dan di dataran Banten-Indramayu. Menempati kawasan dengan luas lebih kurang 1.160.000 ha. Umumnya jenis tanah ini dijumpai di wilayah tanpa bulan kering. Podsolik Merah-Kuning berasosiasi dengan Latosol dan Litosol.

Di dataran dengan Hidromorf Kelabu. Tanah podsolik merah-kuning setara dengan Rode Laterietische kwartsstofgrond (Mohr,1910), Podzolised Lateritic Soil (Dames, 1949) dan Degraded Lateritic Soil (Van Der Voort,1950). Penyebaran jenis tanah ini dapat dilihat pada gambar peta berikut ini.

Gambar 3.34. Penyebaran tanah Podsolik Merah-Kuning

j. Hidromorf-Kelabu (GH)

Tanah Hidromorf Kelabu ialah segolongan tanah yang mempunyai perkembangan profil, berwarna kelabu, horison atas tercuci. Horison bawah bertekstur halus, berglei dan bertotol kuning hingga merah. Sifat fisik jelek,sifat kimia kurus,permeabilitas lambat danpeka erosi.Penyebarannya ada di dataran rendah atau cekungan di sebelah utara Pati dan Rembang denganluas lebih kurang 20.000 ha.

Umumnya jenis tanah ini dijumpai di wilayah dengan drainase jelek dan curah hujan cukup. Hidromorf Kelabu berasosiasi dengan Planosol dan Podsolik Merah Kuning.Jenis tanah ini setara dengan Grauwaarde (Thorenaar,1933; Idenburg,1937; Dames,1949).

k. Planosol (Pl)

Planosol ialah segolongan tanah yang telah mempunyai perkembangan profil dengan satu horison/lapisan bertekstur kontras, berkadar liat lebih tinggi dan konsistensi teguh, serta berglei. Sifat fisiknya jelek,sifat kimia umumnya kurus dengan permeabilitas lambat sekali. Penyebarannya ada di dataran atau cekungan di sebelah utara Pati dan Rembang dengan luas lebih kurang 9.000 ha. Umumnya jenis ini dijumpai di wilayah dengan drainase jelek dan curah hujan cukup. Planosol berasosiasi dengan Hidromorf Kelabu. Jenis ini setara dengan Planosol (Baldwin et al,1938).

A. Bahan Induk

Bahan induk sebagai salah satu faktor pembentuk tanah membina beraneka macam tanah. Bahan induk tanah-tanah khususnya di Jawa dan Madura dibahas oleh Mohr (1938).Peta geologi Verbeek& Fennema (1896) hanya memberikan pegangan paling baik mengenai batuan induk. Untuk peta tanah, batuan induk dapat memberikan landasan cukup kuat bagi bahan induk. Batas-batas tanah tidak usah mengikuti menyeluruh batas-batas batuan induk atau formasi geologi.

Dalam tingkat eksplorasi ini dibedakan sepuluh jenis bahan induk, yakni meliputi bahan aluvial (A), endapan pasir pantai (Ss), endapan liat tua (Sc), batuan endapan masam (SA), batu kapur (S1), kompleks batuan endapan (S), batuan endapan dan beku (S-I), batuan beku intermidier dan basis (IB), batuan beku masam (IA), batuan endapan dan metamorf (S-M).
Batuan beku meliputi wilayah terluas (48,5%), sedang batuan endapan tersier dan endapan muda serta subresen masing-masing meliputi 37,5% dan 12,5%. Bahan lepas meliputi endapan aluvial, pasir pantai, liat tua dan batuan beku (pasir dan tuf) masam, intermidier dan basis. Lainnya merupakan bahan kukuh.

a. Bahan Aluvial (A)
Endapan liat dan pasir terdapat dijalur aliran, dataran rendah dan pantai utara yang membentang dari Serang sampai Cirebon dengan lebar rata-rata 30 km, antara Pekalongan-Semarang agak sempit, kemudian meluas lagi diantara bukit bagian utara Jawa Timur. Diantara Cilacap-Yogyakarta endapan aluvial terdapat sepanjang 100 km dengan lebar 10-25 km. Di dataran tinggi endapan di danau purba seperti dataran tinggi Bandung, Sumedang, Garut, Purwokerto, dan Malang. Kekayaan mineral sangat bervariasi, tergantung daerah asalnya. Jika ada pengayaan bahan volkan, cadangan mineralnya berkadar tinggi.

b. Endapan Pasir Pantai (S8)
Di daerah pantai terdapat beting-beting pasir pantai yang umumnya terletak sejajar garis pantai. Lungur-lungur lebar 100-500 m, dengan tinggi 5-10 m. Penyebarannya antara lain di pantai selatan dari Cilacap sampai Wates, selatan Lumajang, dan di pantai utara terdapat di Cilamaya, Cirebon, utara G. Muria dan Pulau Madura. Kekayaan cadangan mineral bervariasi, seperti bahan aluvial. Pasir pantai di Madura berkadar tinggi kwarsa.

c. Endapan Liat Tua (Sc)
Endapan liat tua berasal dari bukit tersier yang tersusun dari batu liat, batu kapur dan napal antara lain ada di dataran selatan Ciranyang, utara dan selatan punggung Kendeng dan di dataran Demak. Tanah ini cenderung liat dan berkadar kapur.

d. Batuan Endapan Masam (SA)
Berasal dari pengikisan batuan endapan tersier antara Cikarang-Majalengka yang menghasilkan endapan kwarter di dataran sebelah utaranya. Endapan berkadar tinggi kwarsa.

e. Batu Kapur (Si)
Batu kapur sangat luas penyebarannya di pegunungan selatan dan daerah bukit antara Semarang-Madura (Pegunungan Kapur Utara). Batu kapur berbutir halus tersusun dari kalsit mikrokristalin.

f. Kompleks Batu Endapan (S)
Di daerah bukit tersier terdapat penyebaran batu pasir, batu liat dan napal antara lain ada di daerah antara Majalengka-Cirebon, selatan Majenang, lembah Wonosari dan antara Bojonegoro-Madura.

g. Kompleks Batu Endapandan Beku (S-I)
Batuan tersier yang terdiri dari batu pasir, breksi dan konglomerat, berkadar tuf menyusun kompleks dan dijumpai mulai dari Ujung Kulon, Malimping, Bayah, Malimping-Leuwiliang, Bogor-Cikalong, Jampang-Rajamandala, beberapa bagian pegunungan Selatan, pegunungan Pembarisan (Kuwali-Bumiayu), Banyumas-Purworejo. Sebenarnya bukit tersier utara Jawa Timur hanya tersusun dari batu liat, napal dan batu kapur tetapi mendapat percampuran dengan bahan letusan-letusan volkan Jika terjadi pelapukan menghasilkan bahan berkadar tinggi kwarsa.

h. Batuan Beku Intermedierdan Basis (IB)
Abu, tuf dan bahan eflata lainnya yang menyusun volkan sebagian besar merupakan bahan volkan bersifat intermedier sampai basis. Baak (1949) menyelidiki abu volkan Semeru, Merapi dan Kelud untuk mengetahui susunan bahan induk. Batuan yang menyusun volkan di Indonesia, khususnya dari 35 pusat erupsi di Jawa, sebagaian besar terdiri dari andesit, disampingnya basalt (Neumann Van Padang, 1951).

Bahan mengandung gelas volkan, plagioklas dan mineral-mineral kelam (hiperstin, augit, amfibol dan olivin). Tergolong pula bahan volkan kaya leusit bersumber di G. Muria, Besar dan Ringgit. Bahan yang menyusun G. Muria telah diselidiki Van Baren (1948). Batuan volkan yang berasal dari erupsi Tengger sangat kasar dan memadas, terdapat di bagian utaranya (Sukapura). Karena pelapukan belum lanjut, bahan berkadar tinggi cadangan mineral. Bahan mudah dilapukkan yang amat memperkaya jenis-jenis tanah bersangkutan.

i. Batuan Beku Masam (IA)
Batuan volkan bersifat masam, terbatas penyebarannya di daerah Banten sampai Cisadane. Pusat erupsi terdapat di G. Danau purba. Endapan tertutup bahan volkan lebih muda bersusunan intermedier berasal dari G. Karang dan Pulosari. Bahan berkadar tinggi kwarsa bening dan plagioklas masam, disamping hornblende dan piroksin.

j. Kompleks Batu Endeapandan Metamorf (S-M)
Batu endapan tersier tua membentuk kompleks bersama batuan metamorf a.l. di daerah Ciletuh, pegunungan Menoreh, Plopoh dan beberapa daerah di Jawa Timur. Pelapukan yang sangat lanjut menghasilkan bahan kaya kwarsa.

B. Bentuk wilayah

Bentuk wilayah menunjukkan bentuk permukaan wilayah dalam hubungan dengan lereng dan perbedaan tinggi. Dalam penentuannya sangat erat berhubungan dengan fisiografi daerah yang bersangkutan. Lereng dinyatakan dalam % (persen) atau o (derajat) perbedaan tinggi (diukur dari puncak sampai dasar lereng yang bersangkutan) dinyatakan dalam meter. Lereng dan perbedaan tinggi suatu wilayah menentukan macam bentuk wilayah. Dalam Peta Tanah Eksplorasi Jawa – Madura dibedakan 7 (tujuh) macam bentuk wilayah, ialah :

a. Datarsampai Agak Datar (L)
Wilayah dengan lereng < 3%, perbedaan tinggi < 5 meter. Sebagian besar wilayah ini terdapat sebagai dataran pantai, misalnya di pantai utara memanjang dari Serang sampai Pekalongan, sebagian terdapat sebagai lembah aliran dari sungai besar, misalnya sungai-sungai di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebagai dataran perlembahan/pedalaman/danau purba hanya sedikit, misalnya di daerah sekitar Bandung, Garut, Sumedang, Malang.

b. Berombak sampai Berbukit (U-H)
Terdiri dari wilayah berombak (lereng 3-8%, perbedaan tinggi 5-15 meter) sampai wilayah berbukit (lereng 15-30%, perbedaan tinggi 50-200 meter). Sebagian besar merupakan wilayah berombak, terdapat sebagai dataran pantai di sekitar Grati dan Asembagus (Jawa Timur). Wilayah-wilayah bergelombang sampai berbukit merupakan kaki volkan Ijen (selatan Asembagus). Termasuk daerah yang melandai.

c. Bergelombang (R)
Wilayah dengan lereng 8-15%, perbedaan tinggi 15-50 meter. Wilayah ini meliputi beting pantai, seperti dibeberapa tempat di pantai utara dan selatan Jawa Barat, dan memanjang dari Adipala sampai Parangtritis di pantai selatan Jawa Tengah, dan merupakan kaki bukit lipatan, misalnya disekitar Cibarusa, utara Tomo (Jawa Barat).

d. Bergelombang sampai Bergunung (R-M)
Terdiri dari wilayah-wilayah bergelombang sampai wilayah bergunung (lereng >30%, perbedaan tinggi >200 meter). Wilayah bergelombang terdapat sebagai fan volkan, seperti fan folkan Pangrango-Gede dsb, sedang wilayah berbukit sampai bergunung terdapat sebagai lungur-lungur volkan, seperti G. Gede (Serang), G. Sanggabuana dsb.

e. Berbukit (H)
Wilayah dengan lereng 15-30%, perbedaan tinggi 50-200 meter. Wilayah ini umumnya terdapat sebagai bukit lipatan, misalnya daerah Subang-Darmaraya, Randublatung, Peg. Kendeng dsb. Sebagian lagi terdapat sebagai lungur-lungur volkan, terletak di bawah wilayah bergunung pada volkan tsb.

f. Berbukit sampai Bergunung (H-M)
Terdiri dari wilayah-wilayah berbukit sampai bergunung (lereng > 30%, perbedaan tinggi 50 meter). Wilayah ini terdapat sebagai kaki pegunungan (volkan dan lipatan) dari Jawa Barat sampai Jawa Timur/Madura.

g. Bergunung (M)
Wilayah dengan lereng > 30%, perbedaan tinggi > 200 meter. Pada umumnya merupakan kerucut dan puncak-puncak volkan, sebagian ada yang merupakan lungur-lungur volkan. Terdapat pada daerah-daerah volkan di Jawa Barat sampai Jawa Timur.