Profile Ekoregion Jawa

   
     PPE Regional Jawa +62 274 625800
Tap To Call

Masalah Lingkungan Sosial Budaya   arrow

7.3. Masalah Lingkungan Sosial Budaya

Subyek utama dalam mengungkap permasalahan lingkungan hidup adalah manusia. Manusia dan lingkungan hidup (alam) memiliki hubungan yang sangat erat. Keduanya saling memberi dan menerima pengaruh satu sama lain. Pengaruh alam terhadap manusia lebih bersifat pasif, sedangkan pengaruh manusia terhadap alam lebih bersifat aktif. Manusia memiliki kemampuan eksploitatif terhadap alam sehingga mampu mengubahnya sesuai yang dikehendakinya. Manusia mendapatkan unsur-unsur yang diperlukan dalam hidupnya dari lingkungan. Makin tinggi kebudayaan manusia, makin beraneka ragam kebutuhan hidupnya. Makin besar jumlah kebutuhan hidupnya berarti makin besar pula perhatian manusia terhadap lingkungannya. Dan walaupun alam tidak memiliki keinginan dan kemampuan aktif-eksploitatif terhadap manusia, namun pelan tapi pasti, apa yang terjadi pada alam, langsung atau tidak langsung, akan terasa pengaruhnya bagi kehidupan manusia.

Pada mulanya masalah lingkungan hidup merupakan masalah alami, yakni peristiwa-peristiwa yang terjadi sebagai bagian dari proses natural. Proses natural ini terjadi tanpa menimbulkan akibat yang berarti bagi tata lingkungan itu sendiri dan dapat pulih kemudian secara alami (homeostasi). Akan tetapi, sekarang masalah lingkungan tidak lagi dapat dikatakan sebagai masalah yang semata-mata bersifat alami, karena manusia memberikan faktor penyebab yang sangat signifikan secara variabel bagi peristiwa-peristiwa lingkungan. Tidak bisa disangkal bahwa masalah-masalah lingkungan yang lahir dan berkembang karena faktor manusia jauh lebih besar dan rumit (complicated) dibandingkan dengan faktor alam itu sendiri. Manusia dengan berbagai dimensinya, terutama dengan faktor mobilitas pertumbuhannya, akal pikiran dengan segala perkembangan aspek-aspek kebudayaannya, dan begitu juga dengan faktor proses masa atau zaman yang mengubah karakter dan pandangan manusia, merupakan faktor yang lebih tepat dikaitkan kepada masalah-masalah lingkungan hidup. Berbagai masalah lingkungan yang sering dikaitkan dengan manusia, sering diungkap dalam banyak istilah dan batasan tertentu sesuai dengan pokok permasalahannya, antara lain:

  1. Kependudukan dan dampak lingkungan
  2. Budaya dan tradisi masyarakat
  3. Kemiskinan dan pengaruhnya terhadap eksistensi lingkungan
  4. Tingkat pendidikan dan kesadaran terhadap lingkungan

Sub-sub bab berikut akan menguraikan secara ringkas permasalahan lingkungan dan kaitannya dengan karakteristik sosial masyarakat di Ekoregion Jawa, sesuai dengan kondisi/profil lingkungan dan performa sumberdaya alam yang telah digambarkan di bab-bab terdahulu.

7.3.1. Kependudukan dan Dampak Lingkungan

Ada dua hal penting pengaruh kependudukan terhadap lingkungan, yaitu kepadatan penduduk dan pola migrasi penduduk. Berdasarkan analisis data, dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin tinggi tingkat kepadatan penduduk semakin tinggi pula dampak lingkungan yang ditimbulkannya. Wilayah perkotaan seperti Jakarta dan beberapa kota besar lainnya, tengah menghadapi persoalan lingkungan yang sangat besar, terutama masalah sampah, pencemaran air permukaan, dan sanitasi lingkungan. Tingginya jumlah penduduk di suatu wilayah juga telah mengakibatkan semakin hilangnya area hijau yang berfungsi sebagai pengatur udara. Hilangnya vegetasi perkotaan telah mengakibatkan tingginya tingkat pencemaran udara yang menimbulkan berbagai penyakit saluran pernafasan.

Jakarta adalah salah satu contoh wilayah yang menanggung dampak lingkungan terberat sebagai akibat dari tingginya kepadatan penduduk. Sesuai dengan data yang dijelaskan dalam bab karakteristik lingkungan sosial, kepadatan penduduk Jakarta mencapai 14.739 jiwa/km2, sebuah angka yang sangat fantastis. Itu berarti di dalam lahan seluas 100 m2 dihuni oleh 147 orang. Dua masalah penting Jakarta akibat kepadatan penduduk tinggi adalah masalah sampah dan ketersediaan air bersih. Tahun 2011 saja jumlah timbulan sampah Jakarta mencapai 121.643,55 m3/hari. Dengan tingkat pelayanan sampah rata-rata hanya 85% berarti masih ada sekitar 17.579,93 m3/hari sampah yang tidak tertangani. Sementara itu, kondisi air permukaan Jakarta yang buruk tergambar dari visualisasi warna air sungai yang hitam pekat dan berbau busuk terutama akibat limbah domestik. Selain masalah itu, pola migrasi juga menjadi persoalan penting.

Hasil survei lapangan di beberapa wilayah di Jawa, mulai dari Jawa Timur hingga Banten, dapat ditarik kesimpulan bahwa penduduk Jawa berusia muda banyak yang meninggalkan kampung halamannya untuk mengadu nasib di kota. Mereka lebih suka meninggalkan kampung halaman dan hidup di kota dengan segala resikonya ketimbang hidup di desa dan menggarap lahan pertanian. Akibatnya banyak lahan-lahan kosong yang kurang terurus dan mengakibatkan makin menambah jumlah lahan-lahan kritis. Pola migrasi yang cenderung mengarah ke wilayah perkotaan dengan tidak dibarengi skill yang tinggi juga berakibat makin besarnya jumlah pengangguran dan kriminalitas di wilayah perkotaan.

7.3.2. Kemiskinan dan Pengaruhnya terhadap Eksistensi Lingkungan

Data statistik tahun 2010 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Pulau Jawa mencapai 136.975.660. Dari sekian banyak penduduk Jawa, jumlah rakyat miskin diperkirakan mencapai 13.701.892 jiwa yang tersebar di enam provinsi, meliputi: Provinsi DKI Jakarta sebanyak 388.200 jiwa, Provinsi Banten sejumlah 751.000 jiwa, Provinsi Jawa Barat sebanyak 4.852.520 jiwa, Provinsi Jawa Tengah sebanyak 5.217.200 jiwa, Provinsi Jawa Timur sejumlah 1.932.092 jiwa dan Provinsi DIY sebanyak 560.880 jiwa.

Kemiskinan dan lingkungan keterkaitannya terutama dengan masalah kemampuan mengelola tempat tinggal. Walaupun tidak secara posistif bahwa kerusakan lingkungan terjadi akibat kemiskinan, akan tetapi gambaran besarnya dapat dijadikan sebagai premis logis. Negara Jepang misalnya, adalah negara yang secara ekonomi dikatakan sebagai negara maju dan kaya. Dengan kemampuannya dalam setiap pembiayaan mereka mampu membuat lingkungan menjadi baik, lebih baik jika dibandingkan dengan negara miskin. Demikian pula kota atau kabupaten yang kaya akan mampu menampilkan lingkungan hidup yang lebih baik ketimbang wilayah yang miskin.

Kemiskinan di perkotaan sering berakibat munculnya permukiman kumuh, pembuangan limbah sembarangan, pembuangan sampah yang tak terkontrol dan berbagai masalah sosial lainnya. Kemiskinan di pedesaan, sering berakibat pada tekanan lahan. Beberapa kasus penebangan liar misalnya, sering melibatkan rakyat miskin. Mereka yang miskin, sering dimanfaatkan oleh kaum kaya yang nakal sebagai tenaga upahan untuk membabat hutan. Kemiskinan juga berakibat pada keterlantaran lahan akibat ketidakmampuan mengolahnya. Prioritas kebutuhan primer (kebutuhan makan) lebih diutamakan ketimbang kebutuhan sekunder, seperti memelihara tanaman di halaman rumah misalnya.

7.3.3. Budaya dan Tradisi

Budaya dan tradisi masyarakat bisa jadi mendukung bagi upaya pelestarian lingkungan hidup, namun budaya dan tradisi masyarakat juga bisa berakibat buruk bagi lingkungan. Budaya masyarakat yang berupa hukum-hukum adat dalam kebijaksanaan mengelola lahan biasa disebut dengan kearifan lingkungan. Jika kearifan lingkungan itu dapat diterapkan secara turun temurun hal ini tentu baik bagi lingkungan. Tradisi masyarakat Badui (di Banten) misalnya, kearifan lingkungan mereka ternyata mampu menjaga kelestarian lingkungan.

Akan tetapi tidak sedikit pula tradisi atau budaya masyarakat tradisional yang justru dapat merusak lingkungan. Misalnya, masih adanya pandangan masayarakat bahwa sungai adalah tempat pembuangan. Sehingga sampai detik ini masih banyak masyarakat yang secara sembarangan membuang sampah ke sungai. Hampir di setiap kota pasti dijumpai kasus-kasus pencemaran air sungai akibat pembuangan limbah, baik limbah rumah tangga maupun limbah industri. Bahkan di Kota Pekalongan, hitamnya air sungai (contoh Kali Banger) menjadi semacam tolok ukur “peningkatan ekonomi”. Semakin hitam pekat warna air sungai, berarti industri pakaian semakin berkembang, berarti kemakmuran rakyat meningkat.
Di daerah rural, juga masih dijumpai banyak tradisi masyarakat yang cenderung merusak lingkungan. Keberhasilan seorang petani dalam budidaya salah satu jenis tanaman, sering memicu bagi yang lainnya untuk ikut-ikutan. Pertanian kentang di Dieng dan Pertanian tembakau di Temanggung dan Boyolali, merupakan pengalaman buruk yang sulit untuk diatasi. Pertanian ini telah
mengakibatkan tanah di lahan-lahan tinggi menjadi sangat terbuka sehingga rawan terhadap erosi topsoil dan longsor lahan. Lahan yang seharusnya difungsikan sebagai kawasan lindung dan peresapan air, pada kenyataannya justru dimanfaatkan sebagai lahan bidudaya intensif yang tidak ramah lingkungan.Berikut ini ditampilkan beberapa gambar fakta di lapangan terjadinya kerusakan lingkungan akibat kebiasaan atau tradisi masyarakat.

– gambar 7.21

7.3.4. Tingkat pendidikan dan kesadaran terhadap lingkungan

Kesadaran lingkungan tidak serta merta tumbuh seiring dengan makin tingginya tingkat pendidikan. Akan tetapi, paling tidak pendidikan tinggi akan meningkatkan kesan diri (self image) dan harga diri (self esteem) yang makin tinggi pula. Seseorang yang berpendidikan tinggi tidak akan mudah melakukan hal-hal yang merusak lingkungan, jika dibandingkan dengan orang yang berpendidikan rendah. Namun demikian bukan pendidikan formal di sekolah yang menentukan seseorang lebih peduli terhadap lingkungan. Kepedulian seseorang terhadap lingkungan akan sangat dipengaruhi oleh pendidikan tentang lingkungan. Pendidikan tentang lingkungan itu sendiri bisa diperoleh dari mana saja, bisa di sekolah, di lingkungan masyarakat bahkan lingkungan keluarga.

Hasil-hasil observasi di lapangan, walaupun tidak terdata secara numerik, akan tetapi dapat menjadikan sebuah kenyataan bahwa masih banyak rakyat di Pulau Jawa yang belum faham mengenai lingkungan. Pendidikan yang rendah berakibat kurangnya minat baca, minat mencari berita, minat bertanya dan lain-lain. Dalam kondisi alam yang semakin miskin dan terbatas, cara-cara pengolahan lahan tentu harus dilakukan dengan sentuhan teknologi. Cara-cara tradisional
semestinya sudah ditinggalkan, berganti dengan mekanisasi dan teknik pemupukan yang ramah lingkungan, dan bukannya merambah dan membuka lahan hutan baru untuk mendapatkan tanah subur sebagai ladang atau pertanian. Terutama di daerah-daerah pegunungan, yang jauh dari sentuhan teknologi, masih banyak masyarakat yang hidup bergantung pada hasil olah lahan dengan cara-cara tradisional.