Profile Ekoregion Jawa

   
     PPE Regional Jawa +62 274 625800
Tap To Call

Dataran   arrow

Ekoregion Pulau (Ekonusa) Jawa dan Karakteristiknya

gambar 3.1

Berdasarkan hasil pemetaan, dengan mempertimbangkan unsur-unsur penyusun Ekonusa, sebagaimana dijelaskan pada sub bab sebelumnya, maka Ekonusa Jawa dapat klasifikasikan menjadi 11 kelas yaitu :

  1. Dataran Pantai yang dinamai Dataran Pantai Utara Jawa (Pantura, M1) dan Dataran Pantai Selatan Jawa (Pansela, M2);
  2. Dataran Fluvial yang dinamai Dataran Fluvial Jawa (F);
  3. Dataran Organik/Koral yang dinamai Dataran Organik/Koral Jawa (O);
  4. Dataran Vulkanik yang dinamai Dataran Vulkanik Rangkaian Gunungapi Karang-Merapi-Raung (V3);
  5. Dataran Struktural yang dinamai Dataran Struktural Blok Jalur Selatan Jawa (S31) dan Dataran Struktural Jalur Utara Jawa (Bogor-Kendeng-Rembang, S32);
  6. Perbukitan Solusional yang dinamai Perbukitan Solusional Jalur Selatan Jawa (Pangandaran-Karangbolong-Gunungsewu-Blambangan, K1) dan Perbukitan Solusional Jalur Utara Jawa (Bogor-Kendeng-Rembang, K2);
  7. Perbukitan Denudasional yang dinamai Perbukitan Denudasional Jawa (D2);
  8. Perbukitan Vulkanik yang dinamai Perbukitan Vulkanik Rangkaian Gunungapi Karang-Merapi-Raung (V2);
  9. Perbukitan Struktural yang terdiri atas: Perbukitan Struktural Blok Jalur Selatan Jawa (S21) dan Perbukitan Struktural Jalur Utara Jawa (Bogor- Kendeng-Rembang, S22);
  10. Pegunungan Vulkanik yang dinamai dengan Pegunungan Vulkanik Rangkaian Gunungapi Karang-Merapi-Raung (V1);
  11. Pegunungan Struktural yang terdiri atas: Pegunungan Struktural Blok Jalur Selatan Jawa (S11) dan Pegunungan Struktural Jalur Utara Jawa (Bogor- Kendeng-Rembang, (S12). Sebaran masing-masing kelas pada Ekonusa Jawa dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Sementara itu, satuan ekoregion yang terbentuk oleh proses glasial tidak terdapat di Pulau Jawa, sedangkan yang terbentuk oleh proses angin (aeolinan) walaupun ada (terutama di pantasi selatan Yogyakarta) tidak terlihat pada skala ini (terlalu kecil). Berdasarkan unsur-unsur di atas, diperoleh peta ekoregion Pulau Jawa sebagaimana Gambar 2.1. Masing-masing satuan ekoregion selanjutnya diberikan narasi karakteristiknya yang tersaji dalam Tabel 2.1.

Tabel 2.1. Narasi Karakteristik Satuan Ekoregion Pulau Jawa

Satuan Ekoregion Nama Ekonusa berupa asosiasi Morfologi dan Genesis (asal proses utama) dan diberi Simbol.

Lokasi

Berdasarkan kedudukan (zona) pada setiap pulau.

Luasan

Berdasarkan Peta Ekonusa (Ha).

Iklim

Berdasarkan iklim dominan dan pola curah hujan tahunan.

Geologi

Berdasarkan tipe batuan utama: Aluvium,Beku,Sedimen,Metamorf. Bisa juga ditambahkan informasi mengenai potensi (ekonomi) batuan atau mineral utama.

Geomarfologi

Diuraikan mengenai Morfologi berdasarkan relief dan lereng (%), serta Morfogenesa berdasarkan asal proses (utama) pembentukan dan strukturnya.

Hidrologi

Berdasarkan keterdapatan badan air dan sifat aliran (sungai, danau, rawa);sifat umum akuifer dan ketersediaan airtanah;serta pemunculan / keterdapatan mataair.

Tanah dan Penggunaan Lahan

Berdasarkan jenis tanah utama (PPT), daya dukung dan penggunaan lahan potensial.

Hayati (Flora Fauna)

Berdasarkan jenis hayati asli dan kemelimpahan.

Kultural

Berdasarkan etnis dominan dan budaya khas.

Kerawanan Lingkungan

Berdasarkan ancaman bencana alam,kelangkaan hayati, dan masalah sosial budaya. Masalah sosial budaya, diantaranya meliputi:

2.4.1. Dataran Pantai Jawa (Pantura, M1 dan Pansela, M2)

Kelas Ekonusa ini meliputi hampir di seluruh wilayah pesisir bagian utara dan selatan Pulau Jawa, dengan luas mencapai 244.566,66 Ha. Kondisi Klimatologi relatif beriklim basah dengan variasi curah hujan mulai rendah hingga tinggi. Umumnya di seluruh Pantai Utara Jawa mempunyai curah hujan tinggi, sedangkan di Pantai Selatan relatif bervariasi, dengan curah hujan tinggi di Jawa Barat dan semakin ke timur semakin rendah. Material penyusun juga bervariasi. Secara umum di Pantai Utara Jawa tersusun atas material aluvium lempungan, dengan beberapa lokasi tersusun atas batuan beku vulkanik, seperti di pantai barat dan utara Provinsi Banten, pantai utara dan timur Gunungapi Muria di Kabupaten Pati dan Gunungapi Lasem di Kabupaten Rembang Provinsi Jawa Tengah, sebagian pantai utara Kabupaten Situbondo (Gunungapi Argopuro), dan pantai timur Kabupaten Banyuwangi (Gunungapi Baluran) Provinsi Jawa Timur.

Secara umum di Pantai Selatan Jawa tersusun atas batuan sedimen, baik berupa sedimen lepas (pasir) maupun sedimen organik (batugamping terumbu), dan batuan beku vulkanik. Di Provinsi Jawa Barat didominasi batuan sedimen lepas (pasir vulkanis) dan batuan beku; di Provinsi Jawa Tengah didominasi batuan sedimen lepas (pasir vulkanis); di Provinsi D.I. Yogyakarta tersusun atas sedimen lepas (pasir vulkanis) di Kabupaten Kulonprogo dan Bantul, sedangkan di Kabupaten Gunungkidul tersusun atas batuan sedimen organik (batugamping) dan pasir terumbu; dan di Provinsi Jawa Timur mempunyai sebaran hampir merata untuk batuan sedimen organik (batu gamping), pasir vulkanis, dan batuam beku (aliran lava Gunungapi Wilis, Semeru, dan Raung). Potensi mineral yang mungkin dijumpai berupa pasir marin vulkanis berwarna hitam yang mengandung pasir besi, dan pasir terumbu berwarna putih.

Topografi berupa dataran, dengan morfologi atau relief datar, dan kemiringan lereng secara umum 0-3%, pada beberapa lokasi agak miring (3-8%). Pada Pantai Utara Jawa, terbentuk oleh proses pengendapan marin (gelombang) yang berkerja sama dengan aliran sungai (fluvial) yang bermuara ke laut (Pantai Utara Jawa pada umumnya), sehingga dapat disebut sebagai pesisir yang terbentuk akibat pengendapan material daratan oleh sungai (sub aerial deposition coast). Ciri dari proses ini adalah pola saluran sungai yang berkelok-kelok (meandering) dan di bagian muara sungai dapat membentuk cabang-cabanga lagi, yang disebut berpola creak.
Pada Pantai Selatan Jawa, terjadi kerjasama antara aktivitas gelombang dengan angin (eolian), seperti di Pantai Cilacap (Jawa Tengah) hingga Pantai Bantul (D.I. Yogyakarta); atau murni akibat aktivitas pengendapan oleh gelombang (Pantai Selatan Jawa pada umumnya), yang membentuk kompleks bentuklahan gisik pantai, beting gisik, dan gumuk pasir.

Di Pantai Utara Jawa, kondisi hidrologi dikontrol oleh aliran sungai-sungai dengan debit aliran dan beban sedimen yang tinggi, khususnya pada musim penghujan, dan kondisi airtanah pada umumnya berasa payau hingga asin, yang hampir merata di seluruh satuan dataran pantai yang berlumpur (endapan aluvium). Kondisi hidrologi seperti ini merupakan faktor penyebab bahaya banjir fluvial (saat musim hujan) dan banjir rob (saat musim kemarau), sedangkan di Pantai Selatan Jawa, kondisi hidrologi lebih bervariasi. Pada pantai berpasir vulkanis, dikontrol oleh aktivitas aliran sungai dan input air hujan, yang membentuk akuifer lokal dengan kandungan airtanah tawar yang potensial, seperti di Pantai Cilacap hingga Bantul, dan beberapa pantai berpasir vulkanis lain secara lokal-lokal. Pada pantai berpasir terumbu, kondisi hidrologi dikontrol oleh input air hujan saja, membentuk akuifer lokal dengan potensi airtanah tawar yang relatif rendah. Pada pantai berbatuan beku relatif miskin air (potensi sangat rendah). Pada pantai berbatuan batugamping (karst), kondisi hidrologi dikontrol oleh aliran sungai bawah tanah dan mataair karst, yang sangat bergantung pada kondisi pemanfaatan lahan dan daerah tangkapan hujan di bagian hulunya. Di Pantai Selatan Jawa, khususnya pada pantai berpasir (pasir vulkanis dan pasir terumbu), sangat rentan terhadap intrusi air laut, apabila pengambilan airtanah melebihi kemampuan daya simpan akuifernya.

gambar 2.2

Gambar 2.2. Tipe Pantai Utara Jawa (Pekalongan)

Tanah dan penggunaan lahan di Pantai Utara Jawa, dengan material penyusun berupa bahan aluvium berukuran lempung, pada umumnya membentuk tanah-tanah „Grumusol atau Vertisol‟. Tanah ini cukup subur dan mempunyai potensi tinggi untuk pengembangan pertanian apabila cukup dengan air. Pemanfaatan lahan secara umum berupa pertanian, perikanan tambak, hutan mangrove, permukiman (kota), dan industri. Sementara pada daerah yang tersusun atas batuan beku, umumnya tanah-tanah yang terbentuk masih muda dan kurang berkembang, seperti tanah „Regosol‟ dengan tekstur pasiran dan kurang subur, sehingga umumnya dimanfaatkan sebagai kawasan wisata alam.

gambar 2.3

Tipe Pantai Selatan Jawa (Daerah Gombong Selatan)

Pantai Selatan Jawa, dengan material pasir vulkanis maupun pasir terumbu belum, umumnya didominasi oleh tanah „Regosol‟ yang kurang subur, sehingga secara alami berkembang sebagai kawasan wisata alam. Melalui rekayasa pemupukan dan pengolahan lahan, lahan-lahan pantai berpasir dapat dikembangkan sebagai kawasan pertanian lahan kering untuk pengembangan tanaman sayuran (cabe, sawi, terong), polowijo (jagung dan ketela), atau buah-buahan (buah naga, melon, dan semangka). Pada pantai berbatuan beku dan batugamping, tanah kurang berkembang dengan potensi topografi dapat dikembangkan sebagai kawasan wisata alam.

—–Gambar 2.4.

Secara umum keanekaragaman hayati di pantura berupa Ekosistem Hutan Mangrove, ikan, ular, kera ekor panjang, dan burung, sementara di pansela keanekaragaman hayati umumnya berupa Ekosistem Lahan Kering Pesisir, pertanian lahan kering, pandanus, rumput-rumputan, kaktus, cemara udang, dan ketapang laut. Beberapa jenis yang tumbuh di kawasan hutan mangrove Pantura antara lain: api-api (Avicenia alba, Avicenia marina, dan Avecenia oficenalis), bogem (Sonneratia alba), bakau (Rhizophora mucronata dan Rizophora apiculata), tancang (Bruguiera sp), Nyirih (Xylocarpus granatum), Nyuruh (Carberaodolam), dan nipah (Nypa fructicans). Selain bakau, beberapa jenis lain yang biasa berada di dataran pantai antara lain: Hibiscus tiliaceus (Waru laut), Terminalia catappa ( pohon Ketapang), Cocos nucifera (Kelapa), Pandanus tectorius (Pandan), Ipomea prescaprae (Ubi pantai), Oncosperma tigillaria (nibung) dan Barringtonia sp. Beberapa jenis flora khas pantai utara jawa dapat dilihat pada beberapa gambar berikut ini.

Hutan bakau merupakan ekosistem ideal yang berfungsi sebagai habitat dari berbagai jenis fauna yang khas hidup di daerah pesisir. Beberapa jenis hewan yang bisa dijumpai di habitat mangrove antara lain; dari jenis serangga misalnya semut (Oecophylla sp.), ngengat (Attacus sp.), kutu (Dysdercus sp.); jenis krustasea seperti lobster lumpur (Thalassina sp.), jenis laba-laba (Argipe spp., Nephila spp., Cryptophora spp.); jenis ikan seperti ikan glodok (Periopthalmodon sp.), ikan sumpit (Toxotes sp.); jenis burung seperti kuntul karang (Egretta sacra), gagak (Corvus macrorhinchos); jenis reptil seperti kadal (Varanus sp.), ular pohon (Chrysopelea sp.), ular air (Cerberus sp.); jenis mamalia seperti berang-berang (Lutrogale sp,) dan tupai (Callosciurus sp.), golongan primata (Nasalis larvatus) dan masih banyak lagi seperti nyamuk, ulat, lebah madu, kelelawar dan lain-lain.

—–Gambar 2.5. Fauna khas ekosistem Mangrove

Kondisi sosial budaya masyarakat pantura yaitu: sebagian besar masyarakat industri, pedagang, dan nelayan, dengan pertumbuhan penduduk tinggi, dan kebanyakan usia produktif, sedangkan di pansela sebagian besar masyarakat nelayan dan petani, dengan pertumbuhan penduduk relatif rendah, dan kebanyakan usia tua.

Ekonusa Dataran Pantai Utara Jawa memililki kerawanan lingkungan relatif rentan terhadap pencemaran perairan sungai akibat limbah domestik (perkotaan) dan industri. Curah hujan yang tinggi pada daerah hulu (hinterland ), sedangkan daerah hilir (low land) berupa dataran dengan material lempung dan sedimentasi yang intensif, dapat menyebabkan banjir musiman dan genangan. Material lempung mempunyai gaya kohesi dan kemampaun menjebak mineral-mineral elektrolit yang tinggi, sehingga menyebabkan airtanah berasa payau hingga asin, dengan salinitas yang tinggi pula, yang disebut sebagai air fosil (connate water) dan bukan intrusi air laut. Material lempung juga bersifat plastis dengan daya dukung rendah, sehingga apabila terlalu besar mendapatkan beban di atasnya, dapat menyebabkan amblesan (subsidence), yang dapat memicu kejadian banjir pasang (banjir rob). Sifat material lempung yang lain adalah daya kembang-kerut (shear strenght) yang tinggi, yang menyebabkan lembek saat penghujan, sehingga mudah mengalami rayapan (soil creep); sedangkan saat kemarau menjadi kering mutlak dan retak-retak, sehingga bangunan rumah, jalan, jembatan, dan sejenisnya cepat rusak dan hancur. Material lempung juga bersifat akuitard (semi-permeable) atau akuiklud (impermeable), yang keduanya bersifat tidak mudah melewatkan air (permeabilitas rendah), drainase permukaan buruk, dan mudah menjebak pencemar, sehingga menyebabkan lingkungan kumuh dan kotor, yang pada akhirnya menimbulkan wabah penyakit, seperti: malaria, penyakit saluran pencernakan, penyakit kulit, dan ISPA saat kemarau. Secara spesifik pada daerah rataan lumpur dan delta, sering terjadi alih fungsi lahan hutan mangrove menjadi tambak atau bentuk budidaya lainnya, konflik kepemilikan lahan pada tanah-tanah timbul atau bentukan-bentukan lahan baru.

Kedudukan pantai selatan Jawa yang berhadapan dengan zona penunjaman samudra (subduction zone), dengan morfologi datar hingga landai, dan pada beberapa lokasi berupa teluk, mempunyai ancaman kerawanan bahaya gempabumi dan tsunami. Material pasir pantai yang bersifat lepas, mempunyai pori-pori yang besar-besar, sangat memungkinkan untuk diterobos air laut apabila penurapan airtanah di wilayah pesisir dan pantainya melebihi kemampuan daya simpan akuifernya, sehingga dapat menyebabkan intrusi air laut. Dataran pantai selatan Jawa umumnya berupa gisik, beting gisik, dan gumuk pasir, yang dapat berperan sebagai akuifer lokal dengan input utama air hujan, sehingga rentan terhadap pencemaran akibat pemanfaatan lahan di atasnya (seperti pertanian semusim lahan kering, peternakan, dan wisata alam). Material pasir di wilayah pesisir selatan Jawa umumnya mempunyai kandungan pasir besi yang tinggi akibat genesis dan sumber materialnya dari aktivitas gunungapi (Tersier maupun Kuarter), sementara pemanfaatan lahan saat ini umumnya berupa pertanian lahan kering (oleh masyarakat), sehingga kondisi ini dapat menjadi pemicu konflik kepentingan antara fungsi pertanian dan pertambangan. Apabila aktivitas penambangan tidak memperhatikan fungsi dan kedudukan bentangalamnya, maka dapat berakibat perubahan morfologi, dan menurunkan fungsi beting gisik dan gumuk pasir sebagai peradam (buffer) terhadap gelombang tsunami. Permasalahan konflik kepentingan lain yang muncul adalah konversi lahan gumuk pasir sebagai ekosistem bentanglahan yang unik menjadi lahan-lahan budidaya tanaman ternak, yang menyebabkan penutupan area gumukpasir aktif oleh tanaman budidaya dan berhentinya pembentukan atau dinamika gumukpasir pada masa-masa yang akan datang.

Ekonusa dataran pantai mempunyai jasa ekosistem yang berbeda antara Pantai Utara Jawa (pantura) dan Pantai Selatan Jawa (pansela). Jasa ekosistem penyediaan di pantura berupa pengembangan lahan tambak bandeng, udang, dan garam. Sedangkan di pansela berupa pengembangan lahan pertanian semusim dan pariwisata. Dalam hal pengaturan, ekonusa dataran pantura berfungsi sebagai penyerapan karbon, pemelihara siklus air, dan keanekaragaman hayati dalam ekosistem hutan mangrove, sedangkan pada ekonusa dataran pansela untuk pemelihara keseimbangan air tanah dengan air laut serta fungsi sebagai peredam gelombang tsunami. Jasa ekosistem pendukung di pantura berupa perlindungan plasma nutfah dan habitat mangrove, sedangkan di pansela berupa perlindungan ekosistem lahan kering pantai berpasir. Jasa ekosistem pada ekonusa dataran pantai, apabila dilihat darisegi budaya terdapat kesamaan yaitu dalam pengembangan di bidang pendidikan. Namun tidak hanya itu saja, di pantura lebih ditekankan pada estetika lingkungan sedangkan di pansela berupa pengembangan wisata dan spiritual.

Secara ringkas, penjelasan mengenai karakteristik Satuan Dataran Pantai pada Ekonusa Jawa, dapat dilihat pada Tabel 2.1. berikut ini.

Dataran Fluvial Jawa (F)

Satuan Ekonusa ini tersebar hampir di seluruh bagian pulau Jawa. Secara meluas pada lahan-lahan bawahan (low land) Pulau Jawa bagian utara dan bagian selatan Jawa Tengah, serta secara lokal-lokal pada lembah-lembah di antara jajaran perbukitan, pegunungan, atau gunungapi, dengan luas mencapai 2.223.762,31 Ha. Kondisi iklim ekonusa ini relatif basah dengan variasi curah hujan mulai rendah hingga tinggi. Umumnya di seluruh bagian utara Jawa mempunyai curah hujan tinggi, sedangkan di bagian selatan Jawa Tengah relatif bervariasi, dengan curah hujan tinggi di Jawa Barat dan semakin ke timur semakin rendah.

Secara genetik, material penyusun umumnya berupa aluvium, dengan komposisi pasir, debu, dan lempung relatif seimbang, dengan sumber sangat bergantung kepada kondisi geologi daerah hulu, yang terbentuk akibat aktivitas pengendapan aliran sungai. Potensi sumberdaya mineral yang mungkin dijumpai berupa tanah urug (galian golongan C). Topografi berupa dataran, dengan morfologi atau relief datar, dan kemiringan lereng secara umum 0-3%, pada beberapa lokasi berombak hingga bergelombang (3-8%).

Ekonusa ini terbentuk oleh proses pengendapan fluvial (aliran sungai), yang membentuk struktur berlapis horisontal dan tersortasi baik (lapisan dengan material kasar di bagian bawah, dan semakin ke atas semakin halus), serta lapisan umumnya tebal.

—–Gambar 2.6. Tipe Dataran Fluvial

Kondisi hidrologi satuan ini dibangun oleh material aluvium yang mampu membentuk akuifer yang potensial, dengan dukungan morfologi yang datar, maka menyebabkan cadangan atau ketersediaan airtanah dangkal sangat potensial, sehingga membentuk resevoir airtanah atau cekungan hidrogeologi. Material aluvium merupakan material yang mudah untuk mengalami pengikisan oleh aliran sungai, sehingga pada umumnya satuan ini dicirikan oleh pola aliran seperti cabang pohon (dendritik).

Aliran sungai bersifat mengalir sepanjang tahun (perrenial) dengan debit aliran relatif besar, karena mendapat input dari air hujan dan aliran airtanah yang masuk ke dalam badan atau lembah sungai (effluent). Material aluvium akan berkembang menjadi tanah dengan tekstur geluhan, struktur remah, dan solum sangat tebal, sehingga dengan tersedianya air yang melimpah menjadikan tanah ini sangat subur, yang disebut tanah Alluvial. Tanah ini potensial untuk pengembangan lahan-lahan pertanian tanaman semusim dengan irigasi intensif.

Pemanfaatan lahan secara umum berupa lahan pertanian tanaman semusim yang potensial dan produktif.Permukiman dapat berkembang dengan pesat, sehingga membentuk wilayah perkotaan yang semakin padat. Karakteristik flora dan fauna pada satuan ekonusa ini dicirikan oleh Ekosistem stabil dataran rendah. Ekosistem dataran rendah merupakan ekosistem yang tinggi keanekaragamannya setelah ekosistem vulkan, dimana terdapat 178 jenis flora yang tumbuh pada ekosistem ini. Terdapat beragam jenis tumbuhan yang berkembang sebagai tanaman obat, bahan bangunan, maupun untuk dikonsumsi.

Empat diantaranya termasuk dalam daftar terancam kepunahan. Spesies yang terancam antara lain adalah Pinus, Mahoni, Angsana dan Flamboyan. Dari keempat jenis ini, Mahoni termasuk dalam appendiks II yang harus diatur perdagangannya supaya tidak menuju kepunahan. Spesies yang termasuk dalam status rentan adalah Pinus dan Flamboyan, dimana kedua jenis ini termasuk dalam appendiks CITES dan tidak dilindungi karena jumlahnya yang masih cukup banyak. (Balai Kliring KEHATI Prov. DIY).

—-Gambar 2.7. Beberapa jenis burung di ekosistem dataran rendah

Pada ekosistem ini juga memiliki tidak kurang 116 jenis fauna, dengan tiga spesiesnya termasuk dalam fauna yang terancam kepunahan dan dilindungi. Dari Tabel 2.3. diketahui bahwa terdapat 11 spesies yang dilindungi, 1 spesies kritis, 1 spesies genting, 3 rentan, 4 hampir terancam, dan 86 risiko rendah. Spesies yang dilindungi antara lain;Trinil Nordman, Sanca Bodo, Gajahan Besar, Elang Ular Bido, Elang, Burung Madu Kelapa, Burung Madu Sriganti, Cekakak Jawa, Cekakak Sungai, Elang Hitam dan Sikep Madu Asia.

Cikalang Christmas memiliki risiko kepunahan sangat tinggi di alam liar dalam waktu dekat, yaitu berstatus kritis dan termasuk dalam appendiks I yang tidak diperjual belikan secara komersil, akan tetapi tidak termasuk dalam fauna yang dilindungi.Trinil nordman merupakan spesies dengan status genting yang termasuk dalam appendiks I dan dilindungi. Dengan status ini maka spesies ini tidak boleh diperjualbelikan secara komersil, termasuk jarang dan harus dilindungi dari risiko kepunahan yang sangat tinggi di alam liar. Selain Trinil Nordman, Ular Sanca Bodo termasuk dalam appendiks I dan dilindungi, akan tetapi dalam status hampir terancam. Status ini menunjukkan bahwa spesies mungkin berada dalam keadaan terancam dan mendekati kepunahan akan tetapi tidak termasuk dalam status terancam. Fauna lain yang termasuk dalam hampir terancam adalah Cerek Jawa dan Cerek Melayu (lihat Tabel 2.3.).

Spesies yang rentan mengalami kepunahan di masa yang akan datang adalah Bubut Jawa, Katak Batu dan Kedidi Besar, akan tetapi ketiga fauna tersebut tidak termasuk dalam appendiks CITES dan tidak dilindungi. Elang ular bido termasuk dalam appendiks II dan perdagangannya perlu diatur untuk menjaga keberlangsungannya. Spesies ini termasuk dalam spesies yang dilindungi, begitu pula Sikep Madu Asia, walaupun tidak termasuk dalam daftar terancam punah menurut IUCN. Spesies dengan risiko rendah selain Elang Ular Bido adalah Burung Madu Kelapa, Burung Madu Sriganti, Cekakak Jawa, Cekakak Sungai, Elang Hitam dan Sikep Madu Asia.

Kondisi sosial budaya/kultural dominan petani, pedagang, dan pegawai perkantoran, dengan komposisi penduduk membentuk pola piramida (jumlah usia produktif mampu menopang usia muda dan tua), pertumbuhan penduduk pesat, dan kepadatan tinggi. Didukung lagi oleh migrasi masuk yang tinggi, karena aspek urbanisasi.

Tabel 2.3. Spesies Fauna yang Terancam, Termasuk Appendiks CITES dan Dilindungi Pada Ekosistem Dataran Rendah

Perkembangan wilayah yang pesat dan pertumbuhan penduduk yang tinggi, menyebabkan kebutuhan lahan permukiman semakin tinggi, yang berakibat terhadap alih fungsi lahan pertanian menjadi permukiman. Aktivitas perkotaan dan kehidupan manusia semakin menghasilkan bahan-bahan pencemar yang menyebabkan pencemaran lingkungan semakin tinggi (udara, air, tanah), yang dalam jangka panjang menyebabkan degradasi lingkungan global, seperti efek rumah kaca, hujan asam, penurunan kualitas air, banjir kota, dan sebagainya. Ancaman bencana alam dapat berupa angin puting beliung, potensi luapan aliran sungai (penggenangan), dan amplifikasi terhadap getaran gempa bumi.

Satuan ekonusa ini mempunyai jasa ekosistem sebagai penyedia lahan pertanian, sumberdaya air bersih, dan bahan dasar lainnya; pengaturan sistem pemanfaatan air, kualitas udara, dan limbah; budaya : pengembangan budaya, agama, dan pendidikan, dan infrastruktur lainnya; dan pendukung berupa : perlindungan sumberdaya alam dan plasma nutfah.

Secara ringkas, penjelasan mengenai karakteristik Satuan Dataran Fluvial pada Ekonusa Jawa, dapat dilihat pada Tabel 2.4. berikut ini.

Dataran Organik/Koral Jawa (O)

Persebaran satuan ekonusa ini berasosiasi dengan keberadaan pulau-pulau kecil lepas Laut Jawa, yang secara genetik terbentuk sebagai hasil aktivitas terumbu karang, yang meliputi: Kepulauan Seribu (Jakarta), Kepulauan Karimunjawa (Jawa Tengah), dan Kepulauan Kangean, Masalembu dan Sapeken (Madura, Jawa Timur), dengan luas total mencapai 77.133,27 Ha.Kondisi iklim relatif kering dengan curah hujan rendah (hujan konveksi), yang umum terjadi pada setiap satuan ekonusa seperti ini.

Secara genetik, material penyusun adalah batuan sedimen organik atau non klastik berupa batugamping terumbu atau koral sebagai hasil proses pengangkatan dan metamorfosis terumbu karang. Potensi sumberdaya mineral adalah bahan galian golongan C, berupa batugamping terumbu dan pasir marin terumbu.

Topografi berupa dataran, dengan morfologi atau relief datar hingga landai, kemiringan lereng secara umum 0-3% hingga berombak (3-8%). Asal proses utama adalah aktivitas organik (terumbu karang) pada zona laut dangal (lithoral), yang kemudian mengalami pengangkatan daratan atau penurunan muka air laut, sehingga terumbu karang muncul ke permukaan dan mengalami metamorfosis membentuk batugamping terumbu (CaCO3). Sifat material batugamping terumbu yang banyak diaklas dan lubang-lubang pelarutan,menyebabkan material ini tidak mampu menyimpan air dengan baik. Airtanah dijumpai berupa airtanah dangkal atau airtanah bebas dengan potensi sangat terbatas, dan input utama air hujan. Mataair juga relatif sulit dijumpai pada satuan ini, dan tidak berkembang sistem hidrologi permukaan.

—–Gambar 2.8. Kepulauan Seribu (www.pulauseribujakarta.com)

Kondisi batugamping terumbu yang relatif masih segar, belum memugkinkan proses pembentukan tanah secara baik. Kemungkinan masih berupa bahan induk tanah yang berupa material pasir terumbu berwarna putih, dan bersifat lepas-lepas (granuler). Pemanfaatan lahan secara umum untuk pariwisata alam dan jasa lingkungan, permukiman dan berfungsi sebagai habitat keanekaragaman hayati lingkungan perairan laut dangkal (taman laut).

Fauna asli berupa terumbu karang dengan berbagai potensi sumberdaya yang ada. Daerah yang sudak berkembang sebagai kawasan wisata dan permukiman, flora yang berkembang berupa tanaman semusim dan tanaman pekarangan, sedangkan faunanya berupa fauna domestik. Dominan masyarakat sebagai penjual jasa (guide wisata), pedagang, dan nelayan, dengan komposisi penduduk didominasi usia produktif, pertumbuhan penduduk rendah, dan kepadatan rendah dengan penyebaran merata di seputar pulau-pulau kecil.

—–Gambar 2.9. Kepulauan Karimunjawa

Lingkungan secara relatif rentan terhadap pencemaran perairan oleh aktivitas pariwisata, ancaman kerusakan ekosistem terumbu karang, kenaikan permukaan air laut, kekeringan dan degradasi sumberdaya air, serta konflik sosial. Jasa ekosistem pada ekonusa ini adalah penyedia materi genetik, habitat, dan spesies ikan hias; Perlindungan perairan pantai dan ekosistem terumbu; Pengembangan pendidikan dan wisata alam bahari; dan Perlindungan sumberdaya alam dan plasma nutfah.

—–Gambar 2.10. Terumbu Karang

Secara ringkas, penjelasan mengenai karakteristik Satuan Dataran Organikpada Ekonusa Jawa, dapat dilihat pada Tabel 2.5. berikut ini.

Dataran Vulkanik Jawa (V3)

Persebaran satuan ini berasosiasi dengan keberadaan gunungapi, yang tersebar di antara jajaran gunungapi di bagian tengah Pulau Jawa. Satuan ini mendominasi bagian tengah Provinsi Yogyakarta, Jawa Tengah (jalur Purokerto hingga Banjarnegara, Magelang, Surakarta dan sekitarnya), dan Jawa Timur (mulai Madiun, Kediri, Malang, hingga Jember dan sekitarnya). Di Jawa Barat hanyaterdapat secara lokal-lokal di sekitar Bandung, Garut, dan Tasikmalaya. Luas total satuan ini mencapai 3.563.296,74 Ha. kondisi iklim relatif basah dengan curah hujan sedang hingga tinggi, yang merata di seluruh satuan ekonusa ini.

Secara genetik, material penyusun umumnya berasal dari hasil erupsi gunungapi berupa bahan-bahan piroklastik berukuran halus (pasir halus), sedang (kerikil), hingga kasar (kerakal) dengan sortasi (pemilahan) yang baik, dengan proses pengendapan dibantu oleh aktivitas aliran sungai atau material jatuhan (airborne deposite). Potensi sumberdaya mineral yang mungkin dijumpai berupa bahan galian golongan C, seperti: pasir, kerikil, hingga kerakal.

Topografi berupa dataran, dengan morfologi atau relief datar hingga landai, dan kemiringan lereng secara umum 0-3%, berombak (3-8%), hingga bergelombang (8-15%). Ekonusa ini terbentuk sebagai hasil proses erupsi (letusan) gunungapi yang penyebarannya dibantu oleh proses aliran sungai (fluvial), yang membentuk struktur berlapis horisontal dan tersortasi baik (lapisan tebal dengan material kasar di bagian bawah, dan semakin ke atas semakin halus), atau oleh aktivitas angin dan gravitatif yang berupa endapan material jatuhan (airborne deposite).

Material piroklastik dengan komposisi pasir, kerikil, dan kerakal, merupakan komposisi material yang mampu melalukan air dengan baik (permeabilitas tinggi), sehingga membentuk akuifer yang sangat potensial. Dukungan morfologi datar hingga cekung, menjadikan satuan ini sebagai daerah cadangan atau ketersediaan airtanah sangat potensial, sehingga membentuk resevoir airtanah atau cekungan hidrogeologi. Di samping itu, pada tekuk-tekuk lereng vulkanik di atasnya merupakan lokasi pemunculan mataair yang disebut sebagai sabuk mataair (spring belt), menjadikan satuan ini sebagai potensial sebagai sumber air bersih.

Karena kedudukannya relatif pada kaki dan dataran kaki gunungapi, maka sungai-sungai akan mengalir searah dengan kemiringan lereng dan relatif saling sejajar, sehingga membentuk pola aliran semi paralel hingga paralel, dengan debit aliran bervariasi mengikuti kondisi aliran mataair di bagian hulunya sebagai input. Aliran sungai bersifat mengalir sepanjang tahun (perrenial) dengan debit aliran relatif besar dan fluktuasi tahunan kecil, karena mendapat input dari air hujan dan aliran mataair yang masuk ke dalam badan atau lembah sungai (effluent).

—–Gambar 2.11. Tipe pekarangan di dataran vulkanik

Proses perkembangan tanah sangat intensif, yang dapat membentuk jenis tanah Alluvial dan Andosol. Kedua tanah ini merupakan tanah-tanah yang subur dengan kandungan hara tinggi, solum tebal, dengan tekstur pasir bergeluh hingga geluh berpasir, struktur remah, dan mampu meresapkan air hujan sebagai imbuh airtanah dengan baik. Tanah andosol berwarna hitam gelap, sedangkan tanah alluvial mempunyai warna lebih muda. Tanah ini potensial untuk pengembangan lahan-lahan pertanian tanaman semusim dengan irigasi intensif. Pemanfaatan lahan secara umum berupa lahan perkebunan tanaman tahunan (produktif), perkebunan tanaman buah-buahan dan industri, pertanian tanaman semusim yang potensial dan produktif, serta permukiman dapat berkembang dengan pesat, sehingga membentuk wilayah perkotaan yang semakin padat.

Ekosistem pada satuan ekonusa dataran vulkanik, terutama di daerah yang tutupan vegetasinya rapat memiliki keanekaragaman flora maupun fauna yang lebih tinggi dari ekoregion dataran rendah. Namun pada kenyataannya, ekonusa ini merupakan kawasan yang sangat potensial sebagai lahan budidaya. Pada lahan-lahan budidaya, flora dominan berupa tanaman budidaya perkebunan diantaranya; karet, jabon, sengon, mahoni dan beberapa jenis tanaman buah. Tanaman semusim (pertanian) yang dominan diantaranya; jagung, kentang, kacang tanah, dan berbagai jenis sayuran. Sebagian masyarakat juga memanfaatkan lahan sebagai kebun campur (tanaman pekarangan), yang pada umumnya merupakan perpaduan antara tanaman semusim (palawija) dan tanaman berumur tebang yang pendek (sengon, jabon, jati, mangga, nangka, dll.). Fauna yang hidup di ekosistem dataran vulkan sangat beragam, diantaranya terdapat berbagai jenis reptilia, ikan air tawar, burung, dan hewan-hewan domestik.

Dominan masyarakat sebagai petani, pedagang, pengusaha, dan pegawai perkantoran, dengan komposisi penduduk membentuk pola piramida (jumlah usia produktif mampu menopang usia muda dan tua), pertumbuhan penduduk pesat, dan kepadatan tinggi dengan penyebaran merata. Didukung lagi oleh arus migrasi masuk yang tinggi, karena aspek urbanisasi ulang-alik (commuter).

Perkembangan wilayah yang pesat dan pertumbuhan penduduk yang tinggi, menyebabkan kebutuhan lahan permukiman semakin tinggi, yang berakibat terhadap alih fungsi lahan pertanian menjadi permukiman. Aktivitas perkotaan dan kehidupan manusia semakin menghasilkan limbah yang menyebabkan pencemaran lingkungan semakin tinggi (udara, air, tanah), yang dalam jangka panjang menyebabkan degradasi lingkungan global, seperti efek rumah kaca, hujan asam, penurunan kualitas air, banjir kota, penurunan muka airtanah dan debit aliran mataair, dan sebagainya. Ancaman bencana alam dapat berupa daerah ancaman aliran lahar dan hujan abu vulkanik (bahaya sekunder) ketika gunungapi meletus. Secara alami pada daerah ini kemungkinan sangat kecil untuk terpengaruh oleh perubahan iklim global.

Lingkungan secara sosial rentan terhadap eksploitasi bahan galian pasir dan batu (di lembah sungai maupun pekarangan), rentan terhadap penyakit endemik, hama dan penyakit tanaman.

Ekonusa ini mempunyai jasa ekosistem berupa : penyedia lahan pertanian, sumberdaya air bersih, dan bahan dasar lainnya; pengaturan sistem pemanfaatan air, kualitas udara, dan limbah; pengembangan budaya, agama, dan pendidikan, dan infrastruktur lainnya; perlindungan sumberdaya alam dan plasma nutfah.

Secara ringkas, karakteristik satuan dataran vulkanik pada Ekonusa Jawa, dapat dilihat pada Tabel 2.6. berikut ini.

2.4.5. Dataran Solusional Jawa (Dataran Solusional Jalur Selatan Jawa, K1 dan Dataran Solusional Jalur Utara Jawa, K1)

Satuan ekonusa ini secara setempat terdapat di zona selatan Jawa, yang menempati sebuah daerah di Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Total luas satuan ekonusa perbukitan solusional (karst) di Pulau Jawa sebesar 8.249,58 Ha. Satuan ini berada di daerah dengan iklim basah, bercurah hujan tinggi. Curah hujan tinggi merupakan media utama bagi proses pelarutan batuan (solusional). Namun demikian, iklim di sini mempunyai perbedaan yang tegas antara musim kemarau dan penghujan.

Material dominan adalah batuan sedimen organik atau non klastik, berupa batugamping terumbu (limestone, CaCO3), batugamping napal, atau batugamping dolomit, yang pada beberapa tempat telah mengalami metamorfosis menjadi kalsit. Batuan ini terbentuk dari hasil metamorfosis terumbu yang tumbuh pada lingkungan laut dangkal (lithoral), yang mengalami pengangkatan oleh tektonik dan gunung api purba.

Berstruktur banyak retakan yang disebut diaklast, dan bersifat mudah larut (solluable) oleh air hujan yang mengandung karbondioksida (CO2) tinggi. Potensi sumberdaya mineral golongan C, berupa: batugamping dan kalsit. Topografi berupa dataran, dengan morfologi atau relief datar (0-3%), berombak (3-8%), hingga bergelombang (8-15%). Satuan ini terbentuk oleh proses pengendapan hasil rombakan material penyusun perbukitan atau pegunungan solusional. Terdapat potensi gua-gua karst dengan berbagai fenomena alam unik yang dimilikinya (ornamen gua dan sungai bawah tanah). Keunikan fenomena alam ini terbentuk oleh proses pelarutan material sedimen organik berupa batugamping terumbu.

Variasi topografi berupa kerucut dan lembah-lembah karst yang unik, dengan struktur batuan berupa alur-alur retakan (diaklast) dan zona pelarutan yang rumit, menyebabkan hampir tidak dijumpai aliran permukaan berupa sungai. Pola aliran sungai umumnya membentuk pola basinal, yaitu pola aliran berupa alur-alur sungai pendek-pendek, yang menghilang atau masuk pada suatu lubang pelarutan berupa ponor di dasar lembah karst atau masuk ke dalam lubang (sinkhole) sebagai bagian dari sistem sungai bawah tanah. Hidrologi yang berkembang pada satuan ekonusa dataran karst adalah hidrologi permukaan berupa telaga-telaga karst (logva), dan sungai bawah tanah dengan potensi aliran yang besar. Pemunculan mataair dimungkinkan berupa mataair topografik atau basinal pada lembah-lembah karst, atau mataair struktur akibat retakan atau patahan lokal.

Material batugamping dengan proses pelarutan dan pelapukan intensif menyebabkan pembentukan tanah yang spesifik berupa tanah merah (terrarosa atau mediteran). Tanah ini relatif bersifat marginal, bertekstur lempungan, kurang subur, pH tinggi (basa), dan kandungan hara rendah (kecuali Ca dan Mg tinggi), yang menempati pada lembah-lembah karst. Pemanfaatan lahan di satuan ini biasanya berupa pertanian lahan kering (ladang), dengan tanaman yang sesuai berupa singkong, kacang tanah, jagung, tebu, dan tanaman hutan rakyat berupa jati, mahoni, akasia, dan sengon.

Fauna asli yang berkembang berupa burung pemakan biji, pemakan serangga, kelompok reptil dan melata lahan kering (ular, landak, tikus, dan biawak), kera ekor panjang, dan fauna gua karst (burung walet dan kelelawar atau kalong), serta beberapa jenis serangga. Sesuai dengan kondisi lingkungan yang relatif gersang, kondisi sosial ekonomi masyarakat cukup rentan terhadap kemiskinan (pendapatan perkapita rendah), struktur kependudukan tua dan muda sehingga kekurangan tenaga kerja produktif akibat usia produktif melakukan migrasi ke kota-kota besar. Penduduk tersebar hampir merata, khususnya yang dekat dengan telaga atau sumber-sumber air, dengan pekerjaan dominan petani dan penambang. Lingkungan secara relatif rentan terhadap aktivitas penambangan batugamping secara liar (penambangan rakyat maupun industri) yang menyebabkan kerusakan lingkungan secara umum, alih fungsi lahan dan konflik kepemilikan lahan, pencemaran air (khususnya telaga dan sungai bawah tanah) akibat pemanfaatan telaga untuk kebutuhan domestik (mandi, mencuci, dan memandikan ternak), atau akibat pola pengelolaan lahan-lahan marginal sebagai lahan pertanian dengan pemupukan berupa pupuk kandang (karena tanah terrarosa yang relatif mempunyai kesuburan rendah). Disamping kualitas air yang relatif rendah secara alami akibat kandungan karbonat hasil pelarutan batugamping yang intensif, erosi lereng yang menghasilkan sedimen sangat tinggi dan menyebabkan pendangkalan telaga secara intensif.

Secara alami terdapat ancaman bahaya berupa proses amblesan tanah (subsidence) akibat banyaknya lorong dan gua-gua bawah tanah. Namun demikian, satuan ini paling tidak memiliki jasa ekosistem sebagai penyediaan bahan dasar industri (kalsit) dan air (potensi sungai bawah tanah), pengaturan tata air dan biologis (konservasi hayati) dan siklus karbon, pengembangan wisata alam minat khusus, dan budaya kehidupan sejarah dalam gua-gua karst, dan perlindungan plasma nutfah melalui zonasi kawasan karst.

Secara ringkas, karakteristik satuan perbukitan solusional (karst) pada Ekonusa Jawa, dapat dilihat pada Tabel 2.7. berikut ini.

2.4.6. Dataran Struktural Jawa (Dataran Struktural Blok Jalur Selatan Jawa, S31 dan Dataran Struktural Jalur Utara Jawa, S32)

Persebaran satuan ini berasosiasi dengan jalur perbukitan dan pegunungan blok selatan Jawa dan perbukitan struktural utara Jawa (jalur Bogor-Kendeng-Rembang), yang berupa lembah-lembah antar perbukitan dan pegunungan struktural. Jalur utara melewati: Tegal, Pemalang, Kendal, Grobogan, Rembang, Cepu, Bojonegoro, Surabaya hingga Madura. Jalur selatan melewati: Ujung Kulon, Sindangbarang, Pameungpeuk, Gunung Kidul, Pacitan, Ponorogo, Blitar, dan Jember, dengan luas total mencapai 1.148.803,77 Ha.

Kondisi iklim relatif beriklim kering dengan curah hujan rendah. Jalur utara tersusun atas material lempung endapan marin, yang merupakan lembah sinklinal dari Perbukitan Lipatan (Antiklinal) Bogor, Kendeng, dan Rembang.Jalur selatan tersusun atas material lempung hasil rombakan perbukitan dan pegunungan blok patahan zona selatan Jawa, yang merata mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga Jawa Timur.Potensi sumberdaya mineral bahan galian C, berupa material lempung sebagai bahan dasar keramik.

Dataran struktural yang berupa lembah antar perbukitan atau pegunungan lipatan (sinklinal) berpotensi besar mengandung minyak dan gas bumi. Topografi berupa dataran, dengan morfologi atau relief datar (0-3%), berombak (3-8%), hingga bergelombang (8-15%).Satuan ini terbentuk oleh proses pengendapan hasil rombakan material penyusun perbukitan atau pegunungan struktural (dapat berupa patahan atau lipatan), tersusun oleh batuan sedimen klastik lempungan. Dataran struktural yang berupa lembah antar perbukitan atau pegunungan patahan (intermountain basin) dapat berpotensi sebagai pemelihara siklus air, karena merupakan cekungan airtanah secara lokal-lokal dan terdapatnya pemunculan mataair-mataair struktural (mataair patahan atau mataair retakan). Sementara pada dataran struktural blok selatan Jawa, hidrologi permukaan (aliran sungai) yang berkembang dengan pola aliran regtanguler (cabang menyudut), yang menunjukkan daerah yang terbangun karena patahan. Aliran sungai relatif bersifat epimeral (mengalir saat musim penghujan saja) atau intermitten (mengalir saat hujan maksimum). Pada dataran struktural lipatan utara Jawa, aliran sungai relatif bersifat perenial, dengan pola aliran trellis (sungai utama berpola meandering dengan banyak bercabang kecil-kecil yang relatif paralel), yang menunjukkan poses sedimentasi material lempung sangat intensif.

Material lempung pada umumnya membentuk tanah-tanah berlempung dengan indeks plastisitas yang beragam, berupa tanah Grumusol atau Vertisol. Kandungan lempung untuk tanah grumusol di dataran struktural zona utara Jawa lebih tinggi dibanding dengan tanah yang berkembang pada dataran struktural blok selatan Jawa. Kandungan lempung yang tinggi, menyebabkan sifat kembang-kerut dan indeks plastisitas tanah ini tinggi, yang dicirikan sangat becek saat penghujan dan retak-retak saat kemarau. Jika cukup kandungan air, tanah jenis ini relatif subur dan mudah diolah, sehingga pemanfaatan lahan secara umum berupa lahan pertanian tanaman semusim (padi saat penghujan dan palawijo saat kemarau, dengan sekali periode bero „dibiarkan‟), kebun campuran, hutan produksi terbatas, dan permukiman.

—–Gambar 2.12 .Sungai dengan pola meandering

Tanah grumusol adalah tanah lempung dengan pH tinggi (basa), sehingga vegetasi yang sangat cocok tumbuh adalah tanaman jati dan mahoni, yang mampu berproduktivitas tinggi. Fauna ada umumnya berupa hewan yang mampu beradaptasi pada lahan-lahan kering, yang berupareptilia, seperti: ular, biawak, dan kadal. Pada umumnya masyarakat berdagang dan bertani, dengan komposisi penduduk ke arah usia tua, pertumbuhan penduduk rendah, dan kepadatan rendah dengan penyebaran mengelompok di sekitar lembah.

Pada dataran struktural perbukitan blok patahan selatan Jawa, mempunyai kerentanan terhadap degradasi lingkungan akibat pemanfaatan lahan yang berlebihan, kekeringan dan kekurangan air saat kemarau, ancaman bahaya longsor, ancaman bahaya tektonik, dan musnahnya mataair pada saat kemarau panjang, dan kepunahan flora fauna asli.

Pada dataran struktural utara Jawa yang berupa lembah sinklinal dengan material sedimen berlempung, mempunyai kerentanan terhadap sedimentasi dan pendangkalan sungai yang intensif; banjir dan genangan pada saat musim penghujan; kembang-kerut tanah dan proses gerakan tanah (soil creep) yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan jalan dan bangunan; banyak jebakan airtanah payau hingga asin, dan ancaman kekeringan dan kekurangan air bersih; ancaman bencana meterologis berupa angin puting beliung; semburan lumpur bergaram dan gas alam, baik secara alami (diapirisme) maupun akibat kesalahan teknis pengeboran minyak bumi; dan ancaman penjarahan hutan jati, kemiskinan dan konflik sosial lainnya, serta kesehatan masyarakat akibat penyakit ISPA.

—–Gambar .2.13. Potensi Gas Alam dan Lumpur (Bledug Uwu, Grobogan)

Satuan ekonusa ini mempunyai jasa ekosestem berupa penyedia materi genetik dan sumber energi (minyak dan gas bumi), pengaturan air dan pencegahan bencana alam, pengembangan pendidikan dan wisata alam geologis, dan perlindungan sumberdaya alam.

Secara ringkas, karakteristik satuan dataran struktural pada Ekonusa Jawa, dapat dilihat pada Tabel 2.8. berikut ini.