Profile Ekoregion Jawa

   
     PPE Regional Jawa +62 274 625800
Tap To Call

Sosial Budaya   arrow

5.5. Karakteristik Sosial Budaya

Sosial Budaya adalah segala hal yang dicipta oleh manusia dengan pemikiran dan budi nuraninya untuk dan/atau dalam kehidupan bermasyarakat. Atau lebih singkatnya manusia membuat sesuatu berdasar budi dan pikirannya yang diperuntukkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Provinsi Banten

A. Agama

Masyarakat Banten memiliki akar kehidupan agama Islam yang kuat. Penduduk yang memeluk Agama Islam memiliki prosentase tertinggi (87,73%) dari pada agama yang lain. Banyaknya pemeluk agama diikuti dengan banyaknya sarana ibadah yang  ada.  Prosentase penduduk menurut agama dan jumlah sarana peribadatan di Provinsiinsi Banten tahun 2009 dapat dilihat dalam Tabel 5.51. dan Tabel 5.52. dibawah ini (BLHD Provinsi Banten, 2010).

——Tabel 5.51. Prosentase Penduduk Menurut Agama di Provinsi Banten Tahun 2009

——Tabel 5.52. Jumlah Sarana Peribadatan di Provinsi Banten Tahun 2009

B.Kesenian dan Budaya

Debus

Seni bela diri Debus pertama kali dikembangkan oleh salah satu Sultan Banten yang terkenal, Sultan Ageng Tirtayasa. Debus merupakan gabungan dari pertunjukan seni bela diri tradisional dan seni kekebalan tubuh. Pertunjukan ini terdiri dari Gembruk yang merupakan penampilan pembuka dengan iringan drum perkusi, kemudian Beluk yang disertai teriakan-teriakan melengking dan merupakan puncak dari pertunjukan, dan terakhir adalah Pencak yang mempertunjukan seni bela diri tradisional secara berpasangan ataupun sendiri-sendiri.

Gambar.5.33. Kesenian Debus, Banten

Kerajinan Tangan
Provinsi Banten mempunyai kerajinan khas daerah yang tersebar hampir di setiap Kabupaten/Kota seperti Taman Jaya dengan kerajinan kayunya. Desa Bumi Jaya, Kecamatan Ciruas Kabupaten Serang terkenal dengan gerabahnya dan Rangkasbitung juga terdapat kerajinan Batu Kalimaya dan Onix.

Gambar 5.34. Kerajinan masyarakat Banten, Gerabah (a) dan Batu Kalimaya (b)

C. Kearifan Masyarakat Baduy dan Cisungsang

Masyarakat tradisional Baduy terdapat di Kabupaten Lebak, tinggal diarea seluas ± 5.101 hektar. Suku ini terbagi dua yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Mereka hidup selaras dengan alam, dan menghindari kehidupan dunia luar yang modem, mereka hidup dalam kesederhanaan sehingga mereka tidak pernah saling iri satu sama lain. Masyarakat Cisungsang tinggal di area seluas ± 28 Km2 terletak di Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak. Keseniannya terkenal adalah Rengkong, Angklung dan Bendrong Lesung.

Terutama masyarakat Baduy Dalam terkenal teguh dalam tradisinya. Mereka selalu berpakaian warna putih dengan kain ikat kepala serta golok. Semua perlengkapan ini mereka buat sendiri dengan tangan. Pakaian mereka tidak berkerah dan berkancing, mereka juga tidak beralas kaki. Mereka tidak boleh mempergunakan peralatan atau sarana dari luar. Selain itu, mereka juga hidup tanpa menggunakan listrik, uang, juga tidak mengenal sekolahan. Salah satu contoh sarana yang mereka buat tanpa bantuan dari peralatan luar adalah jembatan bambu. Jembatan ini dibuat tanpa menggunakan paku. Untuk mengikat batang bambu mereka menggunakan ijuk, dan untuk menopang pondasi jembatan digunakan pohon-pohon besar yang tumbuh di tepi sungai.

Suku Baduy, suku yang masih tersisa di abad ini yang masih mempertahankan  kehidupannya untuk tetap dekat dan bersahabat dengan alam. Mereka hidup dengan batasan-batasan tertentu supaya alam tetap dalam kondisi alamiahnya. Hal seperti ini, di satu sisi dianggap sebagai sebuah kehidupan kuno, namun di sisi lain justru budaya seperti ini terbukti telah mampu mempertahankan kelestarian lingkungan.

Gambar. 5.35. Masyarakat Baduy, hidup selaras dengan alam.

D. Penggunaan Lahan

Luas wilayah Penggunaan lahan merupakan refleksi struktur perekonomian dan preferensi masyarakat yang bersifat dinamis sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan dinamika pembangunan. Sementara itu meningkatnya kebutuhan lahan tidak dibarengi oleh ketersediaan lahan yang cenderung tetap, sehingga lahan dalam kondisi yang mengalami kelangkaan (scarcity), dengan sendirinya alih fungsi lahan tidak dapat dihindarkan. Apabila dilihat dari tabel diatas, luas lahan non pertanian yang paling besar yaitu 587.283, yang ada di kabupaten Lebak. Dikarenakan digunakan untuk lahan perkebunan kelapa sawit yang dari tabel diatas menunjukkan yang paling luas yaitu 35.393.

Tabel 5.53. Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama

Kebutuhan pembangunan sarana dan prasarana untuk berbagai kegiatan meningkat sehingga menimbulkan kompetisi guna lahan antara pertanian-industri (non-pertanian), pertanian-permukiman dan sebagainya. Hal tersebut dapat diidentifikasi dari keberadaan fisik terbangun dan perkembangan pergeseran penggunaan lahannya.

5.5.2. Provinsi DKI Jakarta

A. Agama

Agama merupakan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Agama dibedakan menjadi Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, Khong Hu Chu, dan Agama Lainnya. Pendataan penduduk menurut agama berguna bagi penentuan kebijakan yang berkaitan dengan kerukunan umat beragama, contoh: kebijakan Kementerian Agama dalam pembangunan tempat-tempat ibadah.

—–Tabel.5.54. Persentasi Jumlah Penganut Agama di DKI Jakarta

Berdasarkan tabel 5.53. diketahui bahwa, jumlah penganut agama terbesar adalah agama islam yaitu sebesar 7.974.463 orang. Dengan jumlah penduduk DKI Jakarta Tahun 2010 sebanak 9.607.787 jiwa maka prosentase pemeluk Islam di DKI Jakarta mencapai 83%.

B.  Kearifan Lingkungan

DKI Jakarta sebagai ibu kota negara, dengan masyarakat dari berbagai etnik, suku bangsa, agama, dan berbagai macam rupa, menjadikan Jakarta seolah kehilangan akar budaya. Kearifan lingkungan yang mungkin dulu pernah ada di masyarakat asli Jakarta (Betawi) lambat laun mulai punah. Budaya modern kini telah mendominasi. Ditengah arus teknologi yang kencang semestinya kearifan lingkungan bisa ditumbuhkan kembali sebagai bagian dari cara melindungi lingkungan hidup.

C.  Kebudayaan

Penduduk asli Jakarta disebut orang Betawi. Budaya/kesenian asli masyarakat Betawi antara lain ondel-ondel, lenong, tanjidor. Sebagai pusat pemerintahan sekaligus sebagai pusat perekonomian, DKI Jakarta merupakan daerah dengan tingkat urbanisasi yang tinggi dengan berbagai latar pendidikan dan sosial ekonomi. Seiring dengan perkembangan kemajuan peradaban, masyarakat asli betawi mulai terpinggirkan. Satu-satunya komunitas betawi yang masih terpelihara dalah di Kampung Betawi Situ Babakan. Kampung Betawi Situ Babakan merupakan satu-satunya cagar budaya Betawi yang tersisa. Sesuai namanya, kampung inipun tempat dikembangkannya budaya Betawi yang sudah tersisih. Ditempat ini juga disediakan panggung khusus untuk setiap penampilan budaya Betawi. Tak hanya itu, rumah-rumah dikampung ini hampir semuanya berbentuk rumah adat betawi.

Gambar 5.36. Pintu Masuk Kampung Budaya Betawi, Situ Babakan.

Jumlah tempat peribadatan di DKI Jakarta sampai dengan tahun 2009 sebanyak 10.222, terdiri dari mesjid dan langgar sebanyak 8.796, diikuti gereja sebanyak 1.263, vihara sebanyak 242 unit, serta pura/kuil sebanyak 21 unit.

D. Penggunaan Lahan

DKI Jakarta sebagai kota metropolitan yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan pusat perekonomian didominasi oleh penggunaan lahan non pertanian (bangunan dan permukiman). Penggunaan lahan sektor pertanian yang meliputi penggunaan lahan sawah dan lahan kering (tegalan) merupakan jenis penggunaan lahan yang paling kecil. Penggunaan Lahan Provinsi DKI Jakarta seperti tampak pada tabel 5.55 di bawah ini.

Sumberdaya lahan menurut penggunaannya diklasifikasikan menjadi 12 jenis, yaitu sarana permukiman/sosekbud, pertanian lahan kering, pertanian lahan sawah, perkebunan, perikanan, perhubungan, areal berhutan, tanah kritis/rusak, padang, industri, pertambangan terbuka dan perairan. Lahan permukiman/sosekbud adalah tempat tinggal/halaman sekitarnya dan tempat kegiatan penduduk serta fasilitas pelayanan jasa seperti perdagangan, perkantoran, perpasaran, peribadatan, pendidikan, olahraga, pemakaman dan taman. Dari 12 jenis klasifikasi penggunaan lahan tersebut, 4 jenis (perkebunan, tanah kritis/rusak, padang dan pertambangan terbuka) tidak ada di DKI Jakarta. Lahan perairan adalah lahan yang ditutupi berbagai jenis air permukaan seperti sungai, danau, waduk dan rawa.

——Tabel 5.55. Penggunaan Lahan Provinsi DKI Jakarta

Sedangkan menurut status pemilikannya, penggunaan lahan digolongkan menjadi 6 jenis, yaitu Tanah Negara, Hak Pakai, Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, Hak Pengelolaan dan Tanah Milik.

Peranan lahan sebagai ruang untuk tempat tinggal, media atau tempat tumbuh tanaman atau wadah bahan galian/mineral menunjukkan bahwa lahan mempunyai kedudukan yang sentral dalam menunjang keberhasilan pembangunan. Khusus di DKI Jakarta, tingginya nilai lahan sebagai akibat pertumbuhan sektor bisnis yang cukup pesat mengakibatkan terjadinya mutasi penggunaan lahan yang cukup berarti dari sektor yang kurang produktif seperti pertanian ke sektor-sektor lainnya yang lebih menguntungkan, seperti sarana permukiman, perdagangan, perkantoran, pariwisata dan lain-lain. Hal ini membawa permasalahan yang cukup kompleks sehingga peletakan perencanaan di bidang sumberdaya lahan sering mengalami pergeseran.

5.5.3. Provinsi Jawa Barat

A. Agama

Penduduk di Jawa Barat yang paling dominan adalah pemeluk agama Islam dan yang kedua yaitu agama Khatolik. Data tersebut di dapatkan dari kantor wilayah Depag Provinsi Jawa Barat tahun 2009. Dapat dilihat dari jumlah tempat peribadatan umat Islam tahun 2009 sebanyak 92.620, sementara untuk agama Kristen Protestan, Katolik, Hindu dan Budha, masing-masing 2028 buah, 117 buah, 29 buah, dan 142 buah. Jumlah penduduk agama Islam pada tahun 2009 sebanyak 41.795.305, Katolik sebanyak 496.757, Protestan 2.024.860, Hindu 107.448, Budha 202.505 orang, dan pemeluk agama lainnya 408.880 orang.

Tabel 5.56. Jumlah Pemeluk Agama di Jawa Barat 2009

B. Kearifan Lingkungan

Kearifan lokal atau indigenous knowledge merupakan pengetahuan yang dikembangkan didalam suatu masyarakat, yang didapatkan melalui proses trial & error terhadap lingkungan fisiknya, seperti terhadap gempa, banjir, dan lain-lain. Pengetahuan tersebut banyak tersimpan didalam suatu masyarakat lokal yang diterapkan terhadap lingkungan binaannya, seperti bangunan (rumah tinggal).

Sekilas tentang Gempa di Jawa Barat

Gambar– Jawa Barat berdekatan dengan lempeng Australia
Sumber : suryosentanu.web.id

Indonesia termasuk di dalam negara yang rawan terhadap gempa disebabkan oleh posisinya yang merupakan tempat bertemunya tiga lempengan bumi, yaitu Lempengan Indonesia-Australia, Lempengan Eurasia dan Lempengan Pasifik (Surahman, 2002).

Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang berada didalam zona rawan gempa, karena posisinya yang berdekatan dengan lempeng Australia dan mempunyai tingkat populasi yang tinggi (memberikan beban terhadap tanah) khususnya untuk Jawa Barat bagian Selatan. Kondisi-kondisi tersebut menyebabkan Jawa Barat sering mengalami beberapa kejadian gempa, yang berdampak terhadap keselamatan masyarakatnya, sehingga hal ini mempengaruhi pola pikir dan perilaku masyarakat tersebut. Pola pikir dan perilaku tersebut memunculkan kearifan lokal (indigeneous knowledge) terhadap sistem keselamatan yang diciptakan terhadap bentuk dan teknologi membangun rumah, yang dilakukan secara trial & error sehingga terbentuk rumah vernakular yang sekarang banyak digunakan di Jawa Barat.

Bangunan Vernakular di Jawa Barat bagian Selatan

Bangunan vernakular merupakan bangunan nonengineered tetapi dibangun melalui suatu tradisi yang turun temurun dan sudah mengalami berbagai perubahan (trial & error) baik bentuk maupun konstruksi bangunan, sehingga membuat bangunan tersebut bertahan terhadap lingkungan fisiknya dan dapat diterima oleh masyarakatnya (Gutierrez, 2004; Oliver, 1997; Rapoport, 1969).

Bangunan vernakular di Jawa Barat bagian Selatan (Gambar 5.37.), merupakan salah satu contoh yang sudah teruji dari gempa yang melanda daerah tersebut. Bangunan tersebut mampu bertahan, sedangkan bangunan lainnya (non vernakular) banyak yang roboh. Hal ini merupakan bukti bahwa adanya suatu sistem indigenous knowledge masyarakat Jawa Barat yang diterapkan terhadap bangunan tersebut. Indigenous knowledge seperti ini merupakan kekayaan pengetahuan bangsa Indonesia yang perlu diketahui dan dicari melalui kajian lapangan serta wawancara dengan masyarakat, sehingga terkumpul data-data indigenous knowledge yang dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat secara umum, khususnya untuk masyakat di daerah tersebut.

Secara garis besar rumah vernakular di Jawa Barat bagian Selatan mempunyai ciri-ciri, yaitu bangunan Panggung Rumah vernakular di Jawa Barat adalah bangunan panggung, yang lantainya diangkat dari muka tanah setinggi ± 60 cm.

Gambar 5.37. Berbagai tipologi rumah vernakuler di Jawa Barat Bagian Selatan

Struktur utama bangunan memakai kayu, dinding dari anyaman bambu dan
atap memakai penutup ijuk dan rumbia (imperata cylindrica), serta ada sebagian
dari bambu (Kampung Pulo dan Kampung Cikondang). Bangunan-bangunan
tersebut menggunakan pondasi dari batu dimana tiang diletakkan diatasnya
(gambar 5.38).

Gambar.5.38. Sistem panggung pada bangunan vernakular Jawa Barat.

Jadi bangunan vernakular selalu menyesuaikan dengan kondisi alam
disekitarnya (pemakaian material bangunan) kemampuan masyarakatnya di dalam
membangun (teknologi membangun yang dimiliki), serta tanggap terhadap
lingkungan alamnya (gempa, banjir, dll). Dengan demikian bangunan vernacular
tetap bertahan hingga sekarang. Bangunan vernacular di Jawa Barat bagian
Selatan yang sering mengalami kejadian gempa mampu bertahan. Berdasarkan
hasil kajian yang dilakukan, dapat dinyatakan bahwa kearifan lokal (indigenous
knowledge) bangunan vernacular di Jawa Barat bagian Selatan dalam merespon di
Jawa Barat bagian Selatan dalam merespon gempa ditunjukkan dengan :

  1. struktur bangunan yang terdiri dari kolom, balok lantai, balok ring, dan lain-lain, tersusun menjadi konfigurasi struktur rangka utama, ditambah rangka untuk menempelkan dinding yang sekaligus menyatu dengan struktur utama, serta rangka langit-langit dan kuda-kuda atap yang turut menyumbangkan kekakuan secara keseluruhan. Hal ini menyebabkan konfigurasi bangunan secara keseluruhan menjadi struktur box (box frame). Struktur box tersebut adalah salah satu struktur yang elastis, ductile terhadap gempa;
  2. pondasi bangunan yang berupa umpak batu ternyata sangat sesuai untuk bangunan yang solid dan kaku, bila terjadi gempa bangunan tetap utuh hanya bergeser posisinya;
  3. sambungan-sambungan antar komponen struktur bangunan menggunakan sistem pen dan pasak mempunyai keuntungan bila terjadi gempa masih tetap terikat antar komponennya walaupun terjadi goyangan akibat gempa;
  4. seluruh material struktur utama adalah menggunakan kayu, termasuk dalam struktur bangunan ringan yang mempunyai sifat elastis dan liat.

C. Seni Budaya.

Sebagian penduduk Jawa Barat adalah Suku Sunda. Selain itu, ada campuran Sunda dengan Jawa di pantai utara Cirebon serta sebagian kecil pesisir Indramayu. Provinsi Jawa Barat memiliki filosofi yang patut di acungi jempol, diantaranta adalah Silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh. Ketiga filosofi tersebut merupakan filsafat hidup yang di pegang penduduk asli Jawa barat. Maksud dan arti filosofi tersebut adalah menimbulkan sifat dan sikap untuk untuk saling mengasuh, saling mengasihi dan saling berbagi pengetahuan dan pengalaman antar sesama.

Masyarakat Jawa Barat memiliki keluhuran akal budi yang di landasi oleh filsafat tersebut. Agak berbeda dengan kebudayaan masyarakat lain di Nusantara, Masyarakat jawa barat yang berbahasa sunda sangat dipengaruhi budaya yang berakar pada nilai-nilai yang berasal dari tradisi masyarakat setempat. Dan dalam interaksi sosial, masyarakat di di jawa barat menganut falsafah seperti yang sudah di sebutkan tadi. Rasa persaudaraan menciptakan keakraban masyarakat Sunda dengan lingkungan sehingga tampak dari bagaimana masyarakat Jawa Barat, khususnya yang tinggal di pedesaan, mereka memelihara kelestarian lingkungan dengan cara penuh kerja sama dengan warga setempat. Sehingga di provinsi Jawa Barat ini banyak muncul masyarakat yang atas inisiatifnya sendiri dapat memelihara lingkungan alam mereka.

Kebudayaan masyarakat Jawa Barat terpengaruh dari 4 sumber, yaitu Hindu/Budha, Islam, Jawa, dan kebudayaan barat. Ini dapat dilihat dari upacara yang disertai membakar kemenyan (pengaruh Hindu), doa-doa menurut agama Islam, pakaian pernikahan tanpa baju dan berbentuk wayang orang (pengaruh Jawa Tengah), dan pemberian kado serta hidangan prasmanan model Belanda.

D. Penggunaan Lahan

Berdasarkan data dari Pertanahan Nasional (BPN) Tahun 2009. Jenis penggunaan lahan di Jawa Barat tahun 2008 meliputi : pemukiman, jasa, industri, tegalan, sawah, kebun campuran, perkebunan, hutan, perairan, tambak, tanah kosong, semak alang-alang dan lain-lain (tidak jelas penggunaannya). Kondisi ini relatif konstan sejak tahun 2005, kecuali penggunaan lahan permukiman, jasa dan industri mengalami kenaikan. Hingga Tahun 2008, tegalan dan kebun campuran merupakan penggunaan lahan terbanyak, mencapai 29,74% dari total wilayah. Data selengkapnya mengenai penggunaan lahan di Provinsi Jawa Barat dapat dilihat pada Tabel 5.57.

Tabel 5.57. Penggunaan Lahan di Jawa Barat tahun 2005, 2006, 2008 (Ha)

Sejak tahun 2005 luas hutan tidak pernah lebih dari 20 % dari luas wilayah Jawa Barat. Padahal UU no. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang mensyaratkan luas hutan dalam suatu wilayah harus lebih dari 30%. Perubahan komposisi penggunaan lahan dari tahun ke tahun bukan merupakan kejadian yang murni alami, karena di dalamnya terdapat pengaruh dari faktor lain, terutama faktor kebijakan dan politik. Gambaran mengenai besarnya poporsi penggunaan lahan Provinsi Jawa Barat dapat dilihat dengan lebih jelas pada gambar 5.39.

5.5.4. Provinsi Jawa Tengah

A. Agama

Sebagian besar penduduk Jawa Tengah beragama Islam dan mayoritas tetap mempertahankan tradisi Kejawen yang dikenal dengan istilah abangan. Agama lain yang dianut adalah Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, Kong Hu Cu, dan puluhan aliran kepercayaan. Penduduk Jawa Tengah dikenal dengan sikap tolerannya. Sebagai contoh di daerah Muntilan, Kabupaten Magelang banyak dijumpai penganut agama Katolik, dan dulunya daerah ini merupakan salah satu pusat pengembangan agama Katolik di Jawa. Provinsi Jawa Tengah merupakan provinsi dengan populasi Kristen terbesar di Indonesia , sedangkan suatu Desa di Sumpiuh, Banyumas 100 % Beragama Islam dan Banyumas adalah Populasi Islam terbesar di Indonesia.

Terdapat pula orang keturunan Yahudi dan menganut agama Yahudi di Jawa Tengah yang jumlahnya sangat sedikit sekali yang berada di wilayah Semarang, Cilacap, Solo, dan Brebes.

Tabel 5.58. Agama di Jawa Tengah

B. Seni Budaya

Propinsi Jawa Tengah terletak di Pulau Jawa dan beribukota di Semarang. Terbagi menjadi 35 kabupaten dan kota. Jawa Tengah memiliki adat istiadat dan budaya yang unik. Jawa Tengah dikenal sebagai “jantung” budaya Jawa. Seni Budaya Jawa Tengah, antara lain :

1. Rumah Joglo

Gambar rumah joglo

Rumah Joglo (Provinsi Jawa Tengah), yaitu rumah adat Jawa, rumah Jawa lebih dari sekedar tempat tinggal. Masyarakat Jawa lebih mengutamakan moral kemasyarakatan dan kebutuhan dalam mengatur warga semakin menyatu dalam satu kesatuan. Joglo merupakan rumah adat Jawa Tengah yang terbuat dari kayu.

Rumah bentuk ini mempunyai nilai seni yg cukup tinggi dan hanya dimiliki orang yang mampu. Pada masa lampau masyarakat jawa yang mempunyai rumah joglo hanya kaum bangsawan seperti sang pangeran dan kaum orang yang terpandang, karena rumah ini butuh bahan bangunan yang lebih banyak dan mahal dari pada rumah bentuk lain. Di zaman yang semakin maju ini rumah joglo digunakan oleh segenap lapisan masyarakat dan juga untuk berbagai fungsi lain, seperti gedung pertemuan dan kantor-kantor. Pada mulanya bentuk ini mempunyai empat pokok tiang di tengah yang di sebut saka guru, dan digunakan blandar bersusun yang di sebut tumpangsari. Blandar tumpangsari ini bersusun ke atas, makin ke atas makin melebar. Jadi awalnya hanya berupa bagian tengah dari rumah bentuk joglo zaman sekarang. Sirkulasi keluar masuknya udara pada rumah joglo sangat baik karena penghawaan pada rumah joglo ini dirancang dengan menyesuaikan dengan lingkungan sekitar. rumah joglo, yang biasanya mempunyai bentuk atap yang bertingkat-tingkat, semakin ke tengah, jarak antara lantai dengan atap yang semakin tinggi dirancang bukan tanpa maksud, tetapi tiap-tiap ketinggian atap tersebut menjadi suatu hubungan tahap-tahap dalam pergerakan manusia menuju ke rumah joglo dengan udara yang dirasakan oleh manusia itu sendiri. Ciri khas atap joglo, dapat dilihat dari bentuk atapnya yang merupakan perpaduan antara dua buah bidang atap segi tiga dengan dua buah bidang atap trapesium, yang masing-masing mempunyai sudut kemiringan yang berbeda dan tidak sama besar.

Atap joglo selalu terletak di tengah-tengah dan selalu lebih tinggi serta diapit oleh atap serambi. Bentuk gabungan antara atap ini ada dua macam, yaitu: Atap Joglo Lambang Sari dan Atap Joglo Lambang Gantung. Atap Joglo Lambang Sari mempunyai ciri dimana gabungan atap Joglo dengan atap Serambi disambung secara menerus, sementara atap Lambang Gantung terdapat lubang angin dan cahaya. Rumah adat joglo yang merupakan rumah peninggalan adat kuno dengan karya seninya yang bermutu memiliki nilai arsitektur tinggi sebagai wujud dan kebudayaan daerah yang sekaligus merupakan salah satu wujud seni bangunan atau gaya seni,bahan bangunanya pun terdiri dari bahan-bahan yang berkualitas dan cukup mahal harganya, bangunanya pun sangat kokoh dengan pondasi yang sangat kuat oleh karena itu rumah ini sangat istimewa bagi adat jawa dan sangat dijaga kelestariannya sampai saat ini. Oleh karena itu rumah joglo adalah salah satu rumah yang berpengaruh bagi kelestarian adat daerah yang ada di Indonesia meskipun adat-adat daerah lain banyak juga yang mempunyai rumah adat yang mempunyai seni tersendiri. Sumber: @mbudayajawa.

2. Batik Jawa.

Batik Indonesia sejak dahulu hingga sekarang telah dikenal luas oleh masyarakat, baik dari dalam maupun luar negeri. Daerah sentra batik di Indonesia yang terkenal antara lain Yogyakarta, Solo, Semarang (Joglosemar). Selain ketiga daerah tersebut dikenal juga Pekalongan sebagai tempat pengrajin batik. Kata batik konon berasal mula dari kata ‘tik’. Kata ini berarti titik. Hal ini dikarenakan dalam proses pembuatan batik melalui tahapan penetesan lilin ke kain putih yang akan dijadikan batik nantinya. Saat proses penetesan tersebut maka tetesan lilin itu akan berbunyi tik-tik-tik sehingga akhirnya lahirlah istilah kata batik. Di lain sisi, ada pihak yang berpendapat bahwa kata batik bersumber pada sumber-sumber tulis kuno yang dihubungkan dengan tulisan, atau lukisan . Kedua pendapat ini hingga sekarang masih digunakan untuk menjelaskan asal-usul kata batik, dan hal ini sebenarnya tidak menjadi masalah mendasar dalam upaya pengembangan batik di masa sekarang dan mendatang.

Warisan berarti semua peninggalan dari masa silam/dahulu yang sekarang bentuk, jenis, dan wujud atau rupanya masih ada, dan digunakan oleh generasi sekarang. Secara khusus, warisan dalam judul tulisan ini mengacu pada peninggalan batik dari era generasi terdahulu ke sekarang. Budaya dapat diartikan sebagai semua hasil cipta, rasa, dan karsa manusia (Koentjaraningrat). Berdasarkan pendapat ini, batik adalah salah satu hasil dari cipta, rasa, dan karsa yang dilakukan oleh manusia Indonesia, baik sejak masa silam hingga sekarang, selain hasil lainnya yang berwujud pada bangunan candi-candi kuno, senjata-senjata tradisional, dan Pancasila (buah pikiran Bung Karno yang bersumber pada nilai-nilai kearifan bangsa Indonesia sebelumnya).

Daerah-daerah sentra utama pengrajin batik, yaitu Yogyakarta, Solo, dan Semarang (Joglosemar), dan Pekalongan. Dari segi lingkungan hidup. Di era sekarang dan mendatang, isu lingkungan hidup menjadi krusial. Kaitan antara lingkungan hidup dengan batik adalah sangat erat. Dalam proses membatik, dia terkadang memerlukan campuran kimia warna tertentu untuk dapat menghasilkan produk akhir (batik). Selama proses membatik itu, faktor bahan-bahan yang digunakan dalam membatik seperti warna, haruslah bahan-bahan yang aman bagi manusia, dan tidak membahayakan lingkungan hidup. Untuk yang terakhir, kita harus memastikan adanya sistem pengelolaan limbah yang ramah lingkungan hidup bagi perusahaan-perusahaan batik skala menengah dan besar.

Adapun untuk perusahaan skala kecil, edukasi kepada para pengusaha atau pembatik mengenai bahan-bahan yang aman untuk diproduksi dalam pembuatan batik perlu dilakukan. Akan lebih baik lagi, bila mereka ini tetap menggunakan bahan-bahan alami dalam membatik sehingga resiko pencemaran lingkungan hidup menjadi lebih kecil. Bila kita dapat menjalankan dengan baik semua proses ini, kita memperoleh manfaat darinya seperti berkesinambungannya proses produksi batik yang aman terhadap lingkungan hidup, dan menaikkan citra batik Indonesia di hadapan orang luar negeri. Alasan yang terakhir ini karena pada umumnya orang-orang asing (dari Eropa terutama), mereka sangat peduli terhadap suatu produk yang dihasilkan dari proses yang aman /ramah terhadap lingkungan hidup. Berdasarkan kedua alasan ini, kita harus peduli untuk mewujudkan produk batik Indonesia yang aman terhadap lingkungan hidup (batik is a green product).

Secara singkat, alternatif solusi untuk kedua permasalahan itu, telah dibahas dari segi pendidikan, ekonomi, dan lingkungan hidup. Bila ketiga segi atau unsur tersebut dilakukan secara bersamaan dan ajeg oleh kita semua, maka upaya kita untuk lebih mencintai, mengembangkan, dan melestarikan batik sebagai warisan budaya Indonesia akan berhasil di dalam negeri, dan dia juga akan berdampak positif pada citra batik Indonesia di mata orang-orang non-Indonesia (asing), baik dalam jangka pendek maupun panjang. Sumber : Yuliardi Kadarmo (Beta Kulinet).

Batik-Tulis Pekalongan (Provinsi Jawa Tengah). Pakaian adat Jawa Tengah adalah Batik. Kita akan mudah menemukan batik di Propinsi ini karena dua diantara wilayahnya merupakan sentra penghasil batik.Solo dan Pekalongan adalah daerah penghasil batik yang telah memberikan kontribusi positif untuk melestarikan budaya bangsa. Dan salah satu daerah itu adalah Kabupaten Pekalongan. Batik di Pekalongan dapat dikategorikan sebagai batik pesisir yang mempunyai ciri khas pada motif kain hiasnya yang bersifat naturalis dan kaya warna. Ciri khas inilah yang memberikan identitas tersendiri bagi batik-tulis Pekalongan yang berbeda dengan batik lainnya, seperti batik-tulis Yogya atau Solo. (Sumber : @mbudayajawa)

3. Seni Tari Gambyong.

Tari Gambyong (Provinsi Jawa Tengah). Gambyong merupakan tarian khas Jawa Tengah yang biasanya ditampilkan untuk menyambut tamu. Tarian ini merupakan sejenis tarian pergaulan di masyarakat. Ciri khas pertunjukan Tari Gambyong, sebelum dimulai selalu dibuka dengan gendhing Pangkur. Tariannya terlihat indah dan elok apabila si penari mampu menyelaraskan gerak dengan irama kendang. Sebab, kendang itu biasa disebut otot tarian dan pemandu gendhing. Pada zaman Surakarta, instrumen pengiring tarian jalanan dilengkapi dengan bonang dan gong. Gamelan yang dipakai biasanya meliputi gender, penerus gender, kendang, kenong, kempul, dan gong. Semua instrumen itu dibawa ke mana-mana dengan cara dipikul. Umum dikenal di kalangan penabuh instrumen Tari Gambyong, memainkan kendang bukanlah sesuatu yang mudah dan harus mempunyai jiwa seni yang tinggi yang dapat mengikuti irama sampai kedalam perasaan pengendang tersebut. Pengendang harus mampu tumbuh dengan keluwesan tarian serta mampu berpadu dengan irama gendhing. Maka tak heran, sering terjadi seorang penari Gambyong tidak bisa dipisahkan dengan pengendang yang selalu mengiringinya. Begitu juga sebaliknya, seorang pengendang yang telah tahu lagak-lagu si penari Gambyong akan mudah melakukan harmonisasi. Sumber : @mbudayajawa.

C. Kearifan Lokal.

Kearifan lokal (local wisdom) merupakan pandangan atau gagasan yang bersumber pada masyarakat pendukung kebudayaan tertentu. Di dalam pandangan atau gagasan tersebut termuat berbagai ajaran mengenai spiritualitas kehidupan manusia, alam semesta/kosmologi, adat istidat, norma dan nilai serta perilaku masyarakatnya. Salah satu kearifan lokal yang terdapat di Provinsi Jawa Tengah yaitu seperti kearifan lokal di lingkungan masyarakat Samin Kabupaten Blora Jawa Tengah. Masyarakat Samin adalah masyarakat yang memiliki ciri-ciri khusus yang menjadi identitas mereka dalam penampilan sehari-hari yang berbeda dengan masyarakat lain di sekitarnya. Identitas itu menunjukkan karakter dan perlengkapan mereka sesuai dengan ajaran saminisme yang mereka pertahankan dari waktu ke waktu terutama di kalangan generasi tua. Mereka merasakan kebenaran dan keyakinan yang kuat terhadap ajaran-ajaran peninggalan Samin Surontiko sebagai suatu pandangan hidup yang sangat berguna. Sikap perbuatan warga Samin selalu diikuti bukti-bukti nyata dan konsekuen sesuai dengan ajaran yang diterima. Simbol identitas masyarakat Samin antara lain terlihat pada pakaian yang dipakai dan juga bahasa. Mereka tidak mengenal tingkataan bahasa Jawa, jadi bahasa yang dipakai adalah bahasa Jawa ngoko. Bagi mereka menghormati orang lain tidak dari bahasa yang digunakan tapi sikap dan perbuatan yang ditunjukkan. Pakaian orang Samin biasanya terdiri baju lengan panjang tidak memakai krah, berwarna hitam. Laki-laki memakai ikat kepala. Untuk pakaian wanita bentuknya kebaya lengan panjang, berkain sebatas di bawah tempurung lutut atau di atas mata kaki. Ajaran saminisme muncul sebagai akibat atau reaksi dari pemerintah kolonial Belanda yang sewenang-wenang. Perlawanan orang Samin yang dipelopori Samin Surontiko (nama aslinya Raden Kohar) tidak dilaksanakan secara fisik tetapi berwujud penentangan terhadap segala peraturan dan kewajiban yang harus dilakukan rakyat terhadap Belanda misalnya tidak membayar pajak. Terbawa oleh sikapnya yang menentang tersebut mereka membuat tatanan, adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan tersendiri. Misalnya perkawinan sudah dianggap sah walaupun yang menikahkan hanya orang tua pengantin. Ajaran saminisme tersebar antara lain di daerah Blora, Kudus, Pati, Rembang dan Bojonegara (Mumfangat, 2004).

Tidak hanya itu, kearifan lokal dirasakan penting untuk dimanfaatkan guna menghadapi perubahan iklim. Perubahan iklim sebenarnya sudah terjadi sejak berabad-abad lalu, hanya saja dialami oleh generasi manusia yang berbeda beda. Untuk membuktikan adanya perubahan iklim, diperlukan pengamatan selama 30 tahun. Sedangkan kearifan lokal sudah ada sejak zaman nenek moyang yang juga merupakan cara adaptasi pada zamannya yang terus diturunkan hingga saat ini.
Oleh karena sifat kearifan lokal yang khas pada setiap daerah, tidak bisa dibuat kebijakan yang seragam untuk menerapkan kearifan lokal tersebut. Setiap pemerintah daerah harus menggali dan mengoptimalkan kearifan lokal masing-masing untuk diterapkan di daerahnya. Salah satu contoh kearifan lokal di bidang pertanian, seperti yang terjadi di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, yakni menanam padi merah (slegereng) yang tahan di tanah dengan kadar air rendah, tahan hama penyakit, dan tumbuh di sawah maupun tegalan. Petani barangkali tidak memahami istilah perubahan iklim. Namun petani dengan sendirinya akan mencari cara untuk mengatasi tantangan baru yang dihadapinya, termasuk sesuatu yang disebut perubahan iklim. Adaptasi terhadap tantangan itu tidak sedikit yang bersumber dari kearifan lokal (http://regional.kompas.com/read/2011/03/24).

Kabupaten Kebumen merupakan salah satu daerah yang ikut merasakan dampak kerusakan lingkungan khususnya kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS). Banjir besar yang pernah melanda Kebumen antara lain disebabkan air hujan yang tidak tertampung lagi oleh sungai sehingga meluap ke perkampungan. Berdasarkan data Balai PSDA Probolo, kerusakan yang terjadi di DAS Telomoyo yang masuk dalam wilayah Kabupaten Kebumen telah menyebabkan kapasitas sungai untuk menampung air menjadi sangat berkurang. Penambangan pasir dan batu oleh penduduk serta penggerusan tebing sungai semakin menambah parah kondisi di daerah tersebut. Kondisi tersebut masih diperparah oleh banyaknya perambahan hutan, sehingga tidak bisa lagi menahan air hujan. Akibatnya pada saat hujan lebat, air langsung mengalir ke daerah yang lebih rendah, dalam hal ini sungai-sungai di DAS Telomoyo. Berdasarkan data Balai PSDA Probolo, kerusakan terparah Sungai Telomoyo berada di Sub DAS Kemit.

Kondisi di atas juga diakibatkan kegiatan pertanian yang kurang ramah lingkungan serta gundulnya hutan di daerah penampung air (cathment area). Hal ini menyebabkan erosi yang terjadi di sepanjang aliran sungai tersebut semakin parah. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah berusaha menangani permasalahan di atas melalui berbagai cara, mulai pembangunan fisik hingga program-program pemberdayaan masyarakat. Berbagai kegiatan pembangunan fisik seperti pembuatan cekdam, bendungan, sumur resapan, dan sebagainya telah dilaksanakan.

Namun demikian upaya-upaya tersebut belum optimal karena banjir masih saja terjadi meskipun frekuensinya sudah berkurang. Selain banjir, dampak dari rusaknya lingkungan DAS adalah hilangnya mata air yang terdapat di sekitar DAS dan kekeringan.

Menanggapi situasi di atas pada tahun 2003-2004, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Balai Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) Probolo melaksanakan kegiatan pilot project konservasi sumber daya air di Sub-Sub DAS Kalong dan DAS Kemit di Kabupaten Kebumen. Konsep pemberdayaan masyarakat sekitar DAS diterapkan pada tiga desa dampingan di sub-sub DAS tersebut. Pelibatan masyarakat menjadi agenda penting dalam proyek tersebut. Setiap kegiatan yang dilakukan merupakan hasil kesepakatan antara masyarakat dengan pemerintah. Hasil dari kegiatan tersebut cukup menggembirakan, berangsur-angsur perilaku masyarakat terhadap lingkungan DAS berubah menjadi lebih baik. Peran masyarakat dalam pengelolaan DAS tidak hanya sebagai penerima manfaat, namun juga sebagai pemprakarsa pelaksanaan serta penjaga kelestarian DAS.

Lesson Learned dari kegiatan yang pernah dilaksanakan oleh Balai PSDA Probolo tersebut akhirnya menarik perhatian World Bank untuk membantu Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam memperbaiki kondisi DAS. Maka pada tahun 2008-2009 diimplemetasikanlah program pemberdayaan masyarakat sekitar DAS Telomoyo di Kabupaten Kebumen. Program tersebut berupaya melatih masyarakat bagaimana melakukan konservasi sumber daya air melalui pelatihan pembangunan fisik, teknik pertanian ramah lingkungan dan hemat air serta peningkatan usaha perekonomian masyarakat.

D. Penggunaan Lahan

Luas wilayah Provinsi Jawa Tengah 3.254.412 ha atau 32.544,12 km2, dari segi penggunaan lahan, pada tahun 2008 lahan untuk pertanian masih merupakan penggunaan yang paling besar 1.728.501 ha atau 53,12% dari luas wilayah Jawa Tengah terdiri dari Lahan Sawah seluas 990.824 Ha dan Lahan Tegal/Kebun seluas 737.677 Ha, dan seperti tahun sebelumnya, peruntukan lain yang cukup luas adalah untuk Hutan Negara 568.305 Ha atau 17,46% dari luas wilayah Jawa Tengah dan Pekarangan/Permukiman 521.769 Ha atau 16,03% secara rinci penggunaan lahan di Jawa Tengah disajikan pada Tabel 6.8. berikut ini.

Tabel 5.59. Luas Lahan Menurut Penggunaan di Provinsi Jawa Tengah

5.5.5. Provinsi Jawa Timur

A. Agama

Berdasarkan Tabel 6.5. Jumlah Penduduk menurut Jenis Agama, maka agama yang dianut penduduk di Provinsi Jawa Timur dari terbesar ke terkecil adalah Islam sebesar 95,43%, Protestan sebesar 2,08%, Katolik sebesar 1,32%, Budha sebesar 0,55%, Hindu sebesar 0,47%, Konghucu sebesar 0,14%, lainnya (aliran kepercayaan) sebesar 0,01%. Untuk lebih jelasnya persebaran agama di seluruh kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 5.60. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Agama 2009

B. Seni dan Budaya

Sejarah seni dan budaya Jawa Timur tidak lepas dari perjalanan budaya masyarakat yang dipengaruhi oleh sistem kerajaan hingga sistem pemerintahan modern. Secara garis besar sejarah perkembangan seni dan budaya mayarakat Jawa Timur terbagi ke dalam tiga kelompok jaman yakni:

  1. Jaman Majapahit. Jaman ini, dicirikan dengan masyarakat tradisional. Mereka membangun candi-candi. Candi jaman Majapahit dicirikan terbuat dari batu bata, berbeda dengan candi di Jawa Tengah yang terbuat dari batu kali/andhesit. Beberapa peninggalan candi antara lain: kelompok candi Penataran, Candi Bajangratu, candi Surowono, candi Triwulan dll.
  2. Jaman Singasari. Pada seni bangunannya sudah benar-benar meperlihatkan gaya seni Jawa Timur baik pada struktur candi maupun pada hiasannya, contohnya: Candi Singosari, Candi Kidal, dan Candi Jago. Seni patungnya bergaya yang bertolak dari gaya seni Jawa Tengah, hanya seni patung singosari lebih lebih halus pahatannya dan lebih kaya dengan hiasan, contohnya patung Bhairawa, Prajnaparamita dan Ganesha.
  3. Jaman Peralihan. Pada jaman ini, seni bangunan sudah meperlihatkan tanda-tanda gaya seni Jawa Timur seperti tampak pada arsitektur Candi Belahan yaitu pada perubahan kaki candi yang bertingkat dan atapnya yang makin tinggi. Kemudian pada seni patungnya sudah tidak lagi memperlihatkan tradisi India, tetapi sudah diterapkan budaya Indonesia seperti pada patung Airlangga.

Bahasa.

Ada beberapa macam bahasa lokal (daerah) yang dipergunakan masyarakat Jawa Timur. Di daerah Mataraman (eks-Karesidenan Madiun dan Kediri), bahasa daerah yang dituturkan hampir sama dengan bahasa Jawa Tengahan (Bahasa Jawa Solo-an). Di daerah pesisir utara bagian barat (Tuban dan Bojonegoro), dialek Bahasa Jawa yang dituturkan mirip dengan yang dituturkan di daerah Blora hingga Rembang di Jawa Tengah.

Bahasa daerah di bagian tengah dan timur dikenal dengan Bahasa Jawa Timuran, yang dianggap bukan Bahasa Jawa baku. Ciri khas Bahasa Jawa Timuran adalah egaliter, blak-blakan, dan seringkali mengabaikan tingkatan bahasa layaknya Bahasa Jawa Baku, sehingga bahasa ini terkesan kasar. Namun demikian, penutur bahasa ini dikenal cukup fanatik dan bangga dengan bahasanya, bahkan merasa lebih akrab.

Bahasa Madura dituturkan oleh Suku Madura di Madura maupun dimanapun mereka tinggal. Bahasa Madura juga dikenal tingkatan bahasa seperti halnya Bahasa Jawa, yaitu enja-iya (bahasa kasar), engghi-enten (bahasa tengahan), dan engghi-bhunten (bahasa halus). Dialek Sumenep dipandang sebagai dialek bahasa madura yang paling halus, sehingga dijadikan bahasa standar yang diajarkan di sekolah.

Di daerah Tapal Kuda, sebagian penduduk menuturkan dalam dua bahasa: Bahasa Jawa dan Bahasa Madura. Sementara kawasan kepulauan di sebelah timur Pulau Madura menggunakan Bahasa Madura dengan dialek tersendiri, bahkan dalam beberapa hal tidak dimengerti oleh penutur Bahasa Madura di Pulau Madura.

Suku Osing di Banyuwangi menuturkan Bahasa Osing. Serta Bahasa Tengger, bahasa sehari-hari yang digunakan oleh Suku Tengger di pegunungan Bromo dan Tengger, dianggap lebih dekat dengan Bahasa Jawa Kuna.

Kesenian

Kesenian Jawa Timur. Ada berbagai jenis kesenian khas yang berkembang di dalam masyarakat Jawa Timur. Ludruk merupakan salah satu kesenian Jawa Timuran yang cukup terkenal, yakni seni panggung yang umumnya seluruh pemainnya adalah laki-laki. Berbeda dengan ketoprak yang menceritakan kehidupan istana, ludruk menceritakan kehidupan sehari-hari rakyat jelata, yang seringkali dibumbui dengan humor dan kritik sosial. Pagelaran ludruk biasanya dibuka dengan Tari Remo dan parikan. Saat ini kelompok ludruk tradisional dapat dijumpai di daerah Surabaya, Mojokerto, dan Jombang, meski keberadaannya semakin dikalahkan dengan modernisasi.

Reog, merupakan kesenian khas Ponorogo yang telah dipatenkan sejak tahun 2001, dan kini juga menjadi ikon kesenian Jawa Timur. Pementasan reog disertai dengan jaran kepang (kuda lumping) yang disertai unsur-unsur gaib.

Seni terkenal Jawa Timur lainnya antara lain wayang kulit purwa gaya Jawa Timuran, topeng dalang di Madura, dan besutan. Sementara itu, di daerah Mataraman, kesenian Jawa Tengahan seperti ketoprak dan wayang kulit cukup populer. Legenda terkenal dari Jawa Timur antara lain Damarwulan dan Angling Darma.

Secara umum, kesenian Jawa Timuran dapat dikelompokkan dalam beberapa katagori, yakni:

a. Seni Tari

Seni tari tradisional di Jawa Timur secara umum dapat dikelompokkan dalam gaya Jawa Tengahan, gaya Jawa Timuran, gaya Osing, dan trian gaya Madura. Seni tari klasik antara lain tari gambyong, tari srimpi, tari bondan, dan kelana. Tari Remo, sebuah tarian dari Surabaya yang melambangkan jiwa, kepahlawanan. Ditarikan pada waktu menyambut para tamu. Reog Ponorogo, merupakan tari daerah yang menunjukkan keperkasaan, kejantanan dan kegagahan.

b. Seni Musik

Musik tradisional Jawa Timur hampir sama dengan musik gamelan Jawa Tengah seperti Macam laras (tangga nada). Alat yang digunakan yaitu gamelan berlaras pelog dan berlaras slendro. Nama-nama gamelan yang ada misalnya; gamelan kodok ngorek, gamelan munggang, gamelan sekaten, dan gamelan gede. Saat ini gamelan dipergunakan untuk mengiringi bermacam acara, seperti; mengiringi pagelaran wayang kulit, wayang orang, ketoprak, tari-tarian, upacara sekaten, perkawinan, khitanan, keagaman, dan bahkan kenegaraan. Di Madura musik gamelan yang ada disebut Gamelan Sandur.

Gambar 5.40. Seni tradisional Jawa Timur; (a) Tari Remo, (b) Ludruk

c. Rumah adat

Gaya arsitektur rumah masyarakat Jawa Timur dapat dibedakan berdasarkan letak daerahnya. Kawasan Jawa Timur bagian barat (seperti di Ngawi, Madiun, Magetan, dan Ponorogo) bangunan rumah umumnya mirip dengan bentuk bangunan Jawa Tengahan (Surakarta). Umumnya memiliki bentuk joglo, bentuk limasan (dara gepak), bentuk srontongan (empyak setangkep). Masa kolonialisme Hindia-Belanda juga meninggalkan sejumlah bangunan kuno. Kota-kota di Jawa Timur banyak terdapat bangunan yang didirikan pada era kolonial, terutama di Surabaya dan Malang.

d. Pakaian adat.

Pakaian adat jawa timur ini disebut mantenan. Pakaian ini sering digunakan saat perkawinan di masyarakat Magetan.

e. Kerajinan.

Macam-macam produk unggulan kerajinan anyaman bambu berupa : caping, topi, baki, kap lampu, tempat tissue, tempat buah, tempat koran serta macam-macam souvenir dari bambu lainnya. Sentra industri ini terletak di Desa Ringinagung, Magetan. Selain dari bahan bambu, beberapa jenis kerajinan juga terbuat dari kulit. Sentra industri kulit banyak dijumpai di Magetan dan Tanggulangin Sidoharjo.

f. Perkawinan.

Penduduk Jawa Timur umumnya menganut perkawinan monogami. Sebelum dilakukan lamaran, pihak laki-laki melakukan acara nako’ake (menanyakan apakah si gadis sudah memiliki calon suami), setelah itu dilakukan peningsetan (lamaran). Upacara perkawinan didahului dengan acara temu atau kepanggih.

g. Festival Bandeng

Festival Bandeng selalu digelar setiap tahun. Kegiatan ini biasanya dibarengi dengan acara lelang (menjual dengan harga tawar yang paling tinggi) bandeng kawak yang sudah menjadi tradisi masyarakat daerah pesisir seperti Gresik dan Sidoarjo. Seekor bandeng kawak, bisa mencapai berat 7 kg, dengan ukuran bisa mencapai panjang 80-90 cm. Paling tidak tradisi ini dapat memberikan motivasi bagi petani tambak untuk senantiasa menjaga kualitas lingkungan tambak.

Gambar 5.41. Bandeng dengan berat sekitar 6,8 Kg menjadi juara pertama pada acara Festival Bandeng, Sidoarjo.

h. Upacara Kasodo

Upacara Yadnya Kasada atau Kasodo ini merupakan ritual yang dilakukan setahun sekali untuk menghormati Gunung Brahma (Bromo) yang dianggap suci oleh penduduk suku Tengger, yang pada umumnya beragama Hindu. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara ini diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

Gambar 5.42. Upacara Kasada Suku Tengger, Bromo

i. Parikan

Parikan biasanya digelar mengawali acara ludruk. Ada tiga jenis parikan di dalam ludruk pada saat bedayan (bagian awal permainan ludruk). Ketiga jenis parikan tersebut adalah; lamba (parikan panjang yang berisi pesan), kecrehan (parikan pendek yang kadang-kadang berfungsi menggojlok orang) dan dangdutan (pantun yang bisa berisi kisah-kisah kocak).

j. Ketoprak

Ketoprak adalah sejenis seni pentas (sandiwara) yang berasal dari Jawa, pementasannya diselingi dengan lagu-lagu Jawa, yang diiringi dengan gamelan. Tema cerita dalam sebuah pertunjukan ketoprak bermacam-macam, biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa.

k. Reog Ponorogo

Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari kota Ponorogo. Beberapa perangkat atau tokoh dalam pementasan reog adalah; topeng kepala singa, warok dan gemblak. Reog merupakan salah satu budaya daerah yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan. Seni Reog Ponorogo ini terdiri dari 2 sampai 3 tarian pembuka. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada reog tradisional, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang. Tarian pembukaan lainnya, biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu.

Gambar 5.43. Reog Ponorogo (kiri) dan tokoh Warok (kanan)

l. Karapan Sapi

Karapan sapi adalah perlombaan pacuan sapi khas dari Pulau Madura. Pada perlombaan ini, sepasang sapi menarik semacam kereta dari kayu (tempat joki berdiri dan mengendalikan pasangan sapi tersebut) dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan-pasangan sapi lain, dengan diiringi oleh gamelan Madura yang disebut saronen. Jalur pacuan tersebut biasanya sekitar 100 meter dan lomba pacuan dapat berlangsung sekitar sepuluh sampai lima belas detik. Beberapa kota di Madura menyelenggarakan karapan sapi pada bulan Agustus dan September setiap tahun, dengan pertandingan final pada akhir September atau Oktober di kota Pamekasan untuk memperebutkan Piala Bergilir Presiden.

Gambar 5.44. Karapan Sapi, tradisi masyarakat Madura

C. Kearifan Lingkungan

Walaupun perkembangan kemajuan jaman yang begitu pesat terutama di wilayah urban, namun di sisi lain terutama masyarakat tradisional pedesaan masih banyak melestarikan adat istiadat atau tradisi lokal secara turun-temurun. Tradisi ini ternyata sangat arif dalam memperlakukan lingkungan hidup di sekitarnya. Beberapa kearifan lingkungan yang hingga kini masih hidup diantaranya adalah; kearifan masyarakat Osing, dan kearifan masyarakat Tengger.

Suku Osing adalah penduduk asli Banyuwangi atau juga disebut sebagai “wong Blambangan” dan merupakan penduduk mayoritas di beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Pada masyarakat suku Osing terdapat suatu pranata-pranata yang baik, yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, maupun manusia dengan alam. Dasar konsep dan pedoman hidup atau sistem nilai ini masih mengakar kuat secara turun termurun sejak jaman nenek moyang sampai sekarang. Kalau dilihat dari sudut etika lingkungan ini bertalian erat dengan relasi manusia dengan Tuhan Penciptanya, manusia dengan lingkungan, manusia dengan sesamanya. Sehubungan dengan itu ketiga unsur ini juga saling berkaitan yang tidak dapat diabaikan salah satu unsurnya.

Sejumlah fakta empiris menunjukan bahwa sebagian penduduk hidup dan memanfaatkan kekayaan alam yang dimilikinya. Mereka berpedoman pada pengalaman dan pengetahuan yang mereka tangkap dari lingkungan dan kemudian lahirlah tindakan yang mereka sadari mengenai jenis-jenis sumberdaya yang mereka miliki. Selain itu masyarakat Osing memandang alam sebagai tempat yang ada di sekitar kehidupan manusia yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan mereka. Berangkat dari pemahaman tersebut masyarakat Osing merasa memiliki tanggung jawab yang maksimal terhadap lingkungan mereka sekaligus memandang bahwa kekayaan alam merupakan jaminan buat generasi mendatang.

Suku Tengger adalah sebuah suku yang tinggal di sekitar Gunung Bromo, meliputi sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, dan Malang. Orang-orang suku Tengger dikenal taat dengan aturan dan agama Hindu. Mereka yakin merupakan keturunan langsung dari Majapahit. Nama Tengger berasal dari Legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger, yaitu “Teng” akhiran nama Roro An-”teng” dan “ger” akhiran nama dari Joko Se-”ger”. Bagi suku Tengger, Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara yakni Pura Luhur Poten Bromo dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo.

Pola kehidupan sosial budaya masyarakat Suku Tengger, bersumber dari nilai budaya, religi dan adat-istiadat setempat yang merupakan bentuk nilai-nilai kearifan lokal, salah satunya adalah kearifan lokal dalam pemanfaatan ruang dan upaya pemeliharaan lingkungan.

Pada kehidupan masyarakat Suku Tengger, terdapat konsep yang menjadi landasan sikap hidup masyarakat yaitu konsep anteng-seger (Tengger) yang berarti damai dan makmur. Selain itu, juga terdapat konsep yang mendasari hubungan tiga arah yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan lingkungan alam. Konsep tersebut terdiri atas tiga ajaran sebagai berikut:

  1. Konsep Tri Sandya, konsep karma pahala, dan hukum tumimbal lahir mengatur hubungan manusia dengan Tuhan. Konsep Tri Sandya diaplikasikan dengan melakukan sembahyang tiga kali sehari (pagi, sore, malam). Konsep karma pahala menyatakan bahwa hidup atau nasib manusia tergantung dari pahalanya, sedangkan hukum tumimbal lahir adalah hukum hidup yang harus dipatuhi, berbunyi ”Sapa nandur kebecikan bakal ngundhuh kabecikan. Sapa nandur barang ora becik bakal ngundhuh kacilaka”;
  2. Sikap hidup sesanti panca setia, guyub rukun, sanjan-sinanjan (saling mengunjungi), sayan (gotong royong, saling bantu membantu) yang didasari semboyan “sepi ing pamrih, rame ing gawe”, dan genten kuat (saling tolong menolong) merupakan dasar ketentuan yang mengatur hubungan manusia dengan manusia.
  3. Sikap hidup yang menganggap lingkungan alam (air, tanah, hutan, tegalan, sawah) sebagai sumbere panguripan mengatur hubungan manusia dengan lingkungan alam. Selain itu masih terdapat kepercayaan bahwa tanah atau pekarangan “angker” sehingga muncul sikap tidak boleh sembarangan menebang pohon, kecuali kalau pohon itu mengganggu lingkungan. Hubungan manusia dengan alam diwujudkan dalam suatu slogan yang berbunyi “tebang satu tanam dua”, artinya jika masyarakat menebang satu pohon, maka dia harus menanam minimal dua pohon yang jenisnya sama.
    Konsep hidup yang sangat ditanamkan dalam peri kehidupan masayarakat Tengger ini merupakan sebuah kearifan lingkungan yang perlu dilestarikan. Hal ini merupakan sumbangsih masyarakat yang sangat tinggi dalam menjaga kelestarian lingkungan.

D. Penggunaan Lahan

Wilayah Provinsi Jawa Timur terdiri atas lima kelompok penggunaan lahan yaitu kawasan Non Pertanian 620,789.68 Ha (13.16 %), sawah seluas 1,110,848.54 Ha (23.56 %), Lahan Kering seluas 1,122,369.89 Ha (23.80 %), Perkebunan seluas 374,851.07 Ha (7.95 %), Hutan seluas 1,067,749.17 ha (22.64%), Lainnya seluas 418,861.78 ha (8.88 %). Secara grafik pembagian luas penggunaan lahan dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 5.45. Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan/ Tutupan Lahan
di Jawa Timur

– Non Pertanian
Merupakan lahan yang digunakan untuk segala jenis bangunan, termasuk keperluan pemukiman seperti rumah mukim, daerah industri, daerah perdagangan, daerah perkantoran, daerah rekreasi, dan lain sebagainya. Terdapat secara mengelompok di sekitar atau menyesuaikan arah aliran sungai, pola jalan, dan kawasan-kawasan yang berpotensi untuk dapat berkembang. Luasan keseluruhan kurang lebih 620,789.68 Ha (13.16 % dari luas wilayah Provinsi Jatim).

– Persawahan
Secara umum lahan persawahan di Provinsi Jawa Timur dapat ditanami padi 2x satu tahun dengan luas kurang lebih 1.110.848,54 Ha (23,56%). Persawahan tersebar terdapat di seluruh wilayah kabupaten/kota. Persawahan terluas terdapat di Kabupaten Banyuwangi seluas 76.615,27 Ha. Lahan ini merupakan lahan yang tergolong sangat baik/subur dengan permukaan rata-rata datar dengan lereng tanah 0-8 persen. Tanah tidak peka terhadap erosi, tekstur lempung dan mudah diolah. Luas sawah perkabupaten dirinci berdasarkan frekuensi penanaman dapat dilihat pada tabel 6.6.

Tabel 5.61. Luas Lahan Sawah menurut Frekuensi Penanaman dan Hasil Produksi per Hektar Tahun 2010

 – Lahan Kering
Tegalan adalah pertanian kering semusim yang tidak pernah diairi dan ditanami dengan jenis tanaman umur pendek saja, tanaman keras yang mungkin ada hanya pada pematang-pematang. Di Provinsi Jawa Timur, tanah tegalan mempunyai luasan kurang lebih 1.122.369,89 Ha (23,80%). Luas tegalan terbesar terletak di Kabupaten Malang seluas 100.221,42 Ha. Umumnya menempati kemiringan tanah (lereng 8-25%).

–  Perkebunan
Perkebunan adalah usaha pertanian dengan komoditas tanaman keras/tahunan, pada umumnya dilakukan oleh perusahan/badan hukum maupun perorangan. Di Provinsi Jawa Timur, Perkebunan mempunyai luasan kurang lebih 374,851.07 Ha (7.95 %), Luas Perkebunan terbesar terletak di Kabupaten Banyuwangi seluas 96.730,15 Ha. Umumnya menempati kemiringan tanah bervariasai dari (lereng 8-45% dan lebih dari 45 %).

–  Hutan
Hutan adalah suatu lapangan yang ditumbuhi pohon-pohon yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya dan ditetapkan oleh pemerintah sebagai hutan. Di Provinsi Jawa Timur, hutan menempati areal seluas 1.067.749,17 Ha (22,64%), dari luas hutan dimaksud terluas berada di Kabupaten Banyuwangi seluas 109,085.76 Ha.

– Lainnya
Penggunaan tanah lainnya berupa sisa dari seluruh penggunaan tanah yang ada di Provinsi Jawa Timur, terdiri dari berbagai macam penggunaan tanah, seperti sungai, jalan, danau/waduk/rawa, tanah tandus, tanah rusak, dimungkinkan juga merupakan daerah pertambangan, padang, tanah terbuka, tanah terlantar, kawasan wisata dan lain-lain. Lahan untuk penggunaan lainnya menempati areal seluas 418.861,78 Ha (8,88%). Penggunaan tanah lain-lain ini mempunyai manfaat yang besar dan penting dalam pengaturan tata air, pencegah erosi, iklim, keindahan dan kepentingan strategis.

Perubahan Penggunaan Lahan

Jika dibandingkan dengan data tahun 2006, BPN Jatim melaporkan bahwa pola penggunaan lahan mengalami perubahan, terutama terjadi penambahan lahan untuk non pertanian sebesar 22.911,15 Ha, lahan perkebunan sebesar 45.326,66 Ha dan lahan lainnya sebesar 6.560,41 Ha. Kondisi ini telah menekan lahan sawah seluas 16.669,67 Ha, Lahan kering berkungang 9.950,60 Ha dan luas hutan yang sebelumnya pada tahun 2006 sebesar 1.213.657,22 Ha berkurang menjadi 7.738,65 Ha atau menjadi 1.067.749,17 Ha pada tahun 2010.

5.5.6. Provinsi DI Yogyakarta

A. Agama.

Suku yang terdapat di provinsi DIY adalah suku Jawa. Bahasa pengantar umumnya menggunakan bahasa Jawa yang sekaligus juga menunjukkan etnis yang ada di provinsi DIY adalah suku/etnis Jawa. Agama yang paling banyak dianut oleh masyarakat DIY adalah agama Islam, dengan jumlah penganut sebesar 3.255.658 orang, dengan jumlah terbanyak di Kota Jogja sebesar 859.490 orang. Jumlah Pemeluk agama di provinsi DIY dapat terlihat pada table berikut ini :

Tabel 5.62. Jumlah Pemeluk Agama di Provinsi DIY

B. Seni dan Budaya

Aset budaya yang dimiliki Provinsi DIY meliputi budaya yang bersifat fisik (tangible) dan non-fisik (intangible). Kawasan cagar budaya berjumlah 13 Kawasan Cagar Budaya (KCB), tersebar di 4 Kabupaten dan Kota terdiri dari 6 KCB di wilayah urban kota, 3 KCB di wilayah Suburban. Potensi Benda Cagar Budaya yang dimiliki sebanyak 365 buah. Semenetara itu Potensi museum yang dimiliki baik museum negeri maupun museum swasta berjumlah 30 museum yang terdiri dari 14 museum Benda Cagar Budaya dan Kesenian, 7 museum Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan serta 9 museum Perjuangan. Keberadaan museum Kota Yogyakarta 18 buah, Kabupaten Sleman 9 buah, Kabupaten Bantul 2 buah, dan Kabupaten Gunung Kidul 1 buah.

1. Kesenian
Potensi budaya Non-fisik meliputi kesenian dalam berbagai jenis dan seni rupa, seni tari, seni musik, seni teater, dan lainnya. Dari sisi jumlah organisasi da group kesenian DIY sebanyak 2863 buah yang tersebar di empat kabupaten dan kota.

2. Kondisi Adat dan Tradisi
Upacara adat adalah salah satu kegiatan budaya masih di lakukan oleh masyarakat. Di kota Yogya masih dilakukan 5 upacara adat, Kabupaten Sleman terdapat 11 upacara adat, Kabupaten Bantul terdapat 24 upacara adat, Kabupaten Kulon Progo terdapat 10 upacara adat, dan Kabupaten Gunung Kidul terdapat 16 upacara ada pada 9 Kecamatan.

3. Bahasa Daerah
Yogyakarta merupakan pusat bahasa dan sastra Jawa yang meliputi bahasa parama sastra, ragam sastra, bausastra, dialek, sengkala serta lisan dalam bentuk dongeng, japamantra, pawukon, dan aksara Jawa.

4. Prasarana Budaya
Prasaran budaya sebagai penunjang terhadap kelestarian dan pengembangan kreativitas seniman telah ada sebanyak 130 buah dalam berbagai bentuk, seperti panggung, pendopo, ruang pamer, ruang pertunjukan, studio musik balai desa, auditorium, sanggar, lapangan, sedangkan pusat-pusat pelestarian budaya tradisional yang disebut desa budaya, terdapat kurang lebih 60 desa budaya dan 22 desa wisata dengan potensi fisik maupun non fisik.

5. Lembaga Budaya
Setidaknya ada 178 lembaga yang terdiri dari yayasan, organisasi, lembaga pendidikan, instansi pemerintah serta organisasi yang melestarikan nilai budaya daerah. Pembentukan lembaga ini dalam rangka mengikuti perubahan yang sangat cepat dan tidak diimbangi dengan kesiapan budaya bangsa dalam rangka menciptakan Indonesia yang aman dan damai, untuk itu pemerintah provinsi melalui potensi dan sumber budaya yang dimiliki mengolah budaya setempat sebaik mungkin dalam rangka mewujudkan Indonesia yang aman dan damai.

C. Kearifan Lingkungan.

Pranata Mangsa

Gambar

Udara dingin pada bulan Juni merupakan ciri musim utama dalam pranata mangsa yang disebut dengan mareng terang. Ciri utama yang menandai mareng terang ini adalah suhu menurun dan terasa dingin (bediding).

Di dunia pertanian, saat bediding seperti ini merupakan saat bagi para petani untuk menanam palawija misalnya, kedelai, nila, kapas, dan saatnya menggarap tegalan untuk menanam jagung.

Pranata mangsa secara bahasa berarti ketentuan musim. Pranata mangsa ini adalah semacam penanggalan yang dikaitkan dengan kegiatan usaha pertanian, khususnya untuk kepentingan bercocok tanam atau penangkapan ikan. Pranata mangsa berbasis peredaran matahari dan siklusnya (setahun) berumur 365 hari (atau 366 hari) serta memuat berbagai aspek fenologi dan gejala alam lainnya yang dimanfaatkan sebagai pedoman dalam kegiatan usaha tani maupun persiapan diri menghadapi bencana (kekeringan, wabah penyakit, serangan pengganggu tanaman, atau banjir) yang mungkin timbul pada waktu-waktu tertentu (www.wikipedia.com).

Pranata mangsa dalam versi petani maupun nelayan merupakan pengetahuan yang diwariskan secara oral (dari mulut ke mulut). Selain itu, pranata mangsa ini bersifal lokal dan temporal, yang merupakan pengetahuan yang dibatasi untuk tempat tertentu dan waktu tertentu. Sunan Pakubuwono VII adalah Raja Surakarta yang memperkenalkan sistem penanggalan ini. Sistem ini mulai dipakai sejak 22 Juni 1856 dan berlaku untuk wilayah antara Gunung Merapi dan Gunung Lawu. Waktu itu, pranata mangsa digunakan sebagai pedoman bagi para petani, dan pada waktu itu penanaman padi hanya berlangsung sekali setahun. Pranata mangsa dalam bentuk “kumpulan pengetahuan” lisan tersebut hingga kini masih diterapkan oleh sekelompok orang dan merupakan pengamatan terhadap gejala-gejala alam.

Pranata mangsa merupakan satu contoh kearifan lokal dalam bidang pertanian. Menurut Ridwan (2007) kearifan lokal atau local wisdom dapat dipahami sebagai usaha manusia dengan menggunakan akal budinya (kognisi) untuk bertindak dan bersikap terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang yang terjadi dalam ruang tertentu. Masih menurut Ridwan (2007), secara substansial, kearifan lokal adalah nilai-nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat. Nilai-nilai yang diyakini kebenarannya dan menjadi acuan dalam bertingkah laku sehari-hari masyarakat setempat. Hanya saja memang ada batasan ruang tertentu dalam pengertian kearifan lokal tadi. Pranata mangsa merupakan sekumpulan pengetahuan yang memang terbatas pada wilayah tertentu dan waktu tertentu. Seiring dengan berjalannya waktu, pengetahuan dan teknologi berkembang dengan pesat.

Kemajuan teknologi memudahkan orang mendapatkan akses informasi musim. Perubahan iklim dunia yang sedang terjadi mengakibatkan pranata mangsa ini tidak cocok lagi dengan “musim”nya. Jumlah penduduk yang semakin banyak menuntut jumlah produksi pangan yang semakin besar. Karena itu, pranata mangsa mesti didudukkan kembali di tempat yang tepat sehingga kearifan lokal ini tetap bisa dimanfaatkan sesuai dengan porsinya. Terlebih lagi dengan kondisi pertanian sekarang yang cukup memprihatinkan. Upaya pemerintah yang memberikan panduan kepada petani untuk menanam padi dengan mengikuti kalender musim tanam merupakan satu upaya yang bagus. Kalender musim tanam ini merupakan rangkuman situasi dan kondisi iklim yang dibuat peta kalender tanam dan merupakan hasil koordinasi kementerian pertanian dengan BMKG.

Upaya yang lain yang terus dilakukan adalah dengan melakukan pengawalan intensif on farm dengan menerapkan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL PTT) System of Rice Intensification(SRI), Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SL PHT), dan Sekolah Lapang Iklim (SLI). Dengan adanya perubahan-perubahan, informasi-informasi, dan upaya-upaya yang dilakukan pemerintah tersebut, maka perlu dilakukan modifikasi terhadap pranata mangsa ini, karena pranata mangsa dianggap sebagai penghubung antara petani/nelayan dengan lingkungan. Modifikasi ini dilakukan dengan memanfaatkan informasi-informasi baru. Khusus untuk kegiatan SLI, petani diharapkan mampu menerjemahkan informasi-informasi cuaca/iklim dari BMKG dan mampu mengadaptasinya dengan pranata mangsa yang telah lama dimiliki.

Pranata mangsa bisa menjadi referensi untuk berbagai gejala alam yang diperkirakan muncul sebagai tanggapan atas kondisi cuaca/perubahan iklim. Para petani mestinya mampu membaca gelaja alam dengan baik, karena petani harus mampu beradaptasi apabila terjadi perubahan atas kondisi cuaca/iklim. Dalam kaitannya dengan hal ini, pranata mangsa masih tetap dapat diandalkan dalam kaitannya dengan pengamatan atas berbagai gejala alam di masa kini. Sumber : Denni Noviandari, SP ( Staf Subbag Program Data dan TI BLH Provinsi DIY).

D. Penggunaan Lahan.

Penggunaan lahan di provinsi D.I. Yogyakarta, masih didominasi oleh pertanian yaitu sebesar 226.140,00 ha. Sedangkan penggunaan lahan untuk non pertanian mencapai 74.920,48 ha, perkebunan 700,00 ha dan lahan hutan mencapai 16.819,52 ha. Sementara penggunaan lainnya belum diketahui.