Profile Ekoregion Jawa

   
     PPE Regional Jawa +62 274 625800
Tap To Call

Ekosistem Karst   arrow

6.5. Potensi Sumberdaya Ekosistem Karst

Kawasan karst merupakan bentang alam yang memiliki kondisi hidrologi dan bentuklahan spesifik yang berkembang di batuan mudah larut (batugamping, marmer, gipsum, halit) dan memiliki banyak rekahan (Ford dan Williams, 2007). Kawasan karst dicirikan oleh keberadaan cekungan tertutup, drainase bawah tanah, dan gua (Gillison, 1997). Kawasan karst memiliki ciri yang khas. Pada bawah permukaan biasanya terdapat sistem drainase bawah tanah/sungai bawah tanah, juga terdapat gua. Pada permukaan kawasan terdapat semacam cekungan yang tertutup. Ciri yang lain, biasanya terdapat bukit kerucut atau menara.

 ——Gambar 6.32. Proses terbentuknya bentanglahan karst—–

 Pembahasan mengenai terbentuknya bentanglahan karst diawali dari pembahasan tentang batuan karbonat. Batuan karbonat merupakan batuan yang penyusun utamanya mineral karbonat. Secara umum, batuan karbonat dikenal sebagai batugamping, walaupun sebenarnya terdapat jenis yang lain yaitu dolostone. Batuan karbonat dapat terbentuk di berbagai lingkungan pengendapan. Umumnya batuan ini terbentuk pada lingkungan laut, terutama laut dangkal. Hal tersebut dikarenakan batuan karbonat dibentuk oleh zat organik yang umumnya subur di daerah yang masih mendapat sinar matahari, kaya akan nutrisi, dan lain-lain. Karena faktor yang mempengaruhi pembentukan batuan karbonat bermacam-macam menyebabkan bentang alam yang dibentuk oleh batuan karbonat juga beraneka ragam. Batuan karbonat, khususnya batugamping, memiliki sifat mudah larut dalam air. Hal ini dapat dijumpai terutama pada batugamping yang berkadar CO2 tinggi. Pelarutan tersebut akan menghasilkan bentukan-bentukan yang khas yang tidak dapat dijumpai pada batuan jenis lain. Gejala pelarutan ini merupakan awal proses karstifikasi. Morfologi yang dihasilkan oleh batuan karbonat yang mengalami karstifikasi dikenal dengan sebutan bentang alam kars.

 ——Gambar 6.33 Sistem Kerja Karst—-
(http://www.hereischina.com/features/karst/whatiskarst.htm)

Bentuk topografi bentang alam ini khas, seperti doline, sinkhole, karst window, tower karts, terarosa, pepino hill, uvala, natural bridge, gua, dll. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan topografi ini diantaranya:

  1. Faktor fisik, seperti ketebalan batu gamping, orositas dan permeabilitas batu gamping, dan intensitas struktur (kekar) yang mengenai batu gamping tersebut.
  2. Faktor kimia, seperti kondisi kimia batuan dan kondisi kimiawi media pelarut.
  3. Faktor biologis, seperti aktivitas tumbuhan dan mikrobiologi dan aktivitas manusia dan hewan walaupun secara tidak langsung
  4. Faktor iklim dan lingkungan

 Sebagian besar kawasan kars di Indonesia tersusun oleh batuan karbonat, dan hampir tidak ada yang tersusun oleh batuan lain seperti gipsum, batugaram, maupun batuan evaporit. Hampir di setiap pulau di Indonesia memiliki batuan karbonat, tapi tidak semuanya terkarstifikasi menjadi kawasan kars. Kars di indonesia tersebar di sebagian besar pulau-pulau di Indonesia, namun demikian tidak semuanya berkembang dengan baik. Balazs (1968) selanjutnya mengidentifikasi, terdapat 17 kawasan kars mayor di Indonesia. Diantara kawasan kars tersebut, terdapat dua kawasan kars yang paling baik dan dianggap sebagai prototipe dari kars daerah tropis, yaitu kars Maros (Sulawesi) dan Kars Gunung Sewu (Jawa).

 Hampir semua daerah yang memiliki bentang alam kars mempunyai bentukan-bentukan yang khas di setiap daerah. Perbedaan-perbedaan tersebut menjadi dasar pengelompokan kawasan kars di Indonesia, yang antara lain adalah:

a. Tipe Gunung Sewu
Tipe ini hadir berupa kawasan kars yang luas dan dicirikan bukit gamping berbentuk kerucut (konical) dan kubah yang jumlahnya ribuan. Selain itu di dapati adanya lembah dolin dan polje diantara bukit-bukit tersebut. Di dalam dolin didapati adanya terrarosa yang menahan air sehingga tidak bocor ke dalam tanah. Terrarosa juga digunakan untuk lahan pertanian. Sungai-sungai yang mengalir masuk kebawah permukaan tanah melalui mulut-mulut gua maupun dari sink yang ada. Sungai-sungai yang mengair di bawah tanah akan bergabung membentuk sistem besar. Arah aliran sungai umumnya dikendalikan oleh struktur geologi. Tipe ini berkembang di sepanjang jalur pegunungan selatan dari Jawa Timur hingga Yogyakarta.

b. Tipe Gombong
Bentang alam kars dicirikan oleh pembentukan cockpit, terutama yang dijumpai di daerah selatan Gombong (daerah Karangbolong). Bentukan depresi yang ada umumnya dibatasi oleh lereng yang terjal dan kadang dijumpai bentukan seperti bintang. Karena batugamping berada di atas lapisan batuan yang kedap air maka batas antara keduanya menjadi tempat keluarnya mata air.

c. Tipe Maros
Tipe ini dicirikan oleh bukit-bukit yang berbentuk menara (tower karst/ mogote). Pembentukan bentan alam ini berkaitan dengan bidang retakan (kekar dan sesar) yang arahnya berkedudukan tegak atau hanpir tegak. Tinggi menara antara 50-200 meter, berlereng terjal dan datar pada bagian puncaknya. Diantara bukit-bukit tersebut terdapat lembah-lembah sempit, berdasar rata, berbentuk memanjang. Bentukan yang khas ini dijumpai di daerah Maros, Sulawesi Selatan.

d. Tipe Wawolesea
Tipe ini dicirikan adanya lorong-lorong yang terisi oleh air panas dan di beberapa tempat terdapat jembatan alam (natural bridge). Tipe ini dicirikan terutama oleh kontrol hidrologi air panas sehingga terjadi proses pengendapan ulang larutan kalsit yang membentuk undak travertin yang beraneka ragam serta jarang dijumpai di tempat lain.

e. Tipe Semau
Tipe ini merupakan tipe kawasan kars yang melibatkan batugamping yang berumur muda (Kala Kwarter). Bentang alam yang dijumpai berupa surupan (sink) dan lorong-lorong gua yang pendek. Undak-undak pantai yang disusun oleh koral dapat mencapai tebal 25-100 meter dan mengalami pengangkatan 2,5 cm/tahun. Tipe Semau dijumpai pada P. Semau sebelah barat Kupang, NTT.

f. Tipe Nusa Penida
Pulau Nusa Penida yang terletak di sebelah selatan P. Bali memiliki kawasan karst yang tersusun atas batugamping klastik dan non klastik. Pada batugamping klastik terdapat sisipan batuan berukuran halus dan kedap air. Adanya perulangan jenis batuan menyebakan terjadi keluaran air tanah yang bertingkat. Bentang alam dolin dan bukit kerucut tidak berkembang dengan baik. Gua-gua juga tidak berkembang dengan baik.

g. Tipe Irian
Berdasar informasi yang ada, tipe kars di Irian dicirikan oleh adanya gua-gua panjang. Kars disusun oleh batugamping klastik dan bioklastik, bahkan telah terubah menjadi metasedimen akibat kontak dengan intrusi batuan beku.

6.5.1. Potensi Karst Jawa

 Berdasarkan Peta Ekonusa Jawa, sumberdaya alam karst Pulau Jawa secara dominan terdapat di zona selatan Jawa, yang menempati sebagian daerah Pangandaran (Ciamis) di Provinsi Jawa Barat; Nusakambangan dan Karangbolong (Kebumen) di Provinsi Jawa Tengah; jalur Perbukitan Gunungsewu, mulai dari Kabupaten Gunungkidul di Provinsi D.I. Yogyakarta, Wonogiri di Provinsi Jawa Tengah hingga Pacitan Provinsi Jawa Timur; jalur perbukitan selatan mulai dari Tulungagung, Blitar, hingga Malang; serta Pulau Barung di Jember dan Blambangan di Banyuwangi Provinsi Jawa Timur.

 Secara lokal-lokal juga tersebar di zona utara Jawa, yang menempati sebagian daerah di Cibinong (Bogor) dan Purwakarta Provinsi Jawa Barat; sebagian daerah Grobogan, Pati, dan Rembang Provinsi Jawa Tengah; serta di sebagian daerah Bojonegoro, Nganjuk, dan Pulau Madura (dari Bangkalan, Pamekasan, hingga Sumenep) Provinsi Jawa Timur. Total luas satuan ekonusa perbukitan solusional (karst) di Pulau Jawa sebesar 5.414,48 Km2. Satuan ini umumnya menempati daerah dengan iklim basah bercurah hujan tinggi sebagai media utama proses pelarutan batuan (solusional), dan mempunyai perbedaan yang tegas antara musim kemarau dan penghujan. Peta potensi karst Pulau Jawa terlihat pada gambar 6.34.

 —–Gambar 6.34. Peta Persebaran blok-blok kawasan karst—–

  Material dominan adalah batuan sedimen organik atau non klastik, berupa batugamping terumbu (limestone, CaCO3), batugamping napal, atau batugamping dolomit, yang pada beberapa tempat telah mengalami metamorfosis menjadi kalsit. Batuan ini terbentuk dari hasil metamorfosis terumbu yang tumbuh pada lingkungan laut dangkal (lithoral), yang mengalami pengangkatan oleh tektonik dan gunungapi purba.

 Blok-blok kawasan karst tersebar mulai dari Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Beberapa blok kawasan karst yang sudah dikenal antara lain: karst Ujung Kulon (Banten); karst Sukabumi, Bogor, Padalarang, dan Ciamis di Jawa Barat; karst Gombong, Menoreh dan Grobogan di Jawa Tengah; karst Gunung Sewu di Yogyakarta; karst Pacitan, Tulungagung, Malang, Tuban, Gresik, Madura dan Alas Purwo di Jawa Timur.

- Potensi Flora Karst
Ekosistem Karst memiliki berbagai jenis flora yang spesifik dan unik karena pengaruh bentangalam karst yang juga unik. Keunikan bentang alam karst diantaranya; kandungan mineral kalsium yang tinggi, kekurangan air di permukaan, tanah tipis dan bahkan ada yang tidak bertanah, permukaan kasar, licin, retak, dll. Flora ekosistem karst memiliki fungsi ekonomis maupun ekologis yang sangat tinggi, baik dalam bentuk herba, perdu maupun pohon. Berbagai jenis tumbuhan baik yang endemik maupun eksotik yang tumbuh di tanah karst memberikan fungsi sebagai tumbuhan obat, pangan, buah, bahan bangunan, pakan ternak dan bahkan hiasan. Beberapa tumbuhan yang berguna sebagai obat, antara lain: Gandul atau pepaya (Carica papaya L.), Wedusan  (Ageratum conyzoides),  Bribil (Gallinsoga parviflora Cav.), Songgo Langit (Tridax procumbens L.), Gewor (Commelina nudiflora L.),  Jarak (Jatropha curcas),  Waru (Hibiscus tiliaceus),  Putri Malu (Mimosa pudica L.),  Kembang Telang (Centrosaema pubescens Benth.) Suruhan (Peperomia pelucida), Pecut Kuda (Stachytarpheta jamaicensis (L.) Vahl) dan lain-lain. Berikut ini beberapa gambar flora yang biasa tumbuh baik di ekosistem karst.

——-Gambar 6.35. Berbagai tanaman di ekosistem karst—–

  Berbagai tumbuhan lainnya yang terdapat di ekosistem karst dengan kegunaan masing-masing diantaranya: Manihot esculenta Crantz (Singkong) sebagai tanaman pangan dan sayuran, Euphorbia milii (Mahkota Duri) sebagai tanaman hias, Hyptis capitata (Srengenge) sebagai tanaman hias juga bahan pangan,   Urena lobata L.   sebagai tumbuhan obat, Swietenia macrophylla (Mahoni) berfungsi sebagai tanaman peneduh juga bahan bangunan, Acacia auriculiformis A. Cunn. Ex Bl. (Akasia) selain sebagai kayu bakar juga bahan bangunan, bahan kertas dan peti kemasan,   Platyseranthes falcatarius (Sengon)  sebagai bahan bangunan, Arachis hypogea L. (Kacang Tanah) sebagai Tanaman pangan, Eleusin indica (L.) Gaertner sebagai tumbuhan obat dan pakan ternak, Eragrostis brownii Nees ex Hook. & Arnott sebagai Pakan Ternak, Imperata cylindrica (L.) Raeuschel (Alang-alang) sebagai Tumbuhan obat, Panicum repens L. Digunakan untuk Pakan Ternak, Paspalum conjugatum Bergius juga sebagai Pakan Ternak,   Tectona grandis (Jati) sebagai bahan bangunan, Anthocephalus cadamba (Jabon) selain sebagai bahan baku kertas juga bisa digunakan sebagai bahan bangunan, dan lain-lain.

——Gambar 6.36. Berbagai pohon bernilai ekonomis tinggi di ekosistem karst.——

 - Potensi Fauna Karst
Semua kelompok takson ada di ekosistem karst: mamalia, burung, reptil, amfibi, ikan, moluska, serangga, arthropoda  dan invertebrata lain. Peran mereka di dalam ekosistem adalah sebagai; (1) Pemangsa & pemarasit, (2) Penyerbuk bunga, (3) Pemencar biji, (4) Indikator hayati, (5) Perombak bahan organik dan (6) Penyeimbang ekosistem. Pemangsa, terutama berperan sebagai pengendali hama pertanian. Hyposideros sp. (kelelawar) dengan bobot tubuh 40 gram mampu melahap pakan 10 gram. Setara dengan 1000 ekor serangga kecil yang berbobot 0,2 mgr. Kalau satu koloni kelelawar dengan jumlah 1000 ekor akan  menghilangkan jutaan serangga/hari. Hal ini akan sangat berguna sebagai faktor pengendali hama yang sangat efektif dibandingkan insektisida. Beberapa jenis hewan pemangsa yang hidup di eksistem karst, beberapa contohnya terdapat pada gambar berikut ini.

Gambar 6.37. Berbagai jenis pemangsa eksokarst.

 Selain eksokarst, fauna khas gua karst (endokarst) juga sangat kaya. Beberapa jenis yang berperan sebagai pemangsa diantaranya dapat dilihat pada gambar 6.38 di samping ini.

 ——Gambar 6.38. Berbagai jenis fauna endokarst yang juga berperan sebagai pemangsa——

 Pada kelompok penyerbuk, ada dua kelompok utama yang sangat berperan dalam penyerbukan, yaitu kelelawar dan kupu-kupu. Paling tidak ada 18 spesies tanaman yang penyerbukannya banyak dibantu oleh kelelawar, yaitu kapuk randu, pisang, durian, aren, nangka, rambutan, srikaya, sirsak, dan aren. Berbagai jenis kupu-kupu yang hidup di ekosistem krast sebagian dapat dilihat pada gambar berikut ini.

——Gambar 6.40. Berbagai jenis kupu-kupu di ekosistem karst (sbg. Penyerbuk)——

 - Potensi Sumberdaya Air Karst
Kondisi permukaan wilayah bertopografi karst pada umumnya kering dan kritis. Namun demikian, di bagian bawah permukaan terdapat potensi sumber air yang sangat berlimpah. Sumber air Baron di karst Gunungsewu – Yogyakarta adalah contoh melimpahnya air sungai bawah tanah daerah karst. Potensi yang terkandung pada sumber air tersebut mencapai 8000 liter/detik (Adji, 2006), sementara hingga saat ini yang termanfaatkan baru mencapai 15 liter/detik (Sunarto, 2002).

 Sifat batuan karbonat ataupun dolomit yang menjadi penyusun utama bentang lahan karst adalah memiliki banyak rekahan, celah, dan rongga pada bagian permukaan. Bagian tersebut dinamakan dengan zona epikarst. Zona ini menjadi zona penangkap air yang jatuh ditempat tersebut. Celah, rekah, dan rongga tersebut akan terhubung dengan lorong-lorong konduit yang berada di zona vadose yang berada dibawah zona epikarst. Air yang ada di permukaan pada zona epikarst akan terresap ke lorong sungai bawah tanah melalui rekahan-rekahan tersebut menuju lorong-lorong sungai bawah tanah di zona vadose. Zona vadose merupakan bagian batuan karbonat yang tebal, dan tidak banyak memiliki rekah. Pada zona ini lorong-lorong konduit terbentuk. Lorong konduit ini dapat dilihat dalam bentuk gua ataupun lorong sungai bawah tanah.

——-Gambar 6.41. Sungai bawah tanah Gua Bribin, Gunung Kidul——-
(http://umum.kompasiana.com/2010/02/23/di-goa-bribin-sumber-air-berlimpah/)

 Penambangan di wilayah karst biasanya mengambil batu gamping hingga mencapai lapisan zona vadose. Penggalian batu gamping seperti pada bukit-bukit karst akan menghilangkan zona epikart yang sangat penting sebagai lapisan penangkap air. Hilangnya zona epikart ini tentu saja akan mematikan imbuhan air ke dalam lorong-lorong konduit atau sungai-sungai bawah tanah. Air tidak dapat terresapkan ke dalam jaringan sungai bawah tanah tersebut. Air akan melimpas di permukaan dan dapat membentuk air larian dengan volume yang besar dan banjir. Akibatnya tentu adalah matinya sungai-sungai bawah tanah, matinya mata air di kawasan karst, serta potensi bencana banjir pada saat hujan.

 Selain Gua Bribin, terdapat pula Luweng Plawan  atau Gua Plawan. Menurut survey yang sudah dilakukan pada tahun 1999 dan 2004, sumber air Gua Plawan ini tidak pernah kering meskipun terjadi musim kemarau panjang. Debit yang tersedia di dalam gua kira-kira 40 liter per detik, dan pada musim hujan bisa mencapai 200  liter per detik. Dengan debit air ini diperkirakan 2 desa dapat terlayani (Yayasan  Acintyacunyata Yogyakarta dan Direktorat Tata Lingkungan Geologi  dan  Kawasan  Pertambangan,  Direktorat  Jendral  Geologi  dan  Sumber Daya Mineral, 2004). Dengan demikian, Gua Plawan merupakan gua yang paling berpotensi untuk ketersediaan air di wilayah tersebut. Diperkirakan sumber air ini mampu memenuhi kebutuhan air bersih untuk Kecamatan Purwosari, khususnya untuk Desa Giricahyo yang setiap tahun dilanda kekeringan.

 ———–Gambar 6.42. Kondisi sumberdaya air Gua Plawan dan Pantai Baron————

 Potensi sumberdaya air karst lainnya ada di Gua Seropan, Gunung Kidul. Sungai Bawah tanah Seropan ini, menurut penelitian Acintyacunyata Speleological Club (ASC) memiliki debit air maksimal 750 liter per detik. Sumber air ini cukup besar setelah Bribin. Sumberdaya air ini juga masih belum termanfaatkan secara maksimal. Baru beberapa wilayah seperti Semanu dan sebagian wilayah Ponjong, termasuk wilayah Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah yang memanfaatkan sumber air ini.

- Karst Gunung Sewu
Gunung Sewu merupakan salah satu kawasan karst yang paling terkenal di Jawa karena kekhasan dan keunikan karstnya. Bentukan khas “conical hills” yaitu bentukan deretan bukit-bukit kecil yang jumlahnya ribuan  diperkirakan 40.000 bukit (Balazs, 1968) sehingga disebut dengan pegunungan seribu (Gunung Sewu). Luasan endapan gampingnya mencapai 1300 km2. Panjang karst dari barat-timur mencapai 85 km sedangkan lebar utara selatan bervariasi dari 10-15 km. Gunung sewu secara geologi terbuat dari limestone berumur Neogene (Miosen Tengah). Ketebalan endapan limestone ini (Wonosari Beds) mencapai lebih dari 200 m.

——–Gambar 6.43. Karst Gunung Sewu———-

 Kawasan ini sudah sangat terkenal sehingga telah banyak gua yang dipetakan dengan berbagai tipe gua dari horisontal sampai vertikal. Gua yang paling panjang adalah Luweng Jaran di Pacitan dengan panjang mencapai 25 km sedangkan gua paling dalam adalah Luweng Ngepoh sekitar 200 m. Survai gua dilakukan oleh BCRA pada tahun 1982-1984 (Mac Donald and Partners 1984).
Survai fauna gua juga telah banyak dilakukan di kawasan ini namun masih sangat sedikit yang dipublikasi. Tercatat ada beberapa troglobit dan stigobit yang ditemukan di Gunung Sewu yaitu: Macrobrachium poeti (Crustacea/Udang) (Holthuis 1984), Karstarma jacobsoni (Crustacea/ Kepiting) (Ihle 1912), Javanoscia elongata (Isopoda), dan Tenebrioscia antennuata (Isopoda), populasi ikan yang ditemukan adalah populasi Puntius microps.

Potensi Vegetasi kawasan karst Gunung Sewu 

 Suwarno Hadisusanto (Lab. Ekologi Fak. Biologi UGM) pada Workshop Berbagai Informasi Untuk Meningkatkan Upaya Konservasi Kawasan Kawasan Karst Gunung Sewu dan Menoreh yang diselenggarakan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Yogyakarta (18 – 19 Oktober 2011), menyatakan bahwa Vegetasi eksokarst sangat tergantung kondisi situs di tumbuhnya tegakan. Penelitian di Karst Gunung Sewu terutama di Gunung Kidul (di bagian barat) dan di Punung dan Pringkuku (di bagian timur) cukup banyak ditemukan jenis vegetasi karst, sedikitnya terdapat 65 famili termasuk di dalamnya ada  253 spesies. Tabel di bawah menyajikan hasil identifikasi di kawasan Girisubo, Mulo, Paliyan, Saptosari dan Purwosari (Gunung Kidul).

 Komunitas vegetasi di kawasan ini termasuk tinggi bagi ekosistem karst karena kondisinya termasuk ekstrim. Tiga puluh tujuh spesies tumbuhan yang tergolong kedalam  20 famili yang frekuensinya tertinggi. Sebenarnya masih ada spesies lain yang ditemukan tetapi tidak cukup banyak sehingga dimasukkan kedalam tabel sendiri yaitu spesies yang berpotensi untuk dikembangkan ke masa depan. Kawasan karst kaya dengan potensi yang ada, dari kebutuhan kayu untuk bangunan, buah yang langsung dimakan maupun yang diproses dan berbagai daun dan umbi bahkan minyak atsiri yang dapat dimanfaatkan kesejahteraan masyarakat. Namun demikian sebenarnya semua anggota komunitas mempunyai fungsi ekologis, hanya tingkatannya yang berbeda-beda.

—–Tabel 6.22. Jenis tumbuhan kawasan karst perbukitan di Gunung Kidul—-

 Pada Tabel 6.22 Disajikan komunitas tumbuhan yang teramati di ekosistem karst Gunung Sewu yang berbatasan dengan pantai. Lokasi yang dicuplik yaitu Sadeng dan Wediombo. Anggota komunitas tidak sebanyak di perbukitan hanya ada 32 spesies yang tergolong kedalam 21 famili. Sebagian besar dari anggota komunitas tersebut sama antara perbukitan dengan di kawasan pesisir, contoh pule, ringin, kasang, awar-awar, gedoya,kesambi, lutungan dan lain-lain. Beberapa spesies baru muncul di kawasan pesisir antara lain yaitu keben, widuri, wadang, dan miri.

 Perbedaan ketinggian tempat tidak berpengaruh besar terhadap anggota komunitas ekosistem karst di Gunung Sewu (Gunung Kidul). Namun demikian dengan muculnya Liyaceae di kawasan pesisir menunjukkan ada kondisi iklim lokal yang mampu memberikan kesempatan pada lilyaceae tersebut untuk tumbuh. Dengan kata lain, memberikan kesempatan tumbuh juga untuk spesies yang memerlukan kondisi tersebut seperti jenis lili yang lain.

—-Tabel 6.23. Jenis tumbuhan di ekosistem karst kawasan pantai di Gunung Kidul—-

—–Tabel 6.24 menyajikan komunitas tumbuhan di gunung Sewu kawasan timur yaitu di Pringkuku, Punung, dan Donorojo (Pacitan bagian barat)

————-Tabel 6.24. Jenis tumbuhan di ekosistem karst kawasan Punung, Donorojo
dan Pringkuku (Pacitan)————

 Variasi tumbuhan di kawasan karst di Pringkuku, Punung, dan Donorojo secara umum hampir sama diversitasnya, namun demikian keseluruhan di Gunung Sewu bagian timur lebih banyak. Hal ini diduga karena terpengaruh formasi di bagian utara kawasan sebelah utara Pacitan bagian barat.

 Selain flora dan fauna eksokarst yang kaya, ekosistem karst juga menyimpan flora dan fauna endokarst yang khas dan unik. Sebanyak 120 spesies plankton itu terdiri atas 55 spesies fitoplankton dan 65 spesies zooplankton. Sebanyak 76 spesies ditemukan di perairan gua, dan 44 spesies ditemukan di perairan telaga. Menurutnya, spesies sebanyak itu terdiri atas lima spesies dari Divisi Cyanophyta, 26 spesies Divisi Chlorophyta, 22 spesies Divisi Crysophyta, dua spesies Divisi Euglenophyta, 88 spesies Rotifera, dan 14 spesies Crustacea.

Potensi Gua

 Bagus Yulianto dari Yayasan Acintyacunyata Yogyakarta menyatakan bahwa cukup banyak potensi dari kawasan karst Gunungsewu, baik potensi eksokarst maupun endokarst yang terlihat pada Gambar 6.45. Bahkan dari data sebaran gua di kabupaten Gunungkidul saja terdapat lebih dari 50 gua yang memiliki potensi sumber air. Meski belum semua sumber air di dalam gua tersebut dapat dimanfaatkan tetapi setidaknya ada 5 sistem sungai bawah tanah yang sudah dimanfaatkan sebagai sumber air bersih.  Pelacakan dan pendataan gua-gua baru yang saat ini masih dilakukan bertujuan untuk mencari keberadaan potensi sumber air bagi masyarakat Gunungkidul. Pendataan dilakukan pada hulu sungai bawah tanah Gua Bribin, Gua Seropan dan Gua Ngobaran sebagai langkah pelestarian daerah tangkapan airnya. Pada kawasan pesisir juga dilakukan pelacakan munculan air tawar, untuk selanjutnya dilacak sebaran gua ke arah hulunya. Diharapkan dengan metode ini dapat dijumpai system sungai bawah tanah yang belum terdata di kawasan karst Gunungsewu.

Gambar 6.44. Peta sebaran gua di kabupaten Gunungkidul (Sumber: ASC Yogyakarta

Gambar 6.45. Peta sebaran gua di kawasan karst Gunungsewu (Sumber: Yayasan Acintyacunyata Yogyakarta)

 Potensi wisata karst sudah mulai berkembang dengan memadukan keindahan gua-gua alami dan wisata eksokarst. Berbeda dengan pola pengembangan wisata gua di kabupaten Wonogiri dan kabupaten Pacitan, pengembangan wisata gua di kabupaten Gunungkidul telah melibatkan masyarakat setempat sebagai pengelolanya. Diharapkan potensi wisata karst ini dapat menjadi alternatif profesi bagi masyarakat Gunungkidul, sehingga kegiatan eksploitasi yang saat ini masih berlangsung dapat dialihkan menjadi kegiatan pelestarian kawasan.

 Kawasan karst Menoreh yang mencakup kabupaten Purworejo dan Kabupaten Kulon Progo belum banyak terjamah oleh para peneliti. Data awal yang berhasil didapat adalah pendataan sebaran mulut gua yang dilakukan oleh Hikespi tahun 1984, tetapi data sebaran gua ini masih mencantumkan lokasi administrasi saja. Sebanyak 36 gua dengan 75 entrance berhasil di data oleh Hikespi, data ini kemudian ditindaklanjuti oleh mahasiswa Pecinta Alam fakultas Geografi UGM dengan mengambil koordinat mulut gua tersebut. Pada tahun 2007 Pecinta Alam mahasiswa Atmajaya melakukan ekspedisi speleologi di kawasan karst Menoreh, untuk mengeksplorasi gua-gua yang ada di kawasan ini.

Gambar 6.46. Peta sebaran gua di kawasan karst Menoreh (Sumber: Pecinta Alam Fakultas Geografi UGM)

- Karst Gombong

 Melalui Kepmen ESDM Nomor 961 K/40/MEM/2003, pada 23 Juli 2003, pemerintah menetapkan Kawasan Karst Gombong Selatan sebagai kawasan lindung. Kawasan karst Gombong terbentang seluas 48,94 km2 meliputi Kecamatan Ayah, Rowokele dan Buayan. Bahkan tahun 2004, Presiden SBY mencanangkan Wilayah Geologi Gunungsewu dan Gombong Selatan sebagai Kawasan Eko Karst.

 Kawasan karst Gombong Selatan merupakan salah satu daerah wisata dengan objek gua, juga merupakan habitat satwa seperti ular, walet, dan kelelawar, serta kawasan hutan produksi maupun hutan lindung. Berdasarkan survei yang dilakukan tim tata ruang Pemkab Kebumen di Gombong Selatan, ditemukan 173 gua bentukan alam. Keberadaan gua dengan sungai bawah tanah seperti Gua Jatijajar, Gua Petruk, Gua Simbar, Gua Barat sangat menakjubkan dan menarik perhatian bagi pecinta gua (speleolog).

Gambar 6.47. Kawasan Karst Gombong Selatan Sumber: http://bloggopik.blogspot.com

Sumber Daya Geologi Karst Gombong Adanya batuan yang bervariasi serta kontrol struktur menjadikan kawasan Karst Gombong memiliki potensi berbagai bahan tambang. Antara lain berupa andesit, batu gamping, phospat, bentonit, kaolin trass, mangaan, emas dan serpih bitumen yang tersebar merata di seluruh kawasan.

 Dari studi pemetaan geologi tata lingkungan pada kawasan karst Gombong selatan yang dilakukan oleh Dinas Sumber Daya Air dan Energi Sumber Daya Mineral (SDA ESDM) Kebumen tahun 2009, potensi batu andesit terdapat di Desa Mangunweni, Candirenggo, Kalipoh, Srati, Jintung dan Adiwarno di Kecamatan Ayah dengan total cadangan sekitar 106.130.975 m3. Kualitas batu andesit bagus dan lokasi keterdapatan bukan berada di dalam kawasan karst. Dengan kualitas baik, sehingga dapat dimanfaatkan untuk bahan bangunan bertingkat. Kemudian potensi batu gamping dengan luas sebaran diperkirakan 5.083,5 hektare terdapat sekitar 389.250.000 metrik ton dengan kualitas sangat baik. Namun sekitar 60 % termasuk kawasan karst kelas I, 30 % termasuk kawasan karst kelas II dan 10 % masuk dalam kawasan karst kelas III.

 Batu gamping merupakan jenis bahan galian yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan penetral asam, sebagai kapur tohor dan kapur padam, untuk bahan bangunan, semen portland. Berdasarkan analisa kandungan CaCO3 lebih 90 %, CaO 54,38-55,50 %, MgO 0,2746-0,49 % sehingga batu gamping pada KKGS berkualitas sangat baik untuk bahan utama pembuatan semen. Luas sebaran batu gamping diperkirakan 5.083,5 hektare terdapat sekitar 389.250.000 metrik ton, pada ketinggian di atas 150 meter yang diperkirakan tidak habis dalam waktu 100 tahun. Melihat potensi itu, tidak heran jika investor PT Semen Gombong di bawah bendera Medco bernafsu mendirikan pabrik semen, meski gagal karena terkena imbas krisis moneter.

Potensi Vegetasi Karst Gombong

 Selain potensi sumberdaya geologi, karst Gombong juga menyimpan beraneka ragam jenis flora baik dari tingkat perdu hingga tingkat pancang dan pohon. Berbagai macam jenis flora beberapa diantaranya telah diketahui manfaatnya. Berikut ini daftar nama tumbuhan karst Gombong hasil penelitian Priyanti, F. Wijayanti, dan M. Rizki (Program Studi Biologi FST UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).

Tabel 6.25. Daftar Nama Tumbuhan yang ditemui di Karst Gombong

Potensi Gua Karst Gombong Selatan

 Berdasarkan survei yang dilakukan tim tata ruang Pemkab Kebumen di Gombong Selatan, ditemukan 173 gua bentukan alam. Keberadaan gua dengan sungai bawah tanah seperti Gua Jatijajar, Gua Petruk, Gua Simbar, Gua Barat sangat menakjubkan dan menarik perhatian bagi pecinta gua (speleolog). Beberapa Gua di Karst Gombong Selatan yang sudah dikenal antara lain sebagaimana tertera pada tabel berikut.

Tabel 6.26. Beberapa Gua di Karst Gombong Selatan

Gambar 6.48. Gua Petruk

 Gua Petruk terletak di Desa Candirenggo, Kec. Ayah, Kab. Kebumen. Dikelola oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Kebupem, selain sebagai obyek wisata, juga dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai tempat ziarah

Gambar 6.49. Gua Jatijajar (obyek wisata utama) Sumber: http://202.158.52.213/read/news/2011/12/03

- Karst Bogor

 Kawasan karst di Bogor meliputi kawasan karst Jagabaya di Parung Panjang, Cibodas (Ciampea) dan Cibinong. Karst Jagabaya yang berumur Miosen terdapat satu komplek gua wisata yaitu Gua Gudawang. Karst Cibodas di Ciampea merupakan batuan kapur dengan bukit kapur yang tinggi berumur Miosen. Sedangkan karst Cibinong berumur Pliosen Bawah dengan luasan sekitar 15 km2. Semua kawasan karst tersebut terancam aktifitas penambangan batu kapur oleh pabrik semen maupun penambangan kapur ilegal. Kawasan kapur Cibinong merupakan salah satu kawasan yang beroperasi dua pabrik semen yaitu Semen Cibinong dan Indocement.

 Survei fauna yang dilakukan belum menyeluruh namun sudah diperoleh gambaran kekayaan fauna gua. Di daerah Bogor gua-guanya didominasi oleh troglofil dari kelompok Amblypygi (Stygophrynus dammermanni dan Sarax javensis), Uropygi (Thelyphonus caudatus) dan jangkrik gua (Rhaphidophora dammermani). Di Gua Gudawang banyak ditemukan kala cukak, kala cemeti dan jangkrik gua serta udang-udang dan kepiting yang menghuni sungai bawah tanah. Di Gua Cikaray, Citeureup ditemukan catatan baru Isopoda akuatik yang khas gua (stigobit) yaitu, Stenasellus sp. yang sebelumnya tidak ditemukan di Jawa tapi hanya ditemukan di Thailand, Sumatra, Sarawak (Magniez 2003) dan Kalimantan (Rahmadi dan Suhardjono 2004). Temuan ini sangat menarik dalam wacana keanekaragaman hayati gua di Jawa.

 Beberapa gua di Karst Cibinong yang dikenal luas di para pegiat caving salah satunya adalah Gua Cikaray yang merupakan gua horisontal dengan aliran sungai bawah tanah yang tidak terlalu besar. Gua yang lain adalah Gua Garunggang terletak di sebuah lembah sungai kering dengan bentukan karst yang tidak nampak jelas. Berikutnya adalah Gua Kenceng adalah gua yang cukup menarik untuk ditelusuri.

 - Karst Sukolilo

 Kawasan karst Sukolilo terletak di Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Berdasarkan pengklasifikasian fisiografi Jawa (Bemmelen, 1949), Kawasan Karst Sukolilo Pati terletak pada pegunungan Kendeng (antiklinorium Bogor – Serayu Utara – Kendeng). Tepatnya pada Pegunungan Kendeng Utara yang merupakan lipatan perbukitan dengan sumbu membujur dari arah Barat – Timur dan sayap lipatan berarah Utara- Selatan.

 Morfologi Kawasan Karst Sukolilo Pati secara regional merupakan komplek perbukitan karst yang teletak pada struktur perbukitan lipatan.Setelah perlipatan mengalami proses pelarutan, pada bagian puncak perbukitan Karst di permukaan (eksokarst) ditemukan morfologi bukit-bukit kerucut (conical hills), cekungan-cekungan hasil pelarutan (dolina), lembah-lembah aliran sungai yang membentuk mulut gua (Sinkhole), mata air dan telaga karst ditemukan pada bagian bawah tebing. Morfologi bawah permukaan (endokarst) kawasan karst tersebut terbentuk morfologi sistem perguaan dan sungai bawah tanah. Pada bagian Utara dan Selatan batas akhir batuan kapur/ batugamping merupakan dataran.

 Ketinggian tertinggi komplek perbukitan karst ini antara 300 – 530 mdpl. Bagian Selatan dari perbukitan tersebut terdapat tebing yang memanjang dari Barat – Selatan dengan kemiringan lereng tegak hingga agak curam. Bagian ini merupakan blok struktur patahan dari komplek Perbukitan Karst Sukolilo Pati yang terbentuk saat proses pengangkatan Pegunungan Kendeng Utara. Stratigrafi kawasan Karst Kendeng Utara masuk kedalam Formasi Bulu dengan batuan penyusun (litologi) batu gamping masif yang mengandung koral, alga dan perlapisan batugamping yang juga mengandung foram laut berupa koral, orbitoid dan alga. Sesekali diselangselingi oleh Batupasir Kuarsa bersifat karbonatan. Formasi Bulu penyusun kawasan Karst Grobogan ini terbentuk pada masa Meosen Tengah – Meosen Atas, terbentuk 25 juta tahun yang lalu berdasarkan skala waktu geologi.

 Struktur geologi yang berkembang di Kawasan Karst Sukolilo adalah struktur sinklinal. Pada bagian Formasi Bulu yang menjadi kawasan karst merupakan bagian dari sinklin dengan arah sayap lipatan Utara – Selatan. Sumbu sinklin terdapat pada bagian puncak komplek perbukitan karst yang memanjang dari Beketel hingga wilayah Wirosari, perbatasan dengan Blora. Terdapat juga struktur patahan yang berarah relatif Timur Laut – Barat Daya. Kondisi struktur geologi demikian menyebabkan batugamping sebagai batuan dasar penyusun formasi Karst Sukolilo Pati memiliki banyak rekahan, baik yang berukuran minor maupun mayor. Rekahan-rekahan ini merupakan cikal bakal pembentukan dan perkembangan sistem perguaan di kawasan karst setelah mengalami proses pelarutan dalam ruang dan waktu geologi.

 Terdapat beberapa gua di Karst Sukolilo, seperti Gua Kembang di Dusun Wates, Gua Lowo Misik, Gua Kalisampang, Gua Tangis, Gua Telo, Gua Ngancar, dan Sumur Jolot Dusun Kancil, Desa Sumber Mulyo Pati. Gua Urang di Dsn. Guwo, Kemadoh Batur, Grobogan Gua Bandung, Gua Serut, Gua Gondang dan Gua Banyu Desa Sukililo dan Gua Wareh Desa Kedungmulyo, Kecamatan Sukolilo serta Gua Pancur di Kecamatan Kayen. Pada musim hujan mulut-mulut gua tersebut merupakan jalur sungai periodik yang masuk kedalam gua dan juga sebagai sungai utama yang keluar dari dalam gua. Pada umumnya gua-gua horizontal di kawasan ini berkembang mengikuti pola perlapisan batuan dasarnya dengan kemiringan lapisan ke arah Utara sehingga akumulasi sungai-sungai permukaan akan terpusat pada daerah-daerah bawah yang keluar melalui mata air ataupun mulut-mulut gua.

 Pola hidrogeologi Kawasan Karst Sukolilo Pati secara regional adalah pola aliran paralel dimana terdapat penjajaran mataair dan mengikuti struktur geologi yang ada. Pola aliran seperti ini merupakan cerminan bahwa pola aliran sungai di Kawasan Karst Sukolilo Pati dipengaruhi oleh struktur geologi yang berkembang. Sungai-sungai yang mengalir dibagi menjadi dua zona, yaitu zona aliran Utara dan zona aliran Selatan. Baik zona Utara maupun Selatan adalah sungai-sungai yang muncul dari rekahan batugamping kawasan tersebut atau Karst Spring dengan tipe mata air karst rekahan (fracture springs). Terbentuknya mataair rekahan tersebut akibat terjadinya patahan pada blok batugamping di kawasan ini saat proses pengangkatan dan perlipatan.

 Zona ditemukannya penjajaran mata air tersebut merupakan batas zona jenuh air di Kawasan Karst Sukolilo Pati. Pada Zona Utara pemunculan mata air karst berada pada daerah-daerah berelief rendah hingga dataran dengan kisaran ketinggian 20 – 100 mdpl dan pada Zona Selatan muncul pada ketinggian antara 100 – 350 mdpl. Bukti lain bahwa proses karstifikasi kawasan ini masih berlanjut dan masih merupakan fungsi hidrologis adalah ditemukannya sungai-sungai bawah permukaan yang keluar sebagai aliran permukaan melalui corridor-corridor mulut gua yang ada pada daerah Sukolilo. Bukti ini dapat dilihat dari sungai bawah tanah yang terdapat di Gua Wareh, Gua Gua Gondang, Gua Banyu dan Gua Pancuran. Keempat gua tersebut merupakan sistem perguaan sekaligus sistem sungai bawah tanah yang masih aktif. Fenomena tersebut memberikan gambaran bahwa perbukitan Kawasan Karst Sukolilo Pati berfungsi sebagai kawasan resapan air (recharge area), kemudian air resapan tersebut terdistribusi keluar melalui mata air-mata air yang bermunculan di bagian permukiman dan di daerah-daerah dataran sekitar Kawasan Karst Pati.

 Dalam Kawasan Karst Kendeng ini terdapat 33 sumber mata air yang mengelilingi Kawasan Karst Grobogan dan 79 sumber mata air yang mengelilingi Kawasan Karst Sukolilo Pati (Kendeng utara). Keseluruhan mata air tersebut bersifat parenial artiya terus mengalir dalam debit yang konstan meskipun pada musim kemarau. Pada musim kemarau berdasarkan perhitungan dari 38 sumber air yang ada di kawasan Sukolilo mencapai lebih dari 1000 lt/dtk, dan mencukupi kebutuhan air lebih dari 7882 KK yang ada di Kecamatan Sukolilo.

- Potensi Gua

Gua adalah salah satu bentukan unik yang terbentuk oleh adanya proses pelarutan material kapur di kawasan karst. Gua memiliki peranan yang sangat penting, baik dari kepentingan ekologis, ekonomis maupun budaya. Jumlah gua di seluruh wilayah karst di Jawa tentu sangat banyak (ribuan), namun tidak seluruh potensi gua telah dikenal dan terkelola dengan baik. Beberapa gua yang sudah cukup dikenal antara lain:

1. Gua Jatijajar

Gua Jatijajar terletak 42 Km sebelah barat daya kota Kebumen. Legenda di dalam gua menggambarkan legenda Raden Kamandaka atau legenda lutung kasarung. Panjang gua adalah 250 meter. Di area Gua Jatijajar ini juga terdapat beberapa gua lainnya, seperti Gua Intan dan Gua Dempok serta tersedia taman dan Pulau Kera.Gua Jatijajar.

2. Gua Petruk

Gua Petruk terletak tidak jauh dari Gua Jatijajar, kurang lebih 4.5 km ke arah selatan. Nama Petruk diturunkan dari nama pengikut setia Pandawa. Gua ini sangat mempesona. Tetesan air kapur selalu mengalir tiada henti. Gua ini berada di Dukuh Mandayana Desa Candirenggo Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Dari informasi masyarakat setempat, gua ini dapat ditelusuri sejauh 350 meter dan kondisinya masih alami belum tersentuh campur tangan pengelola/manusia. Gua ini juga masih bisa ditelusuri lagi dan bisa menembus ke pantai. Menurut Dr. Koo (Pakar Karst), Gua Petruk ini merupakan Gua terindah di seantero Nusantara. Stalaktit di gua petruk juga masih sering meneteskan air dan memiliki bentuk-bentuk unik stalaktit dan stalagmitnya. Nama-namanya juga unik, misalnya: batu layon (mirip mayat), bajul putih (mirip buaya), atau batu helikopter, dan lain-lain.

3. Gua Lawa

Tidak seperti gua lainnya di Indonesia yang biasanya berada di lereng bukit dan batuan kapur sehingga akan timbul stalagtit dan stalagmit, Gua Lawa ini memiliki keistimewaan karena dibentuk dari proses pendinginan lava, sehingga batuannya keras dan kuat tanpa menimbulkan stalagtit dan stalagmit. Obyek Wisata Gua Lawa ini terletak di Desa Sirawak Kecamatan Karangreja ± 27 km dari Kota Purbalingga. Udaranya sejuk dan bersih dengan panorama yang sangat indah, karena terletak dilereng sebelah timur Gunung Slamet dengan ketinggian ± 900 m di atas permukaan air laut. Gua Lawa ini terbentuk dari aliran lava yang membeku dari Gunung Slamet. Pada komplek Gua Lawa dilengkapi pula dengan beberapa sarana : Taman Lokarta, Taman Kenanga, Panggung Gembira dan Musholla.

4. Gua Seplawan

Gua Seplawan teletak di desa Donorejo kecamatan Kaligesing. Kabupaten Purworejo. Dalam gua ini ditemukan area emas Dewa Syiwa dan Dewi Parwati. Gua ini menyajikan stalagtit dan stalagmit yang menakjubkan dengan ornamen dinding gua yang menyerupai ikan. Ornamen ini menghiasi dinding gua sepanjang 700 m.

5. Gua Kreo

Gua Kreo adalah sebuah gua kecil yang dipercaya sebagai petilasan Sunan Kalijogo saat mencari kayu jati guna membangun Masjid Agung Demak. Ketika itu menurut legenda Sunan Kalijogo bertemu dengan sekawanan kera yang kemudian disuruh menjaga kayu jati tersebut. Kata “Kreo” berasal dari kata “Mangreho” yang berarti peliharalah atau jagalah. Kata inilah yang kemudian menjadikan gua ini disebut Gua Kreo dan sejak itu kawanan kera yang menghuni kawasan ini dianggap sebagai penunggu.

6. Gua Kiskendo

Gua ini terletak di desa Trayu, Kecamatan Singorojo, 15 kilometer ke arah selatan dari Kota Kendal lewat kota Kaliwungu. Di sekitar gua ini terdapat gua-gua kecil seperti Gua Lawang, Gua Pertapaan, Gua Tulangan, Gua Kempul dan Gua Kampret. Di dalam gua terdapat anak sungai yang membentuk cekungan di dalam gua yang dikenal dengan sebutan Kedung Jagan.

7. Gua Terawang

Gua Terawang merupakan obyek wisata alam, terbentuk di daerah endapan batu Gamping Pegunungan Kapur Utara berumur + 10 juta tahun. Terletak di Desa Kedungwungu Kecamatan Todanan kawasan Hutan KPH Blora + 35 Km ke arah barat dari Kota Blora. Gua Terawang mempunyai panjang alur/terawang terpanjang + 180 m dengan kedalaman 5-11 m dibawah permukaan tanah. Didalamnya terdapat stalakmit dan stalaktit yang sangat indah dan menawan. Di kawasan ini pula terdapat beberapa gua-gua yang tidak kalah menariknya, antara lain gua Kidang, Gua Suru, Gua Manuk, dll.

8. Gua Jomblang

Gua Jomblang merupakan salah satu gua dari ratusan kompleks gua Gunungkidul Provinsi DIY, terkenal karena keunikan dan keindahan ornamen di dalamnya. Gua ini sangat terkenal, bahkan pada tahun 2011, Gua Jomblang dijadikan tempat pengambilan gambar Amazing Race Amerika. Terletak di rentangan perbukitan karst pesisir selatan (yang memanjang dari Gombong, Jawa Tengah; hingga kawasan karst Pegunungan Sewu, Pacitan, Jawa Timur). Gua vertikal yang bertipe collapse doline ini terbentuk akibat proses geologi amblesnya tanah beserta vegetasi yang ada di atasnya ke dasar bumi yang terjadi ribuan tahun lalu. Runtuhan ini membentuk sinkhole atau sumuran yang dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah luweng. Karena itu gua yang memiliki luas mulut gua sekitar 50 meter ini sering disebut dengan nama Luweng Jomblang. Gua jomblang ini terhubung dengan Gua Grubug yang berada tidak jauh. Sebuah lorong bawah tanah sepanjang kurang lebih 300 meter menghubungkan kedua buah gua tersebut.

9. Gua Maharani

Gua Maharani adalah sebuah gua yang terletak di kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Gua yang disebut juga sebagai gua Istana Maharani ini berada di kedalaman 25 m dari permukaan tanah dengan rongga gua seluas 2.500 m2. Diketemukan pada tanggal 6 Agustus 1992 dan diresmikan sebagai obyek wisata pada tanggal 10 Maret 1994 oleh Bupati Lamongan. Gua ini letaknya sangat strategis dan menarik karena terletak di kurang lebih 500 m dari pantai laut Jawa dan berada di tepi jalan Gresik-Tuban. Tidak jauh dari gua ini terdapat obyek wisata ―Wisata Bahari Lamongan‖ atau yang terkenal dengan sebutan “Tanjung Kodok”.

Stalaktit dan stalagmit yang tumbuh di dalam gua dapat meman-carkan cahaya warna warni bila terkena cahaya. Di dalam Goa terdapat stalaktit dan stalagmit yang menyerupai singgasana Maharaja, flora dan fauna, yang sangat indah bersinar-sinar seperti kristal. Stalaktit dan stalagmit tersebut ada yang disebut Lingga Pratala (menyerupai alat vital laki-laki), Yoni Pratiwi (alat vital perempuan), Cempaka Tirta (bunga kanthil), Karang Raja Kadal (menyerupai dinosaurus), Selo Gajah (menyerupai kepala gajah), bunga Mawar, pohon Beringin dan berbagai bentuk lainnya yang teramat unik dan indah.

10. Gua Putri Rongolawe

Gua ini terletak di kelurahan Gedongombo, kecamatan Semanding berjarak sekitar 1 km dari pusat Kota Tuban. Terdapat sebuah celah kecil dalam gua, dengan ukuran sekitar 50 cm x 30 cm dan hanya cukup untuk dilewati satu orang. Karena itu harus antri satu-satu untuk masuk ke celah itu. Setelah melewati celah kecil terdapat sebuah ruangan seukuran sekitar 2 m x 4 m setinggi 2,5 m. Gua kecil di dalam gua tersebut bernama Pasepen Kori Sinandhi. Hingga saat ini, gua kecil tersebut sering digunakan orang untuk bermeditasi. Karena itulah disebut pasepen yang berarti tempat bertapa (meditasi). Pasepen Kori Sinandhi hanya salah satu gua kecil di dalam Gua Akbar. Gua yang ditemukan pada 1998 ini merupakan gua terbesar di Tuban.

11. Gua Gong

Gua Gong terletak di daerah perbukitan, di desa Bomo, Kecamatan Punung, sekitar 30 Km dari kota Pacitan, Jawa Timur. Gua ini terkenal dengan gua stalaktit dan stalakmit terbesar dan terindah di Indonesia. Ukuran Stalaktit dan Stalakmit-nya pun beragam, terlihat menjulang dan kokoh menempel di lantai atau langit goa. Gua Gong memiliki kedalaman sekitar 256 m dan mempunyai 5 buah sendang, yaitu Sendang Jampi Rogo, Sendang Panguripan, Sendang Relung Jiwo, Sendang Kamulyan, dan Sendang Ralung Nisto yang konon memiliki nilai magis untuk menyembuhkan penyakit. Sendang adalah kolam yang biasanya terletak di pegunungan, yang airnya berasal dari mata air didalam kolam tersebut.

Keindahan Stalagnit dan stalagmitnya sangat memukau diabadikan dengan nama Selo Cengger Bumi, Selo Gerbang Giri, Selo Citro Cipto Agung, Selo Pakuan Bomo, Selo Adi Citro Buwono, Selo Bantaran Angin dan Selo Susuh Angin. Nama Gua Gong berasal dari suara seperti gong yang di tabuh dalam irama musik Jaranan, yang berasal dari gua, yang biasanya terjadi pada hari Jumat dan konon hingga sekarang masih bisa kita dengar.

12. Gua Lalay

Gua Lalay berlokasi di Pelabuhan Ratu, Suka Bumi pada koordinat 7°1,128′S dan 106°32,599′E. Gua ini dihuni oleh jutaan kelelawar yang hidup di dalamnya. Gua ini menyimpan berbagai keunikan tersendiri. Sejak tahun 1937, Gua Lalay telah menjadi catatan bagi para ilmuwan Belanda waktu itu. Sebuah kunjungan ilmiah pernah dilakukan di lokasi gua ini tepatnya 7 November 1937. Sedangkan gambar di Gua Lalay dipublikasi tahun 1938 dalam sebuah jurnal de Tropische Natuur. Jaman dulu, Pelabuhan ratu lebih dikenal dengan Wijnkoopsbaai dan dalam kunjungan ilmiah waktu itu lebih banyak mengupas vegetasi di sekitar kawasan tersebut. Barisan ratusan ribu kelelawar yang meliuk-liuk, menyerupai ―awan hidup‖ yang keluar dari Gua Lalay, merupakan atraksi yang sangat menarik di waktu sore hari.

13. Gua Lanang

Gua Lanang terletak didalam kawasan Cagar Alam Pananjung Pangandaran, Ciamis pada koordinat 7°42,442′S 108°39,508′E. Menurut legenda, dulunya Gua Lanang merupakan keraton Kerajaan Pananjung dengan Rajanya bernama Prabu Anggalarang dan Permaesurinya Dewi Siti Samboja yang dikenal dengan nama Dewi Rengganis dengan dibantu oleh Patih Aria Kidang Pananjung. Raden Anggalarang adalah putra Prabu Haur Kuning seorang raja kerajaan Galuh Pangauban yang berpusat di Putrapinggang kemudian mendirikan kerajaan Pananjung atas kemauannya sendiri. Walaupun ayahnya telah memperingatkan dengan alasan tidak akan berjaya karena rawan gangguan dari para Bajo ( bajak laut ), Raden Anggalarang tetap pada pendiriannya karena daerah Pananjung merupakan tempat yang cocok bagi dirinya untuk mendirikan pusat pemerintahan. Prabu Anggalarang adalah seorang laki-laki yang gagah dan sakti sehingga dijuluki ‖Sang Lanang‖ dan gua ini merupakan tempat tinggalnya maka disebut ‖ Gua Lanang ―.

14. Gua Batu Cantik

Gua Batu Cantik merupakan Gua baru yang ditemukan di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kudus. Dua Gua baru tersebut masing-masing diberi nama Gua Batu Cantik dan Gua Luas. Di dalam gua tampak bebatuan yang terlihat cukup cantik. Tak jauh dari lokasi tersebut, katanya, ditemukan satu gua lagi dengan ruangan di dalam gua cukup luas dan diperkirakan memiliki lorong yang cukup panjang.