Profile Ekoregion Jawa

   
     PPE Regional Jawa +62 274 625800
Tap To Call

DAS Progo   arrow

6.6.3 DAS Progo

Daerah Aliran Sungai Progo merupakan kesatuan ekosistem yang meliputi wilayah kabupaten dan kota di provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Kabupaten/kota tersebut adalah : Temanggung, Wonosobo, Magelang, Kota Magelang, Semarang, Boyolali, Sleman, Kulon Progo dan Bantul. Luas DAS Progo mencapai 243.833,086 hektar, yang termasuk dalam Propinsi Jawa Tengah seluas 174.497,449 hektar, sedangkan 69.335,637 hektar masuk dalam wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Berdasarkan peta Rupa Bumi Indonesia dari Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional tahun 1999/2000, wilayah Das Progo terletak 109o 59′ BT – 110o291′ BT dan 07o12′ LS – 08o04′ LS. Batas DAS Progo sebelah utara berbatasan denganDAS Jratunseluna, sebelah timur berbatasan dengan DAS Opak-Oyo, sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Hindia dan sebelah barat berbatasan dengan DAS Bogowonto.

Gambar 6.75. DAS Progo

A. Karakteristik

Potensi sumberdaya air tidak lepas dari karakteristik lingkungan fisik yang terdiri dari jenis dan formasi batuan penyusun, relief atau topografi, jenis tanah serta pemanfaatan lahan. Masing-masing karakteristik lingkungan fisik tersebut akan mempengaruhi potensi sumberdaya air yang dapat terlihat dari kuantitas maupun kualitas air di tiap daerah. Karakteristik lingkungan fisik DAS Progo secara umum dibahas pada sub-bab berikut

• Geologi

DAS Progo, secara geologi tercakup dalam Mendala Pegunungan Kulonprogo untuk bagian barat dan bagian utara – tengah merupakan Mendala Gunungapi Merapi. Mendala Pegunungan Kulonprogo tersusun oleh batuan berumur Tersier. Sedangkan Mendala Gunungapi Merapi tersusun oleh batuan berumur Kuarter.

Sebagian besar wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta mulai dari barat sampai dengan garis bujur sekitar Playen, tercakup dalam peta geologi bersistem, skala 1:100.000, Lembar Yogyakarta (Rahardjo, dkk., 1992). Berikut akan diuraikan macam-macam batuan pada setiap formasi batuan penyusun wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, secara berurutan dari Tersier (tertua) sampai dengan Kuarter (termuda).

a) Stratigrafi Mendala Pegunungan Kulonprogo

Bagian barat peta geologi lembar Yogyakarta antara lain terdiri dari batuan berumur Tersier. Batuan tersebut tersusun oleh 4 formasi, dengan urutan dari tua ke muda adalah Formasi: Nanggulan, Andesit Tua, Jonggrangan, dan Sentolo.

Formasi Nanggulan terdiri dari batuan: Batupasir dengan sisipan lignit, napal pasiran, batulempung dengan konglomerat limonit, sisipan napal dan batugamping, batupasir dan tuf. Ketebalan formasi ini diperkirakan 300 m., dengan umur Eosen Tengah – Oligosen Atas. Sebaran formasi batuan ini di wilayah Kabupaten Kulonprogo, dan Sleman (Gunung Wungkal – Kecamatan Godean).

Formasi Andesit Tua, terdiri dari batuan: Breksi andesit, tuf, tuf lapili, aglomerat, dan sisipan lava andesit. Umur formasi ini diperkirakan Oligosen Atas – Miosen Bawah, dengan ketebalan seluruhnya 660 m. Sebaran formasi batuan ini di wilayah Kabupaten Kulonprogo, dan Sleman (Kompleks Gunung Berjo – Wungkal dan sekitar, Kecamatan Godean dan Seyegan) Gambar 6.76.

Peta Geologi DAS Progo Formasi Jonggrangan di bagian bawah terdiri dari Konglomerat, Napal tufan, dan Batupasir gampingan dengan sisipan Lignit. Ke arah atas batuan berubah menjadi Batugamping berlapis dan Batugamping koral. Umur batuan ini Miosen Bawah, dan di bagian bawah saling berjemari dengan Formasi Sentolo. Ketebalan diperkirakan 250 m. Proses diagenesa pada Formasi Jonggrangan menghasilkan sistem karst, dicirikan oleh bentukan kerucut-kerucut karst di sekitar Jonggrangan. Sebaran formasi ini di wilayah Kabupaten Kulonprogo.

Formasi Sentolo terdiri dari Batugamping dan Batupasir napalan. Bagian bawah formasi terdiri dari Konglomerat alas yang ditumpuki oleh Napal tufan dengan sisipan Tuf gelas. Batuan ke arah atas berangsur-angsur berubah menjadi Batugamping berlapis baik. Umur formasi ini Miosen Awal – Pliosen, dan perkiraan tebal 950 m. Sebaran formasi batuan ini di wilayah Kabupaten Kulonprogo, Sleman, dan Bantul.

b) Stratigrafi Mendala Gunungapi Merapi, Merbabu, Sumbing dan Sundoro

Asosiasi batuan penyusun satuan ini umumnya merupakan endapan lahar dari Gunungapi Merapi yang masih aktif sampai sekarang. Komposisi batuan adalah lava andesitik yang terdiri dari ukuran butir bongkah, pasir, dan lanau. Mendala ini secara umum terdiri atas batuan volkanis baik tipe piroklastik, volkaniklastik, maupun lava. Ada dua kelompok besar batuan penyusun mendala ini, masing-masing adalah formasi Notopuro dan kelompok gunungapi masa kini (resen). Formasi Notopuro tersusun oleh batuan breksi volkanik, lava, tuf, batupasir tufan, lahar berselingan dengan lava dan tuf. Formasi ini mempunyai ketebalan 50 – 200 m, dan berumur pleistosen atas. Kelompok gunungapi masa kini terdiri dari Gunung Merbabu, Gubung Merapi, Gunung Sumbing dan Gunung Sundoro. Secara umum batuan penyusunnya berkomposisi andestik (menengah) intermediate (betik miring). Gunung merbabu menghasilkan batuan lava, andesit, breksi volkanik, Gunung merapi Tua menghasilkan breksi, aglomerat, lava andesit dan basalt. Ketiga litologi tersebut pertama juga dihasilkan oleh Merapi Muda, dan selain itu terbentuk tuf dan abu volkanik. Gunung Sumbing Tua menghasilkan breksi andesit. Batuan mendala ini berpeluang menghasilkan bahan galian golongan C jenis batu pecah andesit, sirtu, tuf dan tanah urug.

• Geomorfologi

a) Bentuklahan

Secara fisiografis, menurut Panekock (1949) daerah DAS Progo terletak pada mintakat selatan dan mintakat tengah Pulau Jawa. Mintakat Selatan Jawa pada garis besarnya merupakan pegunungan plateau, yang pada bagian tengah antara Parangtritis (Yogyakarta) dan Cilacap mengalami penenggelaman. Mintakat tengah Jawa merupakan depresi yang ditumbuhi oleh deretan volkan yang berumur Pleistosen hingga Holosen. Berdasarkan hasil interpretasi peta topografi, citra landsat, peta geologi, dan survei lapangan, dapat ditentukan bahwa bentuk lahan mayor yang ada di daerah penelitian adalah sebagai berikut:

1. Bentuk lahan asal volkan yang meliputi volkan Merapi, Merbabu, Sundoro, dan Sumbing. Atas dasar umur erupsinya dibedakan menjadi dua yaitu volkan tua berumur pleistosen dan volkan muda berumur holosen. Berdasarkan morfologi lerengnya bentuklahan volkan dapat dibedakan menjadi beberapa bentuklahan minor yaitu: puncak volkan (volcanic cone), lereng atas (upper slope), lereng tengah (middle slope), lereng bawah (lower slope), kaki volkan (volcanic foot), dataran fluvial volkan, padang lahar, dan padang lava (lahar field, lava field).

2. Bentukan asal denudasional merupakan perbukitan hingga pegunungan denudasional terkikis sedang hingga terkikis kuat batuan breksi, tuffa dan batu pasir (sandstone).

a. Bentuklahan ini menempati daerah hulu Sungai Progo bagian utara-timur laut termasuk Kecamatan Kandangan, Kecamatan Pringsurat dan daerah Kecamatan Somowono. Bentuklahan ini dicirikan relief berbukit hingga bergunung, kemiringan lereng berkisar 30% hingga lebih dari 65%, torehan dan lembah-lembahnya dalam lebih dari 50 m, batuan breksi, tuff dan batu pasir (sandstone) formasi Penyatan, ketinggian tempat berkisar 400 m hingga lebih 800 m.

b. Perbukitan denudasional lereng volkan umumnya merupakan volkan parasiter umur pleistosen yang telah mengalami pengikisan lanjut sehingga tidak nampak lagi puncak volkannya. Bentuklahan ini terdapat pada lereng-lereng volkan erupsi pada kala pleistosen yaitu volkan Telomoyo, volkan Andong, volkan Merbabu, volkan Merapi, volkan Sundoro, dan volkan Sumbing tua (umur pleistosen).
Perbukitan denudasional batuan breksi andesit kala tersier terletak pada Pegunungan Kulonprogo, yang dicirikan relief berbukit hingga bergunung, batuan breksi, tuff dan batu pasir, terkikis kuat, torehan membentuk lembah-lembah dalam, erosi berat, banyak terjadi longsor lahan, jenis tanah litosol dan latosol.

c. Perbukitan denudasional bukit-bukit terisolasi yang terdapat pada dataran fluvial volkan di wilayah Kabupaten Temanggung yaitu di wilayah Kecamatan Ngadirejo, Kecamatan Jumo; di wilayah Kabupaten Magelang yaitu di wilayah Kecamatan Muntilan; di wilayah Kabupaten Sleman yaitu di wilayah Kecamatan Seyegan dan Kecamatan Godean.

3. Bentukan asal struktural yang merupakan perbukitan atau pegunungan patahan dan pegunungan lipatan. Bentuklahan ini dicirikan adanya bidang-bidang patahan (sesar), adanya escarpment, stratigrafi batuan sedimen yang terdiri atas batuan napal, gamping tufaan, batuan pasir atau batuan debu (siltstone). Bentuklahan ini terdapat pada Pegunungan Kulonprogo bagian utara yang berbatasan dengan wilayah Kecamatan Borobudur dan Kecamatan Salaman yang dikenal dengan Perbukitan Menoreh, perbukitan monoklinal formasi Sentolo; perbukitan struktural di wilayah Kecamatan Kaloran Kabupaten Temanggung.

4. Bentukan asal fluvial, dicirikan oleh proses fluvial baik proses pengendapan oleh sungai maupun oleh aliran permukaan (over land flow). Bentuklahan ini dapat dibedakan menjadi beberapa bentuklahan minor, yaitu: (a) dataran aluvial banjir sungai, bantaran sungai dan lembah sungai, (b) dataran aluvial over land flow, (c) dataran koluvio-aluvial kaki perbukitan yang dapat berbentuk kipas maupun kerucut (koluvio-aluvial / colluvio-alluvial fan cone). Bentuklahan ini terdapat pada dataran banjir, lembah dan bantaran sungai terutama pada bagian hilir Sungai Progo, Sungai Sileng, Sungai Tangsi, Sungai Elo, Sungai Pabelan, dan Sungai Blongkeng.

5. Bentuklahan asal solusional (karst) dicirikan oleh batuan gamping murni (limestone), adanya gua-gua, stalagnit, stalagtit, lapies, sungai bawah tanah. Bentuklahan ini terdapat pada Pegunungan Kulonprogo yaitu areal wisata Guo Kiskendo, dan areal penambangan marmer muda di Dusun Selorejo, Desa Ngargoretno wilayah Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang.

6. Bentukan asal marin dan asal eolin (angin). Bentukan ini berada di kawasan pantai selatan di sekitar muara Sungai Progo, dibedakan menjadi beberapa bentuklahan, yaitu: (a) gisik pantai (shore beach); (b) gosong pantai atau gosong muara Sungai Progo dan Sungai Glagah; (c) beting gisik (beach ridge); (d) lagun dan swale; (e) gumuk pasir (sand dune). Pada musim kemarau aliran air muara Sungai Progo terbendung oleh gosong muara, sehingga alur aliran air muara Sungai Progo berbelok ke barat. Pada waktu hujan awal musim hujan aliran air Sungai Progo yang membelok ke barat oleh besarnya aliran air sungai ditunjang gelombang pasang air laut maka terjadi pengikisan dan abrasi marin di kawasan wisata Trisik Kulonprogo.

7. Bentukan antropogenik oleh rekayasa manusia antara lain waduk Sermo di Kabupaten Kulonprogo, tanggul dan check dam atau sabo di lereng-lereng volkan Merapi yang masuk wilayah Kabupaten Magelang dan Kabupaten Sleman.

b) Morfologi

Kondisi Morfologi daerah penelitian dapat dilihat pada Peta Klas Kemiringan DAS Progo. Morfologi di kawasan DAS Progo bervariasi mulai dari dataran sampai dengan morfologi pegunungan. Morfologi dataran dengan klas kemiringan lereng 0% – 8% meliputi daerah/kawasan yang mempunyai bentuklahan dataran fluvial ataupun alluvial. Kawasan pegunungan dengan klas kemiringan lereng lebih dari 45%, meliputi kawasan gunung Merapi, Sundoro, Sumbing, Merbabu dan Pegunungan Menoreh.

Kondisi morfologi kawasan DAS Progo berpengaruh terhadap proses geomorfologi yang terjadi di seluruh kawasan. Proses geomorfologi yang meliputi erosi, degradasi lahan, lahan kritis dapat diindentifikasi dari klas kemiringan lereng yang ada. Klas kemiringan lereng yang tinggi dan dengan kondisi morfologi yang berbukit sampai dengan bergunung dapat menentukan besar kecilnya proses degradasi yang berlangsung.

Kemiringan lereng dan kondisi morfologi di kawasan DAS Progo berpengaruh juga terhadap aspek geomorfologi yang lain. Penggunaan lahan juga sangat tergantung pada morfologi dan kemiringan lereng yang ada. Penggunaan lahan di daerah dataran akan cenderung untuk lahan pertanian dan lahan permukiman. Morfologi pegunungan dan klas kemiringan lereng yang tinggi lebih cenderung ke arah hutan lindung dan hutan budidaya yang merupakan kawasan resapan. Akan tetapi klas kemiringan lereng yang tinggi juga tidak mempengaruhi masyarakat untuk dijadikan lahan pertanian dan pembukaan hutan yang mengakibatkan proses erosi dan longsor lahan menjadi sangat terjadi dengan intensitas yang tinggi

Jenis Tanah

Jenis-jenis tanah yang ada di DAS Progo adalah: (1) Andosol (Andepts, Andisols); (2) Latosol (Tropudalfs, Tropudults); (3) Litosol (Troporthents), (4) Regosol (Tropopsamments, Udipsamments); (5) Grumusol (Pelluderts, Chromuderts); (6) Kambisol (Dystropepts, Eutropepts); (7) Aluvial (Udifluvents). Agihan (distribusi), ciri dan sifat morfologi masing-masing jenis tanah adalah sebagai berikut:

1. Andosol (Hapludands)
Agihan jenis tanah ini lereng-lereng atas hingga puncak volkan, yaitu volkan Sumbing, Sundoro, Ungaran, Telomoyo, Andong, Merbabu, dan volkan Merapi, yang mempunyai ketinggian (elevasi) di atas 1.000 m dpal, dan bahan induk bahan abu volkanis umur pleistosen.

Ciri dan sifat tanah, tanah telah berkembang dengan susunan horizon A1, B1, B2, B3, C, tekstur geluh berdebu-geluh lempung berdebu, struktur remah-gumpal lemah, konsistensi gembur hingga smeary, permeabilitas tanah sedang, warna kelabu gelap-coklat kelabuan gelap (7,5 yR 3/2), kandungan bahan organik rendah-sedang, pH 6,0, kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa tinggi, kesuburan tanah tinggi, cocok untuk tanaman sayur-sayuran (horticultural), kebun teh, dan hutan pinus. Akibat dari perambahan hutan dan alih fungsi hutan menjadi lahan budidaya tanaman sayur-sayuran dan tembakau, umumnya tanah andosol telah tererosi sedang-berat.

Gambar 6.77. Peta Jenis Tanah DAS Progo

2. Latosol (Tropundalfs, Tropudults)
Agihan jenis tanah ini pada bentuklahan perbukitan denudasional batuan breksi formasi Penyatan di wilayah Kecamatan Jumo, Kecamatan Kandangan, Kecamatan Somowono, dan Kecamatan Pringsurat; perbukitan denudasional lereng volkan dari volkan Sumbing, Sundoro, Telomoyo, Merbabu, dan Merapi tua; perbukitan denudasional batuan breksi Pegunungan Kulonprogo.
Ciri dan sifat morfologi tanah, sudah berkembang terbentuk horizon tanah secara lengkap susunannya A, B, C, R, tekstur geluh berlempung-lempung, struktur gumpal, konsistensi teguh bila basah lekat dan agak liat (plastis), permeabilitas tanah agak lambat, warna coklat-coklat kemerahan 97,5 yR 4/4-4/6), pH 6,0-6,5, kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa sedang-tinggi, kesuburan tanah sedang-tinggi cocok untuk tanaman perkebunan coklat, cengkeh, dan kopi. Pada lereng-lereng yang datar-landai, tersedia air irigasi lahan potensial untuk padi sawah. Pada lereng-lereng perbukitan yang kemiringan lereng lebih dari 30%, penggunaan lahan untuk budidaya tanaman semusim (dry land) umumnya telah terjadi erosi berat, jeluk tanah kurang 30 cm berubah menjadi jenis tanah litosol.

3. Litosol (Troporthents, Uclorthents)
Agihan jenis tanah ini pada lereng-lereng perbukitan-pegunungan yang kemiringan lerengnya > 30%, digunakan untuk tegalan (dry land), atau hutan rusak (gundul) pada perbukitan struktural dan perbukitan denudasional di Pegunungan Kulonprogo dan Pegunungan Menoreh. Ciri dan sifat tanah, jeluk (kedalaman) tanah sangat tipis (kurang dari 25 cm) bahkan tinggal merupakan singkapan batuan (rock out crop), tekstur geluh pasiran, struktur remah-gumpal, konsistensi gembur-teguh, kesuburan dan potensi tanah untuk pertanian sangat rendah.

4. Regosol (Udipsamments, Tropopsamments)
Agihan jenis tanah ini pada lereng-lereng volkan muda (umur Holosen), volkan Merapi, Sundoro, dan Sumbing, dan pada beting gisik dan gumuk-gumuk pasir sekitar muara Sungai Progo. Ciri dan sifat tanah, tanah muda belum berkembang, profil homogen (horizon C), warna kelabu-coklat kekelabuan (10YR 3/2 – 3/4),tekstur pasir – pasir geluhan, struktur berbutir tunggal, konsistensi lepas – lepas, pH 6,0 – 6,5, kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa sedang sampai tinggi, kesuburan dan potensi tanah untuk pertanian sedang sampai tinggi.

5. Grumusol (Cromuderts, Pelluderts)
Agihan jenis tanah ini pada perbukitan struktural formasi Sentolo Pegunungan Kulonprogo. Ciri dan sifat tanah, profil tanah homogen, warna kelabu sangat gelap hingga hitam (7,5 YR 3/0 – 3/1), tekstur lempung berat, struktur granuler hingga pejal, konsistensi sangat teguh bila basah sangat lekat dan sangat liat (plastis), mineral lempung didominasi tipe montmorilonit yang memiliki sifat bila basah mengembang (swelling) bila retak lebar lebih dari 5 cm dan dalam >50 cm, pada kedalaman > 50 cm terjadi cermin sesar (slickenside), kesuburan fisik rendah, kesuburan kimia sedang, potensi tanah untuk pertanian rendah sampai sedang, daya dukung tanah untuk konstruksi jalan dan bangunan gedung rendah.

6. Kambisol (Eutropepts)
Agihan jenis tanah ini pada dataran kipas koluvio – alluvial kaki perbukitan denudasional dan perbukitan struktural, dan pada dataran fluvial volkan. Dataran fluvial volkan Sundoro dan Sumbing di daerah Kabupaten Temanggung, dan dataran fluvial volkan Merapi di daerah Kabupaten Sleman. Ciri dan sifat perkembangan tanah dan taraf permulaan dicirikan terbentuknya horison kambik, warna coklat kekelabuan – coklat kekuningan, tekstur geluh pasiran – struktur remah hingga gumpal, konsistensi gembur – agak teguh, permeabilitas tanah sedang, kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa sedang hingga tinggi, pH 6,0 – 6,5, kesuburan dan potensi tanah untuk pertanian sedang hingga tinggi.

7. Alluvial (Udifluvents)
Agihan jenis ini pada dataran alluvial sungai dan dataran overlandflow, terutama dataran alluvial sungai Progo bagian hilir. Ciri dan sifat tanah, tanah masih muda belum berkembang, berlapis – berlapis oleh pengaruh proses pengendapan (fluvial), tekstur geluh lempung debuan hingga lempung debuan, struktur belum berstruktur (structureless) atau berlumpur pejal, konsistensi lekat agak liat, permeabilitas lambat, drainase jelek, kandungan bahan organik sedang, pH 6,0 – 7,0, kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa tinggi, kesuburan dan potensi tanah untuk pertanian khususnya padi lahan basah tinggi

• Hidrologi
Curah hujan tahunan wilayah untuk setiap stasiun hujan dihitung menggunakan metode isohiet. Peta isohiet digambarkan pada peta topografi berdasarkan data curah hujan (interval 10 – 20 mm) pada titik-titik pengamatan di dalam dan sekitar daerah yang dimaksud. Luas bagian daerah antara dua garis isohiet yang berdekatan diukur dengan planimeter. Harga rata-rata dari garis-garis isohiet yang berdekatan yang termasuk bagian-bagian daerah itu dapat dihitung.

Tabel 6.60. Curah Hujan di DAS Progo

Curah hujan tahunan di DAS Progo bervariasi dari 1659 mm/tahun (Badran) sampai 4573 mm/tahun (Kintelan), distribusi keruangan curah hujan tahunan disajikan dalam seperti tampak pada gambar dibawah ini :

Gambar 6.78. Peta Curah Hujan DAS Progo Curah hujan yang tinggi banyak dijumpai di lereng

Gunung Sundoro (4000 – 6500 mm/tahun), dan di lereng Gunung Merapi (3500 – 4500 mm/tahun). Daerah hilir dari DAS Progo mempunyai curah hujan antara 2000 – 3000 mm/tahun

• Pemanfaatan Lahan
Secara garis besar, penggunaan lahan dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu penggunaan lahan pertanian dan penggunaan lahan bukan pertanian. Penggunaan lahan pertanian dibedakan ke dalam macam penggunaan lahan berdasarkan atas penyediaan air dan komoditi yang diusahakan, dimanfaatkan atau yang terdapat di atas lahan tersebut. Berdasarkan hal ini dikenal macam penggunaan lahan seperti tegalan, sawah, kebun kopi, kebun karet, padang rumput, hutan produksi, hutan lindung, padang alang-alang dan sebagainya. Penggunaan lahan bukan pertanian dapat dibedakan ke dalam penggunaan kota dan desa (permukiman), industri, rekreasi, pertambangan dan sebagainya (Dit. Land Use, 1967).

Berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik, penggunaan lahan secara garis besar dikelompokkan menjadi dua, yaitu penggunaan tanah sawah dan tanah kering. Dari tahun 1997 hingga 2002 luas tanah sawah di DAS Progo cenderung mengalami penurunan, dan tanah kering mengalami peningkatan. Hal ini erat kaitannya dengan adanya perluasan wilayah permukiman dan wilayah usaha yang secara langsung membutuhkan ruang. Dan untuk memenuhi kebutuhan akan ruang tersebut, terjadi konversi lahan pertanian menjadi permukiman dan tempat usaha.

Luas tanah sawah di DAS Progo pada tahun 1997 sebanyak 118.270 hektar (29 persen) dan tanah kering sebanyak 291.394 hektar (71 persen). Pada tahun 2002 luas tanah sawah berkurang menjadi 95.275 hektar (27 persen) dan tanah kering bertambah menjadi 262.073 hektar (73 persen). Berdasarkan data tersebut menunjukan bahwa terdapat kecenderungan penurunan luas lahan sawah dalam kurun waktu 5 tahun mencapai 22.996 ha

B. Potensi Sumberdaya Air

• Hidrologi permukaan (sungai)
Secara administratif DAS Progo terletak di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Propinsi Jawa Tengah. Luas DAS Progo ± 3.238,89 km2, dengan panjang sungai utamanya ± 138 km. Sungai ini berhulu di empat gunung yaitu Gunung Sumbing (± 3.240 m), Gunung Sundoro (± 3.136 m), Gunung Merbabu (± 3.142 m) dan Gunung Merapi (± 2.986 m). Tabel Nama sungai dan anak sungai yang mengalir di DAS Progo menurut Sub DAS dan Kecamatannya disajikan pada tabel dibawah ini :

Tabel 6.61. Nama sungai dan anak sungai yang mengalir di DAS Progo menurut Sub DAS dan Kecamatannya

Pola aliran anak-anak sungainya berbentuk radial, dan bermuara di sungai utama (Sungai Progo) yang memanjang dari arah utara ke selatan. Di bagian hilir, alur Sungai Progo berbelok-belok (meandering), dan di dekat muara banyak terdapat endapan yang berupa delta sungai. Debit rerata bulanan Sungai Progo yang tercatat di beberapa tempat yaitu di Kali Bawang 58,50 m3/dt, Duwet 44,78 m3/dt dan Pendowo (Sungai Bedog) 11 m3/dt.

Pemanfatan air Sungai Progo sebagian besar untuk keperluan irigasi. Tataguna lahan di bagian hulu yang utama adalah untuk pertanian (perkebunan) serta pemukiman, di bagian hilir untuk persawahan, permukiman dan kebun campur.

Debit aliran Pembahasan aliran sungai di DAS Progo didasarkan pada data debit aliran dari beberapa stasiun aliran, angka aliran tersedia dari tahun 1991 sampai 2002. Angka aliran yang dibahas mencakup debit aliran maksimum, debit aliran minimum dan debit aliran rata-rata. Evaluasi debit aliran tersebut digunakan untuk mengetahui kondisi DAS secara hidrologis.

Menurut Kunkle (1976), evaluasi debit aliran perlu menggunakan angka debit aliran spesifik (specific disharge), yaitu angka debit aliran dibagi dengan luas DAS, sehingga satuannya menjadi m3/dt/km2, maksudnya adalah untuk menghilangkan pengaruh faktor luas DAS terhadap angka debit aliran. Kriteria debit aliran menurut Kunkle (1976) disajikan dalam tabel berikut ini :

Tabel 6.62. Angka debit aliran spesifik di beberapa sungai di DAS Progo

Angka debit aliran tersebut didasarkan pada perhitungan angka debit aliran rata-rata selama tahun 1991 hingga tahun 1997. Dari lima stasiun pengaliran sungai yang ada, maka Progo di atas Borobudur mempunyai daerah tangkapan air yang paling luas yaitu 948 km2, sedangkan Progo di atas Kranggan mempunyai DTA yang kecil yaitu sekitar 423,4 km2. Sungai Tangsi yang masuk kedalam sungai Progo juga mempunyai DTA yang kecil, yaitu hanya 119,1 km2. Berdasarkan data debit maksimum, maka semua hasil pengukuran menunjukkan kriteria debit maksimum yang sangat baik hingga baik (Tangsi-Susukan). Berdasarkan angka debit minimum, maka sungai Progo di atas Kranggan mempunyai kriteria jelek (debit minimum 0,00 m3/dt), sedangkan debit dikatakan baik-sangat baik jika nilai debitnya antara 0,01 – >0,02 m3/dt. Berdasarkan angka debit rata-rata, maka sungai Progo di atas Kranggan, Badran dan Borobudur mempunyai kriteria yang jelek (0,03 m3/dt), sedangkan kriteria baik dan sangat baik adalah 0,04 – >0,047 m3/dt.

Berdasarkan rasio debit yaitu rasio antara debit maksimum dan debit minimum maka sungai Tangsi diatas Susukan dan sungai Progo diatas Kranggan mempuyai rasio debit yang jelek (>100 dan > 55,6) sedangkan sungai yang lain dalam kriteria baik hingga sangat baik.

Debit minimum yang kecil disebabkan pengambilan atau penggunaan air sungai untuk keperluan irigasi yang besar atau berlebihan, bukan karena faktor baseflownya yang sedikit.

Tabel 6.63. Karakteristik Debit Spesifik Sungai-Sungai di DAS Progo

Tabel 6.64. Rasio Debit Sungai-Sungai di DAS Progo

Walaupun dari segi debit tercatat terlihat bahwa debit air sungai Progo masih baik namun kenyataan di lapangan memperlihatkan bahwa Intake Sapon maupun Intake Kamijoro telah mengalami penurunan muka air. Hal terlihat oleh pintu air yang lebih tinggi muka air sungai sehingga air sungai Progo tidak dapat masuk ke saluran-saluran tersebut. Khusus untuk intake Sapon, disebabkan oleh penurunan dasar sungai oleh erosi vertikal akibat penambangan pasir. Bangunan dam di sebelah kiri jembatan Srandakan sangat tepat untuk mengontrol erosi vertikal di alur sungai Progo. Saat ini, pemerintah telah memperbaiki maupun membuatkan pintu air baru serta mengusahakan arus air sungai masuk ke pintu tersebut. Selain itu disinyalir bahwa penurunan muka air atau debit akibat kelebihan permintaan untuk kebutuhan irigasi di bagian hulu.

• Hidrologi airtanah
Airtanah merupakan sumberdaya yang sangat penting untuk memenuhi kebutuhan air domestik dan industri. Keberadaan airtanah ada di bawah permukaan pada lapisan yang jenuh air yang disebut dengan akuifer. Keberadaan airtanah sangat erat dengan kondisi geologi, curah hujan dan kondisi permukaan lahan. Menurut Peta Hidrogeologi skala 1:250.000 lembar Yogyakarta (Direktorat Geologi Tata Lingkungan, 1985) di wilayah penelitian dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) satuan berdasarkan sifat pengaliran atau keluarnya airtanah, yang dikelompokkan lagi menjadi 9 (sembilan) satuan hidrogeologi yang lebih terinci berdasarkan terdapatnya airtanah dan produktivitas akuifer, seperti berikut ini.

a. Akuifer dengan aliran melalui ruang atau butir

  • Akuifer produktivitas tinggi dan penyebaran luas, permeabilitas sedang sampai tinggi, muka airtanah di atas atau dekat di bawah muka airtanah, debit sumur umumnya lebih besar dari 10 l/dt. Material penyusun akuifer ini didominasi oleh endapan volkanik muda, terdiri dari tufa, lahar, breksi dan lava andesit sampai basal, permebilitas tinggi hingga sedang ; permebilitas tinggi terutama pada endapan lahar dan aliran lava vesikular. Terdapat di lereng kaki gunung api Merapi daerah sekitar Kali bedog, kecamatan Mlati.
  • Akuifer produktif dengan penyebaran luas, permeabilitas sedang, muka airtanah di atas atau dekat di bawah muka tanah, debit sumur umumnya 5-10 l/dt. Terdapat di lereng kaki Gunung api Merapi di sekitar kali Konteng kecamatan Gamping.
  • Akuifer produktivitas sedang dengan penyebaran luas. Permeabilitas rendah sampai sedang, muka airtanah beragam dari dekat muka tanah sampai lebih dari 5 meter, debit sumur kurang dari 5 l/dt. Material penyusun terdiri atas a. endapan volkanik muda asal gunung Sumbing dan gunung Sundoro, terdiri dari aliran lava andesit, breksi andesit dan lahar. Permeabilitas sedang sampai tinggi, terdapat di daerah Minggir, Godean dan Bantul ; b. aluvium endapan dataran dan sungai, terutama tersusun oleh pasir, kerikil, lanau dan lempung, permeabilitas sedang sampai tinggi, tersebar di daerah Borobudur, Temon, Brosot dan Lendah ; c. aluvium pematang pantai, terutama tersusun oleh pasir, permeabilitas sedang sampai tinggi, terdapat di pantai Kabupaten Kulonprogo.
  • Setempat, akuifer berproduksi sedang, tidak menerus, tipis, keterusan sedang, muka airtanah umumnya dangkal, debit sumur kurang dari 5 l/dt. Material penyusun terdiri atas endapan volkanik muda asal gunung Sumbing dan gunung Sundoro, terdiri dari aliran lava andesit, breksi andesit dan lahar. Permeabilitas sedang sampai tinggi, terdapat di daerah pinggiran Sungai Progo bagian hilir ; b. aluvium endapan dataran dan sungai, terutama tersusun oleh pasir, kerikil, lanau dan lempung, permeabilitas sedang sampai tinggi, tersebar di daerah dataran rendah sekitar Wates.

b. Akuifer dengan aliran melalui celahan dan ruang antar butir

  • Akuifer dengan produktivitas tinggi dan penyebaran luas, kelulusan dan kedalaman muka airtanah bervariatif, debit aliran sumur lebih dari 5 l/dt. Material penyusunnya berupa bahan-bahan piroklastik gunungapi muda, yaitu gunungapi Merapi, Merbabu, Sundoro dan Sumbing, yang terdiri dari breksi hingga breksi andesitis, aliran lava, lahar, lapili dan tufa, dengan kelulusan sedang hingga tinggi yang menempati satuan dataran kaki volkan hingga kaki gunungapi. Pada satuan ini banyak dijumpai mataair dengan debit bervariatif, mulai dari 10 l/dt hingga lebih dari 500 l/dt.
  • Akuifer dengan produktivitas sedang penyebaran luas, kelulusan sangat beragam, muka airtanah bebas umumnya dalam dan debit aliran sumur kurang dari 5 l/dt. Akuifer ini tersusun oleh material piroklastik yang berukuran lebih kecil dan lava andesitis berongga, kelulusan sedang hingga tinggi.
  • Akuifer setempat produktivitas rendah, kelulusan beragam, airatanah sulit dimanfaatkan karena kedalamannya, dan mataair berdebit kecil.

c. Akuifer dengan produktivitas kecil dan daerah langka airtanah

  • Akuifer dengan produktivitas kecil, setempat-setempat. Umumnya permeabilitas rendah sampai sedang, setempat-setempat airtanah dalam jumlah terbatas terdapat pada daerah lembah. Material penyusun terdiri atas campuran endapan volkanik (breksi, tufa dan lava) dengan endapan sedimen marin (batumarin, konglomerat, serpih dan napal). Umumnya permeabilitas rendah. Terdapat di bagian bawah perbukitan Menoreh dan bagian utara dari DAS Progo Hulu.
  • Daerah airtanah langka. Terdapat di sekitar kerucut gunung api Merapi, Merbabu, Sumbing dan Sundoro dan perbukitan Menoreh.

Berdasarkan peta hidrogeologi dan sumber dari Pengelolaan Sumberdaya Air Progo Opak Oyo, maka DAS progo terdiri atas 5 (lima) jenis akuifer yaitu Akuitard Kulonprogo, Akuifer volkanik Jawa Tengah, Akuifer volkanik Yogya, Akuifer Sentolo dan Akuifer Wates. Kelima zona airtanah tersebut adalah :

a. Zona Aquitard Kulonprogo
Airtanah dijumpai dalam celahan pada Formasi ―Old Andesite‖ dan Formasi Nanggulan, yang tersusun oleh batupasir kuarsa bersisipan batulempung dan lignit, lava dan breksi andesit, dengan potensi kecil.

b. Zona Aquifer Sentolo
Airtanah berada pada lapisan batuan Formasi Sentolo pada kaki Pegunungan Kulonprogo. Pada daerah dimana Formasi Sentolo tersingkap merupakan air tanah bebas, sedangkan pada daerah dimana Formasi Sentolo tertutup endapan muda, merupakan air tanah tertekan. Potensi air tanah tergolong sedang.

c. Zona Aquifer Wates
Airtanah berada pada endapan aluvial pada daerah dataran di sebelah selatan Pegunungan Kulonprogo. Merupakan air tanah bebas dengan potensi sedang.

d. Zona Aquifer Volkanik Jawa Tengah dan DIY
Formasi geologi pembawa air tanah terdiri atas batuan dan endapan gunungapi tua dan muda, menempati cekungan Temanggung-Magelang-Yogyakarta. Merupakan aquifer bebas dan mempunyai potensi air tanah yang besar. Di daerah pantai ada zone airtanah yaitu zone airtanah Gumuk Pasir, akuifernya mempunyai ciri permeabilitas besar, sebaran sempit sehingga termasuk kategori akuifer produktivitas sedang. Rawan pencemaran dari limbah dan rawan intrusi air laut. Luas daerah tangkapan hujannya adalah 2351,58 km2. Kelima akuifer mempunyai debit aliran airtanah sebesar 4.653,06 juta m3. Secara terinci potensi airtanah di DAS Progo disajikan pada

Tabel berikut ini : Tabel 6.65. Potensi Airtanah di DAS Progo

• Kebutuhan dan Ketersediaan Air (Kekritisan Air)
Potensi sumberdaya air adalah sejumlah air berupa air permukaan dan airtanah (groundwater) dalam angka rata-rata tahunan. Menurut Notohadiprodjo (1982), jumlah air yang tersedia diperkirakan sebesar 25% sampai 35% dari curah hujan dikurangi dengan evapotranspirasi. Air yang tersedia ini disebut aliran mantap, yaitu aliran yang tersedia setiap waktu pada angka rata-rata tahunan.

Estimasi jumlah air di suatu wilayah didekati dengan neraca air secara hidrometeorologis, satuan wilayah perhitungan dapat menggunakan satuan pulau atau satuan daerah aliran sungai. Rumus umum yang digunakan seperti yang dikemukakan oleh Seyhan (1977), yaitu konsep neraca air secara meteorologis pada suatu DAS :

P = R + Ea ± Δ St

Apabila neraca air tersebut diterapkan untuk periode rata-rata tahunan, maka Δ St dapat dianggap nol, sehingga surplus air yang tersedia adalah :

R = P – Ea

Dan jumlah air yang tersedia diperkirakan sebesar 25% hingga 35% dari surplus air. Indeks kekritisan air merupakan perbandingan antara ketersediaan dengan kebutuhan air, yang dapat dirumuskan sebagai berikut :

Indeks kekritisan = kebutuhan air / ketersediaan air x 100%

Klasifikasi yang digunakan disajikan pada berikut ini:.

Tabel 6.66. Klasifikasi Kekritisan Air menurut Notohadiprodjo (1982)

Kebutuhan air untuk penduduk mencakup kebutuhan air untuk domestik, irigasi dan industri. Kebutuhan air untuk domestik ditetapkan sebesar 200 liter/hari/kapita untuk kota besar, 100 liter/hari/kapita untuk kota sedang dan 75 liter/hari/kapita untuk kota kecil.

Hasil perhitungan kebutuhan air disajikan pada Tabel 3.19. Berdasarkan tabel tersebut, jumlah total kebutuhan air adalah 6.632,286 juta m3/tahun dan ketersediaan air adalah 11.707,73 juta m3/tahun. Setiap kecamatan di DAS Progo telah mengalami kekritisan air. Hanya kecamatan Pakis, Kledung, Magelang Utara dan Magelang Selatan serta Selo yang belum mengalami kekritisan air.

Tabel 6.67. Perhitungan Kebutuhan dan Ketersediaan Air di DAS Progo

Pada umumnya daerah yang mengalami kritis air mempunyai jumlah penduduk yang tinggi dan lahan sawah yang luas sehingga kebutuhan air banyak. Karena apabila diperhatikan, kebutuhan air sebagian besar diperuntukkan untuk irigasi sawah. Pendekatan perhitungan kekritisan air menggunakan imbangan air tahunan secara meteorologis, sehingga simpanan air dalam DAS yang berupa simpanan lengas tanah, simpanan air permukaan dan simpanan airtanah tidak diperhitungkan dan perubahannya dianggap nol.

Perhitungan ini digunakan mengingat sumber air di daratan berasal dari curah hujan dan kehilangan air terbesar dari evapotranspirasi, maka dapat digunakan sebagai isyarat bahwa ketersediaan air di daratan terbatas pada curah hujan. Kekritisan air dapat meningkat apabila terjai perubahan iklim, khususnya penurunan jumlah curah hujan.

• Pemanfaatan Sumberdaya Air Eksisting di DAS Progo

a) Air Domestik

Pada saat ini sebagian besar penyediaan air domestik untuk masyarakat di wilayah studi dipenuhi dari air tanah, baik yang diusahakan sendiri oleh masyarakat melalui sumur-sumur rumah tangga, maupun yang dipenuhi oleh PDAM atau air bersih pedesaan. Untuk wilayah Propinsi DIY, pemenuhan air domestik diperoleh melalui :

 Penyediaan air bersih perkotaan
Cakupan rata-rata mencapai ±19,8 % jumlah penduduk seluruh Propinsi D.I. Yogyakarta, yang dipenuhi oleh PDAM Kota/Kabupaten. Kapasitas terpasang produksi air PDAM saat ini adalah 1.314 liter/detik dengan rincian PDAM Kota Yogyakarta 674 liter/detik, Kabupaten Sleman 235 liter/detik dan Kabupaten Bantul 205 liter/detik.

 Penyediaan air bersih pedesaan
Cakupannya ± 27,4% dari jumlah penduduk, yang dipenuhi dengan sistem perpipaan maupun non perpipaan yang dibangun oleh pemerintah, namun pengelolaannya dilakukan oleh masyarakat setempat secara swadaya.

 Penyediaan air bersih secara mandiri
Sisanya adalah sebanyak 52,8% menyediakan air bersih secara mandiri yaitu memanfaatkan sumber air yang ada antara lain: sumur gali, danau/telaga, sungai atau mata air yang jaraknya tidak jauh dari permukiman penduduk.

b) Air Industri

Penggunaan air permukaan untuk keperluan industri dalam skala besar saat ini hanya untuk keperluan pabrik gula Madukismo selama giling yaitu sebesar 200-550 l/dt yang disuplai dari Selokan Mataram melalui Sungai Winongo, sedangkan untuk industri yang lain belum ada, pabrik-pabrik/industri yang ada masih memanfaatkan air tanah dengan menggunakan sumur dalam yang diusahakan sendiri. Untuk industri kecil dan rumah tangga, penggunaan air masih mengandalkan pada sumber air dari PDAM, maupun dari sumur dangkal yang mereka miliki. Sedangkan untuk daerah perkotaan penggunaan sumur dangkal untuk keperluan air minum semakin berkurang, yang disebabakan karena kualitas air yang kurang baik akibat pencemaran dari septiktank.

c) Air untuk Irigasi

Total luas lahan irigasi di DIY adalah 49.883 Ha, dengan rincian :
 Lahan Irigasi Teknis = 18.050 Ha
 Lahan Irigasi Semi (1/2) Teknis = 23.891 Ha
 Lahan Irigasi Sederhana = 6.368 Ha
 Lahan Irigasi Desa = 213 Ha

Sedangkan untuk wilayah Jateng (wilayah Progo Hulu di Kab/Kota Magelang dan Kab. Temanggung) total luas lahan irigasi adalah 49.483,4 Ha, dengan rincian :
 Lahan Irigasi Teknis = 12.100,3 Ha
 Lahan Irigasi Semi (1/2) Teknis = 7.733,9 Ha
 Lahan Irigasi Sederhana = 19.481,2 Ha
 Lahan Irigasi Desa = 10.168,0 Ha

Disamping luas lahan irigasi sebagaimana disebutkan diatas, di wilayah studi juga terdapat sawah tadah hujan dengan luasan 8770,0 Ha dan 9036,5 Ha, masing-masing untuk wilayah DIY dan wilayah Jateng (Progo hulu).

Beberapa sumber data memberikan angka yang berbeda untuk luasan lahan-lahan sawah di wilayah studi, yang disebabkan beberapa faktor.

Perbedaan data dapat disebabkan karena memang telah berubahnya sistem pemberian air irigasi, dari yang sebelumnya misalnya semi teknis menjadi teknis, dari irigasi desa menjadi irigasi sederhana, dll. Disamping itu, kenyataan dilapangan menunjukkan banyak lahan sawah yang memang telah berubah fungsi menjadi lahan non-sawah. Dalam studi ini, data yang diacu adalah data dari sumber utama BPS (Kabupaten/Kota dalam angka) didukung data dari Keputusan Bupati tentang pola tanam.

Dari data yang ada tercatat ada sejumlah 567 D.I Teknis dan Semi Teknis dengan jumlah bendung sebanyak 518 buah, sedangkan pada D.I Pedesaan dan D.I sederhana terdapat 1.288 D.I dengan jumlah bendung sebanyak 863 buah. Dalam studi ini, data bendung yang terekap hanya sekitar 260-an bendung, dengan data luasan sawah yang terairi.

Beberapa bangunan air penting (di Sungai Progo) yang digunakan untuk melayani kebutuhan air irigasi adalah Bendung Karang Talun, Saluran Kalibawang, intake Sapon, dan intake Kamijoro; fungsi dari masing-masing bangunan air tersebut diberikan berikut ini.

Saluran Kalibawang-Sermo, saluran dengan debit rencana sebesar 7,25 m3/det ini mengambil air dari Sungai Progo, dengan fungsi utama adalah untuk mengairi D.I Kalibawang dan Donomulyo seluas 2.313 ha. Selain itu, saluran ini juga difungsikan untuk memberikan suplai air bersih ke Sungai Papah dan Sungai Serang dimana luas areal irigasi yang dilayani adalah sekitar 4.627 ha. Selain dari Saluran Kalibawang, Sungai Serang juga mendapat suplai dari Waduk Sermo.

Bendung Karang Talun (Saluran Mataram)-Suplai Sungai Opak, merupakan bangunan pengambilan air yang ada di Sungai Progo yang digunakan melalui saluran Mataram untuk mengairi DI Van de Wijck dan sadap langsung, serta untuk memberikan suplai air ke sungai-sungai di DAS Opak. Saluran direncanakan dengan debit rencana sebesar 19,5 m3/det, namun karena sedimentasi, debit yang bisa dialirkan hanya 17 m3/det. Pemanfaatan air dari saluran Mataram diprioritaskan untuk :

  • Suplai sebesar 200-550 lt/det untuk PG. Madukismo selama musim giling (melalui S. Winongo)
  • Memberikan aliran irigasi sadap langsung dan DI Van Der Wijck (seluas 8.457 Ha)
  • Suplai DAS Opak (luas lahan irigasi yang dilayani bendung-bendung di DAS Sungai Opak adalah 8.774 Ha), dan
  • Flusing sistem untuk Kota Yogyakarta.

– Intake Kamijoro ; fungsi intake ini adalah untuk mensuplai kebutuhan air pada jaringan irigasi Pijenan (luas layanan 2.270 Ha). Selama ini layanan untuk daerah irigasi Pijenan disuplai dari Selokan Mataram yang masuk ke Kali Bedog dan ditangkap di Bendung Pijenen (Kab.Bantul). Intake tersebut saat ini tidak dapat berfungsi maksimal, karena pengaruh endapan sedimen.
Intake Sapon, digunkaan untuk mengairi areal irigasi seluas 1.970 Ha (Sumber data lain menyebutkan luas 2.230 Ha); dari bangunan-bangunan pengambilan air yang ada di Sungai Progo, lokasi intake Sapon berada paling hilir, dan debit air yang masuk sangat tergantung pada elevasi muka air Sungai Progo di depan lokasi intake. Biasanya apabila air yang ada tidak dapat masuk, maka dibuatkan aliran (bangunan pengarah tidak permanen) ke atas sampai batas elevasi yang diinginkan.

C. Permasalahan Lingkungan
Permasalahan lingkungan di DAS Progo meliputi :

  •  Kontaminasi bahan organik dari pasar kota dan permukiman sepanjang sungai.
  • Limbah industri sari jenis industri pabrik gula, tepung tapioka, pabrik tekstil, pabrik susu, pabrik tahu dan kecap.
  • Lahan pertanian yang menghasilkan sisa pupuk dan pestisida hanyut terbawa air ke sungai.
  • Muatan suspensi hasil dari proses erosi dan longsor lahan.

Sungai Progo terutama bagian hilir dicemari oleh polutan yang berasal dari kota-kota lokal yang berada di sepanjang anak sungai Progo seperti Beran, Yogyakarta, Bantul. Sumber polutan yang masuk ke anak sungai Progo bagian hilir berupa limbah organik dari peternakan dan industri tahu-tempe, limbah kimia dari industri batik, pelayanan kesehatan, industri tinta dan lain-lain. Sumber industri yang membuang limbah ke dalam anak sungai/sungai Progo disajikan pada tabel 6.69.

Tabel 6.68. Pembuangan Limbah Cair yang Masuk ke Sungai Progo wilayah DIY

Berdasarkan hasil analisis data kualitas air sungai Progo bagian Hilir yang diambil dari 7 lokasi sampel (Bapedalda DIY, 2003), maka dapat dirumuskan kualitas air sungai-sungai di DAS Progo. Sungai-sungai di DAS Progo tercemar secara organik (biologis) dan kimia karena berdasarkan nilai ambang baku, unsur-unsur yang melebihi NAB adalah BOD, COD, detergen, serta bakteri coli. Hal ini sesuai dengan sumber pencemar yang masuk ke dalam sungai Progo seperti yang disajikan pada Tabel berikut ini.

Tabel 6.69. Kualitas air sungai Progo bagian hilir

Berdasarkan Tabel Kualitas air sungai Progo bagian hilir diatas, dapat dilihat bahwa unsur-unsur yang melebihi baku mutu antara lain oksigen terlarut (CO), BOD, serta COD. Tingginya BOD berarti telah terjadi pencemaran secara biologis sedangkan tingginya COD memperlihatkan telah terjadi pencemaran secara kimia. Tetapi yang agak diragukan ternyata nilai CO juga tinggi, padahal biasanya semakin tinggi CO maka BOD atau COD akan rendah. Selain itu ternyata pH semuanya adalah basa yang memperlihatkan tingginya kandungan detergen atau phenol. Hal ini mengindikasikan tingginya polutan yang berasal dari tempat pembersihan menggunakan detergen baik dari industri maupun rumah tangga.

Selain data kualitas air tersebut juga dilakukan analisis langsung kualitas air sungai Progo di beberapa anak sungainya. Kualitas air sungai Progo bagian hilir, ternyata semua sampel yang diuji masih mempunyai kualitas baik berdasarkan Nilai Baku Mutu untuk kelas I, II, maupun III dan IV. Unsur yang berada di atas ambang batas adalah kekeruhan. Kadar besi yang tinggi terlihat di Sungai Progo di Parakan dan di mataair Tlogorejo (Grabag). Besi yang tinggi di Parakan dan mataair di Grabag akibat pengaruh geologi yang berada di daerah volkanik. Jika kita melihat kenyataan di lapangan terutama untuk muara sungai Bedog mulai terlihat gejala eutrofikasi dengan suburnya tumbuhan eceng gondok. Hal ini mengindikasikan mulai tercemarnya oleh unsur kimia yang mengandung nitrogen, walaupun nilainya masih dibawah ambang batas.

Berdasarkan Tabel Kualitas air sungai Progo bagian hilir dan Tabel Parameter Analisis Kualitas Air di DAS Progo September 2004, hulu sungai Progo yang bermata air di daerah Jumprit, desa Tegalrejo, kecamatan Ngadirejo, kabupaten Temanggung, memiliki gambaran kualitas air yang sangat baik. Hal ini karena mata air jumprit masih murni dan belum terkontaminasi atau menerima beban cemaran. Mata air tersebut banyak digunakan oleh penduduk sekitar untuk air minum dan aktifitas MCK. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa parameter yang melebihi Kriteria Mutu Air Kelas II adalah sulfida dengan kadar 0,023 mg/l (hasil analisa Laboratorium I) dan 0,101 mg/l (hasil analisa Laboratorium II, sedangkan baku mutunya adalah 0,002. Tingginya parameter sulfida pada mata air jumprit dimungkinkan bukan dari beban pencemar melainkan dari batuan yang mengandung unsur belerang. Debit air pada pengukuran bulan Maret sebesar 104,4 liter/detik dan 28,7 liter/detik pada bulan Oktober. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh penurunan curah hujan dan pengambilan air melalui pipa oleh masyarakat.

Hasil analisis menunjukkan adanya penurunan kualitas air di jembatan Kali Galeh yang ditunjukkan dengan meningkatnya nilai parameter TDS, Residu tersuspensi, COD, total fosfat, fenol serta bakteri coliform, BOD, Total fosfat, Amonia, Cu, Pb, dan Sulfida. Beban pencemar di lokasi tersebut dapat semakin meningkat, karena hingga saat ini air sungai tersebut di manfaatkan oleh masyarkat sekitar untuk kegiatan MCK. Jika dibandingkan dengan Kriteria Mutu Air Kelas II parameter yang melebihi baku mutu adalah fosfat, fenol, total coliform, dan fecal coliform, yang berasal dari penggunaan sabun, pupuk fosfat, maupun kotoran manusia atau hewan berdarah panas. Sedangkan debit pada lokasi ini menunjukkan penurunan dari 2,205 m3/detik (bulan Maret) menjadi 0,5714 m3/detik (bulan Oktober).

Lokasi pengambilan sampel di jembatan Kranggan, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung menunjukkan penurunan kualitas air, ditunjukkan dengan meningkatnya konsentrasi residu tersuspensi, BOD, COD, total fosfat, deterjen, fenol dan coliform. Sumber pencemar yang potensial berasal dari kegiatan pertanian, domestik, pasar, rumah sakit, serta rumah pemotongan hewan. Tingginya konsentrasi residu tersuspensi yang mencapai 108 mg/l (bulan Maret) dan 0,044 mg/l (bulan Oktober) mengindikasikan besarnya tingkat erosi di daerah hulu lokasi pengambilan sampel. Hal tersebut dimungkinkan karena banyaknya budidaya tanaman tembakau di Kabupaten Temanggung. Jika dibandingkan dengan Kriteria Mutu Air Kelas II parameter yang melebih ambang baku mutu adalah residu tersuspensi, COD, total fosfat, deterjen, fenol, total coliform dan fecal coloform (hasil Laboratorium I) dan total fosfat, amonia, Cu, deterjen, total coloform, dan fecal coloform (hasil Laboratorium II). Sedangkan debit pada pengukuran bulan Maret sebesar 14,24 m3/detik dan 2,001 m3/detik pada bulan Oktober.

Pengambilan sampel di jembatan Plikon, desa Trasan, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang telah menunjukkan peningkatan kualitas jika dibandingkan dengan lokasi sebelumnya. Hal ini ditunjukkan dengan turunnya konsentrasi parameter TSS, BOD, COD, maupun fosfat, kondisi ini dimungkinkan karena telah terjadi kemampuan pulih sendiri (self purification) selama perjalan air sungai Progo tersebut. Debit pada lokasi sampel relatif stabil yaitu 2,093 m3/detik (bulan Oktober). Parameter yang melebihi ambang baku mutu adalah fosfat, total coliform, dan fecal coliform (hasil Laboratorium I) dan total fosfat, total coliform, dan fecal coliform (hasil analisa laboratorium II).

Lokasi sampel di jembatan Brojonalan, desa Wanurejo, kecamatan Borobudur, kabupaten Magelang menerima beban pencemar dari sektor industri. Industri yang membuang langsung limbahnya ke sungai Progo adalah pabrik kulit yang terdapat di kecamatan Mertoyudan, kabupaten Magelang, industri tekstil di Salaman. Parameter yang melebihi ambang baku mutu adalah residu tersuspensi, total fosfat, sulfida, phenol, total coliform, (hasil analisa Laboratorium I) dan BOD, total fosfat, amonia, Cu, Pb, total coliform (hasil analisa Laboratorium II). Sedangkan pengambilan sampel di jembatan Klangon, desa Blongkeng, kecamatan Ngluwar menunjukkan peningkatan parameter COD yaitu 32,75 mg/l dan Fenol menjadi 28 g/l. Selain itu terjadi peningkatan debit, dikarenakan mendapatkan input air dari sungai Elo, Blongkeng dan Pabelan. Meningkatnya COD dimungkinkan dari aliran sungai Elo, dimana pada segmen tersebut terdapat sentra industri kecil tahu dan penyamakan kulit di daerah Sanggrahan, kabupaten Magelang. Dibandingkan dengan Kriteria Mutu Air Kelas II parameter yang melewati batas baku mutu adalah COD, sulfida, phenol, total coliform, serta fecal coliform (hasil analisa Laboratorium I) dan total fosfat, amonia, sulfida, fenol, total coliform, serta decal coliform (hasil analisa Laboratorium II).

Tabel 6.70. Hasil Analisa Kualitas Air Sungai Progo Bulan Maret 2000

Tabel 6.71. Hasil AnalisaKualitas Air Sungai Progo Bulan Oktober 2004

Tabel 6.70. (lanjutan)

Tabel 6.71. (lanjutan)