Profile Ekoregion Jawa

   
     PPE Regional Jawa +62 274 625800
Tap To Call

Kependudukan   arrow

5.1. Karakteristik Kependudukan

Demografi atau studi kependudukan umumnya menjadi titik tolak di dalam suatu perencanaan pada berbagai skala. Studi kependudukan akan menentukan pedoman di dalam pengambilan keputusan dari keseluruhan kebutuhan lahan serta akan menjadi dasar pengalokasian berbagai komponen fungsional dan lahan yang dibutuhkan untuk penempatan kegiatan fungsional tersebut. Penelaahan dan teknik perencanaan akan memerlukan masukan yang luas tentang informasi kependudukan yang meliputi jumlah penduduk dan distribusinya yang akan menjadi dasar pengarahan untuk berbagai kebijaksanaan untuk menetapkan berbagai kebutuhan hidup seperti perumahan, perbelanjaan, pekerjaan, pendidikan, kesehatan, peribadatan serta kegiatan sosial dan ekonomi lainnya. Acuan dasar perencanaan pada hakekatnya diarahkan kepada aspek kependudukan serta kebutuhannya. Oleh karena itu suatu proses perencanaan akan menganalisa/menstudi jumlah dan struktur penduduk pada saat sekarang, menelaah setiap perubahan yang terjadi dan menyiapkan prediksi atau proyeksi penduduk di masa mendatang dalam perencanaan.

Penduduk pada suatu wilayah sangat berpengaruh terhadap perkembangan dari wilayah itu sendiri. Besaran jumlah penduduk pada suatu wilayah, disatu pihak akan menjadi suatu asset yang tidak ternilai harganya, tapi dilain pihak jumlah penduduk yang sangat melimpah dan tidak terkendali, akan menjadi beban yang cukup berat bagi suatu pelaksanaan pembangunan daerah. Aktivitas manusia yang memanfaatkan sumber daya alam akan menimbulkan tekanan pada lingkungan dan merubah keadaannya atau kondisinya, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Jumlah penduduk yang semakin tinggi memberikan tekanan yang cukup besar terhadap lingkungan. Begitu pula segala aktifitas yang dilakukan oleh manusia seperti di bidang pertanian, industri, pertambangan, energi, transportasi dan pariwisata dapat memberikan tekanan pada lingkungan.

Berdasarkan analisis data-data yang sumbernya diperoleh dari berbagai instansi terkait disimpulkan bahwa Pulau Jawa memiliki jumlah penduduk sekitar 60% dari jumlah penduduk Nasional. Beberapa sumber data resmi menyebutkan bahwa dengan luas keseluruhan Pulau Jawa dan Madura sebesar 129.600,71 Km2 hingga tahun 2010 jumlah penduduk Jawa mencapai 136.975.660 jiwa, dengan demikian berarti kepadatan penduduk jawa mencapai 1.057 jiwa/Km2. Berdasarkan sumber data yang sama, diperoleh juga informasi bahwa jumlah penduduk miskin hingga tahun 2011 mencapai 13.701.892 jiwa.

Tekanan mencakup aktivitas dan dampak seperti konsumsi energi, transportasi, industri, pertanian, kehutanan dan urbanisasi. Lingkungan berlaku sebagai sumber dari aktivitas ekonomi manusia memperoleh bahan baku untuk memenuhi kehidupannya, seperti mineral, makanan, serat, dan energi dan dalam prosesnya, berpotensi mengurangi sumber-sumber daya tersebut atau sistem Biologis (seperti tanah, hutan dan perikanan) tempat dimana mereka bergantung, sebagai penunjang sistem kehidupan mereka.

Aktivitas manusia menciptakan aliran polutan, sampah/limbah, dan energi yang masuk kembali ke lingkungan, dan mengancamnya dalam bentuk kemerosotan dan degradasi lingkungan. Aktivitas manusia baik secara langsung maupun tak langsung dalam mengubah bentuk, mengganggu dan mendegradasi ekosistem, menurunkan kemampuan lingkungan untuk menyediakan faktor-faktor penunjang bagi sistem kehidupan secara memadai. Kondisi lingkungan seperti udara yang tercemar, air yang tercemar, dan sumber pangan yang tercemar mempunyai dampak langsung terhadap kesehatan manusia dan kesejahteraan.

Kepadatan penduduk Jawa pada kenyataanya tidaklah sama di masing-masing wilayah. Beberapa kota memiliki tingkat kepadatan penduduk yang sangat tinggi, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surakarta, Bekasi. Ada sebeleas kota di Jawa yang kepadatan penduduknya lebih dari 10 ribu jiwa per kilo meter persegi, dan Kota Jakarta Pusat merupakan wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi di Jawa bahkan di seluruh Indonesia dengan kepadatan mencapai lbih dari 18.830 jiwa per kilometer persegi. Tabel berikut ini memberikan gambaran lebih jelas urutan kota yang memiliki kepadatan penduduk lebih dari sepuluh ribu jiwa per kilometer persegi.

Tabel 5.1. Daftar Kota dengan Kepadatan Penduduk Sangat Tinggi.
Presentation1
Sumber: SLHD 2010-2011

Selain sebelas kota yang berkepadatan penduduk sangat tinggi, terdapat juga kota-kota lain yang berkepadatan penduduk tinggi. Setidaknya ada sembilan kota yang memiliki kepadatan penduduk tinggi (5.000 – 10.000 jiwa/Km2). Kesembilan kota tersebut adalah sebagaimana tertera pada tabel berikut ini. Kota-kota urban seperti Tangerang Selatan, Depok dan Surabaya memiliki kepadatan penduduk lebih dari delapan ribu per kilometer. Kota-kota ramai lainnya juga memiliki kepadatan penduduk yang tinggi seperti Malang, Mojokerto, Tegal, Magelang, Pekalongan dan Sukabumi. Kepadatan penduduk yang tinggi di kota-kota ini sangatlah wajar, mengingat bahwa sejumlah kota yang disebutkan tersebut adalah kota-kota tujuan urbanisasi.

Tabel 5.2. Kota-kota dengan kepadatan penduduk tinggi.
Presentation2
Sumber: SLHD 2010-2011

Penyebaran penduduk tidak merata, walaupun di beberapa kota penting memiliki kepadatan yang tinggi, namun secara keseluruhan jika dilihat per provinsi tidaklah demikian. Sebagai contoh, beberapa kota di Jawa Barat seperti Bekasi, Bandung, Cimahi dan Depok, walaupun kota-kota ini memberikan kontribusi kepadatan penduduk sangat tinggi, namun kepadatan penduduk se provinsi Jawa Barat hanyalah sebesar 1.100 jiwa/Km2, bahkan Jawa Timur hanya sebesar 812 jiwa/Km2. Berikut ini disajikan tabel yang memberikan penjelasan mengenai kepadatan penduduk secara global per provinsi. Namun demikian Provinsi DKI Jakarta tetaplah memiliki kepadatan penduduk yang sangat tinggi.

Tabel 5.3. Kepadatan Penduduk perProvinsi.
Presentation3
Sumber: SLHD 2010-2011

Menurut Soemarwoto (1991), dampak kepadatan penduduk sebagai akibat laju pertumbuhan penduduk yang cepat terhadap kelestarian lingkungan adalah sebagai berikut :

  1. Meningkatnya limbah rumah tangga sering disebut dengan limbah domestik. Dengan naiknya kepadatan penduduk berarti jumlah orang persatuan luas bertambah. Karena itu jumlah produksi limbah persatuan luas juga bertambah. Dapat juga dikatakan di daerah dengan kepadatan penduduk yang tinggi, terjadi konsentrasi produksi limbah.
  2. Pertumbuhan penduduk yang terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang melahirkan industri dan sistem transport modern. Industri dan transport menghasilkan berturut-turut limbah industri dan limbah transport. Di daerah industri juga terdapat kepadatan penduduk yang tinggi dan transport yang ramai. Di daerah ini terdapat produksi limbah domsetik, limbah industri dan limbah transport.
  3. Akibat pertambahan penduduk juga mengakibatkan peningkatan kebutuhan pangan. Kenaikan kebutuhan pangan dapat dipenuhi dengan intensifikasi lahan pertanian, antara lain dengan mengunakan pupuk pestisida, yang notebene merupakan sumber pencemaran. Untuk masyarakat pedesaan yang menggantungkan hidupnya pada lahan pertanian, maka seiring dengan pertambahan penduduk, kebutuhan akan lahan pertanian juga akan meningkat. Sehingga ekploitasi hutan untuk membuka lahan pertanian baru banyak dilakukan. Akibatnya daya dukung lingkungan menjadi menurun. Bagi mereka para peladang berpindah, dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk yang sedemikian cepat, berarti menyebabkan tekanan penduduk terhadap lahan juga meningkat. Akibatnya proses pemulihan lahan mengalami percepatan. Yang tadinya memakan waktu 25 tahun, tetapi dengan semakin meningkatnya tekanan penduduk terhadap lahan maka bisa berkurang menjadi 5 tahun. Saat dimana lahan yang baru ditinggalkan belum pulih kesuburannya.
  4. Makin besar jumlah penduduk, makin besar kebutuhan akan sumber daya. Untuk penduduk agraris, meningkatnya kebutuhan sumber daya ini terutama lahan dan air. Dengan berkembangnya teknologi dan ekonomi, kebutuhan akan sumber daya lain juga meningkat, yaitu bahan bakar dan bahan mentah untuk industri. Dengan makin meningkatnya kebutuhan sumber daya itu, terjadilah penyusutan sumber daya. Penyusutan sumber daya berkaitan erat dengan pencemaran. Makin besar pencemaran sumber daya, laju penyusunan makin besar dan pada umumnya makin besar pula pencemaran.

Makin besar jumlah penduduk, makin besar kebutuhan akan sumber daya, salah satunya adalah sumberdaya lahan. Provinsi DKI Jakarta adalah salah satu contoh wilayah dengan jumlah dan kepadatan penduduk yang sangat tinggi, oleh karena itu penggunaan lahan untuk Non Pertanian (Perumahan dan Infrastruktur) mencapai hampir 90% dari luar wilayah. Sedangkan untuk kebutuhan pangan tentu harus didatangkan dari wilayah lain. Demikian pula untuk lain seperti Jawa Barat dan Banten penggunaan lahan Non Pertanian hampir mencapai 50% dari luas wilayah total.

Tabel 5.4. Distribusi Penggunaan Lahan
Slide1

Selain berdampak terhadap penggunaan lahan, besarnya jumlah penduduk juga sangat berpengaruh terhadap kualitas lingkungan hidup secara keseluruhan. Salah satu metode untuk melihat tingkat kualitas lingkungan adalah dengan mengukur indeks kualitas lingkungan hidup. Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) dapat diukur dengan tiga parameter penting yakni Tutupan Vegetasi, Kualitas Air (indeks pencenaran air) dan Kualitas Udara (indeks pencemaran udara). Pulau Jawa, yang notabene merupakan pulau dengan jumlah penduduk terpadat di seluruh Indonesia, pada kenyataannya memiliki IKLH yang paling rendah jika dibandingkan dengan pulau lainnya. Demikian pula, Provinsi DKI Jakarta yang memiliki jumlah dan kepadatan penduduk tertinggi, memiliki IKLH terendah dibanding provinsi lainnya. Berikut ini IKLH hasil pengukuran yang telah dilakukan oleh KLH pada tahun 2009.

Tabel 5.5. IKLH Provinsi Tahun 2009
Slide2
Secara lebih rinci, karakteristik kependudukan di Pulau Jawa, selanjutnya dijelaskan karakteristik kependudukan di masing-masing provinsi.

5.1.1. Provinsi Banten

Jumlah Penduduk dan Kepadatanya

Jumlah penduduk Banten tahun 2010 mencapai 10.632.166 jiwa yang tersebar di delapan wilayah kabupaten/kota, dengan laju pentumbuhan penduduk mencapai 2,78 % (SLHD Provinsi Banten, 2011).  Persebaran penduduk di Banten secara spasial tidak merata, karena masih terkonsentrasi di wilayah Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan. Dengan luas wilayah kurang dari 14 % dari seluruh luas wilayah Provinsi Banten, ketiga wilayah tersebut pada tahun 2011 dihuni oleh sekitar 55 % dari seluruh penduduk Banten. Akibatnya, tingkat kepadatan penduduk antar wilayah di Banten menjadi sangat tidak merata. Tercatat, Kota Tangerang merupakan wilayah dengan tingkat kepadatan tertinggi, mencapai 11.685 jiwa per km2. Sedangkan yang terendah adalah Kabupaten Lebak yaitu dengan tingkat kepadatan penduduk hanya 351 jiwa per km2. Berarti, Kota Tangerang hampir 30 kali lebih padat bila dibandingkan dengan Kabupaten Lebak. Data jumlah, kepadatan dan pertumbuhan penduduk dapat dilihat pada Tabel 5.6.

Tabel 5.6.  Luas Wilayah, Jumlah Penduduk, Pertumbuhan Penduduk  dan Kepadatan Penduduk Provinsi Banten Tahun 2010
Slide1
Sumber : SLHD Provinsi Banten, 2011

Penduduk Banten memiliki struktur umur tergolong muda, walaupun hasil sensus Provinsiorsi penduduk usia muda tersebut menunjukkan kecenderungan yang menurun. Perubahan yang terjadi pada tingkat kelahiran, kematian serta migrasi sangat mempengaruhi susunan umur penduduk. Perubahan susunan ini mengakibatkan beban ketergantungan (dependency ratio) turun dari 55,0 % pada tahun 2006 menjadi 43,6 % pada tahun 2025 (prediksi). Menurunnya rasio beban ketergantungan menunjukkan berkurangnya beban ekonomi bagi penduduk usia kerja yang menanggung penduduk pada usia tidak produktif.

Berikut ini disajikan piramida penduduk Provinsi Banten berdasarkan data BPS 2010.
Slide2
Gambar.5.1. Piramida Penduduk Provinsi Banten Tahun 2010

Struktur umur penduduk di suatu daerah akan dapat menentukan tingkat produktifitas penduduk pada daerah tersebut. Hal ini dikarenakan analisis struktur umur penduduk akan berkaitan dengan banyaknya penduduk di usia produktif di suatu daerah. Penduduk usia produktif artinya penduduk yang masih memiliki kemampuan untuk melakukan pekerjaannya dan tidak tergantung kepada orang lain. Penduduk usia produktif berkisar anatara usia 15 – 64 tahun. Penduduk Provinsi Banten yang sudah berumur 15 tahun ke atas, menurut BPS Provinsi Banten (2010) berusaha di bidang perdagangan 26,18 %, industri 22,77 %, pertanian 20,12 %, Lainnya 17,19 %, dan jasa kemasyarakatan 14,4 %. Analisis struktur usia penduduk juga akan terkait dengan penyediaan angkatan kerja pada suatu daerah. (BLHD Provinsi Banten, 2010).

Dari sisi kelahiran (fertilitas), hal yang sering ditanyakan adalah kapan suatu daerah akan mencapai NRR =1, tingkat replacement level, yaitu saat dimana satu ibu digantikan secara tepat oleh satu bayi wanita. NRR (Net Reproduction Rate) sering diinterpretasikan sebagai banyaknya anak perempuan yang dilahirkan oleh setiap perempuan dalam masa reproduksinya. Provinsi Banten mencapai NRR = 1 pada sekitar tahun 2015. Pada saat itu bukan berarti laju pertumbuhan penduduk sama dengan nol, atau tanpa pertumbuhan, tetapi penduduk akan tetap bertambah dengan laju pertumbuhan relatif stabil. Pada sisi kematian (mortalitas), Angka Kematian Bayi (IMR) menunjukkan kecenderungan yang terus menurun yaitu: dari 39 bayi meninggal per 1000 kelahiran pada tahun 2006 menjadi sekitar 22 bayi meninggal per 1000 kelahiran pada tahun 2025. Dengan demikian maka angka harapan hidup penduduk Banten naik dari 67,3 tahun pada tahun 2006 menjadi 71, 9 tahun pada tahun 2025. Angka tersebut berarti terjadi peningkatan secara rata-rata “usia hidup” dari seorang bayi yang dilahirkan pada tahun 2025 sekitar 4,6 tahun dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan pada tahun 2006. (SLHD Provinsi Banten, 2011).

Tabel 5.7. Jumlah Rumah Tangga dan Sumber Air Minum Kabupaten/Kota di Provinsiinsi Banten Tahun 2010
Slide3
Sumber : SLHD Provinsi Banten, 2011

Salah satu hal penting dalam menjaga kestabilan keberadaan penduduk adalah ketersediaan air bersih. Pelayanan Air Bersih kepada masyarakat baru mencapai 64,35%, sedang cakupan pelayanan sanitasi dasar mencapai 53,645 %. Meningkatnya kebutuhan pelayanan air bersih, drainase dan persampahan seiring dengan pertumbuhan kawasan perkotaan, khususnya pada kawasan permukiman, industri, pariwisata, dan agropolitan. Hingga tahun 2009 cakupan pelayanan air barsih baru muncapai 56%, yang diukur dari prasarana yang telah dibangun, adapun pelayanan sanitasi cakupannya masih sangat rendah yakni baru sekitar 32%.  (BLHD Provinsi Banten). Besar penggunaan masing-masing sumber air bersih oleh rumah tangga yang ada di Provinsi Banten tersaji dalam Tabel 5.7.

5.1.2. Provinsi DKI Jakarta

Jumlah Penduduk

Penduduk DKI Jakarta hasil Sensus Penduduk 2010 tercatat sebanyak 9.588.198 orang dengan komposisi 4.859.272 laki-laki dan 4.728.926 perempuan. Jumlah tersebut melampaui angka proyeksi penduduk DKI Jakarta yang diperkirakan sebesar 9.295.000 jiwa.

Tabel 5.8. Jumlah Penduduk DKI Jakarta Menurut Umur dan jenis Kelamin

Sumber : Jakarta dalam Angka tahun 2010.

Kepadatan Penduduk

Luas Wilayah DKI Jakarta relatif tetap, namun jumlah penduduknya terus meningkat, maka DKI Jakarta menjadi semakin padat. Pada tahun 1961 kepadatan penduduk DKI Jakarta hanya sekitar 4 ribu jiwa per km2, tetapi sepuluh tahun berikutnya meningkat pesat menjadi 7 ribu per km2. Pada tahun 1980, sekitar 9.808 jiwa per km2. Satu dekade kemudian kepadatan penduduk DKI Jakarta telah meningkat menjadi 12.400 jiwa per km2, dan pada tahun 2010 kepadatan penduduk menjadi 14.476 jiwa per km2.

Kota administrasi Jakarta Pusat merupakan kota administrasi yang sangat padat penduduknya, pada tahun 2010 setiap 1 km2 dihuni oleh sekitar 18.675 jiwa. Kepadatan di Jakarta Pusat menunjukkan kecenderungan yang menurun disamping terjadinya penurunan jumlah penduduk juga daerahnya sudah banyak yang dibangun untuk pusat bisnis. Kota administrasi Jakarta Utara kepadatannya sedikit lebih rendah, setiap 1 km2 dihuni oleh 11.218 jiwa. Sedangkan Jakarta Timur walaupun mempunyai jumlah penduduk yang relatif tinggi namun tingkat kepadatan penduduknya juga lebih rendah yaitu 14.290 per km2, hal ini dikarenakan kota tersebut mempunyai wilayah yang cukup luas. Sebagai kabupaten yang baru terbentuk, Kepulauan Seribu memiliki kepadatan penduduk baru mencapai 2.423 jiwa per km2.

Jumlah penduduk DKI Jakarta pada tahun 2010 diperkirakan sebanyak 9,588 juta jiwa, jumlah ini meningkat sekitar satu juta jiwa dibandingkan tahun 2000. Perkembangan jumlah penduduk DKI Jakarta selama kurun waktu 2000-2010 relatif lebih lambat dibandingkan periode tahun-tahun sebelumnya. Jika dilihat perkembangannya selama tahun 1961-1990, penduduk DKI Jakarta sebanyak 2,9 juta jiwa pada tahun 1961, naik menjadi 4,6 juta jiwa pada tahun 1971. Kemudian sepuluh tahun berikutnya, jumlah penduduk bertambah lagi menjadi 6,5 juta jiwa di tahun 1990.  Gradasi kenaikan jumlah penduduk Jakarta dapat dilihat pada Gambar 5.2.

Walaupun jumlah penduduk DKI Jakarta terus menunjukkan peningkatan, namun jumlah peningkatannya semakin mengecil. Ini memberikan indikasi telah terjadi penurunan tingkat pertumbuhan penduduk di DKI Jakarta. Pada periode 1961-1971, tingkat pertumbuhan penduduk di DKI Jakarta sangat luar biasa yaitu 4,6 persen rata-rata per tahun, kemudian mengalami penurunan menjadi 3,9 persen pada kurun waktu 1971-1980. Periode berikutnya (1980-1990), angka ini menurun kembali menjadi 2,41 persen, dan selama periode 1990-2000 laju pertumbuhan penduduk di DKI Jakarta telah dapat diturunkan hingga mencapai 0,16 persen rata-rata per tahun. Diperkirakan selama periode 2000-2010 pertumbuhan penduduk naik menjadi 1,40 persen per tahun.

Gambar  5.2. Perkembangan Jumlah Penduduk tahun 1961-2010 (ribuan)

Angkatan Kerja

Kegiatan penduduk usia 15 tahun ke atas dapat dibedakan menjadi Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan Kerja. Lebih dari 60 % penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) di DKI Jakarta, masuk dalam kategori angkatan kerja. Pada tahun 2009 jumlah Angkatan Kerja sebesar 4,69 juta orang dan Bukan Angkatan Kerja 2,35 juta orang. Selanjutnya dari Angkatan Kerja tersebut terdapat penduduk bekerja sebanyak 4,12 juta orang dan yang mencari pekerjaan sebanyak 569 ribu orang. Kebanyakan dari mereka bekerja di sektor perdagangan/ hotel dan restoran, jasa dan industri, masing-masing sebesar 36,83%, 24,52%, dan 16,22%. Jika diamati berdasarkan status pekerjaannya ada sebesar 57,72% sebagai buruh, sementara dengan status pengusaha sebesar 35,48%. Tahun 2009  jumlah pencari kerja yang terdaftar di Dinas Tenaga Kerja sebanyak 41,8 ribu orang, yang terbesar berada di Jakarta Timur sebanyak 20,84 ribu orang pencari kerja dan terbesar kedua di Jakarta Utara sebanyak 5,79 ribu pencari kerja. Grafik yang tersaji pada Gambar 5.3. memberikan gambaran jumlah penduduk berusia 15 tahun ke atas yang bekerja maupun para pencari kerja.

Gambar 5.3.  Grafik Data Penduduk Berusia 15 Tahun ke atas yang  Bekerja dan Mencari Pekerjaan  periode tahun 2004 – 2009.

Secara umum, gambaran ketenagakerjaan berdasarkan pendekatan tiga sektor utama yaitu Agriculture (A), Manufacture (M) dan Services (S). Sektor jasa-jasa (S) mendominasi dalam penyerapan tenaga kerja di DKI Jakarta. Selama tahun 2008 -2010 penyerapan tenaga kerja pada sektor ini lebih dari 75%. Pada tahun 2010 sektor jasa-jasa mampu menyerap sebesar 78,43%. Sementara itu sektor manufacture (industri, konstruksi dan LGA) menempati urutan kedua yaitu sebesar 21%, sedangkan sektor agriculture (pertanian dan pertambangan) hanya menyerap sebesar 0,61%. Secara lebih rinci data penduduk berusia 15 tahun ke atas yang bekerja menurut lapangan usaha dan jenis kelamin periode tahun 2009 tertera pada Tabel 5.9.

Tabel 5.9.  Data Penduduk berusia 15 tahun ke Atas yang bekerja menurut Lapangan Usaha dan Jenis Kelamin Periode tahun 2009 (Orang)

5.1.3. Provinsi Jawa Barat

Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk Jawa Barat pada tahun 2010 sebesar 43.021.826 jiwa yang tersebar di 26 kabupaten/kota. Kabupaten yang mempunyai jumlah penduduk terbesar adalah Kabupaten Bogor dengan jumlah penduduk sebesar 4.763.200 jiwa atau sekitar 11% dari jumlah penduduk Jawa Barat dan Kabupaten Bandung dengan jumlah penduduk sebesar 3.174.499 jiwa (7,38%). Sementara wilayah  yang memiliki jumlah penduduk paling sedikit adalah Kota Banjar dengan jumlah penduduk hanya sebesar 175165 jiwa (0,41%) (lihat Tabel 5.10).

Jika dilihat jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur diperoleh gambaran bahwa kelompok umur yang paling banyak di Jawa Barat adalah kelompok umur dengan interval 15-64 tahun atau kelompok umur produktif yaitu sebesar 27.365.737 jiwa (64,85%), sementara untuk kelompok umur 0-14 tahun (anak-anak) sebesar 12.486.226 jiwa (29,59%) dan kelompok umur 65 tahun ke atas (manula) sebesar 2.342.906 jiwa (5,55%). Dependecy ratio penduduk Jawa Barat sebesar 0,54 yang berarti setiap 100 orang pada usia produktif menanggung 54 orang usia non-produktif (anak-anak dan manula).

Di satu sisi banyaknya penduduk umur produktif memberikan dampak positif bagi Jawa Barat, karena berpotensi untuk menyumbangkan ilmu dan tenaganya, sehingga memberikan produktivitas yang lebih tinggi terhadap perekonomian Jawa Barat. Namun di sisi lain Pemprov Jawa Barat juga harus berusaha untuk menciptakan dan membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya agar angkatan kerja yang ada bisa bekerja sehingga mengurangi jumlah pengangguran yang ada saat ini.

Tabel 5.10. Jumlah Penduduk Jawa Barat Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2010

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat Dalam Angka 2010

Kepadatan dan Pertumbuhan Penduduk

Pertumbuhan penduduk Jawa Barat termasuk tinggi jika dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia. Dalam kurun waktu 5 tahun yaitu antara tahun 2003 sampai tahun 2008 pertumbuhan rata-rata penduduk di Jawa Barat sebesar 2,08%/tahun. Tingkat pertumbuhan yang cukup tinggi terjadi di Kabupaten Cianjur dan Kota Bekasi. Walaupun termasuk tinggi, namun secara umum laju pertumbuhan penduduk di Jawa Barat seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini setiap tahunnya cenderung mengalami penurunan.

Sumber : BPS Provinsi Jawa Barat, 2008
Gambar  5.4. Laju Pertumbuhan Penduduk Provinsi Jawa Barat
Tahun 2003 – 2008

Sementara jika ditinjau dari tingkat kepadatannya, kepadatan penduduk di Jawa Barat pada tahun 2008 mencapai 1.137 jiwa/Km2. Kepadatan penduduk tertinggi terdapat di Kota Bandung, yaitu mencapai 13.861 jiwa/Km2 dan Kota Cimahi sebesar 11.970 jiwa/Km2. Sedangkan daerah dengan kepadatan penduduk tinggi terdapat di Kota Bekasi, Cirebon, Depok dan Kota Sukabumi, yaitu mencapai 6 sampai 9 ribu jiwa/Km2, dan untuk daerah dengan kepadatan penduduk relatif rendah terdapat di Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Ciamis. Data selengkapnya mengenai kepadatan penduduk dapat dilihat pada Tabel 5.11. Berdasarkan data pada tabel tersebut juga dapat dilihat laju pertumbuhan penduduk. Ada enam kabupaten/kota yang memiliki laju pertumbuhan penduduk cukup tinggi (> 1.000 jiwa/km2 pertahun). Cirebon merupakan kota dengan laju pertumbuhan penduduk paling tinggi, lebih dari 2.000 jiwa/km2 per tahun.

Tabel  5.11.   Luas Wilayah, Jumlah, Kepadatan, dan Laju Pertumbuhan Penduduk Jawa Barat  Tahun 2009

Sumber : Survei Sosial Ekonomi Daerah 2008, Jawa Barat Dalam Angka 2010

Angkatan Kerja

Pada tahun 2009, jumlah angkatan kerja di seluruh provinsi Jawa Barat sebanyak 18.981.260 orang. Penduduk yang aktif bekerja sebanyak 16.901.430 orang (89,42%) dan yang menganggur sebanyak 2.079.830 orang (10,96%). Proporsi pekerja menurut lapangan pekerjaan merupakan salah satu ukuran untuk melihat potensi sektor perekonomian dalam menyerap tenaga kerja, juga mencerminkan struktur perekonomian suatu wilayah. Sebagian besar penduduk Jawa Barat yang bekerja pada tahun 2009, memiliki lapangan pekerjaan utama di sektor Pertanian (39,98%), Perdagangan (27,84%), Industri (7,55%)  dan Jasa-jasa (5,83%). Data selengkapnya tertera pada Tabel 5.12.

Tabel 5.12. Penduduk Berumur 15 Tahun ke atas menurut Kabupaten/Kota dan Jenis Kegiatan Utama tahun 2009

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat Dalam Angka 2010

5.1.4. Provinsi Jawa Tengah

Jumlah Penduduk

Jawa Tengah dengan luas wilayah 32.544,12 km2 terdapat jumlah penduduk pada tahun 2008 sebesar 32.626.390 jiwa, terdiri dari Laki-laki sebanyak 16.192.295 jiwa dan Perempuan sebanyak 16.434.095 jiwa. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel. 5.13.

Tabel 5.13. Jumlah Penduduk Laki-laki dan Perempuan
di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009

Kepadatan Penduduk

Jumlah Penduduk di Jawa Tengah tahun 2008 sebesar 32.626.390 jiwa yang tersebar di 35 (tiga puluh lima) Kabupaten/Kota. Dari dua puluh lima wilayah tersebut yang menduduki rangking paling tinggi adalah Kabupaten Brebes, dengan jumlah penduduk sebesar 1.788.687 jiwa dengan luas daerah 1.657.73 km2 berarti kepadatan penduduk per km2 sebesar 107.90 jiwa, sedangkan Kota Magelang jumlah penduduknya paling sedikit yaitu 134.615 jiwa dengan luas daerah 18.12 km2 sehingga kepadatan penduduk per km2 sebesar 7.429.08 jiwa. Data selengkapnya dapat dilihat pada tabel 5.14.

Tabel 5.14. Kepadatan Penduduk per Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2008

Tabel 5.15. Tingkat Kepadatan Penduduk di Provinsi Jawa Tengah
Tahun 2003 – 2008

Dari tabel diatas terlihat bahwa kepadatan penduduk Jawa Tengah pada tahun 2003 sebesar 984,90 jiwa/km2 pada tahun 2008 telah meningkat menjadi 1.002.53 jiwa/km2 dan bahkan pada tahun 2005 tingkat kepadatannya mencapai 1.011,21 jiwa/km2. Mencermati perkembangan tingkat kepadatan penduduk dari tahun ke tahun yang semakin meningkat, maka tekanan terhadap sumberdaya alam dikhawatirkan juga akan meningkat.

5.1.5. Provinsi Jawa Timur

Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk di Provinsi Jawa Timur dari hasil proyeksi pada pertengahan 2009 mencapai 37.286.246 jiwa atau naik sekitar 0,052% dibandingkan dengan tahun 2008, dan mempunyai kecenderungan bertambah setiap tahunnya. Kota Surabaya sebagai kota besar dimana merupakan pusat pemerintahan, pusat perdagangan dan industri mempunyai daya tarik bagi pendatang untuk datang mengadu nasib memiliki jumlah penduduk terbesar yaitu 2.631.305 jiwa, diikuti Kabupaten Malang sebesar 2.425.311 jiwa, dan Kabupaten Jember sebesar 2.327.957. Sedangkan daerah dengan jumlah penduduk terendah adalah Kota Mojokerto sebesar 113.327 jiwa, diikuti Kota Blitar sebesar 133.408 jiwa dan Kota Pasuruan sebesar 174.173 jiwa, seperti terlihat tabel berikut.

Tabel 5.16. Jumlah Penduduk Jawa Timur Pertengahan Tahun
Menurut Kabupaten/ Kota, Tahun 2006-2009

Kepadatan Penduduk

Berdasarkan Tabel 5.17. terlihat bahwa kepadatan penduduk di Jawa Timur sampai dengan pertengahan 2009 sebesar 803 jiwa/km2. Bila dibandingkan dengan kepadatan penduduk tahun 2008 maka, kepadatan penduduk di Jawa Timur naik sebesar 0,5%, tetapi jika dilihat dari periode 2006-2009 kepadatannya menurun sebesar 0,49%. Daerah yang memiliki kepadatan penduduk terbesar berturut-turut adalah Kota Surabaya sebesar 8.063 jiwa/km2, Kota Malang sebesar 7.458 jiwa/km2, dan Kota Mojokerto sebesar 6.885 jiwa/km2. Kota Mojokerto termasuk daerah yang memiliki jumlah penduduk paling sedikit, tetapi termasuk daerah yang padat penduduknya. Kabupaten Banyuwangi termasuk daerah yang terluas di Provinsi Jawa Timur dengan luas wilayah 3.457 km2 mempunyai kepadatan terrendah sebesar 266 jiwa/km2. Kemudian diikuti Kabupaten Situbondo sebesar 381 jiwa/km2, dan Kabupaten Pacitan 416 jiwa/km2.

Tabel 5.17. Kepadatan Penduduk Pertengahan Tahun Menurut
Kabupaten/Kota 2006-2009

5.1.6. Provinsi DI Yogyakarta

Jumlah Penduduk

Manusia dan pembangunan merupakan satu rangkaian yang terkait erat dengan sumberdaya alam dan lingkungan. Sebagai komponen pokok pembangunan, cipta, rasa, dan karsa manusia mampu memanfaatkan sebesar-besarnya sumber daya alam untuk kemaslahatan hidup. Wujud nyata komponen yang terkait dengan cipta, rasa, dan karsa manusia adalah komponen demografi, komponen ekonomi, dan komponen sosial budaya. Ini berarti bahwa karakteristik demografi, karakteristik sosial ekonomi, dan karakteristik sosial budaya merupakan aspek pokok yang penting untuk dikaji. Oleh karena itu, berikut disajikan deskripsi karakteristik demografi, karakteristik sosial ekonomi, dan karakteristik sosial budaya di Propinsi D.I. Yogyakarta, yang meliputi: Kabupaten Sleman, Kulon Progo, Gunung Kidul dan Kota Yogya.

Jumlah penduduk di Propinsi D.I. Yogyakarta tahun 2010 berdasarkan data BPS D.I. Yogyakarta tahun 2010 yang di paparkan dalam D.I. Yogyakarta Dalam Angka dan SLHD T.A. 2010 tercatat 3.534.600 jiwa. Presentase jumlah penduduk 0,99%, terdiri atas 1.777.700 jiwa laki-laki atau 50,30% dan 1.756.900 jiwa perempuan atau 49,70%. Secara umum, perbandingan antara jumlah penduduk laki-laki terhadap penduduk perempuan di Propinsi D.I. Yogyakarta pada empat kabupaten dan satu kota madya bisa di kategorikan seimbang. Jumlah penduduk di masing-masing daerah adalah Kabupaten Sleman terdapat 1.066.673 jiwa dengan luas wilayah 574,82 km2, Kulon Progo terdapat 375.114 jiwa dengan luas wilayah 586,27 km2, Bantul terdapat 935.161 jiwa dengan luas wilayah 506,85 km2, Gunung Kidul terdapat 689.303 jiwa dengan luas wilayah 1.485,36 km2, dan kota Yogyakarta terdapat 468.349 jiwa dengan luas wilayah 32,50 km2. Jumlah Penduduk berdasarkan Umur dan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 5.18 dan Tabel 5.16.

Persentase pertumbuhan penduduk kota mencapai 64,48% dan penduduk desa mencapai 35,52%. Dapat disimpulkan bahwa, pertumbuhan penduduk di propinsi Yogyakarta penyebarannya tidak merata, bisa dilihat bahwa pada kabupaten Sleman dan kota Yogya dengan luas wilayah yang tidak begitu besar, kepadatan serta pertumbuhan penduduknya sangatlah besar. Hal ini cukup wajar mengingat Kabupaten Sleman dan kota Yogya yang sebagian besar merupakan kota (pada kabupaten Sleman) dan ibu kota propinsi (kota Yogyakarta) sehingga berbagai aktivitas ekonomi maupun sarana dan prasarana lebih lengkap dibandingkan dengan kabupaten lainnya. Faktor lain seperti transportasi maupun kemudahan akses dapat menjadi suatu magnet bagi penduduk.

Tabel. 5.18. Jumlah Penduduk Laki-Laki Menurut Umur Provinsi D.I. Yogyakarta

Tabel 5.19 Jumlah Penduduk Perempuan Menurut Golongan Umur
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Kepadatan Penduduk

Yogyakarta merupakan kota yang terpadat penduduknya di Provinsi DIY, mencapai 14.410 jiwa/km2. Data mengenai kepadatan penduduk dan laju pertumbuhan penduduk, dapat dilihat pada Tabel 5.20. berikut ini.

Tabel 5.20. Kepadatan Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk
Menurut Kabupaten/Kota

Jika dilihat dari tabel kepadatan penduduk dan laju pertumbuhan penduduk Provinsi D.I. Yogyakarta diatas, bisa ditarik kesimpulan bahwa kota Yogyakarta dengan luas yang hanya 32,50 km2 dengan pertumbuhan penduduk 468.349 jiwa, merupakan daerah dengan pertumbuhan penduduk yang cukup pesat dan padat, di banding dengan daerah-daerah lainnya seperti Bantul dengan luas 506,85 km2 yang hanya 935.161 jiwa.