Profile Ekoregion Jawa

   
     PPE Regional Jawa +62 274 625800
Tap To Call

DAS Cisadane   arrow

6.6.8 DAS Cisadane

Daerah Aliran Sungai (DAS) Cisadane secara geografis terletak pada posisi 106028‘50‖ – 106056‘0‖ BT dan 600‘59‖- 6047‘02‖ LS. Secara administratif DAS Cisadane terletak di Kabupaten Bogor, Kotamadya Bogor, Kabupaten Tangerang dan Kotamadya Tangerang dengan luasan areal DAS Cisadane sebesar 151.808 ha. DAS Cisadane berbatasan dengan Laut Jawa di sebelah utara, DAS Cimandiri bagian selatan, DAS Ciliwung dan DAS Kali Angke di sebelah timur dan DAS Cimanceri di sebelah baratnya (Gambar 6.103.). DAS Cisadane terbagi atas tujuh Sub-DAS yaitu Sub-DAS Cisadane Hulu, Ciapus, Ciampea Cihideung, Cianten, Cikaniki, Cisadane Tengah dan Cisadane Hilir.

Sumber air DAS Cisadane berasal dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dan Taman Nasional Halimun Salak (TNGHS). Aliran sungai Cisadane mengalir sejauh 1.047 Km dari kawasan hulu hingga hilir. Aliran sungai ini banyak dimanfaatkan oleh masyarakat yang bermukim disekitar bantaran untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan pola pemanfaatan yang beragam. Berdasarkan topografinya, bagian hulu DAS Cisadane merupakan daerah berbukit dengan ketinggian mencapai 3.000 m dpl dan kemiringan lereng mencapai 40%. Sedangkan bagian hilir sampai bagian tengah merupakan daerah datar hingga bergelombang. DAS Cisadane bagian hulu yang meliputi Kabupaten Bogor dan sebagian Kota Bogor didominasi oleh penggunaan lahan berupa hutan, ladang, perkebunan, pemukiman dan lahankosong. Sedangkan di bagian tengah dan hilir, penggunaan lahan didominasi oleh pemukiman, ladang dan lahan kosong.

Gambar 6.103. Batas Wilayah DAS Cisadane (PPEJ, 2012)

A. Karakteristik Lingkungan Fisik

• Geologi
Berdasarkan tatanan geologi DAS Cisadane termasuk kedalam 2 zona fisiografi, yakni zona Bogor, menempati wilayah Bogor yang dicirikan oleh adanya antiklinorium dengan arah barat-timur dan wilayah Sukabumi merupakan kelanjutan dari zona Bandung yang dicirikan oleh adanya tinggian yang terdiri dari sedimen tua menyembul di antara endapan vulkanik. Batas kedua zona tesebut di lapangan tidak terlalu jelas karena tertutup oleh endapan gunung api Kuarter. Batuan tertua menempati initi antiklin yang secara berurutan ditutupi oleh batuan yang lebih muda yang tersingkap pada bagian sayap antiklin di bagian utara dan selatan.

Formasi geologi yang terdapat di DAS Cisadane terdiri dari Qa, Qav, Tmb, Tpg, Tpss, QTvb, Qv, Qvas. Kondisi geologi di daerah ini terbentuk oleh batuan sedimen yang berumur Miosen Awal-Plistosen, batuan vulkanik dan endapan permukaan yang berumur sekarang. Litostratigrafi dari yang berumur tua hingga muda dapat dikemukakan secara singkat sebagai berikut:

a) Endapan Permukaan

• Aluvium (Qa)
Terdiri dari lempung pasir, kerikil, kerakal dan bongkahan. Endapan ini meliputi endapan pantai sekarang, endapan sungai dan rawa. Sebaran satuan ini terlampar di sepanjang pantai utara dan di sepanjang lembah sungai.

• Satuan Batu Pasir Tufan dan Konglomerat / Kipas Aluvium (Qav)
Terdiri dari tuf halus berlapis, tuf konglomerat berselang-seling dengan tuf pasiran dan batu apung. Umur satuan ini diduga Pleistosen Akhir atau lebih muda. Tebal satuan ini diduga sekitar 300 m. Satuan ini terlempar sangat luas, dari selatan ke utara.

• Formasi Bojongmanik (Tmb)
Terdiri dari perselingan batu pasir dan batu lempung dengan sisipan batu gamping. Tebal formasi ini diperkirakan mencapai 1.000 m. Berdasarkan kesamaan batuan dan umur nisbinya, formasi ini dapat dikorelasikan dengan formasi Bojongmanik bagian bawah.

• Formasi Genteng (Tpg)
Terdiri dari tuf batu apung, batu pasir tufan, breksi, andesit, konglomerat dan sisipan lempung tufan. Tebal lapisan ini diperkirakan puluhan hingga ratusan meter, sebarannya meliputi daerah-daerah Dago hilir, Pasirawi, Celong, Pagedangan dan Curugwetan.

• Formasi Serpong (Tpss)
Tersusun oleh perselingan konglomerat, batu pasir,batu lanau, batu lempung dengan sisa tanaman, konglomerat batu apung dan tuf batu apung. Berdasarkan kedudukan stratigrafinya yang menindih secara tidak selaras Formasi Bojongmanik dan Formasi Genteng, dan ditindih Secara selaras oleh batuan vulkanik muda. Diduga Formasi Serpong berumur Pliosen Akhir. Berdasarkan kenampakan batuan, struktur sedimen dan bentuk sebarannya yang di sepanjang sungai, maka formasi ini diduga diendapkan pada sungai tua yang berpola menganyam dan bertanggul (levee), dan sebagian di endapkan pada lingkungan rawa.

b) Batuan Gunungapi

a. Tuf Banten (QTvb)
Terdiri dari tuf, batu apung, breksi dan batu pasir tufan. Berdasarkan kedudukan stratigrafinya yang menindih secara tidak selaras Formasi Genteng dan Formasi Serpong, dan ditindih secara selaras oleh batuan gunung api muda, satuan ini diduga berumur Plistosen Awal-Tengah, dan diendapkan dalam lingkungan darat sampai daerah pasang surut.

b. Endapan Gunungapi Muda (Qv)
Tersusun oleh Breksi, lahar, lava bantal, dan tuf breksi berselingan dengan tuf pasir atau tuf halus. Batuan gunung api ini diduga plistosen dan diendapkan dalam lingkungan darat, diperkirakan dari sumber Gunung Sudamanik. Di lembar Bogor (Effendi, 1986), satuan ini disebut sebagai vulkanik tua tak terurai (Qvu). Tebal lapisan beberapa puluh sampai ratusan meter. Sebarannya di sekitar Sungai Cipangaur dan Sungai Cimanceuri. Adanya lava berstruktur bantal menunjukkan bahwa lava ini tidak jauh dari sumbernya dan diendapkan dalam lingkungan air. Endapan gunung api muda ini menyebar ke Lembar Bogor sebagai aliran lava (Qv) dan batuan Gunung Api tua tak dipisahkan (Qvu).

c. Andesit Sudamanik (Qvas)
Terdiri dari andesit. Andesit kelabu kehitaman, padat, porfiritik dengan piroksen, hornblenda dan plagioklas sebagai fenokris dan bermassa dasar felsfar. Di beberapa tempat berstruktur meniang atau ‖sheeting‖. Batuan ini membentuk kerucut tumpul di Gunung Sudamanik dan kerucut kecil-kecil disekitarnya. Diduga bahwa kerucut ini merupakan sumbat gunung api (volcanic neck) atau parasiticone dari Gunung Sudamanik. Umur batuan ini diduga sama dengan atau lebihmuda dari endapan gunung api (Qv), yaitu Plistosen. Luas formasi ini dalam DAS Cisadane seluas 30 ha.

• Geomorfologi
DAS Cisadane mempunyai bentuk topografi yang bervariasi dar hulu hingga hilir. Wilayah hulu merupakan pegungungan dengan ketinggian 300 mdpl – 3000 mdpl, wilayah tengah merupakan dataran dengan ketinggian 100 mdpl – 300 mdpl, dan wilayah hilir merupakan dataran rendah dengan ketinggian 0 mdpl – 100 mdpl. Luas kelas lereng yang terdapat di DAS Cisadane disajikan dalam Tabel 6.99. Diketahui bahwa dominasi kelas lereng yang berada di DAS Cisadane adalah pada kelas lereng datar dengan peresentase 67,51% dari total luas DAS. Kelas lereng datar pada umumnya berada pada DAS Cidasane bagian tengah dan hilir.

Tabel 6.93. Luasan Distribusi Kelas Lereng di DAS Cisadane

• Jenis Tanah
Tanah di DAS Cisadane terdiri dari berbagai kumpulan tanah diantaranya adalah fluvent, paleudult, udox, psamment dan orthent. Berdasarkan jenis tanahnya, DAS Cisadane memiliki 15 jenis tanah. Data luasan masing-masing jenis tanah disajikan dalam Tabel 9.94. Dominasi luas jenis tanah yang terbesar di DAS Cisadane adalah jenis Latosol Coklat dengan luas 36.535.59 ha. Persebaran jenis tanah ini berada disepanjang wilayah timur Sub-DAS Cisadane bagian hulu. Latosol coklat merupakan jenis tanah pegunungan yang berbahan induk Tuf Volkan Intermedier yang termasuk dalam golongan ultisol.

Tabel 6.94. Luasan masing-masing Jenis Tanah di DAS Cisadane

• Hidrologi
Sungai Cisadane dengan daerah tangkapan seluas 151.808 ha, merupakan salah satu sungai utama di Propinsi Banten dan Jawa Barat. Fluktuasi aliran Sungai Cisadane sangat bergantung pada curah hujan di daerah tangkapannya (catchment area). Aliran yang tinggi terjadi saat musim hujan dan menurun saat musim kemarau. Debit normal Sungai Cisadane sebesar 70 m3/detik. Berdasarkan pemantauan yang dilakukan di stasiun pengamat Serpong antara tahun 1971 hingga 1997, aliran terendah yang pernah terjadi sebesar 2,93 m³/detik di tahun 1991 dan tertinggi 973,35 m3/detik tahun 1997. Berdasarkan catatan bulanan antara tahun 1981 dan 1997, aliran minimum terjadi antara bulan Juli dan September dengan rata-rata aliran di bawah 25 m³/detik.

Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh Tauriza dalam Pramesti (2007) dengan menggunakan persamaan HSS Gama I, hidrograf aliran DAS Cisadane mempunyai time to peak 4,60 jam, time base 16,48 jam dan time of recession 11,88 jam. Time to peak adalah waktu yang diukur dari saat hidrograf mulai naik sampai waktu dimana debit kembali pada satuan besaran yang ditetapkan. Time of recession adalah waktu yang diukur dari saat terjadi debit puncak sampai waktu mencapai base flow. Time to peak yang lama dapat bermanfaat untuk peringatan dini potensi banjir. Di sisi lain, DAS Cisadane juga memiliki time base yang lama pula, sehingga bila terjadi banjir membutuhkan waktu yang lama untuk surut.

• Pemanfaatan Lahan
Penggunaan lahan di DAS Cisadane dibedakan 12 kelas penggunaan lahan yaitu hutan primer, sekunder, kebun campuran, perkebunan, permukiman, rawa, sawah, semak/belukar, tambak/empang, tanah terbuka, tegalan/ladang, dan tubuh air. Secara spasial penggunaan lahan DAS Cisadane terlihat pada Gambar 6.104.

Gambar 6.104. Tutupan Lahan di DAS Cisadane (PPEJ, 2012)

Penggunaan lahan di DAS Cisadane sebagian besar merupakan kebun campuran yang mencakup kawasan seluas 70.592,71 Ha atau meliputi 46,23%. Penggunaan lahan terbesar kedua adalah sawah seluas 20.734,34 atau 13,58 %. Selanjutnya permukiman seluas 19.025,45 atau 12,46 %. Berikut ini disajikan tabel penggunaan lahan di DAS Cisadane.

Tabel 6.95. Penggunaan Lahan di DAS Cisadane

B. Potensi Sumberdaya Air
Koefisien regim sungai Cisadane sebesar 5,13 tersebut mengindikasikan bahwa kontinuitas aliran tidak normal. Walaupun kontinuitas diindikasikan tidak normal, tetapi keadaan debit Sungai Cisadane menurut Departemen Kehutanan (2001) masih dianggap baik karena berdasarkan standar evaluasi nilai koefisien regim sungainya kurang dari 50. Apabila nilai koefisien regim sungai kurang dari 50 maka debit air sungai dikategorikan masih baik. Kriteria dan indikator kinerja DAS berdasarkan pada Tabel 6.95.

Tabel 6.95. Kriteria dan Indikator Kinerja DAS

Menurut BPDAS Citarum-Ciliwung pada tahun 2003 nilai koefisien regim sungai sebesar 5,13. Koefisien regim sungai merupakan perbandingan antara debit maksimum dengan debit minimum. Besarnya nilai koefisien regim didapatkan berdasarkan data pengukuran Pusat Penelitian dan Pengembangan Perairan Depertemen Pekerjaan Umum DAS Cisadane. Diketahui bahwa debit maksimum sengai sebesar 415,66 m3/detik pada tinggi muka air 3,19 meter dan debit minimum 78,19 m3/detik pada tinggi muka air 0,96 meter. Nilai koefisien regim sungai disebut ideal apabila bernilai 1 (satu).

Debit Cisadane pada musim kemarau dan musim penghujan mempunyai perbedaan yang cukup signifikan. Hal ini diketahui berdasarkan data debit bulanan Cisadane hasil pemantauan BPSDA yang disajikan pada Gambar 6.105. berdasarkan gambar tersebut debit bulanan Batubeulah, Serpong dan Kali Baru memiliki kecenderungan debit yang naik turun secara tajam. Hal ini terkait dengan alih fungsi atau guna lahan. Penurunan luas daerah hijau mengakibatkan penurunan laju infiltrasi, aliran bawah permukaan (sub surface run off), dan transpirasi sehingga hasil presipitasi sebagian besar menjadi limpasan permukaan (surface run off). Kenaikan dan penurunan debit tergantung pada jumlah presipitasi yang jatuh di permukaan DAS Cisadane. Semakin tinggi jumlah presipitasi maka semakin tinggi pula debit aliran yang terjadi, demikian pula sebaliknya

Gambar 6.105. Grafik Debit Bulanan Cisadane Hasil Pemantauan BPSDA

Neraca air di DAS Cisadane didasarkan pada neraca air DAS umum yang mengasumsikan bahwa suatu DAS dianggap sebagai suatu aliran drainase yang tidak menerima atau kehilangan air dari daerah di sekitarnya dan titik keluaran air hanya dari outletnya. Neraca air DAS Cisadane terbagi menjadi tiga neraca air, yakni neraca air Sub-DAS Cisadane Hulu dengan outlet di Batubeulah, neraca air Sub-DAS Cisadane Tengah dengan outlet pengukutan di Serpong dan neraca air Sub-DAS Cisadane Hilir dengan outlet pengukuran di Kali Baru. Hasil perhitungan neraca air yang berupa cadangan air masing-masing sub-DAS pengukuran tersaji dalam Gambar 6.106.

Cadangan air semester pertama di DAS Cisadane sebagian besar mengalami defisit. Hanya sub-DA Cisadane bagian hulu yang mnegalami surplus. Padahal musim penghujan termasuk dalam semester pertama. Hal ini menandakan bahwa di sub-DAS Cisadane tengah dan hilir pada musim penghujan, di daerah tersebut tidak mampu menginfiltrasikan air secara maksimal.

Gambar 6.106. Cadangan Air DAS Cisadane ( Sumber : Pramesti 2007 )

Pada semester kedua, seluruh DAS Cisadane mengalami defisit cadangan air. Defisit cadangan air tersebut terjadi karena nilai masukan lebih kecil dibandingkan dengan nilai keluarannya. Masukan air di Sub-DAS yang berada di DAS Cisadane bagian hulu berupa curah hujan, sedangkan di bagian tengah dan hilir berupa curah hujan dan debit Sub-DAS tersebut sebelumnya. Keluaran air disemua DAS sama yaitu berupa evapotranspirasi dan debit aliran sungai.

Tingginya nilai kekeruhan air yang berupa evapotranspirasi disebabkan kenaikan nilai evaporasi tanah. Hal ini terkait dengan adanya perubahan atau alih guna lahan yang semula berupa daerah hijau menjadi permukiman atau bahkan lahan kritis, sehingga transpirasi dari tanaman menurun dan evaporasi meningkat. Tidak hanya itu, penyebab banyaknya keluaran air di DAS Cisadane yang lebih signifikan adalah keluaran yang berupa debit aliran sungai itu sendiri.

Alih guna lahan menyebabkan hujan yang jatuh langsung kontak dengan tanah. Akibat energi kinetik, hujan memecah partikel tanah dan menyebabkan erosi percik yang dapat menutup pori-pori tanah. Seharusnya tanah yang belum jenih dapat menampung air dalam jumlah yang lebih banyak, akan tetapi karena pori-pori tanah tertutup liat maka air tidak bisa masuk sebagai proses infiltrasi dan dilanjutkan menjadi perkolasi dan sub surface run off. Air hujan akan langsung mengalir di permukaan tanah menjadi surface run off yang terkumpul di sungai menjadi debit aliran. Hal ini akan berbeda bila penggunaan lahannya berupa daerah hijau. Hujan akan sampai ke tanah melalui curahan tajuk (throughfall), aliran batang (stem flow) dan infiltrasi melalui sersah yang ada. Air dapat masuk melalui pori-pori tanah sehingga bisa diinfiltrasikan menjadi perkolasi dan sub surface run off.

• Permasalahan Lingkungan

1. Permasalahan kualitas air
Kualitas air sungau Cisadane tidak semuanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan air domestik, peternakan, industri, perikanan, pemeliharaan sungai dan pertanian. Berdasarkan PP nomor 82 tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air maka sebagian besar sungai dilakukan pemantauan. Berdasarkan titik-titik pantau kualitas air DAS Cisadane diketahui bahwa Sungai Cisadane mengalami permasalahan kualitas air yang tersaji pada Tabel 6.96.
Kualitas air sub-DAS Cisadane bagian hulu dipantau dari titik pantau air Pasir Buncir, Muara Jaya, Cimande Hilir, Batu beulah 1 dan Batu beulah 2. Kualitas air Sub-DAS Cisadane tengah dipantau dari titik pantau air Putat Nutug, Kerihkil, Pabuaran, PDAM, Gading Serpong dan Bendung Pasar. Sedangkan kualitas air Sub-DAS Cisadane hilir dipantau dari titik pantau air di Kali Baru.

Tabel 6.96. Permasalahan Kualitas Air di Sungai Cisadane

Kualitas air sungai berdasarkan titik pantau Sub-DAS Cisadane bagian hulu mengalami permasalahan pencemaran karena BOD yang tinggi. Dimulai dari titik pantau awal kualitas air di Sb-DAS bagian hulu yaitu di Pasir Buncir, sudah mengalami pencemaran BOD, koliform dan fecal coli. Hal tersebut akan berdampak pada kualitas air sungai pada bagian bawahnya. Pencemaran disebabkan oleh beberapa sumber pencemar, diantaranya adalah penduduk, ternak, industri dan lahan kritis yang berupa erosi dan zat organik serta kegiatan pertanian. Secara umum permasalahan dalam pengelolaan sumber daya air dapat diidentifikasi sebagai berikut:

  1. Ketersediaan air di Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane secara umum telah sangat kritis,
  2. Belum terkendalinya pemanfaatan ruang baik di sepanjang sempadan sungai maupun pengelolaan di badan sungainya,
  3. Ketersediaan air yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan semakin mahal dan langka baik kuantitas maupun kualitasnya, sehingga menimbulkan berbagai konflik antar sektor maupun antar wilayah,
  4. Fluktuasi ketersediaan air permukaan sangat tinggi, sehingga sering terjadi kebanjiran di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Hal tersebut merupakan wujud dari hulu DAS yang fungsi konservasinya telah jauh berkurang,
  5. Belum adanya kesinergian antar wilayah dalam bentuk role sharing antara Propinsi/Kabupaten/Kota Propinsi/Kabupaten/Kota di daerah hilir dalam rangka penanganan hulu DAS.
  6. Kondisi tersebut memberikan gambaran tentang telah terjadinya kerusakan DAS yang berdampak terhadap permasalahan surplus/defisit neraca air sepanjang tahun.