Profile Ekoregion Jawa

   
     PPE Regional Jawa +62 274 625800
Tap To Call

Hutan   arrow

6.1 Potensi Sumberdaya Hutan

Berdasarkan laporan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) Tahun 2010-2011, Pulau Jawa yang luasnya 129.600,71 Km2 (12.960.071 Ha) memiliki kawasan yang ditetapkan sebagai hutan hanya sebesar 3.135.648,70 Ha ( + 24%), data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 6.1. Sementara berdasarkan Badan Planologi Departemen Kehutanan, lahan kritis di Jawa saat ini diperkirakan sudah mencapai 2.481.208 hektar dan penutupan lahan oleh pohon tinggal 4 %. Pada abad ke-16 sampai pertengahan abad ke-18, hutan alam (hutan primer) di Jawa diperkirakan masih sekitar 9 juta hektar. Sedangkan pada akhir tahun 1980-an, tutupan hutan alam di Jawa hanya tinggal 0,97 juta hektar atau sekitar 7 persen dari luas total Pulau Jawa.

Tabel 6.1. Luas Hutan Pulau Jawa Menurut Fungsinya

Data yang disajikan sebagaimana di atas ternyata masih dinamis, hal ini tergambar dari penyampaian materi oleh Dinas-dinas Kehutanan Provinsi pada acara Rapat Koordinasi Inventarisasi Lingkungan Hidup yang diselenggarakan oleh Pusat Pengelolaan Ekoregion Jawa di tiap-tiap provinsi se-Jawa. Dari penyampaian materi diperoleh informasi/data yang berbeda, hal ini karena adanya perubahan luas kawasan hutan sebagai akibat alih fungsi dan beberapa hal lainnya. Updating data terakhir (s.d. Tahun 2012) belum didapatkan, karena sedang dilakukan pemetaan atau pendataan kembali dari daerah-daerah ke pusat (Departemen Kehutanan). Berdasarkan data SLHD selama lima tahun terakhir (hingga 2011) besarnya alih fungsi lahan kawasan hutan mencapai 99.759,55 Ha, dengan distribusi sebagaimana tergambar pada tabel 6.2.

Tabel 6.2. Konversi Kawasan Hutan
Sumber : Data SLHD Provinsi, 2011

Dari Tabel 6.2. dapat dilihat bahwa alih fungsi (konversi) kawasan hutan terbesar digunakan untuk kebutuhan kawasan Industri dan Perumahan. Kedua faktor ini merupakan faktor dominan penyebab terjadinya penurunan luas kawasan hutan di Pulau Jawa.

Sementara itu, data yang disampaikan oleh Direktorat PHKA Departemen Kehutanan menyebutkan bahwa Hutan Konservasi (HK) di Pulau Jawa memiliki luas 718.174 ha yang terdiri dari 81 unit Cagar Alam (66.349,7 ha), 12 unit Taman Nasional (572.736,5 ha), 9 unit Suaka Margasatwa (32.313,6 ha), 25 unit Taman Wisata Alam (5.045,1 ha), 6 unit Taman Hutan Raya (29.308,4 ha) dan 1 unit Taman Buru (12.420,7 ha). Hutan produksi menempati luas yang paling besar yaitu sekitar 1.7 juta ha sedangkan hutan lindung seluas ± 700 ribu ha.

A. Cagar Alam

Cagar alam (nature sanctuary) adalah suatu kawasan suaka alam karena keadaan alamnya yang mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Cagar Alam berfungsi sebagai kawasan perlindungan terhadap seluruh komponen ekosistem, baik flora, fauna, maupun habitatnya. Semua proses tersebut dibiarkan berlangsung secara alami tanpa campur tangan manusia sehingga kawasan tersebut harus dibiarkan sesuai dengan aslinya. Campur tangan manusia hanya dimungkinkan apabila terjadi suatu proses, baik alamiah maupun karena perbuatan manusia, yang dapat mengakibatkan kawasan tersebut punah.

Penetapan cagar alam mewakili tipe ekosistem tertentu semisal terumbu karang, mangrove, lamun, hutan dataran rendah, hutan meranggas, savanna (padang rumput), gurun, rawa dan danau, sungai, payau, batu kapur dan gamping, gua, submontane dan alpine, dan sebagainya. Karena itu, sebuah negara yang memiliki komitmen terhadap konservasi, akan memiliki sangat banyak kawasan cagar alam. Banyaknya cagar alam ditentukan berdasarkan banyaknya tipe ekosistem yang ada dan perlu dilindungi di negara tersebut. Di Indonesia, secara garis besar cagar alam terbagi dalam Cagar Alam Daratan, baik tanah maupun perairan darat (biasa disebut sebagai “cagar alam” saja), Cagar Alam Laut, dan Cagar Alam Biosfer. Di pulau Jawa hanya dijumpai Cagar Alam dan Cagar Alam Laut. Selain cagar alam, Indonesia memiliki kawasan suaka alam lainnya yaitu Suaka Margasatwa. Juga memiliki kawasan Pelestarian Alam yang meliputi Taman Nasional, Taman Hutan Raya, dan Taman Wisata Alam.

Sampai dengan tahun 2008, Indonesia telah menetapkan sedikitnya 237 lokasi cagar alam, baik daratan maupun perairan, dengan luas keseluruhan mencapai 4.730.704,04 hektar. Cagar alam tersebut tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk di pulau Jawa. Berikut adalah daftar cagar alam Indonesia yang berada di pulau Jawa dan pulau-pulau kecil sekitarnya.

- Cagar Alam di Provinsi Banten

  1. CA RAWA DANAU; Serang, 2.500,00 ha, GB No. 50/1921 Staatsblad 689, 16 November 1921.
  2. CA PULAU DUA; Serang, 32,85 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 253/Kpts-II/1984, 26 Desember 1984.
  3. Cagar Alam Laut PULAU SANGIANG; Serang, 700,35 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 112/Kpts-II/1985, 23 Mei 1985.
  4. CA TUKUNG GEDE; Serang, 1.700,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 396/Kpts/ Um/6/79, 23 Juni 1979.

- Cagar Alam di Provinsi Jawa Barat

  1. CA ARCA DOMAS; Cianjur, 2,00 ha, GB Nomor 28, 16 April 1913.
  2. CA TELAGA BODAS; Garut, 261,50 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 98/Kpts/ Um/2/78, 2 Februari 1978.
  3. CA BOJONGLARANG JAYANTI; Cianjur, 750,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 516/Kpts/Um/10/73, 16 Oktober 1973.
  4. CA GUNUNG BURANGRANG; Bandung, 2.700,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 479/Kpts/Um/8/79, 2 Agustus 1979.
  5. CA CADAS MALANG; Cianjur, 21,00 ha, GB No. 83/1919 Staatsblad 392, 11 Juli 1919.
  6. CA CIBANTENG; Cianjur, 516,45 ha, GB No. 3/1925 Staatsblad 243, 28 Mei 1925.
  7. CA CIGENTENG-CIPANJI; Bandung, 10,00 ha, GB No. 6/1919 Staatsblad 90, 21 Februari 1919.
  8. CA DUNGUS IWUL; Sukabumi, 9,00 ha, GB No. 23/1931 Staatsblad 99, 2 Maret 1931.
  9. CA NUSA GEDE PANJALU; Ciamis, 16,00 ha, GB No. 6/1919 Staatsblad 90, 21 Februari 1919.
  10. CA GUNUNG JAGAT; Sumedang, 126,70 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 132/ Kpts/Um/12/54, 12 Desember 1954.
  11. CA KAWAH KAMOJANG; Garut, 7.650,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 274/ Kpts-II/1999, 7 Mei 1999.
  12. CA LEUWENG SANCANG; Garut, 2.157,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 370/ Kpts/Um/6/78, 9 Juni 1978.
  13. CA Laut LEUWENG SANCANG; Garut, 1.150,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 92/Kpts-II/1990, 3 Juni 1990.
  14. CA MALABAR; Bandung, 8,30 ha, GB No. 27/1927, 2 Juli 1927.
  15. CA PANANJUNG PANGANDARAN; Ciamis, 419,30 ha, GB No. 19/1934 Staatsblad 669, 12 Juli 1934.
  16. Cagar Alam Laut PANANJUNG PANGANDARAN, seluas 470,00 ha sesuai dengan Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor : 225/Kpts-II/1990, 12 Juni2 1990
  17. CA GUNUNG PAPANDAYAN; Garut, 6.620,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 68/Kpts/Um/1/79, 22 Januari 1979.
  18. CA TELAGA PATENGGANG; Bandung, 21,18 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 660/Kpts/Um/10/81, 11 Oktober 1981.
  19. CA GUNUNG SIMPANG; Cianjur, Bandung, 15.000,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 41/Kpts/Um/1/79, 11 Januari 1979.
  20. CA SUKAWAYANA; Sukabumi, 30,50 ha, GB No. 83/1919 Staatsblad 392, 11 Juli 1919.
  21. CA TAKOKAK; Cianjur, 50,00 ha, GB No. 6/1919 Staatsblad 90, 21 Februari 1919.
  22. CA TANGKUBAN PERAHU-BANDUNG; Bandung, 1.290,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 528/Kpts/Um/9/74, 3 September 1974.
  23. CA TANGKUBAN PERAHU-PELABUHAN RATU; Sukabumi, 33,00 ha, GB 12 Staatsblad 407, 21 November 1930.
  24. CA GUNUNG TILU; Bandung, 8.000,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 68/Kpts/Um/2/78, 7 Februari 1978.
  25. CA TELAGA WARNA; Cianjur, 368,25 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 481/Kpts/ Um/6/81, 9 Juni 1981.
  26. CA YANLAPA; Bogor, 32,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 137/Kpts/Um/3/56, 28 Maret 1956.
  27. CA YUNGHUN; Bandung, 2,50 ha, GB No. 6/1919 Staatsblad 90, 21 Februari 1919.

- Cagar Alam di Provinsi Jawa Tengah

  1. CA BANTAR BOLANG; Pemalang, 24,10 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 435/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  2. CA BEKUTUK; Blora, 25,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 595/Kpts/Um/9/79, 21 September 1979.
  3. CA GUNUNG BUTAK; Rembang, 25,40 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 79/Menteri Kehutanan RI-II/2004, 11 Maret 2004.
  4. CA CABAK I/; Blora, 30,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 435/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  5. CA GUNUNG CELERING; Jepara, 1.379,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 755/ Kpts-II/1989, 16 Desember 1989.
  6. CA CURUG BENGKAWAH; Pemalang, 1,50 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 435/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  7. CA TELOGO DRINGO; Banjarnegara, 26,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 435/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  8. CA GUNUNG GEBUGAN-UNGARAN; Semarang, 1,80 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 435/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  9. CA GETAS; Semarang, 1,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 435/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  10. CA GUCI; Pemalang, 2,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 435/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  11. CA KARANG BOLONG; Cilacap, 0,50 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 435/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  12. KELING I/II/III; Jepara, 61,70 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 435/Kpts-II/ 1999, 15 Juni 1999.
  13. CA KEMBANG; Jepara, 1,80 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 435/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  14. CA MOGA; Pemalang, 1,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 435/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  15. CA NUSAKAMBANGAN; Pemalang dan Cilacap, 1.205,00 ha. Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 435/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  16. CA PAGER WUNUNG DARUPRONO; Kendal, 33,20 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 115/Menteri Kehutanan RI-II/2004, 19 April 2004.
  17. CA PANTODOMAS; Wonosobo, 4,10 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 435/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  18. CA PESON SUBAH I; Batang, 10,40 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 82/Menteri Kehutanan RI-II/2004, 10 Maret 2004.
  19. CA PESON SUBAH II; Batang, 100,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 435/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  20. CA PRINGOMBO I/II; Banjarnegara, 58,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 435/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  21. CA TELOGO RANJENG; Pemalang, 18,50 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 435/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  22. CA SEPAKUNG; Semarang, 10,00 ha, Keputusan Menhu Nomor: 74/Menteri Kehutanan RI-II/2004, 10 Maret 2004.
  23. CA SUBVAK 18C/19B; Tegal, 6,60 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 435/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  24. CA TELAGA SUMURUP; Banjarnegara, 20,10 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 435/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  25. CA ULO LANANG KECUBUNG; Batang, 69,70 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 106/Menteri Kehutanan RI-II/2004, 14 April 2004.
  26. CA VAK 53 COMAL; Pemalang, 24,10 ha, GB No. 2980.

- Cagar Alam di Provinsi Jawa Timur

  1. CA GUNUNG ABANG; Pasuruan, 50,40 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 458/Kpts/ Um/7/78, 24 Juni 1978.
  2. CA NUSA BARONG; Jember, 6.100,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 417/ Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  3. CA PULAU BAWEAN; Surabaya, 725,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 762/Kpts/Um/12/1979, 5 Desember 1979.
  4. CA BESOWO GADUNGAN; Kediri, 7,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 417/ Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  5. CA CEDING; Bondowoso, 2,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 417/Kpts-II/ 1999, 15 Juni 1999.
  6. CA CORAH MANIS SEMPOLAN; Jember, 16,80 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 417/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  7. CA KAWAH IJEN MERAPI UNGGUP-UNGGUP; Banyuwangi, 2.468,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 417/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  8. CA JANGGANGAN REGOJAMPI I/II; Banyuwangi, 7,50 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 417/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  9. CA SUNGAI KOLBU IYANG PLATEU; Bondowoso, 18,80 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 417/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  10. CA MANGGIS GADUNGAN; Kediri, 12,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 417/ Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  11. CA GUA NGLIRIP; Bojonegoro, 3,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 417/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  12. CA PACUR INJEN I/II; Bondowoso, 3,95 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 417/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  13. CA GUNUNG PICIS; Ponorogo, 27,90 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 417/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  14. CA SAOBI–KANGEAN; Sumenep (Madura), 430,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 417/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  15. CA PULAU SEMPU; Malang, 877,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 417/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  16. CA GUNUNG SIGOGOR; Ponorogo, 190,50 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 417/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  17. CA WATANGAN PUGER I-VI; Jember, 2,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 417/ Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  18. CA WIJAYA KUSUMA; Cilacap, 1,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 435/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.

- Cagar Alam di Provinsi DI Yogyakarta

  1. CA TELUK BARON; Gunung Kidul, 2,00 ha, GB 379/321/16, 24 Maret 1933.

- Cagar Alam di Provinsi DKI Jakarta

  1. CA PULAU BOKOR; Jakarta Utara, 18,00 ha, GB No. 60/1921 Staatsblad 683, 16 November 1921.

 B. Taman Nasional

Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi (pasal 1 butir 14 UU No. 5 Tahun 1990). Kawasan Pelestarian Alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya (Pasal 1 butir 13 UU No. 5 Tahun 1990). Sejak tahun 2006 telah ditetapkan sejumlah 50 Taman Nasional di seluruh wilayah Indonesia, 12 diantaranya berada di Pulau Jawa. Keduabelas Taman Nasional yang ada di Jawa adalah (daftar tertera pada Tabel 6.3.) :

Tabel 6.3. Daftar Taman Nasional yang ada di Pulau Jawa

1) Taman Nasional Alas Purwo

Taman Nasional Alas Purwo (TN Alas Purwo) adalah taman nasional yang terletak di Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Secara geografis terletak di ujung timur Pulau Jawa wilayah pantai selatan antara 8°26‘45‖–8°47‘00‖ LS dan 114°20‘16‖–114°36‘00‖ BT. TN Alas Purwo dengan luas 43.420 ha terdiri dari beberapa zonasi, yaitu :

  • Zona Inti (Sanctuary zone) seluas 17.200 Ha
  • Zona Rimba (Wilderness zone) seluas 24.767 Ha
  • Zona Pemanfaatan (Intensive use zone) seluas 250 Ha
  • Zona Penyangga (Buffer zone) seluas 1.203 Ha.

Gambar 6.1. Peta Kawasan TN Alas Purwo

TN Alas Purwo berada di zona iklim yang cukup kering, dengan rata-rata curah hujan 1000 – 1500 mm per tahun, temperatur 22°-31° C, dan kelembaban udara 40-85 %. Wilayah TN Alas Purwo sebelah Barat menerima curah hujan lebih tinggi bila dibandingkan dengan wilayah sebelah Timur. Dalam keadaan biasa, musim di TN Alas Purwo pada bulan April sampai Oktober adalah musim kemarau dan bulan Oktober sampai April adalah musim hujan. Secara umum kawasan TN Alas Purwo mempunyai topografi datar, bergelombang ringan sampai barat dengan puncak tertinggi Gunung Lingga Manis (322 mdpl). Keadaan tanah hampir keseluruhan merupakan jenis tanah liat berpasir dan sebagian kecil berupa tanah lempung. Sungai di kawasan TN Alas Purwo umumnya dangkal dan pendek. Sungai yang mengalir sepanjang tahun hanya terdapat di bagian barat, yaitu Sungai Segoro Anak dan Sunglon Ombo. Mata air banyak terdapat di daerah Gunung Kuncur, Gunung Kunci, Gua Basori, dan Sendang Srengenge.

Gambar 6.2. Kawasan barat TN Alas Purwo

Secara umum tipe hutan di kawasan TN Alas Purwo merupakan hutan hujan dataran rendah. Hutan bambu merupakan formasi yang dominan, ± 40 % dari total luas hutan yang ada. Sampai saat ini telah tercatat sedikitnya 584 jenis tumbuhan yang terdiri dari rumput, herba, semak, liana, dan pohon. Berdasarkan tipe ekosistemnya, hutan di TN Alas Purwo dapat di kelompokkan menjadi hutan bambu, hutan pantai, hutan bakau/mangrove, hutan tanaman, hutan alam, dan padang penggembalaan (Feeding Ground). Tumbuhan khas dan endemik pada taman nasional ini yaitu sawo kecik (Manilkara kauki) dan bambu manggong (Gigantochloa manggong). Tumbuhan lainnya adalah ketapang (Terminalia cattapa), nyamplung (Calophyllum inophyllum), kepuh (Sterculia foetida), keben (Barringtonia asiatica), dan 13 jenis bambu.

Keanekaragaman jenis fauna di kawasan TN Alas Purwo secara garis besar dapat dibedakan menjadi 4 kelas yaitu Mamalia, Aves, Pisces dan Reptilia. Mamalia yang tercatat sebanyak 31 jenis, diantaranya yaitu : Banteng (Bos javanicus), Rusa (Cervus timorensis), Ajag (Cuon alpinus), Babi Hutan (Sus scrofa), Kijang (Muntiacus muntjak), Macan Tutul (Panthera pardus), Lutung (Trachypithecus auratus), Kera Abu-abu (Macaca fascicularis), dan Biawak (Varanus salvator). Dari kelas aves terdapat burung merak (Pavo muticus), ayam hutan (Gallus gallus) dan pada periode bulan Oktober-Desember di Segoro Anakan dapat dilihat sekitar 16 jenis burung migran dari Australia diantaranya cekakak suci (Halcyon chloris/ Todirhampus sanctus), burung kirik-kirik laut (Merops philippinus), trinil pantai (Actitis hypoleucos), dan trinil semak (Tringa glareola).

Gambar 6.3. Beberapa jenis fauna di TN Alas Purwo

Dari berbagai jenis satwa yang ada di TN Alas Purwo, beberapa jenis diantaranya merupakan satwa langka yang dilindungi. Satwa langka dan dilindungi seperti penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan penyu hijau (Chelonia mydas) biasanya sering mendarat di pantai Selatan taman nasional ini pada bulan Januari s/d September.

Burung yang telah berhasil diidentifikasi berjumlah 236 jenis terdiri dari burung darat dan burung air, beberapa jenis diantaranya merupakan burung migran yang telah berhasil diidentifikasi berjumlah 39 jenis. Jenis burung yang mudah dilihat antara lain : Ayam Hutan (Gallus gallus), Kangkareng (Antracoceros coronatus), Rangkok (Buceros undulatus), Merak (Pavo muticus) dan Cekakak jawa (Halcyon cyanoventris). Sedangkan untuk reptil telah teridentifikasi sebanyak 20 jenis.

2) Taman Nasional Baluran

Gambar 6.4. Peta Taman Nasional Baluran

Taman Nasional Baluran terletak di wilayah Banyuputih, Situbondo, Jawa Timur (sebelah utara Banyuwangi). Nama dari Taman Nasional ini diambil dari nama gunung yang berada di daerah ini, yaitu gunung Baluran. Berdasarkan SK. Menteri Kehutanan No. 279/Kpts.-VI/1997 tanggal 23 Mei 1997 kawasan TN Baluran ditetapkan memiliki luas sebesar 25.000 Ha. Sesuai dengan peruntukkannya, luas kawasan tersebut dibagi menjadi beberapa zona berdasarkan SK. Dirjen PKA No. 187/Kpts./DJ-V/1999 tanggal 13 Desember 1999 yang terdiri dari:

  • zona inti seluas 12.000 Ha.
  • zona rimba seluas 5.537 ha (perairan = 1.063 Ha dan daratan = 4.574 Ha).
  • zona pemanfaatan intensif dengan luas 800 Ha.
  • zona pemanfaatan khusus dengan luas 5.780 Ha, dan
  • zona rehabilitasi seluas 783 Ha.

Taman nasional ini terdiri dari tipe vegetasi sabana, hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, hutan rawa dan hutan yang selalu hijau sepanjang tahun. Tipe vegetasi sabana mendo-minasi kawasan Taman Nasional Baluran yakni sekitar 40 persen dari total luas lahan.

Gambar gunung Baluran (www.aqibhabibi.wordpress.com)

Nasional ini memiliki sekitar 444 jenis tumbuhan dan di antaranya merupakan tumbuhan asli yang khas dan mampu beradaptasi dalam kondisi yang sangat kering. Tumbuhan khas tersebut adalah: Widoro bukol (Ziziphus rotundifolia), Mimba (Azadirachta indica), dan Pilang (Acacia leucophloea). Tumbuhan lainnya antara lain: Asam jawa (Tamarindus indica), Gadung (Dioscorea hispida), Kemiri (Aleurites moluccana), Gebang (Corypha utan), Api-api (Avicennia sp.), Kendal (Cordia obliqua), Salam (Syzygium polyanthum), Kepuh (Sterculia foetida).

gambar

Di Taman Nasional ini terdapat 26 jenis mamalia, di antaranya adalah: Banteng (Bos javanicus javanicus), Kerbau liar (Bubalus buba-lis), Ajag (Cuon alpinus javanicus), Kijang (Muntia-cus muntjak), Rusa (Cervus timorensis russa), Macan tutul (Panthera pardus melas), Kancil (Tragulus javanicus pelandoc), Kucing bakau (Prionailurus viverrinus).

Gambar sekelompok rusa Baluran (www,ndahnesia.com)

Satwa banteng merupakan maskot/ciri khas dari Taman Nasional Baluran. Selain itu, terdapat sekitar 155 jenis burung, di antaranya termasuk burung langka seperti: Layang-layang api (Hirundo rustica), Tuwuk asia (Eudynamys scolopacea), Burung merak (Pavo muticus), Ayam hutan merah (Gallus gallus), Kangkareng (Anthracoceros convecus), Burung rangkong (Buceros rhinoceros), bangau tong-tong (Leptoptilos javanicus).

Gambar 6.5. Fauna Langka Baluran

Taman nasional ini dibagi menjadi beberapa pos pengamatan. Pos di Taman Nasional ini antara lain:

  • Batangan. Di sini terdapat peninggalan sejarah berupa gua Jepang, makam putra Maulana Malik Ibrahim, atraksi tarian burung merak pada musim kawin (antara bulan Oktober/November) dan berkemah. Fasilitas yang ada di sini antara lain pusat informasi dan bumi perkemahan.
  • Bekol dan Semiang. Di sini terdapat fasilitas pengamatan satwa seperti ayam hutan, merak, rusa, kijang, banteng, kerbau liar, dan burung. Fasilitas yang ada di sini antara lain wisma peneliti, wisma tamu, dan menara pandang.
  • Bama, Balanan, dan Bilik. Di sini merupakan lokasi wisata bahari, lokasi memancing, menyelam/snorkeling, dan atraksi perkelahian antar rusa jantan (pada bulan Juli/Agustus) dan atraksi kawanan kera abu-abu yang memancing kepiting/rajungan dengan ekornya pada saat air laut surut.
  • Manting, dan Air Kacip. Di sini terdapat sumber air yang tidak pernah kering sepanjang tahun, dan merupakan habitat macan tutul.
  • Popongan, Sejile, Sirontoh, Kalitopo. Di sini terdapat fasilitas untuk naik sampan di laut yang tenang, melihat berbagai jenis ikan hias, dan lokasi pengamatan burung migran.
  • Curah Tangis. Di sini terdapat fasilitas untuk kegiatan panjat tebing dengan tinggi 10-30 meter, dan kemiringan sampai 85%.

3) Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru adalah taman nasional di Jawa Timur, yang terletak di wilayah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Probolinggo. Taman ini ditetapkan sejak tahun 1982, namun penetapannnya baru dilakukan setelah keluarnya Keputusan Menteri Kehutanan, SK No. 278/Kpts-VI/97 dengan luas 50.276,2 hektar. Temperatur udara rata-rata harian berkisar 3° – 20° C dengan curah hujan rata-rata: 6.600 mm/tahun. Berada di ketinggian tempat 750 – 3.676 m dpl pada koordinat geografis: 7°51‘ – 8°11‘ LS, 112°47‘ – 113°10‘ BT.

Gambar Air terjun Madakaripura

http://id.wikipedia.org/wiki/ Air_terjun_Madakaripura

Taman nasional ini adalah salah satu tujuan wisata utama di Jawa Timur, di dalamnya terdapat obyek utama berupa Gunung Bromo yang unik dan Gunung Semeru yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa. Selain itu terdapat juga banyak sumber mata air dan air terjun dengan debit yang cukup tinggi, salah satu air terjun yang cukup dikenal adalah Air Terjun Madakaripura. Taman Nasional Bromo Tengger Semeru memiliki tipe ekosistem sub-montana, montana dan sub-alphin dengan pohon-pohon yang besar dan berusia ratusan tahun antara lain cemara gunung, jamuju, edelweis, berbagai jenis anggrek dan rumput langka.

Gambar 6.6. Gunung Bromo dengan latar belakang Gunung Semeru
( http://www.belantaraindonesia.org/2009/07/gunung-bromo.html )

Satwa langka dan dilindungi yang terdapat di taman nasional ini antara lain: luwak (Paradoxurus hermaphroditus), rusa (Rusa timorensis), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), kijang (Muntiacus muntjak), ayam hutan merah (Gallus gallus), macan tutul (Panthera pardus melas), ajag (Cuon alpinus javanicus); dan berbagai jenis burung seperti alap-alap (Accipiter virgatus), rangkong (Buceros rhinoceros silvestris), elang ular bido (Spilornis cheela bido), srigunting hitam (Dicrurus macrocercus), elang bondol (Haliastur indus), dan belibis yang hidup di Ranu Pani, Ranu Regulo, dan Ranu Kumbolo.

4) Taman Nasional Gunung Ciremai

Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) adalah sebuah kawasan konservasi yang terletak di provinsi Jawa Barat. Taman nasional ini dimaksudkan untuk melindungi kekayaan hayati dan lingkungan di wilayah Gunung Ciremai. Penunjukannya dilakukan dengan SK Menhut RI No. 424/Menhut-II/2004 bertanggal 19 Oktober 2004, yang mengubah status hutan lindung di Gunung Ceremai menjadi kawasan taman nasional.

Bentuk wilayah TNGC cenderung melonjong, dengan sumbu panjang nyaris tepat di arah utara-selatan, dan dengan tiga tonjolan memanjang serupa tanjung di arah utara, barat, dan barat daya. Wilayah ini berada di antara garis-garis bujur 108°21’35″—108°28’00″ BT dan garis-garis lintang 6°50’25″—6°58’26″ LS. Topografinya sebagian besar bergelombang (64%) dan curam (22%), bergunung-gunung, dengan puncak tertinggi pada ketinggian 3.078 m dpl.

Kawasan TNGC mempunyai luas 15.859,17 ha, sebagian masuk wilayah Kabupaten Kuningan (8.931,27 ha), dan sebagian lagi di wilayah Kabupaten Majalengka (6.927,9 ha). Di sebelah utara kawasan hutan ini berbatasan dengan wilayah Kabupaten Cirebon; sementara batas-batasnya di sisi timur terletak di kecamatan-kecamatan Cilimus, Jalaksana, dan Kramatmulya. Di selatan, batas-batas ini berada di wilayah Cigugur, Kadugede, Nusaherang, serta Darma; di barat berada di wilayah Majalengka.

Secara umum, van Steenis (2006) telah mendefinisikan tiga zona iklim utama berdasarkan elevasi yang memengaruhi vegetasi di Jawa (yang juga ada di TNGC Ciremai), ialah:

  • Zona tropik, antara ketinggian 0-1.000 m dpl. Dengan subzona perbukitan (colline) di antara 500-1.000 m.
  • Zona pegunungan (montana), antara ketinggian 1.000-2.400 m dpl. Dengan subzona sub-pegunungan (submontana) di antara 1.000-1.500 m.
  • Zona subalpin, di atas ketinggian 2.400 m.

Di wilayah Gunung Ceremai ini, hutan di bawah 1.000 m semula merupakan kawasan hutan produksi yang dikelola Perhutani KPH Kuningan. Hutan-hutan ini telah berubah menjadi hutan tanaman tusam dan beberapa jenis pohon kayu yang lain. Sementara hutan pada ketinggian 1.000 m ke atas sebelumnya adalah hutan lindung, yang sebagiannya telah rusak terganggu oleh letusan gunung, dan kemudian oleh aktivitas masyarakat serta kebakaran hutan. Berdasarkan kondisi iklimnya, hutan-hutan pegunungan ini bisa dibedakan atas hutan dataran tinggi basah di bagian selatan (Cigugur dan sekitarnya) dan hutan dataran tinggi yang lebih kering di sebelah utara di wilayah Setianegara dan sekitarnya.

Hutan di zona pegunungan basah dari Cigugur ke arah puncak Ceremai cukup kaya akan jenis pohon. Tercatat di antaranya jenis-jenis saninten (Castanopsis argentea, C. javanica, C. tungurrut) dan pasang (Lithocarpus elegans dan L. sundaicus) dari suku Fagaceae; jenitri (Elaeocarpus obtusus, E. petiolatus dan E. stipularis) dari suku Elaeocarpaceae; mara (Macaranga denticulata) dan kareumbi (Omalanthus populneus) dari suku Euphorbiaceae; aneka jirak (Symplocos fasciculata, S. spicata, S. sessilifolia, S. theaefolia) dari suku Symplocaceae; jenis-jenis ara (di antaranya Ficus padana dan F. racemosa) dari suku Moraceae; puspa (Schima wallichii) dan ki sapu (Eurya acuminata) dari suku Theaceae; dan lain-lain.

Gambar 6.7. Taman Nasional Gunung Ciremai

Di bagian yang lebih kering di Setianegara, hutan didominasi oleh jenis-jenis huru atau medang (Litsea spp.), saninten (C. argentea dan C. javanica), mara (Macaranga tanarius), mareme (Glochidion sp.), bingbin (Pinanga javana), dan pandan gunung (Pandanus sp.). Di bagian yang lebih atas zona montana ini juga didapati dominansi dari jamuju (Dacrycarpus imbricatus, Podocarpaceae) yang membentuk sabuk vegetasi khusus.

Gunung Ceremai merupakan daerah penting bagi burung (IBA, Important Bird Areas JID 24), sekaligus daerah burung endemik (EBA, Endemic Bird Areas DBE 160). Beberapa jenisnya berstatus rentan (IUCN:VU, vulnerable), misalnya celepuk jawa (Otus angelinae) dan ciung-mungkal jawa (Cochoa azurea). Tercatat pula sekurangnya 18 spesies yang lain yang berstatus burung sebaran terbatas (restricted area bird) seperti halnya puyuh-gonggong jawa (Arborophila javanica), walik kepala-ungu (Ptilinopus porphyreus), takur bututut (Megalaima corvina), berkecet biru-tua (Cinclidium diana), poksai kuda (Garrulax rufifrons), cica matahari (Crocias albonotatus), opior jawa (Lophozosterops javanicus), Cucak gunung (Pycnonotus bimaculatus), kenari melayu (Serinus estherae), dan lain-lain.

Gambar 6.8. Beberapa jenis burung di TN Gunung Ciremai

Beberapa jenis mamalia penting yang terdapat di TNGC, di antaranya; macan tutul (Panthera pardus); surili (Presbytis comata); lutung budeng (Trachypithecus auratus); kukang jawa atau muka geni (Nycticebus javanicus); kijang muncak (Muntiacus muntjak); dan pelanduk jawa (Tragulus javanicus). Satwa-satwa ini keberadaannya cukup terancam, mengingat satwa jenis ini laku diperjual belikan. Bahkan keberadaan macan tutul sudah sangat susah ditemui. Peran BKSDA setempat sangat penting untuk menjaga kelestarian satwa-satwa langka ini.

Gambar 6.9. Primata di TN Gunung Ciremai

5) Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Gambar Gunung Gede, Bogor. (http://strangerinthejungle.blogspot.com)

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) mempunyai peranan yang penting dalam sejarah konservasi di Indonesia. Ditetapkan sebagai taman nasional pada tahun 1980. Secara administratif, kawasan TNGP berada di 3 kabupaten (Bogor, Cianjur dan Sukabumi) Provinsi Jawa Barat.

Kantor pengelola yaitu Balai TNGP berada di Cibodas, dan dalam pengelolaannya dibagi menjadi 3 (tiga) Seksi Konservasi Wilayah (SKW), yaitu SKW I di Selabintana, SKW II di Bogor, dan SKW III di Cianjur, dan 13 resort pengelolaan dengan tugas dan fungsi melindungi dan mengamankan seluruh kawasan TNGP dalam mewujudkan pelestarian sumberdaya alam menuju pemanfaatan hutan yang berkelanjutan.

Dengan luas 21.975 hektare, kawasan Taman Nasional ini ditutupi oleh hutan hujan tropis pegunungan, hanya berjarak 100 km dari Jakarta. Di dalam kawasan hutan TNGP, dapat ditemukan ―si pohon raksasa‖ Rasamala, ―si pemburu serangga‖ atau kantong semar (Nephentes spp); berjenis-jenis anggrek hutan, dan bahkan ada beberapa jenis tumbuhan yang belum dikenal namanya secara ilmiah, seperti jamur yang bercahaya. Di samping keunikan tumbuhannya, kawasan TNGP juga merupakan habitat dari berbagai jenis satwa liar, seperti kepik raksasa, sejenis kumbang, lebih dari 100 jenis mamalia seperti Kijang, Pelanduk, Anjing hutan, Macan tutul, Sigung, dll, serta 250 jenis burung. Kawasan ini juga merupakan habitat Owa Jawa, Surili dan Lutung dan Elang Jawa yang populasinya hampir mendekati punah.

Ada dua iklim yaitu musim kemarau dari bulan Juni sampai Oktober dan musim penghujan dari bulan Nopember ke April. Selama bulan Januari sampai Februari, hujan turun disertai angin yang kencang dan terjadi cukup sering, sehingga berbahaya untuk pendakian. Hujan juga turun ketika musim kemarau, menyebabkan kawasan TNGP memiliki curah hujan rata-rata pertahun 4000 mm. Rata-rata suhu di Cibodas 23 °C, dan puncak tertinggi berada pada >3000 m dpl.

Di TNGP terdapat Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Owa Jawa yang dinamai Java Gibbon Center (JGC), berdiri sejak tahun 2003. Lembaga ini merupakan kerjasama antara PHKA-Departemen Kehutanan RI dan Yayasan Owa Jawa yang didukung oleh Conservation International Indonesia, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Universitas Indonesia dan Silvery Gibbon Project (SGP). JGC merawat Owa Jawa dari hasil sitaan dan penyerahan sukarela dari masyarakat. Tujuan keberadaan JGC adalah untuk merehabilitasi Owa Jawa eks-peliharaan, mengembalikan kondisi fisik, kesehatan, perilaku pada masa rehabilitasi dan melepasliarkan kembali pasangan Owa Jawa yang telah siap kedalam kawasan hutan yang sesuai berdasarkan prinsip-prinsip konservasi.

Owa Jawa (Hylobates moloch) merupakan jenis primata arboreal yang tinggal di hutan tropis, makanannya berupa buah, daun dan serangga. Satu keluarga Owa Jawa umumnya terdiri dari sepasang induk dan beberapa anak yang tinggal dalam teritori mereka. Owa jawa merupakan satwa endemik pulau Jawa. Dalam daftar satwa terancam mereka termasuk kategori kritis (IUCN,2004). Ancaman bagi mereka di dalam adalah kehilangan habitat, perburuan dan perdagangan untuk dijadikan satwa peliharaan. Beberapa hasil survey perkiraan populasi mereka di alam tersisa lebih kurang 4000 individu. Populasi kecil yang tersisa di alam dan terisolasi membuka peluang bagi mereka mengalami kepunahan.

6) Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Taman Nasional Gunung Halimun – Salak (TNGHS) adalah salah satu taman nasional yang terletak di Jawa bagian barat. Kawasan konservasi dengan luas 113.357 hektare ini menjadi penting karena melindungi hutan hujan dataran rendah yang terluas di daerah ini, dan sebagai wilayah tangkapan air bagi kabupaten-kabupaten di sekelilingnya. Melingkup wilayah yang bergunung-gunung, dua puncaknya yang tertinggi adalah Gunung Halimun (1.929 m) dan Gunung Salak (2.211 m). Keanekaragaman hayati yang dikandungnya termasuk yang paling tinggi, dengan keberadaan beberapa jenis fauna penting yang dilindungi di sini seperti elang jawa, macan tutul jawa, owa jawa, surili dan lain-lain. Kawasan TNGHS dan sekitarnya juga merupakan tempat tinggal beberapa kelompok masyarakat adat, antara lain masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul dan masyarakat Baduy.

Wilayah Gunung Halimun telah ditetapkan menjadi hutan lindung semenjak tahun 1924, luasnya ketika itu 39.941 ha. Kemudian pada 1935 kawasan hutan ini diubah statusnya menjadi Cagar Alam Gunung Halimun. Status cagar alam ini bertahan hingga tahun 1992, ketika kawasan ini ditetapkan menjadi Taman Nasional Gunung Halimun dengan luas 40.000 ha, sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 282/Kpts-II/1992 tanggal 28 Februari 1992. Sampai dengan lima tahun kemudian, taman nasional yang baru ini pengelolaannya ‗dititipkan‘ kepada Taman Nasional Gunung Gede – Pangrango yang wilayahnya berdekatan. Baru kemudian pada 23 Maret 1997, taman nasional ini memiliki unit pengelolaan yang tersendiri sebagai Balai Taman Nasional Gunung Halimun.

Pada tahun 2003 atas dasar SK Menteri Kehutanan No.175/Kpts-II/2003, kawasan hutan BTN Gunung Halimun diperluas, ditambah dengan kawasan hutan-hutan Gunung Salak, Gunung Endut dan beberapa bidang hutan lain di sekelilingnya, yang semula merupakan kawasan hutan di bawah pengelolaan Perum Perhutani. Sebagian besar wilayah yang baru ini, termasuk kawasan hutan Gunung Salak di dalamnya, sebelumnya berstatus hutan lindung. Namun kekhawatiran atas masa depan hutan-hutan ini, yang terus mengalami tekanan kegiatan masyarakat dan pembangunan di sekitarnya, serta harapan berbagai pihak untuk menyelamatkan fungsi dan kekayaan ekologi wilayah ini, telah mendorong diterbitkannya SK tersebut. Dengan ini, maka kini namanya berganti menjadi Balai Taman Nasional Gunung Halimun – Salak, dan luasnya bertambah menjadi 113.357 ha.

Secara administratif, kawasan konservasi TN Gunung Halimun – Salak termasuk ke dalam wilayah tiga kabupaten, yakni Kabupaten Bogor dan Sukabumi di Jawa Barat, dan Lebak di Propinsi Banten. Topografi wilayah ini berbukit-bukit dan bergunung-gunung, pada kisaran ketinggian antara 500–2.211 m dpl. Puncak-puncaknya di antaranya adalah G. Halimun Utara (1.929 m), G. Ciawitali (1.530 m), G. Kencana (1.831 m), G. Botol (1.850 m), G. Sanggabuana (1.920 m), G. Kendeng Selatan (1.680 m), G. Halimun Selatan (1.758 m), G. Endut (timur) (1.471 m), G. Sumbul (1.926 m), dan G. Salak (puncak 1 dengan ketinggian 2.211 m, dan puncak 2 setinggi 2.180 m). Jajaran puncak gunung ini acapkali diselimuti kabut (Sd. halimun), maka dinamai demikian.

Wilayah ini merupakan daerah tangkapan air yang penting di sebelah barat Jawa Barat. Tercatat lebih dari 115 sungai dan anak sungai yang berhulu di kawasan Taman Nasional. Tiga sungai besar mengalir ke utara, ke Laut Jawa, yakni Ci Kaniki dan Ci Durian (yang bergabung dalam DAS Ci Sadane), serta Ci Berang, bagian dari DAS Ci Ujung. Sementara terdapat 9 daerah aliran sungai penting yang mengalir ke Samudera Hindia di selatan, termasuk di antaranya Cimandiri (Citarik, Cicatih), Citepus, Cimaja, dan Cisolok. Sungai-sungai ini mengalir melintasi wilayah Bogor, Tangerang, Rangkasbitung, Bayah dan Palabuhan ratu.

Kawasan TN Gunung Halimun – Salak merupakan daerah yang basah dengan curah hujan tahunannya berkisar antara 4.000–6.000 mm, bulan kering kurang dari 3 bulan di antara Mei hingga September. Iklim ini digolongkan ke dalam tipe A hingga B menurut klasifikasi curah hujan Schmidt dan Ferguson. Suhu bulanannya berkisar antara 19,7–31,8 °C, dan kelembaban udara rata-rata 88%.

Gambar Kongkang Jeram (Huia masonii)

(http://eol.org/pages/1048278/overview)

Kekayaan hayati kawasan taman nasional ini telah lama menarik perhatian para peneliti, dalam dan luar negeri. Banyak catatan telah dibuat, terutama setelah status kawasan ditingkatkan menjadi taman nasional, dan banyak pula yang telah diterbitkan, khususnya semasa masih bernama TN Gunung Halimun. Informasi berikut ini masih merujuk pada hasil-hasil penelitian di TN Gunung Halimun tersebut.

Tutupan hutan di taman nasional ini dapat digolongkan atas 3 zona vegetasi:

  • Zona perbukitan (colline) hutan dataran rendah, yang didapati hingga ketinggian 900–1.150 m dpl.
  • Zona hutan pegunungan bawah (submontane forest), antara 1.050–1.400 m dpl;
  • Zona hutan pegunungan atas (montane forest), di atas elevasi 1.500 m dpl.

Gambar hutan pegunungan http:/id.wikipedia.org

Keanekaragamannya cenderung berkurang dengan bertambahnya ketinggian. Catatan hasil penelitian (dari beberapa sumber) sementara mendapatkan lebih dari 500 spesies tumbuhan, yang tergolong ke dalam 266 genera dan 93 suku, hidup di kawasan konservasi ini. Hasil ini diduga masih jauh di bawah angka yang sesungguhnya, mengingat bahwa TN Gede Pangrango yang berdekatan dan mirip kondisinya, namun luasnya kurang dari sepertujuh TNGHS, tercatat
memiliki 844 spesies tumbuhan berbunga. Apalagi penelitian di atas belum mencakup wilayah-wilayah yang ditambahkan semenjak 2003.

Hasil Penelitian pada zona perbukitan di wilayah Citorek mendapatkan 91 spesies pohon, dari 70 marga dan 36 suku. Suku yang dominan adalah Fagaceae, yang diwakili oleh 10 spesies dan 144 (dari total 519) individu pohon; diikuti oleh Lauraceae, yang diwakili oleh 9 spesies dan 26 individu pohon. Jenis-jenis yang memiliki nilai penting tertinggi, berturut-turut adalah ki riung anak atau ringkasnya ki anak (Castanopsis acuminatissima), pasang parengpeng (Quercus oidocarpa), puspa (Schima wallichii), saketi (Eurya acuminata), dan rasamala (Altingia excelsa). Jenis-jenis tersebut selanjutnya membentuk tiga tipe komunitas hutan yang terbedakan di lapangan, yakni tipe Castanopsis acuminatissima – Quercus oidocarpa; Schima wallichii – Castanopsis acuminatissima, dan Schima wallichii – Eurya acuminata.

Pada hutan montana, di bawah puncak G. Botol pada elevasi 1.700 m dpl, didominasi oleh pasang (Quercus lineata). Hutan montana di atas 1.500 m dpl. umumnya dikuasai oleh jenis-jenis Podocarpaceae, seperti jamuju (Dacrycarpus imbricatus), ki bima (Podocarpus blumei) dan ki putri (Podocarpus neriifolius). Di taman nasional ini juga didapati sekurang-kurangnya 156 spesies anggrek; diyakini jumlah ini masih jauh di bawah angka sebenarnya apabila dibandingkan dengan kekayaan anggrek Jawa Barat yang tidak kurang dari 642 spesies.

Gambar elang jawa (Spizaetus bartelsi)

Hutan-hutan primer dan pelbagai kondisi habitat lainnya menyediakan tempat hidup bagi aneka jenis margasatwa di TN Gunung Halimun – Salak. Tidak kurang dari 244 spesies burung, 27 spesies di antaranya adalah jenis endemik Pulau Jawa yang memiliki daerah sebaran terbatas, dan terdapat 23 spesies burung migran.

Wilayah ini juga telah ditetapkan oleh BirdLife, organisasi internasional pelestari burung, sebagai daerah burung penting (IBA, important bird areas) dengan nomor ID075 (Gunung Salak) dan ID076 (Gunung Halimun). Wilayah-wilayah ini terutama penting untuk menyelamatkan jenis-jenis elang jawa (Spizaetus bartelsi), luntur jawa (Apalharpactes reinwardtii), ciung-mungkal jawa (Cochoa azurea), celepuk jawa (Otus angelinae), dan gelatik jawa (Padda oryzivora).

Catatan sementara herpetofauna di taman nasional ini mendapatkan sejumlah 16 spesies kodok, 12 spesies kadal dan 9 spesies ular. Daftar ini kemudian masing-masing bertambah dengan 10, 8, dan 10 spesies, berturut-turut untuk jenis-jenis kodok, kadal, dan ular. Namun demikian, daftar ini belum lagi mencakup jenis-jenis biawak dan kura-kura yang hidup di sini. Mamalia terdaftar sebanyak 61 spesies. Di antaranya termasuk jenis-jenis langka seperti macan tutul jawa (Panthera pardus melas), owa jawa (Hylobates moloch), surili (Presbytis aygula), lutung budeng (Trachypithecus auratus), dan juga ajag (Cuon alpinus).[1]

7) Taman Nasional Gunung Merapi

Taman Nasional Gunung Merapi secara administrasi kepemerintahan, terletak di wilayah dua provinsi, yakni Jawa Tengah dan Yogyakarta. Penunjukan kawasan TN Gunung Merapi dilakukan dengan SK Menhut 134/Menhut-II/2004 tanggal 4 Mei 2004. Tujuan pengelolaannya adalah perlindungan bagi sumber-sumber air, sungai dan penyangga sistem kehidupan kabupaten/kota-kota Sleman, Yogyakarta, Klaten, Boyolali, dan Magelang. Sementara ini, sebelum terbentuknya balai pengelola taman nasional, TN G Merapi berada di bawah pengelolaan Balai KSDA (Konservasi Sumber Daya Alam) Yogyakarta.

Posisi geografis kawasan TN Gunung Merapi adalah di antara koordinat 07°22’33″ – 07°52’30″ LS dan 110°15’00″ – 110°37’30″ BT. Sedangkan luas totalnya sekitar 6.410 ha, dengan 5.126,01 ha di wilayah Jawa Tengah dan 1.283,99 ha di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kawasan TN G Merapi tersebut termasuk dalam wilayah kabupaten-kabupaten Magelang, Boyolali dan Klaten di Jawa Tengah, serta Sleman di Yogyakarta.

Hutan-hutan di Gunung Merapi telah ditetapkan sebagai kawasan lindung sejak tahun 1931 untuk perlindungan sumber air, sungai dan penyangga sistem kehidupan kabupaten/kota Sleman, Yogyakarta, Klaten, Boyolali, dan Magelang. Sebelum ditunjuk menjadi TNG Merapi, kawasan hutan di wilayah yang termasuk propinsi DI Yogyakarta terdiri dari fungsi-fungsi hutan lindung seluas 1.041,38 ha, cagar alam (CA) Plawangan Turgo 146,16 ha; dan taman wisata alam (TWA) Plawangan Turgo 96,45 ha. Kawasan hutan di wilayah Jateng yang masuk dalam wilayah TN ini merupakan hutan lindung seluas 5.126 ha.

Wilayah TN G Merapi berada pada ketinggian antara 600 – 2.968 m dpl. Topografi kawasan mulai dari landai hingga berbukit dan bergunung-gunung. Di sebelah utara terdapat dataran tinggi yang menyempit di antara dua buah gunung,

yakni Gunung Merapi dan Gunung Merbabu di sekitar Kecamatan Selo, Boyolali. Di bagian selatan, lereng Merapi terus turun dan melandai hingga ke pantai selatan di tepi Samudera Hindia, melintasi wilayah kota Yogyakarta. Pada sebelum kaki gunung, terdapat dua bukit yaitu Bukit Turgo dan Bukit Plawangan yang merupakan bagian kawasan wisata Kaliurang.

Jenis-jenis tanah di wilayah ini adalah regosol, andosol, alluvial dan litosol. Tanah regosol yang merupakan jenis tanah muda terutama berada di wilayah Yogyakarta. Bahan induk tanah adalah material vulkanik, yang berkembang pada fisiografi lereng gunung. Jenis tanah andosol ditemukan di wilayah-wilayah kecamatan Selo dan Cepogo, Boyolali.

Tipe iklim di wilayah ini adalah tipe C menurut klasifikasi curah hujan Schmidt dan Ferguson, yakni agak basah dengan nilai Q antara 33,3% – 66%. Besar curah hujan bervariasi antara 875 – 2527 mm pertahun. Variasi curah hujan di tiap-tiap kabupaten adalah sbb.:

  • Magelang: 2.252 – 3.627 mm/th
  • Boyolali: 1.856 – 3.136 mm/th
  • Klaten : 902 – 2.490 mm/th
  • Sleman : 1.869,8 – 2.495 mm/th

Wilayah Gunung Merapi merupakan sumber bagi tiga DAS (daerah aliran sungai), yakni DAS Progo di bagian barat; DAS Opak di bagian selatan dan DAS Bengawan Solo di sebelah timur. Keseluruhan, terdapat sekitar 27 sungai di seputar Gunung Merapi yang mengalir ke tiga DAS tersebut.

Ekosistem Merapi secara alami merupakan hutan tropis pegunungan yang terpengaruh aktivitas gunung berapi. Beberapa jenis endemik di antaranya adalah saninten (Castanopsis argentea), anggrek Vanda tricolor, dan elang jawa (Spizaetus bartelsi). Taman nasional ini juga merupakan tempat hidup macan tutul (Panthera pardus).

8) Taman Nasional Gunung Merbabu

Taman Nasional Gunung Merbabu merupakan taman nasional yang mencakup kawasan hutan di Gunung Merbabu. Secara administratif, taman nasional ini termasuk ke dalam wilayah 3 (tiga) kabupaten yaitu Kabupaten Boyolali, Kabupaten Magelang, dan Kabupaten Semarang, provinsi Jawa Tengah.

Gambar gunung Merbabu http;/id.wikipedia.org/wiki/Merbabau

Taman Nasional Gunung Merbabu ditunjuk berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No. 135/Menhut-II/2004 tanggal 4 Mei 2004 tentang perubahan fungsi kawasan hutan lindung dan taman wisata alam pada kelompok hutan Merbabu seluas 5.725 hektar. Kawasan ini dinilai penting sebagai sumber mata air bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Selain itu, kawasan hutan Merbabu juga merupakan habitat flora dan fauna yang dilindungi dan dilestarikan. Sistem pengelolaan taman nasional yang diterapkan diharapkan mampu untuk melestarikan dan mengembangkan kawasan konservasi ini sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kawasan taman nasional ini terutama terdiri dari zona-zona hutan pegunungan, seperti yang dikemukakan van Steenis:

  1. Zona hutan pegunungan bawah (1.000—1.500 m dpl), saat ini telah berubah (tidak asli lagi) dan ditumbuhi oleh jenis-jenis tusam (Pinus merkusii), puspa (Schima wallichii ssp. noronhae) dan bintuni.
  2. Zona hutan pegunungan atas (1.500—2.400 m dpl), ditumbuhi oleh jenis-jenis akasia (Acacia decurrens), puspa, sengon gunung (Albizia lophanta), sowo (Engelhardtia serrata), cemara gunung (Casuarina junghuhniana), pasang (Quercus sp), dan tanganan.
  3. Zona hutan (vegetasi) sub-alpin (2.400—3.142 m dpl), ditumbuhi oleh rerumputan dan edelweis jawa.

Beberapa jenis hewan yang tercatat dari kawasan ini di antaranya adalah elang jawa, elang hitam, alap-alap sapi, elang-ular bido, ayam hutan, tekukur, gelatik batu, kijang, landak, musang luwak, monyet ekor-panjang, macan tutul, dan lain-lain.

9) Taman Nasional Karimunjawa

Taman Nasional Karimunjawa yang pengelolaannya berada di bawah Balai Taman Nasional Karimunjawa, merupakan gugusan kepulauan berjumlah 22 pulau yang terletak di Laut Jawa, mempunyai luas 111.625 Ha. Taman Nasional Karimunjawa ditetapkan sebagai Cagar Alam Laut melalui SK Menhut No.123/Kpts-II/1986 kemudian pada tahun 1999 melalui Keputusan Menhutbun No.78/Kpts-II/1999 Cagar Alam Karimunjawa dan perairan sekitarnya seluas 111.625 Ha diubah menjadi Taman Nasional dengan nama Taman Nasional Karimunjawa. Tahun 2001 sebagian luas kawasan TN Karimunjawa seluas 110.117,30 Ha ditetapkan sebagai Kawasan Pelestarian Alam Perairan dengan Keputusan Menhut No.74/Kpts-II/2001.

Permasalahan yang menonjol dalam mengelola kawasan ini adalah perlindungan ekosistem perairan laut. Hal ini disebabkan karena kawasan Karimunjawa adalah salah satu dari tiga pusat perikanan yang diandalkan di Jawa Tengah, dan fakta bahwa sebagian besar penduduknya yang berjumlah lebih dari 8.800 jiwa adalah nelayan yang menggantungkan hidupnya pada sumber daya perikanan. Oleh karena itu sumber daya perikanan menjadi andalan dalam pengembangan perekonomian dikawasan ini. Permasalahan timbul disebabkan karena dalam memanfaatankan sumber daya perikanan yang cenderung berlebihan (over fishing) terutama pada jenis ikan pelagis kecil, usaha penangkapan ikan yang merusak ekosistem terumbu karang yaitu dengan penggunaan apotas atau sianida maupun jaring yang merusak terumbu karang.

10) Taman Nasional Kepulauan Seribu

Taman Nasional Kepulauan Seribu adalah kawasan pelestarian alam bahari di Indonesia yang terletak kurang lebih 45 km pada lokasi geografis 5°23’ – 5°40’ LS, 106°25’ – 106°37’ BT sebelah utara Jakarta terdiri atas 110 buah pulau. 68 buah pulau berupa pulau kecil berpasir putih dan gosong-gosong karang terdiri dari 54 jenis karang keras/lunak, 20 buah yang telah dikembangkan sebagai pulau wisata, 6 buah pulau yang dihuni penduduk dan 6 dikuasai perorangan atau badan usaha terdiri 17 jenis burung, 350 jenis ikan karang, 2 jenis kima, 3 kelompok ganggang, 101 jenis moluska, 237 jenis terumbu karang, dan 6 jenis rumput laut.

Musim hujan biasanya terjadi antara bulan Nopember-April sedangkan curah hujan terbesar terjadi pada sekitar bulan Januari dan terkecil terjadi pada bulan Agustus, dalam musim kemarau acap kali bisa juga terjadi hujan dengan jumlah hari hujan antara 4-10 hari perbulan.

Kedalaman perairan di Kepulauan Seribu sangat bervariasi, dimana beberapa lokasi mencatat kedalaman hingga lebih dari 70 meter, seperti lokasi antara Pulau Gosong Congkak dan Pulau Semak Daun pada posisi 106°35‘00‖ BT dan 05°43‘08‖ LS dengan kedalaman 75 meter. Setiap pulau umumnya dikelilingi oleh paparan pulau yang cukup luas (island shelf) hingga 20 kali lebih luas dari pulau yang bersangkutan dengan kedalaman kurang dari 5 meter. Hampir setiap pulau juga memiliki daerah rataan karang yang cukup luas (reef flat) dengan kedalaman bervariasi dari 50 cm pada pasang terendah hingga 1 meter pada jarak 60 meter hingga 80 meter dari garis pantai. Dasar rataan karang merupakan variasi antara pasir, karang mati, sampai karang batu hidup. Di dasar laut, tepi rataan karang yang sering diikuti oleh daerah tubir dengan kemiringan curam hingga mencapai 70° dan mencapai dasar laut dengan kedalaman bervariasi dari 10 meter hingga 75 meter.

Taman Nasional Kepulauan Seribu terdiri dari 4 daerah zonasi yakni daerah zona inti seluas 4.449 hektar merupakan bagian kawasan taman nasional yang mutlak dilindungi dan tidak diperbolehkan adanya perubahan apapun oleh aktivitas manusia, daerah zona perlindungan seluas 26.284,50 hektar merupakan bagian kawasan taman nasional yang berfungsi sebagai penyangga zona inti, daerah zona pemanfaatan bagi kegiatan pariwisata seluas 59.634,50 hektar merupakan bagian kawasan yang dijadikan sebagai pusat rekreasi dan kunjungan wisata, dan daerah zona pemukiman seluas 17.121 hektar diperuntukan sebagai tempat hunian atau perumahan penduduk setempat. Zonasi ini lebih dikenal dengan zona Kepulauan Seribu Utara terdiri dari 79 buah pulau dan Kepulauan Seribu Selatan terdiri dari 31 buah pulau.

Gambar 6.10 Taman Nasional Kepulauan Seribu
(http://al-terity.blogspot.com)

Tabel 6.4 Nama-nama Pulau di TN Kepulauan Seribu

11) Taman Nasional Meru Betiri

Taman Nasional Meru Betiri terletak di regional Jawa Timur bagian selatan pada koordinat geografis 8°21‘ – 8°34‘ LS, 113°37‘ – 113°58‘ BT, dengan ketinggian 900 – 1.223 mdpl dan curah hujan rata-rata 2.300 mm/tahun, ditunjuk sebagai taman nasional sejak tahun 1982 oleh Menteri Pertanian dengan luas wilayahnya sekitar 58.000 ha dengan nama diambil dari nama gunung tertinggi di kawasan ini yaitu Gunung Betiri (1.223m). Secara administratif, Taman Nasional Meru Betiri berada dalam wilayah Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Penunjukan taman nasional ini disahkan dengan surat keputusan Menteri Kehutanan, SK No. 277/Kpts- VI/97.

Taman Nasional Meru Betiri memiliki obyek wisata petualangan hutan dan pantai. Pantai yang ada banyak yang masih “perawan” karena memang tidak diperkenankan untuk dibangun sarana wisata yang permanen. Di TN Meru Betiri merupakan habitat tumbuhan langka yaitu padma (Rafflesia zollingeriana) yang endemik di Jawa. Tumbuhan pantai yang dapat dijumpai antara lain: bakau (Rhizophora sp.), api-api (Avicennia sp.), waru (Hibiscus tiliaceus), nyamplung (Calophyllum inophyllum), rengas (Gluta renghas), bungur (Lagerstroemia speciosa), pulai (Alstonia scholaris), benda (Artocarpus elasticus), Bruguiera sp., Sonneratia sp., Balanophora fungosa, dan beberapa jenis tumbuhan obat-obatan. Dilaporkan bahwa di daerah Bandealit (Kabupaten Jember) dan Sarongan (Kabupaten Banyuwangi) paling tidak terdapat 27 spesies anggrek di taman nasional ini.

Gambar 6.11 Taman Nasional Meru Betiri

Di Taman Nasional Meru Betiri ada 29 jenis mamalia dan 180 jenis burung, semuanya termasuk satwa yang dilindungi. Satwa-satwa tersebut diantaranya adalah penyu lekang/ridel (Lepidochelys olivacea), banteng (Bos javanicus javanicus), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), harimau Jawa (Panthera tigris sondaicus), macan tutul (Panthera pardus melas), ajag (Cuon alpinus javanicus), bajing terbang ekor merah (Iomys horsfieldii), merak (Pavo muticus), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), kucing hutan (Prionailurus bengalensis javanensis), rusa (Cervus timorensis russa), (Cervus unicolor), Accipiter trivirgatus, Falco moluccensis, Hieraaetus kienerii, Otus lempiji, Glaucidium castanopterum, elang Spizaetus alboniger.

Gambar 6.12 Pantai Rajegwesi
(http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Coast_Rajegwesi_A.JPG)

12) Taman Nasional Ujung Kulon

Taman Nasional Ujung Kulon terletak di bagian paling barat Pulau Jawa. Kawasan Taman nasional ini juga memasukan wilayah Krakatau dan beberapa pulau kecil disekitarnya seperti Pulau Handeuleum dan Pulau Peucang. Taman ini mempunyai luas sekitar 1.122.956 Ha; (443 km² diantaranya adalah laut), yang dimulai dari tanjung Ujung Kulon sampai dengan Samudera Hindia.
Taman Nasional ini menjadi Taman Nasional pertama yang diresmikan di Indonesia, dan juga sudah diresmikan sebagai salah satu Warisan Dunia yang dilindungi oleh UNESCO pada tahun 1991, karena wilayahnya mencakupi hutan lindung yang sangat luas. Untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai Situs Warisan Alam Dunia, UNESCO telah memberikan dukungan pendanaan dan bantuan teknis. Sampai saat ini kurang lebih 50 sampai dengan 60 badak hidup di habitat ini.

Pada awalnya Ujung Kulon adalah daerah pertanian pada beberapa masa sampai akhirnya hancur dan habis seluruh penduduknya ketika Gunung Krakatau meletus pada tanggal 27 Agustus 1883 yang akhirnya mengubahnya kawasan ini kembali menjadi hutan. Izin untuk masuk ke Taman Nasional ini dapat diperoleh di Kantor Pusat Taman Nasional di Kota Labuan atau Tamanjaya. Penginapan dapat diperoleh di Pulau Handeuleum dan Peucang.

Kawasan Taman nasional Ujung Kulon secara administrative terletak di Kecamatan Sumur dan Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Banten. Secara geografis Taman Nasional Ujung Kulon terletak antara (102°02′32″N 105°37′37″E) dan (06°30′43″N 06°52′17″E). Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 284/Kpts-II/1992 tanggal 26 Februari 1992 tentang Perubahan Fungsi Cagar Alam Gunung Honje, Cagar Alam Pulau Panaitan, Cagar Alam Pulau Peucang, dan Cagar alam Ujung Kulon seluas 78.619 Ha dan Penunjukan perairan laut di sekitarnya seluas 44.337 Ha yang terletak di Kabupaten Daerah Tingkat II Pandeglang, Propinsi Dati I Jawa Barat menjadi Taman Nasional dengan nama Taman Nasional Ujung Kulon maka luas kawasan Taman Nasional Ujung Kulon adalah 122.956 Ha. Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon terdiri dari tiga tipe ekosistem yaitu:

  • Ekosistem Dataran/Teresterial terdiri dari hutan hujan tropika dataran tinggi dan rendah yang terdapat di Gunung Honje, Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Peucang dan Pulau Panaitan.
  • Ekosistem Perairan Laut terdiri dari terumbu karang dan padang lamun yang terdapat di wilayah perairan Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Handeuleum, Pulau Peucang dan Pulau Panaitan.
  • Ekosistem Pesisir Pantai terdiri dari hutan pantai dan hutan mangrove yang terdapat di sepanjang pesisir pantai dan daerah hutan mangrove di Bagian Timur Laut Semenanjung Ujung Kulon.

Ketiga ekosistem tersebut mempunyai hubungan saling ketergantungan dan membentuk dinamika proses ekologi yang sangat komplek di dalam kawasan.

Tipe Ekosistem

Ada beberapa tipe ekosistem yang berada di kawasan TN Ujung Kulon yang masing-masing memiliki ciri khas yang berbeda, ialah:

Ekosistem Hutan Pantai
Dimulai dengan formasi pes caprae yang merupakan vegetasi pioner terdapat di sepanjang tepi pantai barat dan selatan. Di atas pasir dekat dengan garis pasang tertinggi antara lain dijumpai Ipomoea pes-caprae (katang-katang), Spinifex littoreus (jukut kiara), Desmodium umbellatum (kanyere laut) dan Sophora tomentosa (tarum). Di Sepanjang pantai selatan di atas bukit pasir menghadap laut terdapat Pandanus tectorius (pandan) membentuk tegakan-tegakan murni dan Pandanus bidur (bidur) walaupun agak jarang. Selanjutnya di lapisan lebih dalam ditemui Lantana camara (cente), Hibiscus tiliaceus (waru), Thespesia populnea (waru laut), Tournefortia argentea (babakoan). Lebih turun ke dalam ditemui Drypetes sumatrana (taritih), Laportea stimulans (pulus). Tepat di belakang bukit pasir yang datar dan lembab ditemui Arenga obtusifolia (langkap), Corrypha utan (gebang) dan jenis Palma lainnya. Kadang-kadang tegakan pandan diganti oleh formasi Barringtonia karena tanahnya lebih lembab dan terlindung oleh angin. Formasi Barringtonia di pantai selatan di tandai oleh adanya Barringtonia asiatica (butun), Cerbera manghas (bintaro), Terminalia catappa (ketapang), Eugenia spp (kopo), Hernandia peltata (kampis), Calophyllum inophyllum (nyamplung), Buchanania arborescens (renghas) dan Pongamia pinnata (malapari). Formasi ini juga hidup di pantai utara, di atas pasir karang dalam jalur memanjang sempit dari pantai ke arah dalam sejauh 5-15 m. Di tempat-tempat tertentu yang terbuka di bagian barat daya di temui Pemphis acidula (cantigi) dan Ardisia humilis (lampeni).

Ekosistem Hutan Mangrove
Jenis-jenis bakau yang paling umum terdapat ialah padi-padi (Lumnitzera racemosa), Api-api (Avicena spp.), Bakau-bakau (Rhizophora), bogem (Sonneratia alba) dan pedada (Bruguiera spp.). Kadang-kadang terdapat Nypa fructicans dan Pakis rawa (Acrostichum aureum) di muara sungai payau. Hutan Mangrove yang luas terdapat pada jalur yang luas sepanjang sisi utara tanah genting meluas ke arah utara sepanjang pantai sampai Sungai Cikalong dan Legon Lentah Pulau Panaitan. Di atas sebelah barat laut Pulau Handeuleum dan kedua pulau kecil di sebelah selatan dekat Pulau Handeuleum terdapat hutan rawa Nypha yang tidak begitu luas, juga di muara Cijungkulon dan Cigenter di Pantai Utara Semenanjung Ujung Kulon.

Ekosistem Hutan Rawa Air Tawar
Hutan ini dicirikan dengan jenis-jenis Typha (Thypa angustifolia), Teki (Cyperus Spp.), Walingi (Cyperus pilosus), dan Lampeni (Ardisia humilis), yang kadang-kadang membentuk tegakan murni. Pohon yang terdapat di daerah ini antara lain dari familia Palmae misalnya Salacca edulis (salak) dan Caryota mitis (sayar). Hutan ini umumnya berbatasan dengan Hutan Hujan. Hutan Rawa musiman ini terdapat di bagian Utara Semenanjung Ujung kulon dekat dengan Tanjung Alang-alang, Nyiur, Jamang, dan sungai Cihandeuleum.

Ekosistem Hutan Hujan
Tipe hutan hujan ini hampir menutupi sebagian besar Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Panaitan, Pulau Peucang dan Gunung Honje. Hutan hujan di tandai dengan banyaknya palma dari berbagai spesies terutama Arenga obtusifolia (langkap) yang sering dijumpai dalam tegakan murni di daerah yang letaknya rendah.

Spesies Palem yang lain adalah Oncosperma filamentosa (nibung), Arenga pinnata (aren), Cayota mitis (sayar), Areca catechu (jambe), Areca pumida (bingbin), Corypha gebanga (gebang), Licualia spinosa (kaman), calamus spp. dan Daemonorops spp. (rotan). Selain itu terdapat spesies Lagerstroemia flos-reginae (bungur), Ficus spp. (kiara), Diospyros macrophylla (kicalung), Vitex pubescens (laban), Antocephalus chinensis (hanja) dan Planconia valida. Di daerah yang relatif terbuka seperti di dataran tinggi Telanca mempunyai sedikit pohon besar tetapi rapat oleh semak dan tumbuhan sekunder seperti Achasma spp. (tepus), Nicolaia spp. (honje), Donax cannaeformis (bangban), dan Lantana camara (cente) yang bercampur dengan berbagai jenis rotan dan kadang-kadang terdapat Eugenis polyantha (salam) dan Leea spp. (sulangkar) serta beraneka ragam spesies liana misalnya Cayratia geniculata (areuy kibarela), Ziziphus tupula (Areuy jinjing kulit), Uncaira sp. (Areuy kolebahe) dan Embelia javanica (Areuy kecembeng). Gunung payung mempunyai hutan primer yang rimbun dan lebih mencirikan vegetasi pegunungan, dengan pohon Dillenia excelsa (kisegel), Pentaca polyanatha (sigeung), Vitex pubescens (laban) dan lain-lain.

Ekosistem Padang Rumput

Di dalam padang rumput sering ditemui beberapa spesies diantaranya Cyperus pilosuc, Cyperus compactus, Panicum repens, Panicum colonum, Andropogon sp., Isachne meliacae, Imperata cylindrica dan Melastoma polyanthum.

Flora

Salah satu jenis flora yang di temui di TN Ujung Kulon adalah Pohon Kiara. Pohon ini termasuk kedalam famili moraceae, merupakan tumbuhan raksasa rimba yang berbatang besar, tajuknya rapat, daunnya berbentuk lonjong serta pohon yang dapat mematikan tumbuhan lain dan hanya terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon.

Ditinjau dari tipe hutan, flora di kawasan ini terdiri dari hutan pantai, hutan hujan tropika dataran rendah, hutan hujan tropika pegunungan, hutan rawa air tawar, hutan mangrove dan padang rumput. Formasi hutan yang cukup lengkap ini mengandung keragaman plasma nutfah serta spesies tumbuhan berguna dan langka yang sangat tinggi. Beberapa jenis tumbuhan diketahui langka dan di pulau jawa hanya terdapat di TN Ujung Kulon antara lain : Batryohora geniculata, Cleidion spiciflorum, Heritiera percoriacea, dan Knema globularia. Banyak pula berbagai jenis tumbuhan yang telah dimanfaatkan masyarakat baik untuk kayu pertukangan, obat-obatan, tanaman hias maupun pangan. Jenis-jenis yang telah dimanfaatkan tersebut antara lain bayur (Pterospemum javanicum) dan berbagai rotan (Calamus sp.) sebagai bahan pertukangan; kayu gaharu (Aquilaria malaccensis), Kayu cempaka (Michelia campaca) dan kayu jambe (Areca catechu) sebagai bahan obat-obatan; Anggrek (Dendrobium sp.) sebagai tanaman hias; tangkil (Gnetum gnemon) dan salak (Salacca edulis) sebagai bahan pangan.

Hutan pantai umumnya dicirikan oleh adanya jenis-jenis nyamplung (Calophyllum innophyllum), butun (Barringtonia asiatica), Klampis Cina (Hemandia peltata), ketapang (Terminalia catappa), cingkil (Pongamia pinnata) dan lain-lain. Formasi hutan pantai ini umumnya dikenal sebagai formasi barringtonia dengan spesies yang kurang beranekaragam dan nyamplung merupakan jenis yang lebih khas tipenya. Formasi ini terdapat sepanjang pantai Barat dan Timur Laut Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Peucang, sepanjang pantai Utara dan teluk Kasuaris Pulau Panaitan. Umumnya formasi ini hidup di atas pasir karang dalam jalur sempit memanjang sepanjang pantai dengan lebar 5 sampai 15 meter.

Fauna

Taman Nasional Ujung Kulon memiliki beragam jenis satwa liar baik bersifat endemik maupun penting untuk dilindungi. Secara umum kawasan ini masih mampu menampung perkembangbiakan berbagai populasi satwa liar. Setidaknya terdapat 35 jenis mamalia, 5 jenis Primata, 240 jenis Burung, 59 jenis Reptilia, 22 jenis Amphibia, 72 jenis Insecta, 142 jenis Pisces, dan 33 jenis Terumbu Karang. Beberapa jenis satwa endemik penting dan merupakan jenis langka yang sangat perlu dilindungi adalah Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), Owa Jawa (Hylobates moloch), Surili (Presbytis aigula) dan Anjing hutan (Cuon alpinus javanicus).

Gambar 6.13 Badak Jawa, Hewan khas dari Taman Nasional Ujung Kulon (http://alamendah.wordpress.com)

Semenanjung Ujung Kulon pada saat ini merupakan habitat terpenting dari Badak Jawa, yang populasinya diperkirakan ada 50-60 ekor, serta merupakan satu-satunya tempat dimana secara alami Badak Jawa mampu berkembang biak pada dekade terakhir ini. Di taman nasional ini diperkirakan ada sekitar 30 jenis mamalia, yang terdiri dari mamalia ungulata seperti Badak, Banteng, Rusa, Kijang, Kancil, dan Babi Hutan, mamalia predator seperti Macan Tutul, Anjing Hutan, Macan Dahan, Luwak dan Kucing Hutan, mamalia kecil seperti walang kopo, tando, landak, bajing tanah, kalong, bintarung, berang-berang, tikus, trenggiling dan jelarang. Diantara Primata terdapat dua jenis endemik, yaitu Owa dan Surili. Sedang jenis Primata lain adalah Lutung (Presbytis cristata), Kukang (Nycticebus coucang) dan Kera ekor panjang (Macaca fascicularis) mempunyai populasi yang cukup baik dan tersebar di sebagian kawasan.

Banteng (Bos javanicus) merupakan binatang berkuku terbesar dan terbanyak jumlah populasinya (± 500 ekor). Satwa ini hanya terdapat di Semenanjung Ujung Kulon dan Gunung Honje, serta tidak dijumpai di Pulau Panaitan. Rusa (Cervus timorensis) di Semenanjung Ujung Kulon dan Gunung Honje terdapat dalam jumlah dan penyebaran yang sangat terbatas,dan di Pulau Peucang tedapat dalam jumlah yang sangat banyak, dan di Pulau Panaitan menunjukan perkembangan yang semakin banyak. Babi hutan (Sus scrofa), muncak (Muntiacus muntjak) dan pelanduk (Tragulus javanicus) relatif umum terdapat di seluruh kawasan, tetapi celeng (Sus verrucosus) hanya di jumpai di Semenanjung Ujung Kulon dan Gunung Honje.

Pulau-Pulau di Taman Nasional Ujung Kulon

Di Taman Nasional Ujung Kulon juga terdapat berbagai jenis Pulau yang tepat untuk Konservasi dan juga Pariwisata, diantaranya ;

Gambar Permainan Selancar di Pulau Panaitan (http://id.wikipedia.org)

Pulau Panaitan adalah sebuah pulau yang terletak paling barat di Ujung Semenanjung Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dipisahkan oleh sebuah selat sempit. Pulau Panaitan merupakan pulau yang tidak kalah menariknya dengan Pulau Peucang.

Pulau dengan luas ± 17.000 Ha ini memiliki berbagai potensi obyek wisata alam yang sangat menarik untuk dikunjungi. Perbukitan Pulau Panaitan terbentuk oleh hutan yang masih asli dengan kombinasi vegetasi Hutan Mangrove, Hutan Pantai dan Hutan Hujan dataran rendah. Keadaan hutannya yang masih asli ini dihuni oleh berbagai jenis satwa liar seperti rusa, kancil, babi hutan, kera ekor panjang, buaya, kadal, ular phyton, dan aneka jenis burung.

Di Pulau Panaitan ini juga terdapat Arca Ganesha beserta benda-benda peninggalan sejarah lainnya yang mempunyai nilai historis sangat tinggi dan merupakan peninggalan jaman hindu kuno, tepatnya di Puncak Gunung Raksa. Kawasan pantai berbatu dan berpasir putih dengan terumbu karang yang indah di dalamnya sangat baik untuk kegiatan wisata alam bahari seprti menyelam dan snorkeling. Riak ombak di lautnya cukup tinggi sehingga cocok untuk berselancar.

Pulau Handeleum

Pulau Handeleum
(http://id.wikipedia.org)

Pulau Handeuleum terletak di antara gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung timur laut pantai Semenanjung Ujung Kulon. Luas Pulau Handeuleum ± 220 Ha. Di Pulau ini terdapat satwa rusa (Rusa timorensis), dan ular phyton. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove. Pesona yang bisa dinikmati di Pulau ini adalah daerah Cigenter, Padang Penggembalaan Cigenter, dan Cikabeumbeum. Terdapat tipe hutan hujan tropis yang masih asli.

Pulau Peucang

Pulau dengan luas kawasan ± 450 ha ini merupakan salah satu obyek wisata alam yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana. Fasilitas yang ada di Pulau Peucang antara lain Penginapan, Pusat Informasi, Dermaga, dan lain sebagainya. Pantai di Pulau Peucang memiliki karakteristik yang khas yaitu pasir putih dan hamparan yang luas. Obyek wisata alam yang dapat dinikmati di pulau ini antara lain Tracking ke Karang Copong, Berenang, Snorkeling dan menyelam. Wildlife viewing dapat dinikmati dengan menyeberang ke Padang Penggembalaan Cidaon yang memakan waktu ± 15 menit dengan menggunakan boat kecil yang berkapasitas 6 (enam) orang. Di Cidaon ini kita dapat mengamati atraksi satwa seperti Banteng, Merak, Rusa, dan Babi Hutan. Selain itu kita juga dapat melihat situs sejarah peninggalan kolonial Belanda berupa Mercusuar Tanjung Layar dan bekas pembangunan Dermaga di Tanjung Layar dan Cibom.

Semenanjung Ujung Kulon

Wilayah Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), sehingga dalam pengelolaan wisata alam untuk lokasi ini sangat terbatas sekali. Hal ini dikarenakan agar tidak mengganggu habitat Badak Jawa. Luas wilayah Semenanjung Ujung Kulon ini ± 38.000 Ha. Kegiatan wisata alam yang dapat di lakukan di lokasi ini antara lain Trekking, Berkemah dan Wildlife Viewing.

Di Semenanjung Ujung Kulon terdapat jalur tetap yang dapat digunakan untuk Trekking. Fasilitas lainnya adalah Pos Jaga yang terdapat dibeberapa titik seperti Karang Ranjang, Cibunar, dan Cidaon. Selain trekking, kegiatan wisata lainnya yang dapat dilakukan adalah Wildlife Viewing di Padang penggembalaan Cidaon dan Cigenter, berkemah di Tanjung Layar, dan wisata budaya di Gua Sang Hyang Sirah.

Gunung Honje

Luas wilayah Gunung Honje ± 19.500 Ha dan disekitarnya dikelilingi oleh 19 (sembilan belas) desa penyangga baik yang berbatasan langsung maupun tidak langsung. Salah satu desa yang menjadi pintu gerbang masuk ke Taman Nasional Ujung Kulon adalah Desa Tamanjaya.

C. Suaka Margasatwa

Suaka Margasatwa adalah Hutan Suaka Alam yang ditetapkan sebagai suatu tempat hidup margasatwa yang mempunyai nilai khas bagi ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta merupakan kekayaan dan kebanggaan nasional. Pulau Jawa memiliki Suaka Margasatwa di 9 lokasi. Kesembilan Suaka Margasatwa tersebut adalah:

  1. Pulau RAMBUT; Jakarta Utara, DKI Jakarta. 90 ha, SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 275/Kpts-II/1999 tertanggal 7 Mei 1999.
  2. Muara ANGKE; Jakarta Utara, DKI Jakarta. 25,02 ha, SK Menteri Kehutanan RI Nomor: 097/Kpts-II/1988, 29 Februari 1988.
  3. BAWEAN; Surabaya, Jawa Timur. 3.831,60 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 762/Kpts/Um/5/79, 12 Mei 1979.
  4. CIKEPUH; Sukabumi, Jawa Barat. 8.127,50 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 532/Kpts/Um/10/73, 20 Oktober 1973.
  5. PALIYAN; Gunung Kidul, DI Yogyakarta. 615,60 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 171/Kpts-II/2000, 20 Desember 2000.
  6. Gunung SAWAL; Ciamis, Jawa Barat. 5.400,00 ha, Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 420/Kpts/Um/6/79, 4 Juni 1979.
  7. SENDANGKERTA; Tasikmalaya, Jawa Barat. 90,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan RI.Nomor: 6964/Kpts-II/2002, 17 Januari 2002.
  8. Gunung TUNGGANGAN; Sragen, Jawa Tengah. 103,90 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 435/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.
  9. Dataran Tinggi YANG; Jember, Probolinggo, JAWA TIMUR. 14.145,00 ha, Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 417/Kpts-II/1999, 15 Juni 1999.

Penjelasan

1) Suaka Margasatwa Pulau Rambut

 

Gambar http://wisata.kompasiana.com/

Suaka Margasatwa Pulau Rambut, merupakan kawasan suaka alam dengan ciri khas sebagai habitat mangrove dan habitat burung khususnya jenis-jenis burung merandai dan beberapa burung migran seperti bluwok (Mycteria nicerea). Suaka margasatwa ini terkategori ke dalam ekosistem lahan basah (Wetland).

Secara geografis, Suaka Margasatwa Pulau Rambut terletak pada 106,5 o 41‘ 30‖ BT dan 5,5 o 58‘ 30‖ LS. Berdasarkan administrasi pemerintahan, kawasan Suaka Margasatwa Pulau Rambut terletak di Kelurahan Untung Jawa, Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Kotamadya Kepulauan Seribu. Pulau Rambut ditetapkan secara resmi sebagai suaka margasatwa melalui keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 275/Kpts-II/1999 tertanggal 7 Mei 1999 tentang perubahan status Cagar Alam Pulau Rambut menjadi Suaka Margasatwa Pulau Rambut dengan luas 90 ha yang terdiri dari 45 ha daratan dan 45 ha perairan.

Suaka Margasatwa Pulau Rambut terdiri dari tiga tipe ekosistem hutan yaitu hutan pantai, hutan sekunder campuran dan hutan mangrove. Vegetasi yang terdapat di tipe hutan pantai adalah Cemara laut (Casuarina equisetifolia), Kepuh (Sterculia foetida), Ketapang (Terminalia catappa), Waru laut (Thespesia populnea) dan Centigi (Pemphis acidula). Tipe hutan sekunder campuran ini ditumbuhi oleh pohon-pohon yang tinggi diantaranya adalah kepuh (Sterculia foetida), kesambi (Schleichera oleosa), kayu hitam (Diospyros maritima), mengkudu (Morinda citrifolia), soka (Ixora timorensis), dan ketapang (Terminalia catappa). Sedangkan vegetasi yang terdapat pada tipe hutan mangrove seperti seperti pasir-pasir (Ceriops tagal), bakau (Rhizophora mucronata) dan bola-bola (Xylocarpus granatum).

Berbagai macam jenis satwa dilindungi dari suaka margasatwa ini, terutama jenis burung. Pada musim berbiak, di pulau ini bisa terdapat sekitar 24.000 spesies burung dan 4.500 spesies burung. Adapun jenis burung yang terdapat di suaka margasatwa ini antara lain cangak abu (Ardea cinerea), pecuk ular (Anhinga melanogaster), bluwok (Mycteria cinerea), kowak malam (Nycticorax nicticorax), cangak merah (Ardea purpurea), kuntul besar (Egretta alba), kuntul kecil (Egretta garzetta), kuntul sedang (Egretta intermedia), kuntul karang (Egretta sacra), kuntul kerbau (Bubulcus ibis), roko-roko (Plegadis falcinellus), pelatuk besi (Threskiornis melanocephalus) dan sebagainya. Beberapa contoh gambar burung dapat dilihat dari gambar berikut ini.

Gambar 6.14. Berbagai jenis burung di Swaka Margasatwa Pulau Rambut

2) Suaka Margasatwa Muara Angke

Suaka Margasatwa Muara ANGKE terletak di Jakarta Utara, DKI Jakarta, memiliki luas 25,02 ha. Kawasan konservasi insitu ini ditetapkan dengan SK Menteri Kehutanan RI Nomor: 097/Kpts-II/1988, 29 Februari 1988. Suaka margasatwa Muara Angke dihuni oleh burung dengan jenis yang sama dengan penghuni suaka margasatwa Pulau Rambut, oleh karena sebagian besar burung tersebut mencari makan di pesisir Teluk Jakarta. Macaca fascicularis yang dikenal sebagai Monyet Ancol juga menghuni kawasan ini, yang diperkirakan jumlahnya tinggal 40 ekor. Fauna liar lainnya yang dijumpai adalah kelompok reptilia, seperti Biawak (Varanus salvator), Kadal (Mabula multifasciata), ular Hijau (Dryophis prasinus) dan ular Cincin (Boiga dendrophila)

Tabel 6.5. FaunaYang Dilindungi Di Suaka Margasatwa Muara Angke.

3) Suaka Margasatwa Pulau Bawean

Suaka Margsatwa Pulau Bawean dengan luas wilayah sbesar 3.831,60 Ha, telah disyahkan melalui Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 762/Kpts/Um/12/79, tertanggal 5 Desember 1979. Kawasan ini terletak di Pulau Bawean yang berada di dua Kecamatan, yaitu Kecamatan Tambak dan Kecamatan Sangkapura Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Kawasan ini memiliki tipe ekosistem Hutan Tropis dataran rendah yang dapat dikelompokkan menjadi hutan primer, hutan sekunder dan hutan tanaman jati.

Foto: http://rusabawean.com

Rusa Bawean (Axis kuhlii) adalah sejenis rusa yang saat ini hanya ditemukan di Pulau Bawean di tengah Laut Jawa. Spesies ini tergolong langka dan diklasifikasikan sebagai “terancam punah” oleh IUCN. Populasinya diperkirakan hanya tersisa sekitar 300 ekor di alam bebas. Rusa Bawean hidup dalam kelompok kecil yang biasanya terdiri atas rusa betina dengan anaknya atau jantan yang mengikuti betina untuk kawin. Mereka tergolong hewan nokturnal atau aktif mencari makan di malam hari.

Beberapa jenis Flora yang dijumpai di swaka margasatwa ini antara lain; Jati (Tectona grandis), mahoni (Swietenia mahagoni), bulu (Irvingia malayana), kenari (Canarium asperum), kayu sape (Symplocos adenophylla), pangopa (Eugenia epidocarpa), suren (Dracontomelon mangiferum), kalpo-kalpo (Naucles sp.), dali (Radermachera gigantea), bintangur (Calophyllum saigonensis), dan lain-lain. Sedangkan faunanya adalah Rusa bawean (Axis kuhlii), babi hutan (Sus scrofa), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), musang (Veverricula moluccensis), landak (Hystrix brachyura), kalong (Pteropus edulis), dan lain-lain.

4) Suaka Margasatwa Cikepuh

Suaka Margasatwa Cikepuh terletak di dua wilayah administrasi, sebelah timur termasuk desa Gunung Batu, dan sebelah barat termasuk desa Cibenda Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Kawasan ini ditetapkan sebagai suaka margsatwa melalui Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 532/Kpts/Um/10/73, tertanggal 20 Oktober 1973, dengan luasan sebesar 8.127,50 ha. Keadaan topografinya sebagian besar berbukit-bukit dengan ketinggian berkisar antara 0-250 meter di atas permukaan laut.

Berdasarkan hasil laporan feasibility dari Institut Teknologi Bandung tahun 1975, vegetasi di kawasan ini dapat dibagi ke dalam bentuk formasi-formasi seperti Formasi Litoral, Formasi Pescaprea, Formasi Baringtonia, Formasi Hutan Pantai/Dataran Rendah, Formasi Alluvial, Formasi Padang Rumput (alam dan buatan), dan Formasi Hutan Tanaman. Vegetasi kawasan ini termasuk dalam tipe hutan hujan tropis dataran rendah yang terdiri dari berbagai formasi vegetasi. Dari formasi litoral dapat ditemukan berbagai macam ganggang laut seperti jenis Sargassum, Gelidium , Halimeda dan lain-lain. Formasi Pescaprae tumbuhannya terdiri dari jenis ipomoea pescaprate, Ishaemum muticum, Spinifex littoralis, Canavalia sp dan lain-lain. Formasi baringtonia tumbuhannya terdiri dari jenis Nyamplung (Calophyllum inophyllum), katapang (Terminalia catappa), Pandan (Pandanus tectorius), Pandan bidur, Cycas rumphii, Sophora tomentosa dan lain-lain. Dari formasi hutan pantai/dataran rendah terdiri dari jenis pohon Kiara (Ficus sp), Laban (Vitex fubescens), Bungur (Langerstroemi sp), Kepuh (Sterculia foetida), Diosphyros sp dan lain-lain. Dari formasi daerah alluvial hanya ditumbuhi sejenis pal, yaitu Liguanan sp. dan banyak dijumpai Awi Gereng (Bambusa spinosa). Dari formasi padang rumput terbagi dalam dua jenis, yaitu padang rumput alam yang banyak ditumbuhi oleh jenis rumput Polonia ciliata, Aplenda mutica. Rottboella sp. Digitarua sp. Cyperus, dan padang rumput buatan banyak ditumbuhi jenis-jenis Lantana camara, Eupathorium odoratum, Triumfeta bartramia yang tumbuh secara liar karena padang rumput ini sudah tidak terurus lagi. Dari formasi hutan tanaman banyak di tumbuhi oleh pohon kelapa (Cocos nucifera) dan pohon kelapa sawit (Elaesis gynaensis) yang luasnya 180 Ha. Karena daerah ini merupakan bekas daerah perkebunan. (Dishut Prov. Jawa Barat).

Menurut informasi dari Balai Besar KSDA Jawa Barat, dari berbagai jenis satwa liar yang dilindungi di Cikepuh, terdapat Penyu hijau (Chelonia mydas) yang merupakan salah satu jenis satwa liar yang sudah langka. Jenis-jenis satwa liar lainnya yang juga tidak kalah pentingnya untuk tetap dipertahankan kelestariannya adalah Banteng (Bos javanicus), Rusa (Cervus timorensis), Kancil (tragulus javanicus), Babi hutan (Sus vitatus), Owa (Hylobates moloch), Kera (Macaca fascicularis), Lutung (Trachypitechus auratus), burung Kangkareng (Anthracoceros convenxus), burung Rangkong (Buceros rhinoceros), burung Udang (Alcendinidae sp), burung kuntul Karang (Egreta sacra), burung Bangau Putih Susu (Nycteria cinerea), burung Merak (Pavo muticus), burung Elang (Spilornis cheela bido), biawak (Varanus salvator) dan ular Beusi (Kenocropis cellator).

Selain dari berbagai jenis flora dan fauna yang beraneka ragam di suaka Margasatwa Cikepuh dapat juga ditemukan jenis-jenis batuan yang bentuknya sangat menarik, baik yang membentuk seperti lantai maupun membukit. Potensi lainnya di Suaka Margasatwa Cikepuh adalah adanya obyek wisata alam yang menarik karena kawasan ini terletak di sepanjang Samudera Indonesia sehingga mempunyai banyak pantai yang menarik. Di pantai dapat di saksikan berbagai jenis rumput laut. Pada malam harinya di pantai Citireum dan pantai Cibulakan dapat menyaksikan penyu-penyu yang naik ke darat untuk bertelur dan dapat di dekati tanpa mengganggunya.

5) Suaka Margasatwa Paliyan

Suaka Margasatwa Paliyan dengan luas total 434,60 hektar berada di wilayah Kecamatan Paliyan dan Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunung Kidul. Topografi kawasan berupa perbukitan karst dengan lapisan tanah yang tipis, memiliki kelerengan diatas 40 %, di ketinggian 100 – 300 m dpl. Sekitar 80% kawasan ini dirambah oleh masyarakat sebagai areal perladangan, sejak masih berstatus hutan produksi, ± 600 petani penggarap berladang di kawasan ini, mereka berasal dari 4 desa, yaitu Karang Asem dan Karang Duwet yang termasuk willayah Kecamatan Paliyan, serta dua desa lagi yaitu Jetis dan Kepek yang masuk wilayah Kecamatan Saptosari.
Suaka Margasatwa Paliyan ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 171/Kpts-II/2000 tentang penunjukan kawasan hutan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kawasan ini merupakan alih fungsi dari kawasan hutan produksi pada petak 136 sampai dengan petak 141 berada di wilayah BDH Paliyan dengan luas total 434,60 ha.

Daerah Suaka Margasatwa Paliyan tercakup dalam formasi Karst Gunung Sewu (Pegunungan Seribu). Ekosistem karst SM. Paliyan merupakan ekosistem yang unik ditinjau dari aspek fisik, biotik dan sosial masyarakatnya. Keunikan bentang alam karst ditandai oleh ciri-ciri spesifik yang ada seperti ciri permukaan berupa lembah kering, telaga, pola aliran yang masuk dalam tanah dan ciri bawah permukaan seperti sungai bawah tanah, gua, dan ornamennya serta kehidupan yang ada. Kondisi vegetasi di kawasan ini cukup memprihatinkan. Berdasarkan laporan KSDA Prov. DIY, dari 6 petak yang ada, hampir sudah tidak ada tanaman kayu-kayunya, hanya petak 136, 137 dan 138 atau sekitar 3,25% dari total kawasan SM yan terdapat beberapa tanaman tinggal dalam tingkatan hidup sapling (sapihan), poles (tiang) dan beberapa trees (pohon) dengan kondisi yang juga tidak lebih sehat dengan kondisi normal. Jenis pohon yang ada terdiri dar Jati dan Sono Keling.

Gambar 6.15. Swaka Margasatwa Paliyan, Yogyakarta
(http://www.panoramio.com/photo/59006485)

Satwa utama kawasan SM Paliyan adalah kera ekor panjang (Macaca fascicularis). Persebarannya sekarang ada di hutan rakyat atau pekarangan penduduk. Populasi satwa ini menurut pengamatan yang telah dilakukan masuk dalam kategori tinggi dan sering menimbulkan gangguan berupa kerusakan tanaman penduduk terutama pada saat musim kemarau. Di kawasan SM. Paliyan ditemukan 20 spesies burung yang tergabung dalam 14 famili, terbagai dalam 5 jenis frugivorous-insectivorous. 12 jenis insectivorous, 2 spesies nectarinivorous dan 1 jenis carnvorous. Terdapat 1 jenis burung yang termasuk kategori vulnerable berdasarkan status IUCN, yaitu Butbut (Centopus nigrorufus) dan yang lainnya termasuk kategori tidak terancam secara global. Adapun jenis-jenis burung yang mempunyai kepadatan populasi tertinggi yaitu : Kutilang (14,6 individu/ha), Pentet/Bentet Kelabu (10,8 individu/ha), Olive Backed Sunbird (5 individu/ha) dan Tekukur dengan kepadatan 4,7 individu/ha.

Untuk jenis serangga, pada semua lokasi di SM. Paliyan, Formicidae (semut) merupakan taksa yang dominan. Presentase Formicidae berkisar antara 46 – 86 % dari total serangga. Jumlah taksa Carabidae yang tertangkap di SM. Paliyan pada tegakan jati lebih besar dibandingkan dengan pada tanah terbuka. Untuk taksa Isoptera (rayap) jumlah individunya sangat tinggi. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh banyaknya tonggak-tonggak kayu yang juga merupakan sumber makanan dan breeding site bagi taksa Isoptera. Serangga predator yang banyak terdapat juga di SM. Paliyan adalah famili Staphylinidae. Habitat serangga ini adalah seresah hutan, rekahan kulit pohon dan ada yang bersifat parisitik.

6) Suaka Margasatwa Gunung Sawal

Gambar 6.16 Berbagai jenis burung di Suaka Margasatwa Gunung Sawal

 Kawasan Hutan Gunung Sawal di tetapkan sebagai Suaka Margasatwa berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 420/Kpts/Um/1979 tanggal 4 Juli1979 dengan luas 5.400 Ha. Sedangkan menurut hasil pengukuran dalam Berita Acara Tata batas tanggal 10-1-1979, luas kawasan Suaka Margasatwa (SM) Gunung Sawal adalah 5.360 Ha. (Dishut Jawa Barat). Secara astronomis, terletak antara 7o15’ LS dan 180o21’ BT. Termasuk dalam wilayah Kecamatan Panjalu, Kawali, Cipaku, Cikoneng, Cihaurbeuti, Sadananya dan Panumbangan, Kabupaten Ciamis. Pada umumnya kondisi lapangan bergelombang, berbukit terjal dan bergunung serta puncak tertinggi adalah Gunung Sawal, 1.764 meter di atas permukaan laut. Kemiringan lereng di bagian tengah antara 20-30%. Dalam kawasan ini mengalir air sungai Citanduy dengan anak-anak sungainya, yaitu Sungai Cibaruyon, Cipalih, Ciguntur. Keadaan iklim di kawasan SM Gunung Sawal termasuk tipe B berdasarkan klasifikasi dar Schmidt dan Ferguson, curah hujan rata-rata 3.360 mm per tahun, temperatur udara berkisar antara 19o – 27o C.

Sebagian besar kawasan ini merupakan hutan alam (+ 95%) dan sisanya merupakan hutan tanaman. Jenis Pohon yang terdapat di hutan alam antara lain : Teureup (Artocarpus elasticus), Puspa (Schima walichii), Saninten (Castanopsis argantea), Pasang (Quercus sp), Kiara (Ficus sp) dan Jamuju (Podocarpus imbricatus). Sedangkan jenis pohon yang ada dalam hutan tanaman adalah Pinus (Pinus merkusii), Damar (Agathis lorantifolia), Mahoni (Switenia mahagoni), Rasamala (Altingia excelsea) dan Kaliandra (Caliandra sp.)

Jenis satwa liar yang ada diantaranya dalah : Meong Congkok (Fellis bengalensis), Babi Hutan ( Sus vitatus), Macan Kumbang (Panthera pardus), Kancil (Tragulus javanicus), Trenggiling (Manis javanicus), Kera (Macaca fascicularis), Bajing (Sciurus sp), Lutung (Tracyphitecus auratus), Macan tutul (Panthera pardus), Kijang (Muntiacus muntjak), Kalong (Pteropus vamyrus), Elang Lurik (Spilornia cheela), Saeran (Dicrurus leucophaeus) dan lain-lain.

7) Suaka Margasatwa Sendangkerta

Suaka margsatwa Sendangkerta berada di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, memiliki luas 90,00 ha, menurut Keputusan Menteri Kehutanan RI. Nomor: 6964/Kpts-II/2002, tertanggal 17 Januari 2002. Data-data hasil penelitian mengenai kawasan swaka margsatwa ini masih belum dipublikasikan.

8) Suaka Margasatwa Gunung Tunggangan.

Suaka Margsatwa Gunung Tunggangan terletak di Desa Jambean, Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, tepatnya berada di 6o-11o LS dan 95o-141o BT. Kawasan ini memiliki luas sebesar 103,90 ha menurut Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 435/Kpts-II/1999, tertanggal 15 Juni 1999. Topografi bergelombang dengan lahan dominasi berbatu, terletak pada ketinggian 600 m dpl, beriklim tipe C (klasifikasi Schmidt Ferguson) dengan kelembaban rata-rata 60%, bercurah hujan rata-rata tahunan sebesar 2.756 mm/th. Beberapa jenis flora yang terdapat di kawasan swaka margsatwa ini antara lain; Sonokeling (Darbelia latifolia), Mahoni (Swietenia mahagoni), Cendana (Santalum album), temu puyeng, sambiroto, Pule pandak (Rauwolfia serpentina), dll. Sedangkan jenis-jenis fauna yang dijumpai antara lain; ayam hutan (Gallus sp.), Landak (Hystrix branchyura), Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), Musang (Arctogolidia trivirgata), Garangan (Herpesites sp), Kijang (Munthiacus muntjak), Trenggiling (Manis javanica), Kutilang (Pycnonotus aurigaster), Jalak putih (Sturnus melanopterus), Tekukur (Streptopeha chinensis) dan Jowan.

9) Suaka Margsatwa Dataran Tinggi

Kawasan Suaka Margasatwa ini terletak di Kecamatan Krucil, Sumber Malang, Panti dan Sukorambi, Kabupaten Situbondo, Bondowoso, Probolinggo dan Jember. Ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. Sk/12/PA/1962, tanggal 5 Mei 1962 dengan luas 14.145 Ha.

Suaka Margasatwa Dataran Tinggi yang merupakan komplek pegunungan vulkanik yang sudah tua, mempunyai tipe ekosistem hutan tanaman, hutan hujan tropis dataran rendah, hutan hujan tropis dataran tinggi dan hutan rawa. Flora yang tumbuh di kawasan ini beraneka ragam, diantaranya Pinus merkusii, Caliandra sp, Egenia sperculata, Vaccinium, Varingae folium, Podocarpus imbricatus, Euphorbia javanica, Dendrobium hasseltii, Imperata cylyndrica, Corex sp, Cyperus Flavidus dan lain-lain. Sedangkan fauna yang ada di dalam kawasan ini adalah; Rusa (Cevus timorensis), Babi hutan (Sus sp), Kijang (Munthiacus muntjak), Kucing hutan (Felis bengalensis), Musang (Mustela flavigola dan Mustela lutreola), Macan tutul (Pantrea pardus), Merak (Vavo munticus) dan Ayam hutan (Galus gallus).

Gambar 6.17. Berbagai macam satwa di SM Dataran Tinggi

D. Taman Hutan Raya

Taman Hutan Raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau bukan alami, jenis asli dan atau bukan asli, yang dimanfaatkan bagi kepentingan umum sebagai tujuan penelitian, ilmu pengetahuan dan pendidikan. Juga sebagai fasilitas yang menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi (UU No. 5 Tahun 1990). Adapun kriteria yang ditetapkan sebagai penunjukkan kawasan Taman Hutan Raya (TAHURA), adalah sebagai berikut :

  • Merupakan kawasan yang memiliki suatu ciri khas tersendiri, baik asli maupun buatan. Bisa terdapat pada kawasan yang ekosistemnya masih utuh ataupun kawasan yang ekosistemnya sudah berubah.
  • Memiliki keindahan alam dan atau mempunyai gejala alam, misalnya ada terdapat sumber air panas bumi.
  • Mempunyai luas yang memungkinkan untuk pembangunan koleksi tumbuhan dan atau satwa baik jenis asli dan ataupun bukan asli.

Kawasan Taman Hutan Raya dikelola Kementerian Kehutanan dengan tujuan pengawetan keanekaragaman hayati dan satwa beserta ekosistemnya. Suatu kawasan taman hutan raya dikelola berdasarkan satu rencana pengelolaan yang disusun berdasarkan kajian aspek-aspek ekologi, teknis, ekonomis dan sosial budaya.

Selain sebagai ‗etalasi‘ keanekaragaman hayati, Taman Hutan Raya juga berfungsi sebagai tempat penyelamatan jenis tumbuhan tertentu, yang mulai langka dan terancam, hampir mirip dengan Kebun Raya. Namun berbeda dengan Kebun Raya yang bisa mengoleksi tumbuhan dari berbagai daerah, koleksi tanaman dalam Tahura sebagian besar (sekitar 80 %) haruslah tanaman lokal (bioregion) di mana Taman Hutan Raya tersebut berada dan sisanya boleh diisi dengan tanaman dari bioregion lain. Indonesia memiliki sedikitnya 22 kawasan yang telah ditetapkan sebagai Taman Hutan Raya, 6 diantaranya berada di Jawa, yaitu:

  1. Taman Hutan Raya Ir. Djuanda, Jawa Barat. Berlokasi di Bandung dengan luas 590 ha. Penetapannya berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 3 Tahun 1995, 14 Januari 1995.
  2. Taman Hutan Raya Palasari, Jawa Barat. Berlokasi di Sumedang dengan luas 35 ha. Ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 297/Menhut-II/2004, 10 Agustus 2004.
  3. Taman Hutan Raya Pancoran Mas Depok, Jawa Barat. Berada di Bogor dengan luas 6 ha. Ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan RI Nomor: 276/Kpts-II/1999, 7 Mei 1999.
  4. Taman Hutan Raya Ngargoyoso, Jawa Tengah. Tempatnya di Kabupaten Karanganyar dengan luas mencapai 231 ha. Penetapannya berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 233/Kpts-II/2003, 15 JulI 2003.
  5. Taman Hutan Raya Gunung Bunder, Yogyakarta. Terdapat di Kabupaten Gunung Kidul dengan kawasan seluas 617,00 ha. Ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 353/Menhut-II/2004, 28 September 2004.
  6. Taman Hutan Raya R. Suryo; Jawa Timur. Kawasannya meliputi Gunung Arjuno dan Cagar Alam Lalijiwo di Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Malang, Kabupaten Jombang, Kabupaten Pasuruan dan Kota Batu dengan luas 27.868,30 Ha. Ditetapkan oleh Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor: 80/Kpts-II/2001, 19 Mei 2001.

Beberapa data dan informasi yang menjelaskan mengenai masing-masing TAHURA adalah sebagai berikut:

1) TAHURA Ir. H. Juanda

Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda merupakan kawasan konservasi yang terpadu antara alam sekunder dengan hutan tanaman dengan jenis Pinus (Pinus merkusil) yang terletak di Sub-DAS Cikapundung, DAS Citarum yang membentang mulai dari Curug Dago, Dago Pakar sampai Maribaya yang merupakan bagian dari kelompok hutan Gunung Pulosari. Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda sangat baik sebagai lokasi pariwisata alam dan juga sebagai sarana tempat untuk pengembangan pendidikan lingkungan.

Gambar 6.18 Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda
(http://tahuradjuanda.jabarprov.go.id/index.php/subMenu/580)

Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda merupakan bagian dari daerah cekungan Bandung, memiliki latar belakang sejarah yang erat kaitannya dengan zaman purba hingga sekarang. Tahura ini awalnya merupakan bagian areal dari kelompok Hutan Lindung Gunung Pulosari yang berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 575/kpts/Um/8/1980 dirubah fungsinya menjadi Taman Wisata Alam (TWA) Curug Dago. Pada Tanggal 14 Januari 1985 bertepatan dengan kelahiran Bapak Ir. H. Djuanda, TWA Curug Dago secara resmi berubah fungsi menjadi Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda yang merupakan Taman Hutan Raya (TAHURA) pertama di Indonesia, berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 3/M/1985 tertanggal 12 Januari 1985 tentang Penetapan Taman Wisata Alam Curug Dago menjadi Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. (Taman Hutan Raya Juanda Prov. Jawa Barat, 2012). Beberapa gambar yang memperlihatkan berbagai sumberdaya dan panorama di Tahura Ir. H. Juanda dapat disaksikan pada gambar berikut.

Kawasan Taman Hutan Raya Ir.H. Djuanda merupakan hutan alam sekunder dan hutan tanaman yang mempunyai potensi flora cukup variatif, terdirii dari tumbuhan tinggi dan tumbuhan rendah. Untuk tumbuhan tinggi didominasi oleh jenis pinus sedangkan untuk tumbuhan rendah didominasi oleh lumut dan pakis sehingga berfungsi sebagai laboratorium alam (arboretum). Hutan Tanaman mulai dikembangkan tahun 1950-an namun karena tumbuh pada lahan berbatu diametemya relatif kecil dan pada tahun 1963 ditanam jenis tumbuhan kayu asing berasal dari luar daerah dan luar negeri dilahan seluas 30 Ha yang terletak di sekitar Plaza dan Gua Jepang.

Hutan di kawasan ini merupakan vegetasi campuran yang terdiri dari 40 famili, 112 species diantaranya berasal dari luar negeri seperti sosis (Kegelia aethiopica) dari afrika, Mahoni Uganda (Khaya anthoteca) dari Afrika barat, Pinus Meksiko (Pinus montecumae) berasal dari meksiko, cengal pasir (Hopea odorata) dari Burma, Cedar Hondura (Cedrela maxicum m roem) dari Afrika Tengah dan lain sebagainya, sedangkan yang berasal dari dalam negeri diantaranya : Pinus (Pinus merkusi jung), Bayur sulawesi (Pterospermum celebicum) dari Sulawesi, Kayu manis (Cinnamonum burmanii) dari daerah Jawa Barat, Damar (Agathis damara) dari Maluku, Cemara Sumatera (Casuarina sumatrana) dari Sumatra, dan lain-lain.

Gambar 6.19 Wisata di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda

2) TAHURA Palasari

Taman Hutan Raya Gunung Palasari terletak di Sumedang, Jawa Barat. Kawasan konservasi ini menempati lahan seluas 35,81 hektar. Areal ini memperoleh status resmi sebagai taman hutan raya (TAHURA) berdasarkan Kepmen Menhut No. 297/Menhut-II/2004, 10 Agustus 2004.

3) TAHURA Pancoran Mas

Tahura Pancoran Mas Depok merupakan salah satu kawasan pelestarian alam yang berfungsi sebagai kawasan konservasi flora dan fauna yang terdapat di dalamnya. Kawasan tersebut berfungsi pula sebagai kawasan penyangga bagi daerah sekitarnya. Tahura juga dapat dimanfaatan sebagai tempat menyimpan koleksi tumbuhan asli dan atau bukan asli, pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan latihan, budaya, pariwisata dan rekreasi. Sehubungan dengan upaya optimalisasi fungsi, pada akhir 2008, Pemerintah Kota Depok telah mengadakan gerakan penanaman sebanyak 43 jenis tanaman di tahura Pancoran Mas.

Gambar 6.20 Tahora Pancoran Mas (Sumber: kawasankonservasi.wordpress.com)

Bila dilihat dari struktur dan komposisi vegetasi, kawasan ini mempunyai tipe penutupan lahan strata B, yaitu mempunyai ketinggian antara 14 – 18 meter. Jenis tumbuhan berkayu didominasi oleh jenis dari famili Dipterocarpaceae, yaitu untuk jenis Meranti sp. Jika dilihat dari penutupan tajuk yang ada di dalam kawasan ini memiliki tajuk yang begitu terbuka sehingga sinar matahari langsung masuk kedalam kawasan dan berfungsi sebagai perangsang laju pertumbuhan bagi tingkat tumbuhan bawah, liana serta tingkat anakan sehingga banyak sekali tumbuhan bawah yang menutupi permukaan hutan atau lantai hutan. Setidaknya terdapat ± 254 jenis tumbuhan ditemukan di dalam kawasan ini. Dimana dari 23 jenis merupakan Liana dan mendominasi 90 % dari luas kawasan. Pada pertumbuhan tingkat pohon diketemukan kurang lebih 24 jenis, dengan jenis-jenis yang mendominasi dan sudah teridentifikasi adalah: meranti, waru, jambu, dan kluwih.

Satwa liar yang hidup Taman Hutan Raya (Tahura) Pancoran Mas sebagian besar adalah dari jenis-jenis burung dan beberapa dari kelas mamalia kecil maupun besar seperti monyet, reptilia dan amfibi. Jenis burung yang terdapat di sini merupakan jenis umum yang biasanya terdapat di daerah hutan dataran rendah dan semak. Rendahnya keanekaragaman jenis satwa tersebut sangat dimungkinkan akibat rusaknya atau hilangnya sebagian dari habitat satwaliar tersebut. Jenis-jenis burung yang masih bisa dijumpai adalah burung jogjog, ciblek, cingcuing, kipasan, dan perenjak. Jenis reptilia yang ditemukan adalah jenis ular tanah dan ular sanca. Jenis mamalia khususnya mamalia kecil yang banyak diketemukan adalah jenis kelelawar. Dari klas amfibi, masih ditemukan katak pohon/katak terbang. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat sekitar, di dalam kawasan ini banyak terdapat jenis ular kobra, phyton, ular pucuk kepala merah dan kucing hutan, serta masih banyak lagi jenis lainnya seperti biawak dan musang.

4) TAHURA Ngargoyoso

Taman Hutan Raya Ngargoyoso telah ditetapkan oleh Menteri Kehutanan melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 233/Kpts-II/2003 tentang Penetapan Hutan Seluas 231.300 Hektar yang terletak di Kabupaten Karanganyar Propinsi Jawa Tengah Sebagai Kawasan Hutan Tetap Dengan Fungsi Taman Hutan Raya Ngargoyoso. Tahura ini terletak di KPH Surakarta; BKPH Lawu Utara; RPH Tambak; Petak 80a, termasuk wilayah Desa Brejo, Kecamatan Ngargoyoso, Kab. Karanganyar dengan ketinggian + 1.200 m dpl.

Potensi yang ada di Tahura ini antara lain berupa; areal bumi perkemahan, panorama alam yang indah, pemandangan Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Ungaran, waduk-waduk, kota Solo dilihat dari ketinggian serta menikmati harumnya pohon pinus. Rencananya akan dibangun Arboretum, Gardu pandang, Menara pengintai satwa, penangkaran rusa dll. Di samping itu disekitar lokasi juga banyak penduduk yang menyuling daun cengkeh untuk diambil minyaknya. Obyek Wisata terdekat diantaranya: Bromo, Puncak Lawu, Pringgodani, Sekipan, Tahura Ngargoyoso, Petilasan Hindu Candi Sukuh, Candi Ceto.

5) TAHURA Gunung Bunder

Taman Hutan Raya Gunung Bunder terletak di Gunung Kidul, DI Yogyakarta. Kawasan konservasi ini menempati lahan seluas 617 hektar. Areal ini memperoleh status resmi sebagai taman hutan raya (TAHURA) berdasarkan Kepmen Menhut No. 353/Menhut-II/2004, 28 September 2004.

6) TAHURA Raden Surya

Kawasan pelestarian alam ini mencakup areal seluas 27.868,30 Ha, secara administratif kewilayahan berada di empat Kabupaten dan satu Kota, yakni Malang, Pasuruan, Mojokerto, Jombang dan Kota Batu. Keberadaan TAHURA diantaranya untuk menjaga pelestarian alam, mengembangkan pendidikan dan wisata, juga berperan dalam memelihara kelangsungan fungsi hidro-orologis DAS Brantas, DAS Konto dan DAS Kromong terutama juga untuk kelestarian mata air sumber kali brantas Desa Tulungrejo Kec. Bumiaji Kota Batu. Tempat ini sangat cocok untuk perkemahan dan penelitian dibidang kehutanan, pertanian. Juga didukung dengan alam sekitar yang sangat mempesona dengan lereng gunung Arjuno yang mengeluarkan air panas.

Hasil studi yang dilakukan oleh Hubertus Buntoro Ajie (Fakultas MIPA, ITS), memberikan informasi mengenai komunitas burung yang ada di kawasan pegunungan Arjuna-Welirang Tahura Raden Suryo. Survei komunitas burung dilakukan di kawasan Pegunungan Arjuno-Welirang Taman Hutan Raya Raden Suryo pada tiga area berbeda yaitu Ground Camp Bumi Tretes Raya, Pos Tahura R. Suryo dan Pos Kop-kopan. Studi dilakukan pada tanggal 26, 28 dan 29 Maret 2009. Hasil studi menunjukan adanya 48 spesies burung dengan rincian 34 spesies diantaranya ditemukan pada area pengamatan Ground Camp Bumi Tretes Raya, 28 spesies pada area pengamatan Pos Tahura R. Suryo dan 18 spesies pada area pengamatan Pos Kop-kopan. Cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) menempati peringkat jenis tertinggi secara umum dan pada area Pos Tahura Raden Suryo, sedangkan pada Ground Camp Bumi Tretes Raya peringkat jenis tertinggi ditempati oleh Walet sapi (Collocalia esculenta) dan Bentet kelabu (Lanius schach) pada area pos kop-kopan. Burung Kedasi hitam (Surniculus lugubris) dijumpai di area Kop-kopan yang ketinggiannya berkisar 1600-1700 mdpl.

Gambar 6.21 Berbagai jenis burung di TAHURA Raden Surya

Penurunan Luas Kawasan Hutan

Selain faktor alih fungsi kawasan, lahan kritis di Pulau Jawa juga turut mempengaruhi fluktuasinya luas kawasan hutan. Dari beberapa kali dilaksanakan observasi lapangan diperoleh kesimpulan bahwa terjadinya lahan kritis pada umumnya disebabkan oleh tekanan penduduk. Pemanfaatan lahan yang semestinya berfungsi sebagai kawasan lindung (yang bervegetasi) pada kenyataannya banyak digunakan sebagai lahan pertanian intensif yang tidak konservatif (cenderung merusak).
Berdasarkan data SLHD Tahun 2011, luas lahan kritis Pulau Jawa mencapai 3.436.884,81 Ha, dengan distribusi di tiap-tiap provinsi yaitu; Provinsi Banten (117.913,29 Ha), Jawa Barat (117.201,14 Ha), Jawa Tengah (484.742,60 Ha), Jawa Timur (2.692.892,78 Ha) dan DIY (24.135,00 Ha). Terlepas dari besarnya lahan kritis yang ada, melalui berbagai program pemerintah dan partisipasi masyarakat telah dilakukan berbagai upaya penghutanan kembali (Reboisasi) dan penghijauan untuk mengimbangi laju pertambahan lahan kritis. Informasi yang dapat diperoleh dari data yang ada di Pemda setempat, upaya Reboisasi dan Penghijauan selama tahun 2010-2011 diperoleh data sebagaimana Tabel 6.6.

Gambar 6.22. Pemanfaatan Lahan yang tidak Konservatif

Tabel 6.6. Realisasi Reboisasi dan Penghijauan

Lain halnya dengan data/informasi yang disampaikan oleh KLH dalam Program Menuju Indonesia Hijau (MIH) Tahun 2011, dari hasil interpretasi citra satelit tutupan vegetasi Pulau Jawa (yang terwakili oleh wilayah Hutan Primer,Hutan Sekunder dan Kebun Campur) mencapai luas sebesar 3.523.253,23 Ha, dengan demikian berarti luas tutupan vegetasi Pulau Jawa ada sekitar 27% dari luas Jawa. Berikut ini ditampilkan data hasil interpretasi Citra Satelit di Program MIH, KLH.

Gambar 6.23. Peta Tutupan Lahan Pulau Jawa

Dari gambar peta di atas diperoleh luasan dari masing-masing area tutupan lahan (land cover) adalah sebagaimana tabel berikut. Dari ketigabelas macam tutupan lahan tersebut, yang diprediksi sebagai lahan kritis meliputi; semak belukar (292.977,54 Ha), tanah terbuka (137.468,24 Ha) dan tegalan/ladang (2.846.111,29 Ha).

Tabel 6.7. Proporsi Luas Tutupan Lahan Pulau Jawa

6.1.1. Potensi Sumberdaya Hutan Provinsi Banten

Gambar 6.24. Peta Kawasan Hutan di Provinsi Banten

Provinsi Banten dengan luas 865.120 Ha memiliki kawasan hutan seluas 208.161,27 Ha (24,06 % dari luas Provinsi). Dari sisi kepemilikan, kawasan hutan dibedakan atas; Hutan Negara, Hutan Adat, dan Hutan Milik. Dari sejumlah hutan negara yang ada, terbagi ke dalam Hutan Lindung sebesar 9.471,39 Ha (1,09 %), Hutan Produksi seluas 70.702,58 Ha (8,17%) dan Hutan Konservasi seluas 127.987,3 Ha (14,79%). Pada dasarnya, hutan memiliki potensi untuk menghasilkan sumberdaya yang berupa; hasil hutan kayu, hasil hutan non kayu dan jasa lingkungan. Potensi produksi hasil hutan berupa kayu, telah disampaikan oleh Dinas Kehutanan Provinsi Banten sebesar 33.728 m3 berasal dari hutan negara dan sebesar 448.451 m3 dari hutan rakyat (luas = 332.152,59 Ha).

6.1.2. Potensi Sumberdaya Hutan Provinsi DKI Jakarta

Secara keseluruhan, kawasan hutan yang ada di Provinsi DKI Jakarta dibedakan atas; hutan lindung, hutan koservasi, dan hutan kota. Hutan lindung mempunyai fungsi khusus sebagai pelindung tata air, pencegah erosi, banjir, abrasi pantai dan pelindung terhadap tiupan angin. Kawasan hutan lindung yang ada di DKI Jakarta seluruhnya merupakan hutan payau/bakau, pada tahun 2010 luasnya mencapai 44,76 Ha dan tidak mengalami perubahan selama kurun waktu 2010. Hutan konservasi di DKI Jakarta mencapai 188,02 Ha terdiri dari hutan cagar alam dan suaka margasatwa seluas 88,20 Ha dan hutan taman wisata alam seluas 99,82 Ha. Sedangkan Hutan Kota di DKI, sampai dengan tahun 2010, tersebar di 47 lokasi dan diperkirakan luasnya sekitar 571,82 Ha. Luas hutan kota ini jauh lebih besar dibandingkan dengan luas hutan alami (hutan lindung dan hutan konservasi) yang ada di DKI Jakarta atau sekitar 70,68 persen dari total luas hutan di DKI Jakarta (809,00 Ha).

Sedangkan hasil inventarisasi diperoleh hasil bahwa selama tahun 2010 tidak terjadi perubahan luas. Secara lengkap lokasi dan luas hutan kota Provinsi DKI Jakarta adalah sebagai berikut :

Tabel 6.8. Lokasi Hutan Kota DKI Jakarta, 2010

6.1.3. Potensi Sumberdaya Hutan Provinsi Jawa Barat

Berdasarkan informasi dari Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat (Tabel 6.9.), luas hutan dalam 5 tahun terakhir mengalami kenaikan, dari 784,397.09 Ha pada tahun 2003 menjadi 847,986.74 Ha pada tahun 2008, terdiri atas 47,62 % Hutan Produksi, 31,39 % Hutan Lindung, dan 20,99 % Hutan Konservasi.

Tabel 6.9. Perkembangan Luas Hutan Jabar dalam 5 Tahun

Ditinjau dari sebarannya, kawasan hutan lebih terkonsentrasi di wilayah Jawa Barat bagian selatan yang membentang mulai dari Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bandung, Kabupaten Garut, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Tasikmalaya, juga di Kabupaten Kuningan. Sebagian kecil ada di Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Subang, dan Kabupaten Kuningan. Demikian juga halnya dengan sebaran hutan konservasi tersebar di area yang sama, yaitu di wilayah Jawa Barat bagian selatan. Sebaran kawasan hutan bisa dilihat pada gambar berikut.

Gambar 6.25. Peta Kawasan Hutan Provinsi Jawa Barat

Masalah utama yang dihadapi oleh sumberdaya hutan adalah Lahan Kritis. Berdasarkan data yang ditampilkan dalam SLHD tahun 2011, luas lahan kritis di Jawa Barat mencapai 117.201,14 ha. Data tersebut merupakan data terakhir hingga tahun 2008 dari sumber datanya. Hingga tahun 2008, luas kawasan hutan konservasi yang kritis mencapai 17.328 Ha atau 10 % dari luas hutan konservasi yang ada ada di Jawa Barat. Sedangkan luas lahan kritis di kawasan hutan lindung dan hutan produksi, sampai dengan tahun 2006 mencapai 42,967 Ha atau 6,76 % dari luas kawasan hutan lindung dan hutan produksi. Lahan kritis ini tersebar hampir di seluruh wilayah kabupaten dan kota se jawa barat. Luas lahan kritis secara proporsional di masing-masing kabupaten dan kota di Jawa Barat adalah sebagaimana tercantum dalam tabel 6.10 berikut ini.

Sementara itu, luas lahan perkebunan yang kritis hingga tahun 2008 mencapai 12.772,56 Ha atau 4,13 % dari luas perkebunan yang ada, sedangkan lahan kritis di lahan milik masyarakat mencapai 150,132.35 atau 5,95 % dari luas kawasan. Pada tahun 2010 luas lahan kritis mengalami penurunan hingga tinggal 117.201,14 Ha.

Tabel 6.10. Luas Lahan Kritis Provinsi Jawa Barat Tahun 2010

6.1.4. Potensi Sumberdaya Hutan Provinsi Jawa Tengah

Secara umum, hutan berfungsi ekonomi, sosial, dan lingkungan, demikian juga halnya di Jawa Tengah. Sebagian besar hutan di Provinsi Jawa Tengah adalah hutan tanaman. Pengelolaan hutan di Jawa Tengah, secara kepemilikan dibedakan atas dua kelompok yakni:

  • Hutan Hak, hutan yang digunakan masyarakat, dalam hal ini petani hutan. Yang tentunya penggunaan dari hutan tersebut diawasi dan dilindungi oleh dinas kehutanan provinsi Jateng.
  • Hutan Negara, hutan ini adalah 100% penggunaan dan haknya dikelola atau milik Negara. Ada 2 (dua) jenis hutan Negara, hutan lindung dan hutan produksi. Keduanya diatur dalam undang-undang.

Saat ini (Tahun 2012) berdasarkan laporan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, luas kawasan hutan Provinsi Jawa Tengah mencapai 1.153.634 ha atau sebesar 35% dari luas wilayah. Terdiri dari Hutan Negara mencapai kurang lebih 647.133 ha dan Hutan Rakyat sebesar 506.501 ha, secara rinci pembagian wilayah hutan sebagaimana tabel berikut.

Tabel 6.11. Pembagian Luas Kawasan Hutan Prov. Jawa Tengah

Hutan Konservasi terdiri dari; Taman Nasional sebanyak 3 unit, Cagar Alam 29 unit, Suaka Margasatwa 1 unit, dan Taman Wisata Alam 5 unit. Dilaporkan juga bahwa luas hutan rakyat dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan. Hal ini merupakan salah satu faktor yang baik dalam meningkatkan kualitas maupun kuantitas hutan (atau kawasan berhutan) yang ada di Provnisi Jawa Tengah. Hutan rakyat selain sebagai salah satu sumber pendapatan masyarakat, juga merupakan solusi untuk mengatasi masalah ketergantungan masyarakat terhadap hutan alam. Besarnya peningkatan luas kawasan hutan rakyat tergambar pada grafik di bawah ini.

Gambar 6.26. Perubahan Luas Hutan Rakyat Prov. Jateng

6.1.5. Potensi Sumberdaya Hutan Provinsi Jawa Timur

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan nomor: SK 395/Menhut-II/ 2011 tanggal 21 Juli 2011, Jawa Timur mempunyai luas hutan sebesar ± 1.361.146 ( satu juta tiga ratus enam puluh satu ribu seratus empat puluh enam ) hektar, atau sekitar 28,36 % dari luas daratan.

Dari kawasan hutan tersebut berdasarkan fungsinya terbagi menjadi :

1. Kawasan Suaka Alam/Kawasan Pelestarian Alam (KSA/KPA)

  • Daratan : 230.126 ha (4,80%)
  • Perairan : 3.506 hektar(0,07%)

2. Hutan Lindung (HL) : 344.742 ha ( 7,18%)
3. Hutan Produksi Tetap (HP):782.772 ha (16,31%).

Sedangkan berdasarkan pengelolaannya kawasan hutan Jawa Timur dibagi kedalam empat (4) unit lembaga, sebagai berikut :

1. Perum Perhutani Unit II Jawa Timur seluas 1.127.317,50 (82,82%) hektar yang terdiri dari hutan produksi seluas 782.772 hektar dan hutan lindung seluas 344.545,50 hektar.

2. Balai Taman Nasional seluas 176.696,20 hektar (12,95%) dengan rincian pengelolaan:

  • Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru seluas 50.276,20 ha
  • Balai Taman Nasional Baluran seluas 25.000,00 ha
  • Balai Taman Nasional Alas Purwo seluas 43.420,00 ha
  • Balai Taman Nasinal Meru Betiri seluas 58.000,00 ha

3. Balai Besar KSDA Jawa Timur seluas 29.264,00 hektar (2,14%) yang terdiri dari :

  • Taman wisata Alam seluas 297,50 ha
  • Suaka Margasatwa seluas 18.008,60 ha
  • Cagar Alam seluas 10.957,90 ha

4. UPT Tahura R. Soerjo (Dinas Kehutanan) seluas 27.868,30 hektar (2,04%).

Gambar 6.27. Peta Kawasan Hutan Jatim

Berdasarkan data yang disampaikan oleh Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, dalam acara Rapat Koordinasi Inventarisasi Lingkungan hidup, besarnya produksi hasil hutan berupa kayu, dari tahun 2007 hingga tahun 2011 cenderung menurun,. Produksi kayu jati yang dihasilkan oleh Perum Perhutani berfluktuasi, namun cenderung menurun dari 191.269 m3 di tahun 2007 menjadi 167.174 m3 di tahun 2011. Sementara produksi kayu dari hutan rimba terus menurun dari sebesar 345.882 m3 di tahun 2007 menjadi 279.185 m3 di tahun 2011. Penurunan produksi kayu selengkapnya tergambar pada tabel-tabel berikut ini.

Tabel 6.12. Produksi Kayu Jati Perum PERHUTANI Unit-II, Th. 2007-2011

Hasil produksi kayu jati dari tahun ke tahun (2007 – 2011) cenderung menurun, sedangkan hasil produksi kayu rimba pada awalnya meningkat kemudian turun kembali. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas ekosistem hutan cenderung menurun, diprediksi karena berbagai masalah terjadi di dalamnya.

Tabel 6.13 Produksi Kayu Rimba, Perum PERHUTANI Unit-II, 2007-2011

Selain hasil hutan berupa kayu, juga menghasilkan hasil hutan non kayu, seperti; Getah pinus, opal (getah damar), daun kayu putih, lak cabang, daun murbei, kokon, kopi, cengkeh, kelapa, madu, dan rotan. Besarnya hasil hutan non kayu dapat dilihat pada tabel berikut ini. Produksi getah pinus terjadi fluktuasi, prduktivitas terbesar terjadi di tahun 2010, mencapai 30.547 ton. Sedangkan produksi daun kayu putih terus meningkat dari tahun 2007 hingga tahun 2011.

Tabel 6.14. Produksi Hasil Hutan Non-kayu, Perum PERHUTANI Unit-II, 2007-2011

6.1.6. Potensi Sumberdaya Hutan Provinsi DIY

Luas hutan negara di Provinsi DIY adalah 18.712,867 Ha atau 5,87 % dari luas Provinsi DIY. Hutan tersebut tersebar di 4 (empat) wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Gunungkidul, Sleman, Bantul, dan Kulonprogo. Dalam pengelolaannya, hutan di Provinsi DIY dibagi menjadi 5 Bagian Daerah Hutan (BDH) yaitu: BDH Karangmojo, BDH Playen, BDH Panggang, BDH Paliyan, dan BDH Kulonprogo-Bantul.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No.: 171/Kpts-II/2000 tanggal 29 Juni 2000, tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Provinsi DIY seluas 16.819,52 Ha, luas hutan produksi di Provinsi DIY adalah 13.411,70 Ha, hutan lindung seluas 2.312,800 Ha, Taman Nasional seluas 1.743,250 Ha dan Taman Hutan Raya seluas 617.000 Ha. Luas cagar alam di provinsi DIY adalah 0,015 Ha dan Taman Wisata Alam seluas 1,102 Ha, hal ini berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No: 526/Kpts/Um/7/1982 tanggal 21 Juli 1982 tentang Penunjukan Areal Batu Gamping Eosin seluas 1,117 Ha yang terletak di Desa Gamping, Sleman.

Sedangkan Cagar Alam Imogiri seluas 11,400 Ha (berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No.: 171/Kpts-II/2000 tanggal 29 Juni 2000 tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Provinsi DIY seluas 16.819,52 Ha). Luas Suaka Margasatwa 615,600 Ha (berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 171/Kpts-II/2000 tanggal 29 Juni 2000 tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Provinsi DIY seluas 16.819,52 Ha). Luas Taman Nasional di provinsi DIY adalah seluas 1.743,250 Ha (berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No: 234/Menhut-II/2004 tanggal 4 Mei 2004 tentang Perubahan Fungsi Kawasan Hutan Lindung Cagar Alam dan Taman Wisata Alam pada Kelompok Hutan Gunung Merapi seluas + 6.410 Ha yang terletak di Kabupaten Magelang, Boyolali dan Klaten Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Sleman Provinsi DIY menjadi Taman Nasional Gunung Merapi). Perhitungan luas kelompok hutan cikal bakal TNGM yang berada di wilayah DIY adalah CA dan TWA Turgo (282,25 Ha) dan hutan lindung (1.461 Ha).